Sejumlah Sektor akan Mengandalkan Pusat Data Berbasis Kecerdasan Buatan pada 2026
Penggunaan pusat data berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di Indonesia diperkirakan meningkat pesat dalam beberapa tahun mendatang. Menurut prediksi dari Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO), sektor kesehatan dan manufaktur akan menjadi yang paling banyak menggunakan teknologi ini pada tahun 2026.
Ketua IDPRO, Hendra Suryakusuma, menjelaskan bahwa penggunaan pusat data di sektor kesehatan akan sangat mendukung pengembangan healthtech dan bioinformatika. Selain itu, sektor keuangan dan perbankan melalui fintech, serta e-commerce dan ritel digital juga akan mengalami peningkatan penggunaan teknologi ini.
Lebih lanjut, Hendra menyebutkan bahwa sektor pemerintahan dan layanan publik, terutama Smart City dan e-Government, serta industri manufaktur dan logistik melalui otomatisasi dan predictive analytics, juga akan membutuhkan infrastruktur pusat data yang mumpuni.
Pertumbuhan Kapasitas Pusat Data yang Signifikan
Adopsi AI secara masif di berbagai sektor, baik swasta maupun publik, akan mendorong lonjakan kebutuhan kapasitas dan kapabilitas pusat data di Indonesia. IDPRO memperkirakan pertumbuhan kapasitas pusat data pada 2026 mencapai 35% hingga 45% dibandingkan dengan 2025.
Proyeksi ini sejalan dengan peningkatan pemanfaatan AI generatif, otomatisasi industri, serta kebutuhan pengolahan data secara real-time. Secara spesifik, kebutuhan kapasitas listrik industri pusat data diprediksi meningkat hingga 300–400 megawatt (MW) dalam satu hingga dua tahun ke depan.
Peningkatan ini didorong oleh permintaan hyperscale dan edge data center yang mendukung aplikasi AI. Berdasarkan data PT PLN (Persero), kapasitas industri pusat data di Indonesia pada 2030 diperkirakan mencapai 2,3 gigawatt (GW). Namun, menurut Hendra, proyeksi tersebut belum sepenuhnya memasukkan faktor penggunaan AI, khususnya server berbasis GPU yang membutuhkan daya per rak (power per rack) sangat besar, bahkan bisa mencapai 135 kilowatt (kW) untuk GPU GB200.
Persyaratan Infrastruktur yang Tidak Biasa
AI membutuhkan infrastruktur dengan kinerja komputasi tinggi (high performance computing/HPC), latensi rendah, serta kapasitas penyimpanan data berskala besar, terutama untuk keperluan pelatihan model. Secara umum, infrastruktur pusat data nasional terus berkembang dan menunjukkan kesiapan untuk menopang beban kerja AI, terutama dengan masuknya investor dan operator global serta ekspansi pemain lokal.
Beberapa anggota IDPRO juga sedang membangun AI ready data center. Hal ini menunjukkan bahwa sektor pusat data semakin siap mendukung pengembangan AI di Indonesia.
Fokus pada 10 Sektor Prioritas
Di tengah proses penyusunan peta jalan nasional AI, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mendorong pelaku industri dan pemerhati AI untuk memfokuskan pengembangan teknologi tersebut pada 10 sektor prioritas yang telah dirumuskan dalam rancangan peta jalan AI nasional.
Ke-10 sektor tersebut antara lain: ketahanan pangan; kesehatan; pendidikan; ekonomi dan keuangan; reformasi birokrasi; politik, hukum, dan keamanan; energi, sumber daya, dan lingkungan; perumahan; transportasi, logistik, dan infrastruktur; serta ekonomi kreatif.
Menurut Meutya, pemilihan sektor-sektor ini bertujuan agar pengembangan AI di Indonesia memiliki arah yang jelas dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. “Kami sarankan untuk fokus kepada 10 bidang ini dalam pembangunan-pembangunan awal AI di Indonesia,” ujarnya dalam acara Kumparan AI for Indonesia di Jakarta.
Sebelumnya, Meutya menyampaikan bahwa peta jalan kecerdasan buatan nasional ditargetkan meluncur pada awal 2026 dan akan berbentuk Peraturan Presiden (Perpres). “Insya Allah tahun 2026 Perpres peta jalan ini sudah bisa keluar dan juga bisa menjadi guidance bagi kita semua,” ujarnya.

