Jumat, Januari 23, 2026
BerandaUncategorizedPerusahaan Telekomunikasi Manfaatkan AI untuk Efisiensi Operasional

Perusahaan Telekomunikasi Manfaatkan AI untuk Efisiensi Operasional

Pemanfaatan Kecerdasan Buatan dalam Industri Telekomunikasi

Industri telekomunikasi telah menjadi salah satu sektor yang secara signifikan merasakan manfaat dari penerapan kecerdasan buatan (AI). Teknologi ini digunakan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas layanan pelanggan. Direktur Eksekutif Asosiasi Penyelenggara Telekomunikasi Seluruh Indonesia (ATSI), Marwan O Baasir, menjelaskan bahwa operator telekomunikasi sudah memanfaatkan AI dalam berbagai proses bisnis.

Marwan mengatakan bahwa penggunaan AI dalam operasi perusahaan telah membantu menurunkan biaya operasional. Hal ini berdampak pada peningkatan efisiensi dan laba perusahaan. Menurutnya, AI tidak hanya digunakan untuk operasional, tetapi juga mulai dimaksimalkan dalam pengembangan bisnis melalui analitik data dan berbagai kebutuhan lainnya.

Salah satu contoh penerapan AI adalah dalam layanan pelanggan. Operator seluler kini menggunakan automation agent atau agen berbasis mesin untuk menangani interaksi awal dengan pengguna sebelum dialihkan ke petugas manusia. Layanan seperti ini sudah diterapkan melalui aplikasi atau WhatsApp, yang memberikan pengalaman lebih cepat dan efisien bagi pelanggan.

Marwan menyampaikan harapan agar teknologi ini terus dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal. Ia menilai bahwa perkembangan AI sejalan dengan arah pemanfaatan teknologi nasional, namun penting untuk diiringi dengan penerapan etika teknologi. Tantangan utama saat ini adalah memastikan pengembangan AI tetap berada dalam koridor pemanfaatan yang bertanggung jawab.

Ia menekankan bahwa penggunaan AI harus dilakukan dengan hati-hati agar tidak disalahgunakan untuk tindakan ilegal. Saat ini, masih ada diskusi mengenai bagaimana mencegah potensi penyalahgunaan teknologi tersebut.

Proyeksi Ekonomi Berbasis AI

Proyeksi ekonomi berbasis AI menunjukkan potensi besar yang dapat mempercepat Indonesia menuju status negara berpenghasilan tinggi. Dalam skenario Indonesia Emas 2045, PDB nasional diproyeksikan mencapai US$7,4 triliun atau sekitar Rp123,21 kuadriliun, dengan PDB per kapita sebesar US$23.199 atau sekitar Rp386,26 juta.

Adopsi AI dinilai mampu mempercepat pencapaian status high-income country menjadi 2038, lebih cepat dibanding skenario dasar yang memproyeksikan 2046. Kontribusi ekonomi AI pada 2030 diperkirakan mencapai US$140 miliar atau Rp2,331 kuadriliun.

Secara sektoral, manfaat terbesar diproyeksikan mengalir ke sektor asuransi dan keuangan dengan US$68 miliar atau sekitar Rp1,132 kuadriliun. Diikuti oleh sektor jasa profesional dan informasi serta komunikasi masing-masing sebesar US$30 miliar (Rp499,5 triliun) dan US$121 miliar (Rp2,014 kuadriliun).

Sektor manufaktur mencatat kontribusi hingga US$357 miliar atau Rp5,944 kuadriliun, disusul perdagangan grosir dan ritel US$279 miliar (Rp4,645 kuadriliun) serta pertanian US$291 miliar (Rp4,845 kuadriliun). Adapun kategori jasa lainnya memberikan nilai terbesar, yakni US$658 miliar atau Rp10,955 kuadriliun.

Dengan adanya penerapan AI yang semakin luas, industri telekomunikasi dan sektor-sektor lainnya memiliki peluang besar untuk berkembang lebih pesat. Namun, perlu adanya kesadaran bersama tentang penggunaan teknologi yang bertanggung jawab dan bermanfaat bagi semua pihak.

zonagadget
zonagadgethttps://www.zonagadget.co.id/
Berikan ilmu yang kamu punya, niscaya kamu akan mendapatkan yang lebih
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

New Post

Most Popular