Peran Amazon dalam Dunia Kecerdasan Buatan
Kemunculan perusahaan seperti OpenAI sebagai salah satu pelaku utama dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) menunjukkan bagaimana persaingan global kini bergerak menuju wilayah yang lebih mendasar. Di balik investasi besar yang dilakukan oleh Amazon, terlihat bagaimana para pemain teknologi saling bersaing untuk menguasai infrastruktur komputasi dan sumber daya teknologi dasar.
Pertarungan ini tidak hanya terbatas pada produk akhir, tetapi juga melibatkan kontrol atas rantai pasok komputasi, chip, serta pusat data. Dalam konteks ini, ChatGPT bukan lagi sekadar aplikasi, melainkan simbol dari kekuatan pasar dan daya tawar teknologi yang dimiliki oleh sebuah perusahaan.
Menurut laporan Fortune, Amazon sedang mempertimbangkan investasi sebesar 10 miliar dolar AS ke OpenAI. Jumlah ini setara dengan sekitar 167,2 triliun rupiah, jika dikonversi berdasarkan kurs saat ini. Kesepakatan ini berpotensi meningkatkan valuasi OpenAI melebihi 500 miliar dolar AS. Namun, analis menyebut bahwa struktur kerja sama ini lebih mirip dengan kerangka strategis jangka panjang daripada investasi modal ventura biasa.
Charles Fitzgerald, mantan karyawan Microsoft dan investor di bidang infrastruktur komputasi awan, menilai bahwa kesepakatan ini tidak bisa disederhanakan. Menurutnya, OpenAI belum memiliki dana yang cukup untuk memenuhi komitmen belanja komputasi dalam skala besar. Oleh karena itu, rencana investasi Amazon dipandang sebagai bentuk pembiayaan sirkular. Dana yang dialirkan dari Amazon ke OpenAI kemudian kembali lagi ke Amazon Web Services (AWS) sebagai pembayaran kapasitas komputasi.
Anshel Sag, analis utama di Moor Insights & Strategy, melihat pola ini sebagai konsekuensi dari tingginya biaya pengembangan AI modern. Ia menjelaskan bahwa banyak ekonomi sirkular terjadi dalam industri ini. Dengan melakukan investasi finansial, risiko memang meningkat, tetapi juga menciptakan jaring pengaman.
Bagi Amazon, mekanisme ini tetap memungkinkan pencatatan pendapatan baru dari layanan cloud. Sementara itu, bagi OpenAI, kesepakatan ini mencerminkan kebutuhan mendesak akan kapasitas komputasi. Sag menyatakan bahwa OpenAI sedang berusaha mengamankan kapasitas komputasi sebanyak mungkin dari sebanyak mungkin sumber.
Ketergantungan OpenAI pada Nvidia dan Microsoft mendorong mereka untuk membuka opsi lain, termasuk menggunakan chip Trainium dan Inferentia milik Amazon. Meskipun performanya belum sepenuhnya menyamai chip Nvidia generasi terbaru, opsi ini menjadi langkah penting untuk diversifikasi sumber daya.
Dari sudut pandang Amazon, taruhan utamanya adalah membangun kredibilitas di pasar AI generatif. Meski menjadi penyedia layanan cloud terbesar dunia, Amazon masih tertinggal dalam persepsi sebagai pemain utama dalam bidang AI. Sag menegaskan bahwa ChatGPT masih menjadi acuan utama industri AI. Jika OpenAI menggunakan perangkat keras Amazon dalam skala besar, hal ini menjadi bentuk pengakuan yang kuat.
Namun, peluang tersebut datang dengan risiko. Fitzgerald mengingatkan bahwa klaster pelatihan model AI merupakan bisnis yang mahal dan cepat usang. Biayanya sangat besar, digunakan intensif dalam waktu singkat, lalu menjadi tidak relevan ketika perusahaan seperti Nvidia merilis generasi berikutnya.
Pada akhirnya, keberhasilan kesepakatan ini akan diukur dari seberapa besar angka investasi yang diumumkan benar-benar berubah menjadi pendapatan nyata bagi Amazon Web Services. Hingga saat itu, realisasi dana tersebut, menurut Fitzgerald, “kemungkinan besar masih dalam proses dan belum benar-benar terealisasi.”

