Perkembangan Kecerdasan Buatan dan Tantangan yang Dihadapi
Perkembangan pesat kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) telah mengubah lanskap pekerjaan secara fundamental. Posisi entry level yang melibatkan aktivitas rutin dan repetitif kini semakin banyak diisi oleh sistem otomatis. Kondisi ini menuntut para profesional, terutama perempuan, untuk segera menguasai keterampilan baru agar tetap relevan dalam ekosistem industri.
Rina Suryani, Corporate Social Responsibility Leader International Business Machines (IBM) Indonesia, menjelaskan bahwa pergeseran ini tidak terhindarkan. Banyak perusahaan mengalihkan pekerjaan repetitif kepada sistem otomatis karena teknologi mampu melakukan pengecekan dan analisis dengan tingkat konsistensi yang jauh lebih tinggi. “Yang repetitif itu sebenarnya pattern yang sudah bisa dilihat, dan mungkin kita untuk mengadopsinya ke sana, yang mempelajarinyalah,” ujarnya dalam acara Demo Day Perempuan Inovasi 2025 di Jakarta Pusat.
Aplikasi AI di Sektor Manufaktur
Rina mencontohkan aplikasi AI di sektor manufaktur, di mana sejumlah pabrik kini memanfaatkan AI untuk pemeriksaan kualitas produk. Mesin dapat bekerja 24 jam tanpa henti, membebaskan tenaga manusia dari tugas yang membosankan dan berulang. Perusahaan lantas menempatkan sumber daya manusia pada fungsi yang lebih strategis, seperti pengawasan proses, pengoperasian sistem, dan pengambilan keputusan berdasarkan analisis data yang disajikan oleh AI.
Oleh karena itu, perusahaan kini mencari talenta yang tidak hanya mampu menjalankan pekerjaan teknis, tetapi juga memahami cara kerja teknologi. “Kemampuan mengoperasikan sistem otomatis, membaca pola data, serta memanfaatkan AI untuk efisiensi dianggap sebagai keterampilan penting,” tegas Rina.
Tantangan Utama Perempuan: Isu Psikologis dan Kepercayaan Diri
Untuk mendukung percepatan literasi digital, IBM bekerja sama dengan Mbak Koding menghadirkan kurikulum AI gratis melalui inisiatif IBM SkillsBuild. Program ini diharapkan dapat menjembatani perempuan masuk ke dunia teknologi tanpa hambatan biaya atau latar belakang pendidikan tertentu.
Namun, Rina menyoroti bahwa tantangan terbesar bagi perempuan justru berasal dari faktor psikologis. Ia melihat banyak perempuan yang sebetulnya memiliki kemampuan setara, namun ragu untuk tampil ke depan, mengambil kesempatan, atau membangun jaringan profesional. “Kayaknya bener-bener kepercayaan diri, kalau memang kita tuh semuanya sebenarnya sama. Untuk bisa paling depan, kita harus ibaratnya yakin aja dulu sama kemampuan kita,” ujar Rina.
Ia menceritakan pengalamannya melihat peserta perempuan yang memilih duduk di barisan belakang saat pelatihan karena merasa tidak cukup percaya diri, padahal mereka mampu menyelesaikan tugas-tugas teknologi yang dianggap sulit.
Berani Mencoba sebagai Kunci Lifelong Learner
Rina mendorong perempuan untuk berani mencoba sebagai langkah awal menjadi pembelajar seumur hidup (lifelong learner), bahkan jika merasa belum siap. Selain itu, memperbanyak koneksi, mengikuti kelas pengembangan diri, dan aktif membangun jejaring juga dinilai penting untuk membuka peluang karier baru.
Ia menekankan bahwa kepercayaan diri bukanlah proses instan, tetapi harus dilatih secara konsisten. Meningkatnya kebutuhan industri terhadap literasi digital harusnya menjadi momentum bagi perempuan untuk lebih percaya diri dan aktif memasuki ruang-ruang teknologi.

