Minggu, Maret 22, 2026
Beranda blog Halaman 215

Menggali Keseruan TheoTown: Game Simulasi Kota yang Bikin Ketagihan

0

Menggali Keseruan TheoTown: Game Simulasi Kota yang Bikin Ketagihan

KOMPAS.com – Ketika pertama kali mencoba game TheoTown, saya tidak menyangka bahwa pengalaman bermainnya akan begitu menarik dan membuat ketagihan. Awalnya, saya hanya ingin mengetahui mengapa game ini menjadi perbincangan hangat di kalangan gamer Indonesia. Namun, setelah beberapa menit menjelajahi dunia dalam game ini, saya langsung memahami daya tariknya.

Walaupun grafis yang ditawarkan terlihat sederhana dengan gaya pixel isometric, TheoTown menyuguhkan sistem simulasi yang terasa hidup dan penuh tantangan. Dalam game ini, saya berperan sebagai wali kota yang bertanggung jawab untuk membangun infrastruktur kota yang ideal. Tugas saya meliputi membangun jalan, mengatur pasokan listrik dan air, serta membagi zona perumahan, komersial, dan industri. Saya juga harus memastikan bahwa layanan publik berfungsi dengan baik demi kelangsungan hidup kota.

Setiap keputusan yang diambil sangat berpengaruh; sedikit kesalahan dapat membuat kota stagnan atau bahkan mengalami kebangkrutan. Sensasi melihat kota berkembang dari lahan kosong menjadi area yang padat penduduk sangat memikat, hingga membuat saya terus berpikir, “satu menit lagi, satu bangunan lagi.” Siapa sangka, saat pertama kali mencobanya, saya tanpa sadar sudah bermain selama hampir empat jam non-stop.

Tujuan Kecil yang Menggoda

Yang membuat saya betah bermain bukan hanya sekadar proses membangun kota, tetapi juga banyaknya tujuan kecil yang ingin saya capai. Mulai dari membangun kawasan bisnis yang tertata rapi, mencoba merancang tata kota seperti kota-kota besar, hingga penasaran apakah desain tertentu dapat meningkatkan stabilitas ekonomi kota yang saya kelola.

Rasa penasaran ini yang mendorong saya untuk terus mencoba dan sulit untuk berhenti. Selain itu, TheoTown juga menyediakan banyak plugin yang membuat permainan semakin beragam dan tidak cepat membosankan. Saya dapat menambahkan berbagai gedung, kendaraan, serta elemen kota baru, termasuk plugin bertema Indonesia seperti Monumen Nasional (Monas), gedung DPR/MPR, hingga supermarket yang khas dengan nuansa lokal.

Dengan demikian, TheoTown bukan sekadar game city-building biasa, melainkan seperti kanvas kosong yang dapat saya hiasi dengan imajinasi saya sendiri. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa game ini terasa sangat mengasyikkan dan membuat saya ketagihan.

Kepopuleran TheoTown di Indonesia

Tidak mengejutkan jika TheoTown mendadak dibanjiri oleh pemain-pemain dari Indonesia. Bahkan, dalam beberapa waktu, akses ke game ini sempat terganggu akibat lonjakan jumlah pemain yang signifikan. Dari pengalaman saya, TheoTown lebih dari sekadar game ringan untuk mengisi waktu luang. Ini adalah simulasi kota yang dapat membuat pemain betah berlama-lama dan selalu ingin kembali untuk melanjutkan petualangan membangun kota.

Grafis yang Menyimpan Pesona Tersendiri

Dari segi grafis, awalnya saya tidak terlalu terkesan dengan tampilannya yang pixelated dan terasa memiliki resolusi rendah, meskipun sudah disetel ke mode HD. Namun, seiring waktu dan semakin dalam saya bermain, mata saya mulai terbiasa dan fokus saya beralih pada mekanisme permainan yang ditawarkan.

TheoTown sendiri merupakan game simulasi untuk membangun dan mengelola kota yang pertama kali dirilis pada tahun 2022. Meskipun baru populer di Indonesia belakangan ini, game ini sudah tersedia di berbagai platform, mulai dari Android, iOS, hingga PC melalui Steam. Dengan kemudahan akses dan gameplay yang menarik, tidak heran jika banyak gamer yang jatuh hati pada TheoTown.

Secara keseluruhan, pengalaman bermain TheoTown adalah sesuatu yang sulit dilupakan. Game ini berhasil menggabungkan elemen kreativitas dan strategi dengan cara yang menyenangkan. Siap untuk menjadi wali kota dan membangun kota impian Anda sendiri? Selamat bermain!

Sumber: https://tekno.kompas.com/read/2026/01/15/11020017/saya-coba-main-game-theotown-sebentar-berujung-main-berjam-jam

AI Gemini Semakin Canggih: Fitur Personal Intelligence Memperkuat Hubungan dengan Pengguna

0

AI Gemini Semakin Canggih: Fitur Personal Intelligence Memperkuat Hubungan dengan Pengguna

KOMPAS.com – Google baru saja meluncurkan fitur terbaru bernama Personal Intelligence dalam aplikasi kecerdasan buatan (AI) Gemini. Fitur ini dirancang untuk memberikan pengalaman yang lebih personal bagi penggunanya. Dengan kemampuan untuk terhubung dengan berbagai aplikasi dalam ekosistem Google, Gemini diharapkan menjadi asisten yang tidak hanya cerdas, tetapi juga lebih akrab.

Josh Woodward, Wakil Presiden Google Labs untuk Gemini dan AI Studio, menjelaskan bahwa Personal Intelligence dapat menghubungkan informasi dari aplikasi seperti Gmail dan Google Photos secara aman. “Dengan cara ini, Gemini dapat menjadi asisten yang sangat membantu,” katanya.

Konsep ini mirip dengan Apple Intelligence, sistem AI pribadi dari Apple yang juga mengintegrasikan berbagai aplikasi untuk membantu pengguna dalam menulis, menciptakan gambar, hingga memahami konteks dengan lebih baik. Namun, Personal Intelligence di Gemini memiliki pendekatan yang unik dan fitur-fitur yang patut dicoba.

Pengaturan yang Fleksibel

Fitur Personal Intelligence bersifat opsional untuk akun pribadi dan secara default dalam keadaan nonaktif. Pengguna dapat memilih aplikasi Google mana saja yang ingin mereka hubungkan ke Gemini, seperti Gmail, Google Photos, Search, YouTube, dan masih banyak lagi. Dengan integrasi ini, Gemini dapat memberikan respon yang lebih mendalam dan mampu memahami konteks tanpa perlu diberi penjelasan terlebih dahulu.

Woodward membagikan pengalamannya menggunakan fitur Personal Intelligence di blog Google. Dia mengungkapkan bagaimana hidupnya menjadi lebih mudah sejak memanfaatkan fitur ini. Misalnya, saat dia mencari ban baru untuk minivan Honda tahun 2019, namun tidak mengetahui ukuran yang tepat. Woodward lalu bertanya kepada Gemini, yang mampu memberikan respons lebih mendalam dibandingkan chatbot lain yang hanya menyajikan informasi spesifikasi ban.

  • Gemini memberikan beberapa pilihan ban, satu untuk penggunaan sehari-hari dan satu lagi untuk segala kondisi cuaca, dengan merujuk pada perjalanan keluarganya ke Oklahoma yang diunggah di Google Photos.
  • Gemini juga menampilkan peringkat serta harga untuk masing-masing ban, memudahkan pengguna dalam membuat keputusan.
  • Ketika Woodward membutuhkan plat nomor mobil, Gemini juga dapat memberikan informasi berdasarkan foto yang ada di Google Photos.

Keamanan dan Privasi Data

Menurut Google, fitur Personal Intelligence tidak memerlukan data sensitif, karena semua informasi sudah tersimpan aman di platform Google. Selain itu, Gemini akan menunjukkan sumber informasi yang digunakannya, sehingga pengguna bisa memverifikasi informasi yang diterima.

Google juga menegaskan bahwa mereka telah menerapkan pengamanan untuk topik-topik sensitif, seperti kesehatan. Meskipun demikian, Gemini tetap bisa mendiskusikan topik tersebut jika diminta oleh pengguna.

Umpan Balik dari Pengguna

Seperti asisten AI lainnya, Personal Intelligence di Gemini mungkin saja memberikan respons yang tidak akurat atau berlebihan. Google mengajak pengguna untuk memberikan umpan balik dengan menekan tombol jempol ke bawah sebagai penilaian terhadap respons yang diberikan.

Versi Beta dan Rencana Ke Depan

Fitur Personal Intelligence saat ini baru tersedia dalam versi beta untuk pelanggan Google AI Pro dan AI Ultra di Amerika Serikat. Namun, Google berencana untuk memperluas fitur serupa ke Google AI Mode dalam waktu dekat, sehingga lebih banyak pengguna dapat merasakan manfaat dari teknologi ini.

Dengan peluncuran fitur Personal Intelligence, Google berharap dapat menciptakan pengalaman yang lebih terhubung dan personal bagi para penggunanya. Ini menunjukkan bahwa perusahaan terus berinovasi untuk memenuhi kebutuhan pengguna di era digital ini.

Sumber: https://tekno.kompas.com/read/2026/01/15/13030027/ai-gemini-makin-canggih-kini-lebih-akrab-dengan-pengguna

Masalah Utama Galaxy Z TriFold: Ukuran yang Menjadi Tantangan

0

Masalah Utama Galaxy Z TriFold: Ukuran yang Menjadi Tantangan

Perkembangan teknologi ponsel lipat selalu berhasil membangkitkan rasa kagum yang mengingatkan kita pada masa kecil. Ketika pertama kali melihat Galaxy Fold yang asli hampir satu dekade lalu, saya terpesona oleh kemampuan layar berukuran tablet yang dapat dilipat dan dimasukkan ke dalam saku. Saya tidak menyangka teknologi ini akan berkembang begitu pesat, dan kini, layar yang hanya bisa dilipat sekali sudah tidak cukup lagi. Di penghujung tahun ini, Samsung meluncurkan Galaxy Z TriFold, ponsel terbaru yang mengemas ukuran tablet kecil ke dalam bentuk yang lebih kompak. Meskipun perangkat multifungsi ini mengesankan sebagai pencapaian teknologi, dalam praktiknya, Samsung seharusnya bisa memberikan lebih banyak kepada konsumen.

Galaxy Z TriFold dapat dikatakan terlalu besar untuk digunakan sehari-hari sebagai smartphone. Saat kami mencoba perangkat ini pada saat peluncuran dan di CES 2026, kami terkejut karena bobot dan ergonominya jauh lebih baik dari yang kami duga. Namun, bahkan ketika dilipat menjadi bentuk 6,5 inci, perangkat ini masih 40% lebih berat dibandingkan Galaxy S25 Ultra dan hampir 60% lebih tebal. Mengingat flagship Samsung yang sudah cukup besar, Z TriFold akan menjadi tantangan tersendiri dalam penggunaan sehari-hari, bahkan bagi mereka yang memiliki tangan besar dan saku yang luas. Namun, masalah ini hanya menjadi masalah jika Anda melihatnya secara sempit sebagai smartphone.

Dalam konteks tablet, bobot dan ketebalan ini menjadi keuntungan praktis. Dengan layar 10 inci yang dapat dilipat menjadi bentuk yang lebih mudah dibawa, perangkat ini jauh lebih praktis dibandingkan Galaxy Tab yang lebih berat dengan ukuran serupa. Layar luar juga memungkinkan pengguna untuk memanfaatkan perangkat ini sebagai smartphone — meskipun mungkin terasa canggung — menggantikan dua perangkat menjadi satu. Selain itu, dengan rasio aspek 4:3 yang lebih besar dibandingkan dengan seri Galaxy Z Fold yang tradisional, TriFold lebih siap untuk menampilkan dokumen, membaca, dan mencatat. Perangkat ini lebih ditujukan bagi mereka yang multitasking dan menghargai perangkat produktivitas yang ringkas.

TriFold memiliki potensi untuk menjadi ruang kerja mobile yang menarik, dengan dukungan pengalaman Samsung DeX yang sepenuhnya mendukung upaya multitasking, kekuatan dari Snapdragon 8 Elite dengan banyak RAM dan penyimpanan, serta dukungan perangkat input seperti mouse dan keyboard. Namun, ada satu masalah: Samsung tidak membuat Z TriFold cukup besar untuk pertimbangan ruang kerja mobile yang serius.

Dengan ukuran layar 10 inci, perangkat ini terlalu kecil untuk penggunaan kerja yang nyaman dalam waktu lama. Saya memiliki laptop Windows berukuran 11,6 inci, dan meskipun keyboardnya cukup nyaman, margin layar yang terbatas membuat multitasking menjadi sulit. Ruang layar yang terbatas membuat teks sulit dibaca tanpa meningkatkan DPI secara drastis atau menurunkan resolusi, atau mendekatkan layar ke wajah. Meskipun keterbacaan di TriFold kemungkinan besar lebih baik daripada laptop saya yang sudah ketinggalan zaman, saya masih harus memutar leher dan memaksa mata untuk menggunakannya dalam waktu lama.

Karena Samsung mengklasifikasikan TriFold sebagai smartphone terlebih dahulu, tablet kedua, perangkat ini terlalu besar untuk digunakan sebagai ponsel, tetapi terlalu kecil sebagai workstation portabel yang efektif. Namun, akan jauh lebih masuk akal bagi Samsung untuk menargetkan penggunaan yang terakhir, mengingat mereka sudah memiliki kandidat tablet kompak dalam lini Z Fold.

Dengan kemampuan lipatnya, TriFold yang lebih besar tetap akan mendapatkan keuntungan dari bentuknya. Tentu saja, meningkatkan ukurannya akan mengurangi efektivitasnya sebagai smartphone, tetapi tablet lipat berukuran 13 inci yang dapat diperkecil menjadi perangkat yang lebih kecil dapat menggantikan beberapa perangkat sekaligus sambil menghemat bobot dan ruang yang berharga.

Di sisi lain, saya tidak bisa tidak menyebutkan bahwa Galaxy Z TriFold memiliki harga yang sangat tinggi. Dengan harga $3.000 di beberapa pasar, perangkat ini lebih mahal daripada empat Galaxy Tab S11, dan Anda masih akan memiliki sisa uang untuk membeli penutup tablet. Namun, Anda tidak bisa melipat tablet Samsung yang termurah, dan beratnya 50% lebih banyak dibandingkan Z TriFold.

Ada juga argumen tentang laptop. Memang benar bahwa konsumen dapat membeli beberapa ultrabook dengan harga TriFold, tetapi perangkat ini menawarkan keuntungan menarik, termasuk utilitas dan fleksibilitas yang lebih besar. Bagi para pelancong yang sering bepergian dengan satu tas, mengurangi ukuran dan bobot perangkat teknologi mereka adalah tujuan yang terus dicari. Dalam hal ini, TriFold yang lebih besar tampaknya menjadi pilihan yang ideal.

Namun, dengan harga selangit dan desain TriFold saat ini, saya masih belum yakin untuk siapa perangkat ini dibuat. Tentu saja, ini mungkin merupakan demonstrasi kekuatan teknologi dan pengembangan Samsung, tetapi ini bukan perangkat pertama dalam genre ini. HUAWEI telah meluncurkan Mate XT beberapa bulan yang lalu, lebih dulu daripada Samsung.

Akhirnya, keberhasilan Galaxy Z TriFold sangat bergantung pada sudut pandang yang Anda gunakan untuk menilainya. Sebagai ponsel, ini adalah perangkat yang tebal, berat, dan besar yang tidak terlalu praktis dan jauh lebih merepotkan dibandingkan Galaxy Z Fold yang asli. Namun, sebagai pengganti laptop, Galaxy Z TriFold memiliki bobot sepertiga dari sebuah ultrabook, dapat dilipat menjadi ukuran yang tidak lebih besar dari ponsel flagship, dan dapat dengan mudah menjalankan aplikasi Android apa pun yang Anda butuhkan. Dengan menambahkan keyboard dan mouse yang kompak, Anda memiliki kantor mobile yang muat dalam tas pinggang, apalagi tas laptop. Andai saja Samsung merancangnya untuk niche tersebut.

Seharusnya, ini akan menjadikan TriFold sebagai perangkat yang unik dan memberikan tujuan lain untuk keberadaannya, bukan sekadar perangkat halo yang hanya untuk penggemar, tetapi sebuah powerhouse produktivitas yang bermanfaat dan mudah disimpan di saku jas. Namun saat ini, perangkat ini hanya menjadi barang bagi kolektor awal, dan itu terasa disayangkan.

Untuk memberikan kredit kepada Samsung, saya rasa TriFold adalah perkembangan yang menarik, tetapi saya hanya berharap bahwa Z TriFold 2 bisa lebih leluasa daripada pendahulunya.

Sumber: https://www.androidauthority.com/galaxy-z-trifold-size-3633041/

Desain Smartphone Android yang Menyerupai iPhone: Kenapa Saya Merasa Jenuh

0

Desain Smartphone Android yang Menyerupai iPhone: Kenapa Saya Merasa Jenuh

Dalam beberapa tahun terakhir, saya telah menjajal berbagai smartphone flagship Android, termasuk produk dari Google, Samsung, Xiaomi, dan vivo. Namun, terdapat tren yang semakin mengkhawatirkan yang saya amati, terutama dalam enam bulan terakhir. Banyak smartphone terbaru seperti seri Pixel 10, Samsung Galaxy S25, dan OnePlus 15, tampaknya mengadopsi desain yang sangat mirip dengan iPhone. Saya merasa jenuh dengan pendekatan desain smartphone yang terkesan malas ini.

Apple pertama kali memperkenalkan desain dengan sudut datar dan tepi melengkung pada tahun 2010 melalui iPhone 4. Sementara itu, Samsung Galaxy Alpha yang dirilis pada tahun 2014 juga memiliki estetika serupa. Namun, tampaknya bukan kebetulan bahwa desain ini kembali muncul dengan iPhone 12, dan banyak produsen Android pun mengikuti jejak tersebut.

Smartphone Android dengan Desain Mirip iPhone

Beberapa smartphone Android yang jelas menunjukkan kemiripan dengan iPhone dari segi desain dan feel-nya antara lain Galaxy S24 dan S24 Plus, Galaxy S25 dan S25 Plus, serta seri Google Pixel 9 dan yang lebih baru, termasuk OnePlus 15. Menariknya, tiga unit ulasan terakhir yang saya terima memiliki pendekatan desain yang hampir identik. Siapa yang bisa menebak mana yang merupakan realme GT8 Pro, POCO F8 Ultra, dan vivo X300 Pro dari foto di bawah ini?

Memang, kebanyakan smartphone Android dengan tepi datar dan sudut melengkung memiliki penutup belakang dan tonjolan kamera yang unik. Namun, perbedaan tersebut terasa minim di tengah lautan desain yang monoton.

Ergonomi dan Kenyamanan Penggunaan

Selain desain yang terkesan tidak imajinatif, saya menemukan bahwa smartphone dengan bingkai datar umumnya terasa kurang ergonomis dibandingkan perangkat dengan sudut melengkung atau tirus. Sebagai perbandingan, Pixel 7 Pro dan Samsung Galaxy S8 terasa lebih nyaman saat digenggam dibandingkan dengan model-model terbaru ini. Tepi datar juga membuat smartphone terlihat dan terasa lebih tebal dari yang sebenarnya, memberikan kesan seperti batu bata.

Apakah Anda tidak ingin ketinggalan berita terbaru dari Android Authority?

Penyebab Kecenderungan Menyerupai Desain iPhone

Salah satu kemungkinan alasan mengapa produsen Android meniru desain bingkai datar Apple adalah untuk meningkatkan kemudahan perbaikan. EU baru-baru ini mengumumkan peraturan baru mengenai perbaikan perangkat yang mulai berlaku pada 31 Juli. Ini mendorong produsen untuk melihat desain terbaru iPhone yang lebih mudah diperbaiki dibandingkan dengan model sebelumnya dan mengadopsi elemen desain tersebut.

Smartphone Pixel 9 dan 10 hadir dengan bingkai datar dan sudut melengkung, serta menawarkan desain yang lebih mudah diperbaiki dibandingkan pendahulunya. Perangkat ini dapat dibuka dari depan atau belakang, sementara Pixel yang lebih lama hanya bisa dibuka dari depan, yang tidak ideal untuk penggantian baterai. Meski demikian, skor perbaikan untuk Pixel terbaru masih sebanding dengan perangkat lama, dengan iFixit mencatat penggunaan lem yang berlebihan. Namun, jelas bahwa Google berusaha untuk meningkatkan aspek perbaikan.

Ada Alternatif Desain yang Menarik

Terdapat banyak cara lain bagi produsen Android untuk menghadirkan desain yang menyenangkan dan dapat diperbaiki tanpa harus meniru iPhone. Salah satu contohnya adalah HMD Skyline 2024, yang merupakan salah satu smartphone paling mudah diperbaiki di pasaran dengan rating sembilan dari sepuluh dari iFixit, dan tidak mengikuti tren bingkai datar.

Contoh terbaru dari smartphone yang tidak tampak dan terasa seperti iPhone adalah Jolla Phone, yang memiliki sisi melengkung namun masih menawarkan penutup belakang yang dapat dilepas, baterai yang dapat diganti, slot microSD, dan lainnya. Bahkan Sony berusaha membuat Xperia 1 VII tampil beda dengan bingkai bergelombang, membuktikan bahwa produsen Android tidak perlu mengambil jalan pintas.

Kesimpulan

Jelas bahwa ada banyak alternatif untuk tepi datar dan sudut melengkung, termasuk bingkai bulat, tepi melengkung, desain yang terbuat dari satu blok material (misalnya, plastik atau logam), dan banyak lagi. Meskipun ada homogenisasi di antara smartphone dalam industri yang sudah matang ini, saya tetap merasa desain-desain ini sangat membosankan. Saya berharap lebih banyak merek menahan diri dari meniru Apple dan berfokus pada semangat desain yang lebih indah seperti HTC One, Moto X asli, dan Google Pixel 5. Karena sebuah smartphone yang menarik tidak hanya ditentukan oleh tonjolan kamera.

Sumber: https://www.androidauthority.com/sick-android-phones-look-feel-like-iphone-3630477/

Remote Kobo: Aksesori E-Reader yang Tak Terduga

0

Remote Kobo: Aksesori E-Reader yang Tak Terduga

Dalam dunia gadget, seringkali kita menemukan aksesori yang tampaknya tidak penting namun dapat memberikan kenyamanan lebih saat digunakan. Salah satu contohnya adalah Kobo Remote, sebuah alat kecil yang mungkin tidak Anda duga akan sangat membantu dalam pengalaman membaca Anda. Artikel ini akan membahas kegunaan dan kelebihan dari remote ini, serta alasan mengapa Anda mungkin perlu mempertimbangkannya.

Ketika berbicara tentang pengalaman membaca, banyak orang yang memiliki kebiasaan unik. Saya sendiri adalah salah satu dari mereka yang seringkali membaca di tempat yang ber-AC dingin. Meskipun saya pindah ke Hawaii untuk menghindari musim dingin, kenyataannya, saya masih sering merasa kedinginan. Di sinilah Kobo Remote menjadi penyelamat. Dengan remote ini, saya bisa membalik halaman e-reader tanpa harus keluar dari selimut yang hangat dan nyaman.

Kesederhanaan yang Menarik

Kobo Remote dirancang dengan sangat sederhana. Terdapat dua tombol: satu untuk maju dan satu untuk mundur. Tidak ada fitur tambahan yang rumit atau pengaturan yang harus disesuaikan, hanya manajemen halaman yang sangat dasar. Kesederhanaan inilah yang membuatnya menarik. Proses pemasangan remote ke perangkat Kobo juga sangat mudah. Anda hanya perlu menekan tombol, mengaktifkan Bluetooth pada Kobo, dan sambungan pun terjalin dalam sekejap. Remote ini berfungsi persis seperti yang diharapkan dari aksesori resmi Kobo: tanpa hambatan.

Desain yang Nyaman

Dari segi fisik, remote ini terbuat dari plastik yang ringan, dengan bentuk yang sedikit melengkung, sehingga nyaman digenggam. Ukurannya yang kurang dari 4 inci dan berat sekitar 36 gram membuatnya mudah disimpan di saku. Tombol-tombolnya mudah ditekan tanpa terasa kaku. Setelah beberapa saat menggunakannya, saya bahkan tidak lagi memikirkan remote ini, yang merupakan sesuatu yang saya inginkan saat sudah memasuki bab enam dalam buku.

Remote ini juga menghasilkan suara “klik” yang lembut saat digunakan. Meskipun suara ini bisa mengganggu jika tangan Anda berada dekat kepala pasangan saat berbaring, tetapi secara keseluruhan, suara ini tidak terlalu mengganggu. Remote ini menggunakan satu baterai AAA yang dapat diganti, sehingga Anda tidak perlu khawatir tentang kabel pengisi daya atau kecemasan akan baterai yang habis.

Kegunaan dalam Kehidupan Sehari-hari

Kelebihan utama dari remote ini muncul dalam situasi-situasi khusus. Misalnya, saat membaca di bawah selimut. Dengan posisi yang nyaman, saya bisa berbaring miring dengan e-reader di atas bantal dan menyimpan tangan di bawah selimut. Ini membantu saya menjaga posisi tubuh yang lebih alami, tanpa perlu mengubah bahu untuk menghindari tangan yang kesemutan.

Selain itu, remote ini juga sangat membantu saat saya ingin ngemil sambil membaca. Tangan satu memegang remote, sementara tangan lainnya bebas untuk menikmati camilan. Dengan menggunakan remote ini, saya bisa sepenuhnya menikmati kebiasaan-kebiasaan kecil yang mungkin tidak terlalu menarik namun sangat menyenangkan.

Apakah Ini Layak Dibeli?

Dijual dengan harga sekitar $30, Kobo Remote lebih merupakan sebuah kemewahan kecil ketimbang kebutuhan. Anda tidak membutuhkannya, dan banyak orang yang tetap bahagia membalik halaman dengan cara tradisional. Namun, jika Anda sudah mencintai Kobo dan menikmati peningkatan kecil yang membuat kebiasaan sehari-hari lebih nyaman, remote ini adalah investasi yang mudah untuk dipertimbangkan. Desainnya yang dipikirkan dengan matang membuat pengalaman membaca menjadi lebih nyaman dan sedikit lebih menyenangkan.

Secara keseluruhan, Kobo Remote adalah aksesori sederhana yang menawarkan kenyamanan lebih dalam pengalaman membaca. Meskipun tidak akan mengubah cara Anda menikmati buku, remote ini adalah tambahan yang sangat berguna bagi para penggemar e-reader.

Sumber: https://www.androidauthority.com/kobo-remote-review-3626327/

Menikmati Malam Film dengan Proyektor Roku EAZZE D1R yang Ramah Anggaran

0

Menikmati Malam Film dengan Proyektor Roku EAZZE D1R yang Ramah Anggaran

Malam film di rumah adalah momen yang selalu dinanti. Mengingat masa kecil, saat film baru dirilis di Blockbuster, kami akan menggelar kasur di lantai dan menyiapkan camilan dalam jumlah melimpah. Meskipun setup-nya sederhana, momen itu terasa istimewa. Di sinilah proyektor seperti Aurzen EAZZE D1R hadir, memberikan pengalaman menonton yang menyenangkan tanpa harus mengeluarkan biaya tinggi untuk ruang bioskop pribadi.

Aurzen EAZZE D1R adalah proyektor Roku TV yang ditujukan untuk penayangan kasual dengan skala besar. Dengan harga sekitar $200, proyektor ini merupakan pilihan yang terjangkau bagi mereka yang ingin menikmati film di rumah tanpa harus berinvestasi dalam peralatan mahal. Selama beberapa minggu, saya telah menguji proyektor ini dan menemukan bahwa ia menawarkan kualitas yang cukup baik untuk harganya.

Spesifikasi dan Kualitas Gambar

Proyektor ini menggunakan sistem proyeksi DLP Full HD 1080p, yang merupakan standar saat ini, bahkan untuk model-model anggaran. Aurzen mengklaim bahwa kecerahan proyektor ini mencapai sekitar 280 ANSI lumens. Hal ini menjadikannya lebih cocok untuk lingkungan gelap, tetapi tetap mampu memproyeksikan gambar hingga ukuran 200 inci.

Jika dibandingkan dengan proyektor kelas atas, kualitas gambar EAZZE D1R memang memiliki kekurangan, terutama dalam tampilan warna hitam yang kurang dalam dan detail yang hilang pada adegan gelap. Namun, dalam pencahayaan yang terkontrol, gambar yang dihasilkan cukup bersih dan layak untuk ditonton. Streaming film, acara TV, dan olahraga juga berjalan dengan baik tanpa gangguan yang berarti.

Pengalaman Penggunaan yang Mudah

Salah satu keunggulan dari proyektor EAZZE D1R adalah kemudahan penggunaannya. Autofocus berfungsi dengan baik, meskipun pengaturan keystone otomatis tidak selalu sempurna. Namun, penyesuaian manual dapat dilakukan dengan cepat dan mudah. Kontrol gambar manual memang terbatas, tetapi hal ini tampaknya disengaja untuk memprioritaskan kecepatan dan kenyamanan penggunaan, sehingga sangat cocok untuk malam film yang spontan.

Desain perangkat ini cukup sederhana dan tidak banyak fitur tambahan. Tanpa stand yang dapat diatur, Anda mungkin perlu berkreasi dalam penempatan agar proyektor dapat memproyeksikan gambar pada ketinggian yang diinginkan. Aurzen juga menawarkan beberapa pilihan stand yang kompatibel jika Anda mencari solusi lebih permanen.

Konektivitas dan Audio

Proyektor ini dilengkapi dengan Roku TV untuk streaming, dan disertai remote standar Roku. Konektivitasnya juga cukup lengkap dengan Wi-Fi, Bluetooth, HDMI, dan USB, serta dukungan untuk Apple AirPlay. Pembicara Dolby Audio yang terintegrasi mampu memberikan suara yang jernih untuk menonton secara santai, meskipun bass-nya terbatas.

Untuk pengalaman menonton yang lebih baik, terutama di ruang yang lebih besar atau saat menonton di luar ruangan, disarankan untuk menggunakan speaker eksternal melalui Bluetooth. Input HDMI memudahkan Anda menghubungkan perangkat eksternal seperti laptop atau konsol, meskipun lag input cukup terasa sehingga tidak direkomendasikan untuk permainan cepat.

Keunggulan Software Roku TV

Salah satu faktor pembeda terbesar dalam kategori proyektor adalah perangkat lunaknya, dan EAZZE D1R sangat diuntungkan dengan integrasi Roku TV. Proyektor ini merupakan salah satu yang pertama yang mengintegrasikan Roku TV secara langsung ke dalam perangkat, sehingga waktu yang dibutuhkan untuk menghidupkan dan mengakses konten menjadi sangat cepat.

Dengan dukungan aplikasi yang luas dan navigasi yang familiar bagi pengguna Roku TV, Anda tidak perlu repot menghubungkan dongle streaming atau mengatur kabel tambahan. Keakraban ini sangat penting, terutama mengingat banyak proyektor di rentang harga ini menggunakan sistem Android yang terbatas atau terasa tidak selesai. Platform Roku yang stabil dan dapat diandalkan membuat EAZZE D1R lebih mudah digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pilihan Cerdas untuk Penggemar Film

Secara keseluruhan, Aurzen EAZZE D1R adalah pilihan yang tepat bagi siapa saja yang ingin menikmati pengalaman menonton layar besar tanpa harus berkomitmen pada setup yang permanen atau mahal. Cocok untuk penyewa, keluarga, atau mereka yang baru pertama kali membeli proyektor, ini adalah cara yang mudah dan terjangkau untuk menghadirkan malam film ke dalam rutinitas sehari-hari.

Walaupun proyektor ini tidak dirancang untuk mengejar performa sinematik yang tinggi, dengan trade-off yang ditawarkan, EAZZE D1R memberikan pengalaman yang dapat diandalkan dan bebas frustrasi. Dengan memprioritaskan kemudahan penggunaan dan streaming yang familiar, proyektor ini berhasil menyediakan keseimbangan yang baik antara harga dan performa.

Sumber: https://www.androidauthority.com/aurzen-eazze-d1r-review-3630122/

Delapan Tahun Chip AI di Smartphone: Mencari Potensi yang Terbuang

0

Delapan Tahun Chip AI di Smartphone: Mencari Potensi yang Terbuang

Sudah lebih dari delapan tahun sejak kita pertama kali mendengar tentang Neural Processing Units (NPU) dalam smartphone dan potensi AI yang ada di perangkat. Jika Anda ingat, prosesor Kirin 970 pada HUAWEI Mate 10 adalah yang pertama memperkenalkan ide ini, meskipun konsep yang serupa sudah ada sebelumnya, terutama dalam bidang pengolahan gambar.

Banyak yang telah berubah sejak saat itu. Apple akhirnya mengadopsi AI, meski hasilnya masih bervariasi. Sementara itu, Google telah mengandalkan Tensor Processing Unit (TPU) untuk berbagai fungsi, mulai dari pemrosesan gambar hingga terjemahan bahasa di perangkat. Semua perusahaan teknologi besar, mulai dari Arm, Qualcomm, hingga Apple dan Samsung, sepakat bahwa AI adalah masa depan perangkat keras dan perangkat lunak smartphone.

Apakah Smartphone Benar-Benar Membutuhkan NPU?

Meskipun demikian, perkembangan AI di perangkat mobile masih terasa terbatas. Kita hanya memiliki sedikit fitur AI yang tersedia di perangkat, dengan sebagian besar dikurasi oleh Google dan kurangnya lanskap pengembang yang kreatif. Hal ini menimbulkan pertanyaan: sebenarnya, seberapa bergunakah NPU yang ada di ponsel kita?

Sebelum kita membahas lebih lanjut, mari kita kenali apa sebenarnya fungsi NPU. Seperti halnya CPU yang digunakan untuk menjalankan aplikasi, GPU untuk merender game, dan ISP yang berfokus pada pemrosesan gambar dan video, NPU adalah prosesor yang dirancang khusus untuk menjalankan beban kerja AI dengan cepat dan efisien. NPU menangani ukuran data yang lebih kecil, pola memori tertentu, dan operasi matematika paralel yang kompleks.

Meskipun Anda tidak selalu memerlukan NPU untuk menjalankan machine learning, keberadaan NPU dapat membantu menjalankan model yang tidak dapat ditangani oleh CPU atau GPU dengan kecepatan yang sama. Pendekatan komputasi heterogen ini dapat mengorbankan kompleksitas dan ruang silikon, tetapi memperoleh kembali dalam hal daya dan kinerja yang sangat penting untuk smartphone. Tidak ada yang ingin alat AI di ponsel mereka menguras baterai.

Tantangan dalam Pengembangan AI Mobile

Penting untuk dicatat bahwa pengembangan perangkat lunak adalah aspek lain yang sama pentingnya. Arsitektur CUDA dari NVIDIA memungkinkan pengembang untuk melakukan optimasi mendalam saat menjalankan beban kerja AI. Namun, platform mobile kekurangan akses tingkat rendah yang setara, dan lebih bergantung pada abstraksi tingkat tinggi, yang sering kali spesifik untuk vendor.

Ini menyoroti masalah signifikan dalam lingkungan pengembangan AI mobile. Smartphone menggunakan berbagai arsitektur NPU, seperti Google Tensor, Snapdragon Hexagon, dan Apple Neural Engine, yang masing-masing memiliki kemampuan dan platform pengembangan yang berbeda. Meskipun chip smartphone yang mengklaim mendukung NPU dirancang untuk menangani nilai data yang lebih kecil, matematika kompleks, dan pola memori yang menantang, mereka memperkenalkan tantangan baru dalam pengembangan pihak ketiga.

Walaupun ada API dan SDK untuk chip Apple, Snapdragon, dan MediaTek, pengembang harus membangun dan mengoptimalkan aplikasi mereka secara terpisah untuk setiap platform. Google pun belum memberikan akses mudah bagi pengembang untuk ponsel Pixel-nya, sementara SDK Tensor ML masih dalam tahap akses eksperimental. Hal ini menciptakan labirin spesifikasi dan API yang ditinggalkan, menyulitkan pengembangan AI mobile pihak ketiga.

LiteRT: Solusi untuk Masa Depan AI Mobile

Beruntungnya, Google memperkenalkan LiteRT pada tahun 2024, yang berfungsi sebagai runtime tunggal di perangkat yang mendukung CPU, GPU, dan NPU vendor. LiteRT dirancang untuk memaksimalkan akselerasi perangkat keras saat runtime, yang mengatasi kelemahan NNAPI. Meskipun LiteRT mengabstraksi masalah NPU vendor, ada baiknya mempertanyakan apakah NPUs akan tetap menjadi fokus utama dalam perkembangan teknologi ini.

Dengan kemajuan dukungan instruksi yang kompleks pada CPU, mereka dapat menjadi alat yang lebih efisien untuk menjalankan beban kerja machine learning. Sementara itu, GPU dengan dukungan kuantisasi yang lebih baik mungkin akan menjadi akselerator default daripada NPU. LiteRT bisa menjadi jembatan transisi ini, memberikan kemudahan bagi pengembang untuk tidak terlalu khawatir tentang bagaimana pasar perangkat keras akan berkembang.

Walaupun NPUs mobile tidak akan segera hilang, pendekatan terkunci oleh vendor yang mendefinisikan gelombang pertama AI di perangkat jelas bukan akhir dari cerita. Untuk aplikasi pihak ketiga, CPU dan GPU akan terus menjalankan sebagian besar beban kerja praktis, terutama seiring mereka mendapatkan dukungan yang lebih efisien untuk operasi machine learning modern. Yang lebih penting daripada silikon mana pun adalah lapisan perangkat lunak yang menentukan bagaimana dan jika perangkat keras tersebut digunakan.

Sumber: https://www.androidauthority.com/do-phones-really-need-npu-3632115/

Redmi Note 15 Series: Smartphone Tangguh dengan Daya Tahan yang Mengagumkan

0

Redmi Note 15 Series: Smartphone Tangguh dengan Daya Tahan yang Mengagumkan

Redmi Note 15 Series akan segera meluncur di Indonesia, menjanjikan berbagai inovasi yang menarik bagi para pengguna. Smartphone ini tidak hanya kuat dan tahan banting, tetapi juga dirancang untuk tahan air serta memiliki daya tahan baterai yang luar biasa. Dalam acara peluncurannya, Head of Public Relations Xiaomi Indonesia, Abee Hakeem, menjelaskan bahwa seri ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan generasi Z dengan spesifikasi yang canggih.

Redmi Note 15 Series terdiri dari empat model, yaitu Redmi Note 15, Redmi Note 15 5G, Redmi Note 15 Pro 5G, dan Redmi Note 15 Pro Plus 5G. Abee menekankan bahwa smartphone ini mengusung konsep yang mereka sebut sebagai Redmi Titan Durability, yang memiliki tiga pilar utama: ketahanan terhadap benturan, ketahanan terhadap air, dan daya tahan baterai yang lebih lama.

Ketahanan Terhadap Benturan yang Mengesankan

Pilar pertama dari Redmi Titan Durability adalah ketahanan terhadap benturan, atau yang dikenal dengan istilah drop resistance. Abee mengungkapkan bahwa semua model dalam Redmi Note 15 Series telah mendapatkan sertifikasi dari SGS, yang menunjukkan performa premium dengan rating 5 bintang. Proses uji ketahanan ini meliputi lebih dari 50 set pengujian yang dilakukan secara berulang, dengan masing-masing pengujian mencapai puluhan ribu hingga ratusan ribu kali, memastikan bahwa smartphone ini mampu bertahan dalam berbagai kondisi sulit.

  • Pengujian pada port USB dan tombol-tombol penting.
  • Ketahanan terhadap suhu dan tekanan yang ekstrem.

Dengan pengujian yang ketat ini, Redmi Note 15 Series siap menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan sehari-hari pengguna.

Tahan Air dengan Sertifikasi Tinggi

Pilar kedua yang tak kalah penting adalah ketahanan terhadap air. Abee menekankan bahwa banyak orang khawatir jika perangkat elektronik mereka terkena air. Namun, dengan adanya sertifikasi TUV-SUD, Redmi Note 15 Series siap memberikan perlindungan yang lebih baik. Smartphone ini memiliki rating IP66, IP68, dan bahkan IP69K, yang menjamin ketahanan terhadap air hingga kedalaman 2 meter selama 24 jam.

Ini adalah fitur yang sangat mengesankan, terutama bagi pengguna yang sering beraktivitas di luar ruangan atau di lingkungan yang lembab. Redmi Note 15 Pro Plus 5G bahkan dirancang dengan ketahanan tinggi yang biasa digunakan di industri otomotif, menunjukkan komitmen Xiaomi terhadap kualitas dan daya tahan produk mereka.

Daya Tahan Baterai yang Mengagumkan

Pilar ketiga dari Redmi Note 15 Series adalah daya tahan baterai. Abee menjelaskan bahwa daya tahan baterai bukan hanya tentang kapasitas, tetapi juga bagaimana baterai dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama. Dalam pengujian internal, baterai dari Redmi Note 15 Series diperkirakan akan tetap sehat hingga 80% meskipun digunakan selama 6 tahun. Dengan penggunaan normal, pengguna dapat menikmati smartphone ini hingga 49 jam setiap harinya, yang lebih lama 13 jam dibandingkan dengan pendahulunya.

Kesimpulan: Inovasi untuk Generasi Z

Dengan berbagai fitur unggulan yang ditawarkan, Redmi Note 15 Series hadir sebagai solusi bagi generasi Z yang menginginkan smartphone yang tahan lama dan dapat diandalkan. Dari ketahanan terhadap benturan dan air, hingga daya tahan baterai yang luar biasa, Xiaomi telah berkomitmen untuk menghadirkan produk yang tidak hanya memenuhi kebutuhan pengguna, tetapi juga dapat bertahan dalam berbagai kondisi.

Informasi mengenai harga resmi dan ketersediaan Redmi Note 15 Series di Indonesia akan diumumkan menjelang akhir Januari 2026. Ini adalah momen yang ditunggu-tunggu bagi para penggemar gadget di tanah air.

Sumber: https://inet.detik.com/consumer/d-8309288/redmi-note-15-series-hp-kuat-tahan-air-dan-baterai-awet

Xiaomi Luncurkan Robot Vacuum 5: Solusi Pembersihan Modern yang Praktis

0

Xiaomi Luncurkan Robot Vacuum 5: Solusi Pembersihan Modern yang Praktis

Xiaomi Indonesia baru saja mengumumkan kehadiran Xiaomi Robot Vacuum 5, sebuah inovasi dalam dunia kebersihan rumah yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan hunian modern. Robot vacuum ini merupakan produk premium pertama yang dikembangkan secara mandiri oleh Xiaomi, dengan fokus utama pada pengalaman pembersihan yang otomatis dan minim perawatan.

Dengan daya hisap yang mengesankan hingga 20.000Pa, Xiaomi Robot Vacuum 5 mengusung teknologi canggih yang dirancang khusus untuk rumah dengan tingkat aktivitas tinggi, ideal untuk keluarga yang memiliki anak atau hewan peliharaan. Ditenagai oleh dToF Smart Retractable Radar, robot ini menawarkan navigasi yang cerdas dan presisi, memungkinkan pembersihan yang lebih efektif dan menyeluruh.

Mengatasi Tantangan Pembersihan Rumah

Dalam peluncurannya, Marketing Director Xiaomi Indonesia, Andi Renreng, menjelaskan bahwa Robot Vacuum 5 hadir untuk menjawab berbagai keluhan yang sering diajukan oleh para pengguna di segmen premium. Beberapa masalah yang dihadapi pengguna, seperti area yang terlewat saat dibersihkan, rambut yang tersangkut di sikat, hingga kebutuhan perawatan yang memakan waktu, menjadi fokus pengembangan produk ini.

“Xiaomi Robot Vacuum 5 kami rancang untuk menjawab tantangan tersebut lewat kombinasi navigasi dToF yang presisi, pembersihan menyeluruh hingga ke sudut, serta sistem self-cleaning yang benar-benar hands-free. Dengan begitu, pengguna dapat fokus pada hal yang lebih penting tanpa harus terus memikirkan urusan bersih-bersih rumah,” ungkap Andi dalam keterangan resmi.

Kinerja dan Fitur Unggulan

Xiaomi Robot Vacuum 5 menawarkan performa yang dapat disesuaikan dengan empat tingkat daya hisap, mulai dari mode Quiet yang tenang hingga Super Powerful untuk pembersihan intensif. Selain itu, perangkat ini dilengkapi dengan dual mop yang memiliki fitur intelligent carpet lift, yang secara otomatis mengangkat pel saat mendeteksi permukaan karpet. Pengguna juga bisa mengatur tingkat kelembapan air sesuai dengan jenis lantai, baik itu keramik maupun kayu.

  • Teknologi Navigasi Canggih: Teknologi dToF yang digunakan memungkinkan pemetaan yang akurat dan perencanaan rute pembersihan yang efisien, termasuk di area yang sempit dan minim cahaya.
  • Pemindaian 3D: Robot ini dilengkapi dengan kemampuan pemindaian objek 3D untuk menghindari rintangan seperti kabel atau mainan anak.
  • Tinggi Bodhi yang Ideal: Dengan ketinggian bodi hanya 8,8 cm, robot ini dapat dengan mudah menjangkau area di bawah furnitur rendah dan melewati rintangan setinggi hingga 2 cm.

Base Station Otomatis dan Kebersihan Maksimal

Salah satu keunggulan utama dari Xiaomi Robot Vacuum 5 adalah base station otomatisnya. Base station ini dapat mengosongkan debu ke dalam kantong berkapasitas 2,5 liter, yang cukup untuk penggunaan hingga sekitar 75 hari tanpa perlu dikosongkan. Proses pencucian mop menggunakan air panas dengan suhu mencapai 80 derajat Celsius, diikuti dengan pengeringan udara panas untuk menjaga kebersihan dan mencegah bau tak sedap.

Integrasi dan Kontrol yang Mudah

Xiaomi Robot Vacuum 5 juga terintegrasi dengan aplikasi Xiaomi Home, memungkinkan pengguna untuk mengontrol perangkat dengan mudah. Pengguna dapat mengatur jadwal pembersihan, memilih area tertentu yang ingin dibersihkan, hingga mengelola peta untuk rumah bertingkat. Tak hanya itu, perangkat ini juga mendukung kontrol suara melalui Google Assistant dan Alexa, memberikan kemudahan tambahan bagi penggunanya.

Harga dan Ketersediaan

Di Indonesia, Xiaomi Robot Vacuum 5 akan dijual dengan harga Rp 8.999.000. Penjualan perdana berlangsung dari 25 Januari hingga 28 Februari 2026, dan produk ini tersedia melalui berbagai kanal resmi Xiaomi, baik secara online maupun offline. Selama masa promosi, Xiaomi juga menyediakan bonus aksesori untuk pembeli.

Dengan berbagai fitur unggulan dan teknologi canggih yang ditawarkan, Xiaomi Robot Vacuum 5 diharapkan dapat menjadi solusi pembersihan yang efektif dan efisien bagi masyarakat Indonesia yang menginginkan kebersihan rumah tanpa repot.

Sumber: https://inet.detik.com/consumer/d-8310635/xiaomi-rilis-robot-vacuum-5-di-indonesia-serba-otomatis-dan-minim-perawatan

Asus Hentikan Produksi Kartu Grafis RTX 5070 Ti Akibat Krisis RAM

0

Asus Hentikan Produksi Kartu Grafis RTX 5070 Ti Akibat Krisis RAM

Asus, salah satu produsen perangkat keras terkemuka, telah mengumumkan penghentian produksi kartu grafis GeForce RTX 5070 Ti. Keputusan ini terungkap melalui saluran YouTube Hardware Unboxed yang mendapatkan konfirmasi langsung dari pihak Asus. Menurut informasi tersebut, model RTX 5070 Ti kini telah memasuki status akhir produksi atau end-of-life.

Pembatalan produksi ini juga berdampak pada model RTX 5060 Ti dengan kapasitas 16GB yang juga diproduksi oleh Asus. Sejumlah pengecer di Australia melaporkan kesulitan dalam mendapatkan stok untuk kedua produk ini dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai ketersediaan kartu grafis tersebut di pasaran.

Menanggapi berita tersebut, Nvidia, sebagai penyedia chip GPU, menyatakan bahwa proses produksi chip untuk RTX 5070 Ti masih berjalan. Ben Berraondo, Direktur Global Public Relations GeForce Nvidia, mengungkapkan bahwa permintaan untuk GPU saat ini sangat tinggi, namun pasokan memori masih mengalami tekanan. Ia menegaskan, “Permintaan GeForce RTX sangat kuat dan pasokan memori sedang tertekan. Kami tetap mengirim seluruh SKU GeForce dan bekerja sama dengan pemasok untuk memaksimalkan ketersediaan memori.”

Penghentian produksi oleh Asus ini menjadi perhatian karena mencerminkan tantangan yang sedang dihadapi dalam industri perangkat keras. Meskipun demikian, penting untuk dicatat bahwa keputusan ini hanya berlaku untuk Asus dan tidak memengaruhi semua mitra manufaktur Nvidia. Hardware Unboxed menegaskan bahwa ketersediaan pasokan bagi mitra AIB (add-in-board) menjadi faktor kunci dalam kelanjutan produksi. Dalam hal ini, Asus dinilai tidak mendapatkan pasokan yang cukup untuk mempertahankan lini produknya.

Dari sisi lain, tidak semua produsen mengalami masalah yang sama. PNY, misalnya, telah memastikan bahwa kartu grafis RTX 5070 Ti versi Dual-Slot Slim (DSS) akan tetap sesuai jadwal dan dijadwalkan untuk mulai dikirim pada bulan Februari mendatang. Produk ini akan tersedia di berbagai pengecer besar seperti Best Buy, Micro Center, dan Amazon, memberikan harapan bagi para penggemar yang menantikan kehadiran kartu grafis terbaru.

Kondisi krisis pasokan ini tidak terlepas dari masalah yang lebih luas dalam industri memori global. Christopher Moore, Wakil Presiden Micron untuk pemasaran bisnis mobile dan klien, menjelaskan bahwa produsen saat ini sedang berupaya untuk menyederhanakan variasi produk demi memaksimalkan output. Hal ini disebabkan perubahan kapasitas memori, seperti peningkatan dari 12GB menjadi 16GB atau 24GB, yang dapat berdampak negatif pada volume produksi secara keseluruhan.

Di tengah tantangan ini, para pengguna dan penggemar kartu grafis harus bersabar menghadapi situasi yang tidak menentu. Meskipun ada beberapa produsen yang tetap dapat menyediakan produk mereka, situasi pasokan yang terbatas ini dapat menyebabkan harga yang lebih tinggi dan waktu tunggu yang lebih lama untuk mendapatkan perangkat yang diinginkan.

Seiring berjalannya waktu, kita dapat berharap bahwa industri akan menemukan solusi untuk mengatasi krisis ini. Namun, bagi Asus, keputusan untuk menghentikan produksi RTX 5070 Ti dan RTX 5060 Ti menunjukkan bahwa mereka harus beradaptasi dengan realitas pasar saat ini, di mana pasokan memori menjadi faktor yang sangat krusial.

Sumber: https://inet.detik.com/consumer/d-8310823/asus-setop-produksi-rtx-5070-ti-gegara-krisis-ram