Kerja Sama Penguatan SDM Siber dalam Menghadapi Ancaman Digital yang Makin Kompleks
Dalam menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks, khususnya dengan penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam serangan digital, sektor pertahanan membutuhkan penguatan sumber daya manusia (SDM). Hal ini menunjukkan pentingnya peningkatan kapabilitas dan kesiapan institusi dalam menghadapi dinamika ancaman digital yang terus berkembang.
Salah satu contoh nyata dari upaya penguatan SDM adalah kerja sama antara PT ITSEC Asia Tbk (CYBR), perusahaan keamanan siber, dengan PT Republik Technetronic Nusantara (RTN), penyedia layanan yang bekerja sama dengan Kementerian Pertahanan. Anak usaha CYBR, PT ITSEC Cyber Academy, telah menandatangani kontrak pelatihan keamanan siber dan AI bernilai USD 60 juta atau sekitar Rp 1 triliun lebih. Kontrak ini berlangsung selama empat tahun dan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan peserta dalam menghadapi ancaman siber global.
Kurikulum Berbasis Standar Internasional
Melalui kerja sama ini, ITSEC Cyber Academy ditunjuk sebagai penyelenggara pelatihan keamanan siber dan kecerdasan buatan. Program pelatihan dirancang dengan kurikulum yang mengacu pada standar internasional, sehingga memberikan pemahaman mendalam tentang lanskap ancaman siber. Fokus pelatihan tidak hanya pada aspek teknis, tetapi juga kesiapan operasional dalam menghadapi ancaman digital yang terus berkembang.
Kementerian Pertahanan berperan sebagai end-user dalam kerja sama ini, sedangkan RTN bertindak sebagai mitra penyedia layanan. ITSEC Cyber Academy bertanggung jawab atas pelaksanaan program sesuai ruang lingkup yang disepakati dalam kontrak.
Peran Teknologi Kecerdasan Buatan dalam Ancaman Siber
Menurut Presiden Direktur ITSEC Asia, Patrick Rudolf Dannacher, perkembangan ancaman siber ke depan akan semakin terorganisir dan memanfaatkan teknologi canggih, termasuk kecerdasan buatan. AI tidak hanya digunakan sebagai alat pertahanan, tetapi juga berpotensi dimanfaatkan oleh pelaku ancaman untuk meningkatkan skala dan kompleksitas serangan.
“Pengembangan kapabilitas SDM menjadi faktor kunci. Pelatihan yang adaptif dan berbasis teknologi mutakhir dibutuhkan agar institusi mampu merespons ancaman siber secara cepat dan tepat,” ujar Patrick dalam keterangan tertulis.
Pentingnya Kapasitas SDM dalam Pertahanan Non-Konvensional
Nilai kontrak dan durasi kerja sama ini mencerminkan meningkatnya perhatian terhadap pembangunan kapasitas SDM siber sebagai bagian dari pertahanan non-konvensional. Keamanan siber kini dipandang sebagai salah satu domain strategis, mengingat meningkatnya ketergantungan institusi negara terhadap sistem digital dan jaringan informasi.
Dari sisi korporasi, CYBR menilai kerja sama tersebut berpotensi memperluas portofolio layanan edukasi dan pengembangan talenta di bidang keamanan siber dan AI. Kontribusi terhadap pendapatan perseroan akan bergantung pada realisasi jadwal serta ruang lingkup layanan pelatihan selama periode kontrak berlangsung.
Model Pelatihan Modular dan Fleksibel
Patrick menyebutkan bahwa model pelatihan yang dikembangkan bersifat modular dan fleksibel, sehingga dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan profil risiko masing-masing institusi. Pendekatan ini dinilai memungkinkan penguatan kapabilitas lintas sektor, khususnya dalam membangun kesiapan jangka panjang di bidang keamanan siber.
Tantangan dan Strategi Masa Depan
Ke depan, meningkatnya eskalasi ancaman digital diperkirakan akan membuat penguatan kapasitas SDM siber menjadi agenda penting bagi berbagai kementerian dan lembaga. Kerja sama jangka panjang seperti ini dinilai mencerminkan pergeseran strategi pertahanan yang tidak lagi bertumpu pada aspek konvensional semata, tetapi juga pada ketahanan sistem dan manusia di ruang siber. Dengan demikian, pelatihan dan pengembangan SDM menjadi langkah strategis untuk menghadapi tantangan di era digital.

