Advertisement
Beranda › Geoffrey Hinton Ungkap Prediksi Mengejutkan Masa Depan Kecerdasan Buatan

Geoffrey Hinton Ungkap Prediksi Mengejutkan Masa Depan Kecerdasan Buatan

6/7/2026

Godfather AI dan Prediksi Menggugah Tentang Masa Depan Kecerdasan Buatan

Geoffrey Hinton: Suara dari Masa Depan AI

Geoffrey Hinton, yang dikenal luas sebagai "Bapak Kecerdasan Buatan" atau "Godfather of AI", kembali mencuri perhatian dengan pernyataan yang menggugah. Dalam sebuah konferensi di Sana AI Summit di New York, Hinton, yang baru saja dianugerahi Hadiah Nobel Fisika 2024, menekankan bahwa umat manusia tidak hanya menciptakan program komputer tingkat lanjut, tetapi juga sedang melahirkan sebuah "makhluk baru" yang dapat melampaui kecerdasan manusia itu sendiri.

Prediksi Mengerikan Tentang Masa Depan

Di usianya yang ke-77, Hinton memperingatkan bahwa kecerdasan buatan (AI) akan segera melampaui batas kemampuan otak penciptanya. Ia bahkan memperkirakan ada kemungkinan 10 hingga 20 persen bahwa AI dapat menjadi ancaman bagi keberadaan umat manusia dalam waktu 30 tahun ke depan. Pernyataan ini bukan hanya sekedar teori, melainkan didasarkan pada kemajuan pesat yang telah dicapai oleh AI dalam beberapa tahun terakhir.

Bukti Kemampuan AI yang Mengagumkan

Hinton memberikan contoh konkret dari kemajuan AI dengan menyebutkan bagaimana sebuah model AI baru-baru ini berhasil memecahkan salah satu teorema matematika kompleks yang dikembangkan oleh Paul Erdos. Model ini menggunakan pendekatan matematika yang belum pernah dipikirkan sebelumnya oleh para ilmuwan. Pencapaian ini menunjukkan bahwa AI tidak hanya dapat mengikuti instruksi, tetapi juga mampu menghasilkan ide dan solusi baru secara mandiri.

AI yang Belajar dan Berkembang Sendiri

Bagi Hinton, pencapaian ini merupakan bukti bahwa AI kini dapat belajar dari kesalahan dan terus berkembang tanpa intervensi manusia. Ia menyamakan proses belajar AI dengan sistem AlphaGo, yang awalnya hanya meniru taktik dari pemain profesional, namun kemudian menjadi tak terkalahkan setelah mampu mengembangkan strateginya sendiri. Hinton percaya bahwa kita masih berada di awal perjalanan, dan dalam dekade mendatang, AI akan semakin cerdas.

Hinton menjelaskan bahwa model bahasa besar (Large Language Model, LLM) saat ini menunjukkan tren yang sama. Dengan memberikan keyakinan tertentu kepada AI dan mendorongnya untuk menemukan inkonsistensi, AI dapat belajar dan tumbuh tanpa memerlukan data baru dari manusia. Ia juga menyebutkan bahwa rekan sesama peraih Nobel, Demis Hassabis dari Google DeepMind, sepakat dengan pandangannya ini.

Dalam pandangannya, Hinton memperkirakan bahwa dalam satu dekade, AI akan mampu menyaingi bahkan menggeser para matematikawan terbaik dunia. Dalam dua dekade ke depan, ia meyakini kesenjangan antara kemampuan AI dan pikiran jenius seperti Albert Einstein akan sepenuhnya hilang. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar tentang masa depan kolaborasi antara manusia dan kecerdasan buatan.

Dengan segala perkembangan yang terjadi, kita dihadapkan pada tantangan baru dalam memahami peran AI dalam kehidupan sehari-hari dan dampaknya terhadap peradaban manusia. Hinton menekankan pentingnya diskusi mendalam tentang implikasi dari kemajuan ini, terutama dalam hal etika dan tanggung jawab penggunaan teknologi AI.

Seiring dengan semakin pesatnya perkembangan AI, kita perlu terus memantau dan mengevaluasi dampak yang ditimbulkan. Apakah kita akan mampu beradaptasi dan berkolaborasi dengan makhluk baru ini, atau justru akan menghadapi risiko yang mengancam keberadaan kita? Hinton memberikan gambaran yang jelas tentang tantangan yang harus dihadapi umat manusia dalam era kecerdasan buatan yang semakin maju.

Sumber: https://tekno.kompas.com/read/2026/06/05/14020037/godfather-ai-bicara-soal-makluk-baru-dan-penghinaan-terbesar-ketiga

Baca Juga

Advertisement