Dalam beberapa tahun terakhir, adopsi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara banyak perusahaan beroperasi. Namun, kini beberapa perusahaan besar mulai menunjukkan tanda-tanda penyesalan setelah memilih untuk mengganti tenaga kerja manusia dengan teknologi AI. Fenomena ini semakin terlihat jelas ketika beberapa perusahaan terkemuka kembali membuka lowongan pekerjaan untuk tenaga manusia mereka.
Ford Kembali Merekrut Engineer
Ford, perusahaan otomotif asal Amerika Serikat, baru-baru ini mengumumkan bahwa mereka akan merekrut lebih dari 350 engineer. Hal ini dilakukan setelah mereka menyadari bahwa kebergantungan yang terlalu tinggi pada AI dalam pengembangan kendaraan tidak memberikan hasil yang diharapkan. Charles Poon, Wakil Presiden Rekayasa Perangkat Keras Ford, mengungkapkan bahwa mereka keliru mengira bahwa AI yang dilatih dengan standar desain yang ada dapat secara otomatis menghasilkan produk berkualitas tinggi.
Klarna Menyesal Menggantikan Karyawan dengan AI
Kasus serupa juga terjadi pada Klarna, sebuah perusahaan teknologi finansial yang berbasis di Swedia. Pada tahun 2024, Klarna melakukan pemangkasan besar-besaran terhadap karyawan, menggantikan sekitar 1.200 posisi dengan AI, termasuk chatbot yang menggantikan 700 petugas layanan pelanggan. Meskipun chatbot mampu mengurangi waktu layanan dari 11 menit menjadi hanya dua menit serta menghemat biaya, CEO Klarna, Sebastian Siemiatkowski, mengakui bahwa keputusan tersebut terlalu berlebihan dan kini perusahaan membuka lebih dari dua lusin posisi baru untuk meningkatkan produktivitas dan pengalaman pelanggan.
IBM Mengikuti Jejak yang Sama
IBM juga tidak luput dari tren ini. Setelah memotong ribuan karyawan, perusahaan teknologi raksasa ini kini berencana untuk melipatgandakan perekrutan karyawan entry level hingga tiga kali lipat pada tahun 2026. Langkah ini mencerminkan kesadaran mereka akan pentingnya tenaga manusia dalam menjaga kualitas dan inovasi produk yang ditawarkan kepada konsumen.
Penyebab Perusahaan Berbalik Arah
Ada beberapa faktor yang menyebabkan perusahaan-perusahaan besar ini kembali merekrut tenaga kerja manusia. Pertama, hasil dari sistem kualitas otomatis yang selama ini diandalkan ternyata mengecewakan. Biaya garansi dan recall dapat ditekan setelah melibatkan kembali para karyawan untuk menelusuri titik kegagalan produk. Kedua, pengalaman pelanggan yang tidak memuaskan ketika menggunakan layanan berbasis AI menjadi alasan penting lainnya. Meskipun AI dapat meningkatkan efisiensi, interaksi manusia tetap dianggap sangat penting dalam memberikan layanan yang berkualitas.
Dengan adanya perubahan arah ini, perusahaan-perusahaan tersebut menunjukkan bahwa meskipun teknologi AI dapat memberikan banyak keuntungan, tidak ada yang dapat menggantikan nilai dari tenaga kerja manusia dalam menciptakan produk dan layanan yang berkualitas.
Sumber: https://tekno.kompas.com/read/2026/07/05/13350087/4-perusahan-yang-menyesal-pakai-ai-dan-rekrut-karyawan-lagi



