Judul: BOOX Go 10.3 Gen II: Solusi Terbuka di Tengah Ecosystem Kindle yang Terbatas
Di tengah perkembangan Amazon Kindle yang semakin membatasi akses penggunanya, BOOX hadir dengan solusi yang lebih terbuka melalui tablet e-ink terbarunya, Go 10.3 Gen II. Setelah beberapa minggu menggunakan perangkat ini, terlihat bahwa tablet ini menawarkan alternatif menarik bagi para pengguna Kindle Scribe. Dengan desain yang ringan dan fleksibilitas Android, BOOX Go 10.3 Gen II adalah perangkat yang tidak hanya memfasilitasi membaca, tetapi juga menulis dengan sangat baik.
Desain dan Layar yang Menawan
Fokus utama dari BOOX Go 10.3 Gen II adalah layarnya. Tidak mengikuti tren e-ink berwarna, BOOX memilih untuk tetap pada panel ePaper monokrom 10.3 inci dengan resolusi 300ppi. Versi standar yang saya coba tidak memiliki lapisan lampu depan, sehingga tampilan layar menjadi lebih bersih dan mirip kertas. Teks buku dan dokumen terlihat tajam, dan catatan tulisan tangan tetap jelas meskipun dalam ukuran kecil. Latar belakangnya juga cukup cerah, menjadikan pengalaman membaca dan anotasi sangat menyenangkan.
Kinerja dan Baterai yang Tahan Lama
Dengan bobot sekitar 360g dan ketebalan 4.6mm, BOOX Go 10.3 Gen II nyaman digunakan untuk sesi menulis yang panjang. Meskipun tidak dilengkapi dengan sistem refresh BSR yang lebih canggih, tulisan tangan terasa responsif, dan saya tidak mengalami lag saat menulis. Tablet ini menggunakan platform octa-core 2.4GHz dengan RAM 4GB dan penyimpanan 64GB, yang cukup untuk kegiatan membaca dan mencatat. Meskipun tidak ada opsi penyimpanan yang dapat diperluas, dukungan OTG tetap tersedia. Baterainya yang berkapasitas 3,700mAh mampu bertahan hampir seminggu dengan penggunaan normal, sehingga Anda tidak perlu khawatir membawa charger saat bepergian.
Fleksibilitas Android yang Menggembirakan
BOOX Go 10.3 Gen II berjalan pada Android 15, menjadikannya lebih fleksibel dibandingkan perangkat lain seperti Kindle Scribe. Anda dapat menginstal aplikasi dari Play Store, mengakses layanan penyimpanan cloud, dan beralih antara berbagai alur kerja pencatatan tanpa terjebak dalam satu ekosistem. Saya sering berpindah antara aplikasi seperti Libby, Pocket, Google Drive, dan alat catatan BOOX dengan mudah. Bagi mereka yang merasa terkurung oleh sistem Kindle yang semakin ketat, fleksibilitas ini adalah suatu keuntungan besar.
Pengalaman Menulis dan Aksesori Pendukung
Salah satu perubahan terbesar dari GO 10.3 sebelumnya adalah penggunaan teknologi stylus InkSense Plus aktif. Meskipun awalnya saya meragukan perubahan ini, BOOX berhasil menciptakan pengalaman menulis yang lebih baik dari yang saya perkirakan. Menulis terasa alami dan permukaan layar cukup tekstur untuk memberikan sensasi seperti kertas. Namun, stylus aktif ini membutuhkan pengisian daya melalui USB-C, berbeda dengan pena EMR yang tidak memerlukan pengisian. Hal ini membuat saya lebih berhati-hati untuk memastikan stylus selalu terpasang sebelum meninggalkan rumah. Sayangnya, folio case yang disediakan terasa kurang berkualitas untuk harga perangkat ini, dan saya khawatir akan kehilangan penutup magnetiknya yang mudah lepas.
Secara keseluruhan, BOOX Go 10.3 Gen II menawarkan kombinasi layar monokrom yang fantastis dan fleksibilitas Android yang menyegarkan, menjadikannya pilihan menarik bagi mereka yang ingin keluar dari batasan ekosistem Kindle. Meskipun ada beberapa kekurangan, terutama dalam hal perangkat lunak dan transisi ke stylus aktif, pengalaman keseluruhannya terasa lebih harmonis dibandingkan banyak perangkat BOOX sebelumnya. Bagi mereka yang mencari alternatif yang lebih terbuka, Go 10.3 Gen II mungkin adalah jawabannya.
Sumber: https://www.androidauthority.com/boox-go-10-3-gen-ii-review-3669990/



