RUBLIK DEPOK
– Tren baru yang sedang berkembang di antara Generasi Z adalah mereka mulai meninggalkan penggunaan smartphone canggih dan lebih memilih menggunakan telepon genggam lawas.
feature phone
Perubahan dalam cara kita menjalani hidup di era digital tak sekadar berkenaan dengan rasa kangen zaman lalu, tetapi juga merupakan respon terhadap stres serta lelahnya pikiran karena pemakaian teknologi yang tanpa henti.
Generasi Z Mulai Bosan dengan Ponsel Cerdas dan Media Sosial
Generasi Z dipandang sebagai grup yang sudah familiar dengan dunia digital sejak usia muda. Akan tetapi, mengherankan saja, saat ini mereka mulai menyuarakan rasa letih akibat teknologi yang telah menjadi bagian tidak terpisahkan dari rutinitas harian mereka. Sebagian besar di antara mereka berpendapat bahwa mereka jenuh karena eksposur kontinu pada layar ponsel, notifikasi tanpa henti, serta beban platform media sosial sering kali menciptakan perasaan cemas dan stres bagi mereka.
Phenomenon ini timbul sebagai usaha Generasi Z dalam mengatur kehidupannya serta merawat kesejahteraan psikologisnya. Mereka pun cenderung lebih memilih
feature phone
Yang berfungsi terbatas, hanya untuk komunikasi mendasar, tanpa adanya gangguan dari aplikasi media sosial yang dapat memecah konsentrasi.
Perusahaan Telepon Genggam Sederhana Menghasilkan Laba Dari Trend Terbaru Ini
HMD Global, pemilik merek Nokia, mengamati pengaruh baik dari tren ini. Ponsel konvensional lama mereka, yang dahulu digemari pada awal tahun 2000-an, kini lagi menjadi favorit bagi generasi muda, terutama di negara-negara berkembang seperti AS dan sebagian besar daerah Eropa. Bahkan penjualannya meningkat drastis mencapai ratusan ribu unit tiap bulannya untuk jenis telepon seluler non-internet atau biasa disebut feature phones.
Bukan cuma di negara-negara Barat, pasarnya untuk telepon genggam fitur masih cukup besar di wilayah Timur Tengah, Benua Afrika, serta berbagai negara di Asia seperti Indonesia. Di tempat-tempat tersebut, banyak masyarakat yang cenderung memilih perangkat seluler biasa karena ketahanan baterainya yang baik dan harganya yang relatif lebih murah jika dibandingkan dengan ponsel pintar atau smartphone.
Pasaran Handphone di Indonesia Mengalami Kemerosotan, Namun Terdapat Indikasi Pemulihan
Di Indonesia, industri ponsel pintar sedang menghadapi kemerosotan signifikan selama beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data dari IDC, jumlah perangkat smartphone yang dikirim ke negara ini berkurang sebesar 14,3% pada tahun 2023, mencapai kurang lebih 35 juta unit saja. Penyebab pokok penurunan tersebut meliputi lesunya daya beli konsumen serta persyaratan hukum yang semakin keras untuk barang-barang kaliber tinggi.
Walau begitu, pada tahun 2024, pasar mulai memperlihatkan indikasi pemulihan dengan peningkatan sebanyak 15,5%. Akan tetapi, pertumbuhan tersebut mayoritas didorong oleh segmen perangkat telepon seluler yang harganya kurang dari Rp 1,6 juta. Di sisi lain, produk smartphone kalangan tengah naik secara signifikan mencapai angka 24,9%, berkat kepemimpinan merk-merk seperti OPPO.
Di sisi lain, smartphone kelas atas yang berharga lebih dari Rp 10 juta malah menunjukkan penurunan dalam penjualannya sebesar 9,2% sampai akhir tahun 2024, dan salah satu faktornya adalah larangan distribusi iPhone 16 diakhir tahun tersebut.
Peningkatan Penggunaan Jaringan 5G Tidak Memengaruhi Kecenderungan Minimalis Generasi Z
Meskipun teknologi 5G semakin meluas di Indonesia, dengan pangsa pasar yang meningkat dari 17,1% menjadi 25,8% dalam setahun, tren penggunaan smartphone mahal belum kembali pulih. Gen Z justru memilih perangkat yang lebih sederhana sebagai bentuk protes terhadap kompleksitas teknologi dan tekanan sosial.
Komunitas
digital minimalism
Semakin banyak pemuda yang mencoba mengurangi kebergantungannya terhadap teknologi demi meningkatkan kualitas interaksi sosial langsung. Menggunakan telepon genggam sederhana merupakan metode praktis bagi mereka untuk menjalankan filosofi ini.
Dampak Positif Beralih ke Ponsel Jadul bagi Gen Z
Handphone dasar dapat membantu Generasi Z untuk mengurangi ketergantungan pada media sosial, meningkatkan rutinitas istirahat malam, serta meredakan tekanan dari pemberitahuannya yang tak henti-hentinya. Menggunakan perangkat dengan fungsi terbatas ini membuat mereka menjadi lebih efisien dan mampu menikmati momen-momen bebas dari campur tangan teknologi.
Gaya hidup ini juga memicu munculnya tren baru di industri teknologi: pengembangan perangkat yang mendukung
digital detox
, dengan fitur yang dirancang untuk membatasi akses digital, bukan malah menambah beban pengguna.
Ringkasan: Generasi Z Lebih Memprioritaskan Kepraktisan demi Menjaga Kesejahteraan Psikologis dan Efisiensi
Pergeseran Gen Z dari smartphone canggih ke ponsel jadul merupakan refleksi penting dari kebutuhan akan keseimbangan antara teknologi dan kehidupan nyata. Mereka membuktikan bahwa kemajuan teknologi tidak selalu identik dengan kebahagiaan dan produktivitas.
Industri teknologi saat ini menghadapi tugas untuk merancang inovasi yang tak sekadar maju dalam hal teknologi, tapi juga berperan meningkatkan kesejahteraan psikis serta mutu kehidupan para konsumennya. Di sisi lain, arah perkembangan tersebut diperkirakan bakal semakin meluas, menimbulkan transformasi paradigma publik tentang dan pemanfaatan teknologi di era mendatang.

