Jumat, Januari 23, 2026
BerandaUncategorizedWawancara dengan AI, Teknologi yang Dikritik Mahfud MD

Wawancara dengan AI, Teknologi yang Dikritik Mahfud MD

Penggunaan AI yang Perlu Diwaspadai

Dalam sebuah acara peluncuran buku Mahkamah Konstitusi di Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, Jakarta Pusat, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD menyampaikan pendapatnya tentang kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Ia berkelakar mengenai kemampuan mesin seperti ChatGPT, yang menurutnya tidak sepenuhnya cerdas meskipun memiliki nama “kecerdasan”.

Mahfud menjelaskan bahwa ia sering bercanda dengan mesin tersebut. Namun, dalam satu kesempatan, ia mencoba bertanya kepada ChatGPT tentang profil tokoh bernama Jimly Asshiddiqie. Pertanyaannya adalah tempat kelahiran tokoh tersebut. Jawaban yang diberikan oleh ChatGPT adalah Sumenep, yang merupakan daerah di Madura. Padahal, kenyataannya Jimly Asshiddiqie lahir di Palembang, Sumatera Selatan.

Hadirin dan Jimly sendiri tertawa mendengar jawaban itu. Mahfud langsung menegur ChatGPT dan memberi koreksi bahwa jawaban tersebut salah. Mesin tersebut akhirnya mengakui kesalahan dan mengucapkan terima kasih atas koreksi yang diberikan.

Pentingnya Verifikasi Informasi

Mahfud menegaskan kepada para pengguna AI bahwa mereka jangan langsung percaya informasi yang diberikan oleh ChatGPT. Ia mengatakan bahwa mesin tersebut sering memberikan jawaban yang tidak akurat. Dalam konteks acara tersebut, Mahfud menyoroti bahwa meskipun internet dan AI bisa memberikan kecepatan dalam mendapatkan informasi, tetapi tidak selalu mampu memberikan kedalaman informasi.

Ia membandingkan antara membaca buku dan menggunakan AI. Menurut Mahfud, buku lebih mampu menyajikan makna dan pengetahuan yang dalam, sementara AI hanya memberikan jawaban instan. Ia juga menyebut bahwa buku tidak hanya sekadar publikasi, melainkan legasi yang bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.

Penjelasan dari ChatGPT

ChatGPT memberikan penjelasan mengapa jawabannya bisa salah. Pertama, mesin tersebut bekerja dengan kemungkinan bahasan, bukan ingatan faktual seperti manusia. Ia memprediksi jawaban berdasarkan pola paling sering muncul dalam data. Jika data tersebut keliru, maka jawaban yang diberikan bisa salah.

Kedua, ChatGPT menyebut bahwa ia bisa tertipu oleh otoritas simbol. Misalnya, nama Jimly Asshiddiqie sering dikaitkan dengan simbol Islam, Pesantren, dan keilmuan Jawa-Madura. Hal ini membuat mesin tergelincir dan menyamakan latar kultural dengan tempat lahir.

Ketiga, AI mengaku tidak memiliki naluri skeptis seperti seorang jurnalis atau sejarawan. Ia tidak otomatis meragukan jawabannya sendiri kecuali ada yang memaksa verifikasi atau konteks yang menuntut presisi tinggi.

Batasan dan Manfaat AI

ChatGPT menyimpulkan bahwa mesin tersebut hanya berguna pada peta konsep, analisis, dan kerangka pikir, tapi tidak bisa dijadikan sumber final untuk fakta tanpa cek silang. Ia juga setuju dengan pandangan Mahfud MD bahwa AI tidak bisa menggantikan budaya membaca buku.

Menurut ChatGPT, buku menyajikan proses berpikir, sedangkan AI hanya menyajikan hasil pemikiran. Di situlah tantangan zaman: manusia tidak boleh kehilangan kemampuan membaca mendalam ketika sudah terbiasa dengan jawaban instan.

Pandangan Ahli Telekomunikasi

Pengamat telekomunikasi sekaligus Direktur Eksekutif Information and Communication Technology (ICT) Institute Heru Sutadi menyatakan bahwa AI masih jauh dari sempurna. Bahkan jawaban sederhana seperti tempat lahir tokoh pun bisa salah. Ia menegaskan bahwa AI bukan pengganti otak manusia, tetapi alat bantu.

Heru menjelaskan bahwa AI bisa digunakan untuk tugas repetitif seperti menganalisis data besar, merangkum artikel panjang, atau berdiskusi ide kreatif. Namun, AI akan terlihat tumpul ketika diajak berpikir kritis dan mendalam, terutama terkait konteks budaya, keputusan etis, dan keadilan hukum.

Ia menyarankan agar pengguna AI selalu melakukan verifikasi dan cek kembali informasi yang diberikan. Khususnya jika informasi tersebut berkaitan dengan penyakit, sebaiknya konsultasi dengan dokter. AI harus dijadikan sebagai asisten, bukan sumber rujukan utama.

zonagadget
zonagadgethttps://www.zonagadget.co.id/
Berikan ilmu yang kamu punya, niscaya kamu akan mendapatkan yang lebih
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

New Post

Most Popular