Perkembangan Kecerdasan Buatan di Tahun 2026
Penggunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) pada tahun 2026 tidak lagi hanya berfokus pada eksperimen teknologi, tetapi lebih menitikberatkan pada pengembalian investasi yang jelas dan terukur. Hal ini disampaikan oleh Presiden Akademi Kecerdasan Buatan Indonesia (AKBI), Bari Arijono, yang menilai bahwa tren AI saat ini sedang mengalami pergeseran orientasi dari eksplorasi teknis menuju penerapan praktis dalam berbagai sektor bisnis.
Tiga Arahan Utama Pengembangan AI
Menurut Bari, ada tiga arah utama pengembangan AI yang kini menjadi fokus dunia usaha. Pertama adalah enterprise AI, yang akan menjadi standar operasional baru. Dalam hal ini, AI akan terintegrasi langsung ke proses inti bisnis, mulai dari perencanaan bisnis hingga layanan pelanggan. Dengan demikian, perusahaan yang belum menerapkan AI bisa kehilangan efisiensi hingga 20–30% dibanding pesaing yang sudah menerapkannya.
Kedua, adalah agentic AI dan otomatisasi pengambilan keputusan. Sistem AI tidak hanya menganalisis data, tetapi juga mampu mengambil keputusan secara otonom dengan batasan kebijakan yang jelas. Ini akan mempercepat proses bisnis dan mengurangi ketergantungan manusia dalam pengambilan keputusan rutin.
Ketiga, adalah AI di sektor riil atau physical AI. Pemanfaatan AI dalam sektor manufaktur, logistik, energi, dan pertanian presisi semakin meningkat, sehingga mendorong efisiensi biaya serta ketahanan rantai pasok.
Sektor Potensial yang Terdampak AI
Bari menyebutkan beberapa sektor bisnis yang memiliki dampak ekonomi terbesar dari adopsi AI. Pertama, sektor jasa keuangan dan fintech, yang telah menjadi early adopter AI secara agresif. Otomatisasi berbasis AI dapat menekan biaya operasional per transaksi hingga 30–40%, terutama dalam fraud detection, credit scoring, dan customer service.
Kedua, sektor telekomunikasi dan layanan digital. Operator telekomunikasi memanfaatkan AI untuk optimisasi jaringan, prediksi churn, dan monetisasi data. AI diperkirakan mampu meningkatkan ARPU hingga 5–10%.
Selanjutnya, sektor ritel, e-commerce, dan UMKM digital. AI mampu meningkatkan conversion rate penjualan daring hingga 15–25% melalui personalisasi dan rekomendasi produk. Bagi UMKM, AI berperan sebagai “digital employee” yang menekan biaya pemasaran dan operasional.
Persiapan Sumber Daya Manusia dan Infrastruktur
Dari sisi kesiapan sumber daya manusia, Indonesia memiliki lebih dari 12 juta talenta digital. Namun, jumlah talenta AI tingkat lanjut seperti AI engineer, data scientist senior, dan MLOps masih di bawah 10% dari kebutuhan industri pada 2026.
Dari sisi infrastruktur komputasi, investasi pusat data dan layanan komputasi awan terus meningkat. Nilai pasar pusat data Indonesia diproyeksikan melampaui US$3,5 miliar pada 2026. Meski demikian, ketergantungan pada infrastruktur luar negeri untuk komputasi AI skala besar masih tinggi.
Dari sisi data, sekitar 70% organisasi besar di Indonesia memiliki data dalam jumlah besar. Namun, kurang dari 40% yang menilai datanya siap digunakan secara optimal untuk AI akibat persoalan kualitas data, integrasi, dan tata kelola.
Risiko dan Tantangan Kebijakan
Bari menilai tanpa kerangka kebijakan yang tepat, adopsi AI berisiko menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari risiko etika dan bias algoritmik, ancaman keamanan data dan siber, ketidakpastian hukum atas keputusan otomatis berbasis AI, hingga kesenjangan adopsi antarwilayah dan skala usaha.
Saat ini, Indonesia memiliki UU PDP, tetapi belum memiliki regulasi AI yang komprehensif berbasis klasifikasi risiko seperti EU AI Act.
Agenda Kebijakan untuk Maksimalkan Dampak Ekonomi AI
Untuk memaksimalkan dampak ekonomi AI pada 2026, Bari menilai sejumlah agenda kebijakan menjadi krusial. Pertama, regulasi AI berbasis risiko dan sektor prioritas. Kedua, regulatory sandbox lintas industri. Ketiga, insentif fiskal untuk investasi AI dan pusat data lokal. Keempat, program percepatan pengembangan talenta AI nasional. Kelima, standar tata kelola dan audit algoritma.
Bari menegaskan bahwa AI 2026 adalah ujian: apakah kita hanya menjadi pasar teknologi, atau benar-benar menjadi bangsa pencipta nilai berbasis kecerdasan buatan.

