Keputusan Mendadak Trump Terkait Kecerdasan Buatan
Dalam sebuah langkah yang mengejutkan, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, membatalkan pengesahan Executive Order (Perintah Eksekutif) yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI). Pembatalan ini terjadi hanya beberapa jam sebelum acara penandatanganan dijadwalkan berlangsung. Keputusan ini menciptakan gelombang pertanyaan dan spekulasi mengenai dampaknya terhadap industri teknologi di AS dan persaingan global dengan negara lain, terutama China.
Kekhawatiran dari Para Pemimpin Industri Teknologi
Menurut laporan dari The Washington Post, langkah pembatalan ini diambil setelah sejumlah tokoh terkemuka di dunia teknologi, seperti Elon Musk, Mark Zuckerberg, dan David Sacks, menyampaikan kekhawatiran mereka secara langsung kepada Trump. Mereka merasa bahwa rancangan aturan tersebut dapat menghambat pertumbuhan industri AI di Amerika dan memberi keuntungan pada China, yang sedang gencar-gencarnya mengembangkan teknologi canggih.
- Elon Musk: Pemilik X (Twitter) yang dikenal vokal tentang teknologi, menyuarakan keprihatinan akan dampak regulasi yang terlalu ketat.
- Mark Zuckerberg: Pendiri Facebook (Meta) yang khawatir akan potensi penghambatan inovasi.
- David Sacks: Mantan penasihat AI Gedung Putih yang menekankan pentingnya kebijakan yang mendukung perkembangan teknologi.
Para pemimpin ini mengingatkan Trump bahwa regulasi yang ketat bisa menghambat peluncuran produk AI baru, serta membuka jalan bagi pemerintahan mendatang untuk memperketat pengawasan terhadap industri teknologi.
Pembatalan yang Mengejutkan
Setelah mendengar masukan dari tokoh-tokoh tersebut, Trump dikabarkan "pikir dua kali" dan memutuskan untuk membatalkan penandatanganan Executive Order AI pada tanggal 22 Mei 2026. Ketika ditanya mengenai alasan di balik pembatalan ini, Trump hanya menyatakan bahwa dirinya tidak menyukai draf aturan yang telah disiapkan. Ia menegaskan bahwa Amerika Serikat masih berada di posisi terdepan dalam pengembangan AI global dan tidak ingin kebijakan baru yang bisa mengganggu keunggulan tersebut.
“Kami unggul dari China dan semua negara lain. Saya tidak ingin melakukan sesuatu yang bisa merusak posisi kami,” ujar Trump dengan tegas.
Kontroversi Seputar Rancangan Aturan
Meskipun Perpres AI yang dibatalkan tidak sampai mewajibkan lisensi atau pengujian pemerintah terhadap model-model AI baru, salah satu klausul dalam rancangan aturan tersebut mencakup protokol "sukarela". Protokol ini meminta perusahaan AI untuk memberi pemberitahuan 90 hari sebelum meluncurkan teknologi baru. Hal ini dianggap sebagai langkah yang dapat memperlambat inovasi dan peluncuran produk baru di pasar.
Dalam konteks ini, sebelumnya Gedung Putih telah mengundang berbagai eksekutif dari perusahaan-perusahaan besar seperti OpenAI, Google, Anthropic, Meta, dan Microsoft untuk hadir dalam acara penandatanganan. Namun, beberapa di antara mereka dilaporkan tidak dapat hadir, menambah nuansa ketidakpastian seputar regulasi ini.
Penutup
Keputusan Trump untuk membatalkan Executive Order tentang kecerdasan buatan menandai perdebatan yang lebih luas tentang bagaimana negara harus mengatur teknologi yang berkembang pesat ini. Dengan kekhawatiran akan persaingan global yang semakin ketat, terutama dengan China, langkah ini bisa dianggap sebagai upaya untuk menjaga keunggulan Amerika dalam inovasi teknologi. Namun, di sisi lain, pertanyaan mengenai keseimbangan antara regulasi dan inovasi tetap menjadi tantangan yang harus dihadapi oleh pemerintah dan industri teknologi di masa mendatang.
Sumber: https://tekno.kompas.com/read/2026/05/27/11060037/trump-mendadak-batalkan-perpres-ai-khawatir-untungkan-china



