Sabtu, Maret 28, 2026
Beranda blog Halaman 305

SOUNDLIFE Perkenalkan Alat Bantu Dengar AI Resmi di Indonesia, Tawarkan Program Uji Coba

0

Teknologi Pendengaran Berkembang dengan Bantuan AI

Selama beberapa tahun terakhir, teknologi pendengaran telah mengalami perkembangan yang signifikan. Setiap generasi dan inovasi baru menawarkan kualitas suara yang lebih jernih, penggunaan baterai yang lebih efisien, serta kemampuan koneksi yang lebih baik. Namun, salah satu tantangan utama dalam bidang ini tetap ada, yaitu kesulitan dalam memahami percakapan di lingkungan yang berisik. Kini, sebuah perusahaan di Indonesia memberikan solusi baru yang menjanjikan.

SOUNDLIFE Hearing Center resmi meluncurkan dua alat bantu dengar berbasis kecerdasan buatan (AI) pertama di negara ini. Kedua perangkat tersebut menggunakan teknologi Deep Neural Network (DNN), sistem pemrosesan suara yang bekerja mirip dengan cara otak manusia berfungsi. Saat ini, hanya sedikit produsen alat bantu dengar di dunia yang mengembangkan perangkat dengan chip DNN khusus, seperti Phonak dan ReSound.

Model terbaru dari kedua merek tersebut, yakni Phonak Infinio Ultra Sphere dari Swiss dan ReSound Vivia dari Denmark, kini tersedia di Indonesia melalui SOUNDLIFE. CEO SOUNDLIFE Hearing Center, IM Chen, menjelaskan bahwa AI tidak hanya memperkuat suara, tetapi juga mampu memahami pola, mengenali konteks, dan menonjolkan suara manusia bahkan di lingkungan yang sangat berisik. Hasilnya adalah suara yang terdengar lebih alami, sehingga pengguna tidak lagi merasa lelah hanya untuk mengikuti percakapan.

Phonak Infinio Ultra Sphere: Solusi untuk Lingkungan Dinamis

Phonak Infinio Ultra Sphere adalah alat bantu dengar AI pertama di dunia yang dilengkapi chip DNN khusus. Perangkat ini dirancang untuk digunakan dalam situasi nyata, sehingga tetap optimal di lingkungan dinamis seperti restoran sibuk, rapat cepat, jalanan bising, atau percakapan yang berubah dalam hitungan detik. Chip Deepsonic AI di dalamnya dilatih menggunakan 22 juta sampel suara nyata, sehingga mampu membedakan ucapan dan kebisingan dengan presisi yang tinggi. Teknologi Spheric Speech Clarity 2.0 meningkatkan kejernihan ucapan hingga 10 desibel (dB), membuat percakapan tetap mudah diikuti meski lingkungan tidak mendukung.

Hasil akhirnya sederhana: perangkat dapat bekerja secara diam-diam di belakang layar, memungkinkan pengguna mendengar dengan lebih mudah sepanjang hari.

ReSound Vivia: Alat Bantu Dengar Terkecil dengan Performa Maksimal

Jika Phonak menawarkan kekuatan, ReSound menawarkan ketenangan. ReSound Vivia adalah alat bantu dengar AI terkecil di dunia yang menggunakan chip DNN khusus. Bentuknya ringkas, ringan, dan hampir tidak terlihat, tetapi tetap kuat menghadapi kebisingan. Dengan dukungan Bluetooth LE Audio dan Auracast, perangkat ini menyederhanakan cara pengguna terhubung dengan ponsel, televisi, dan perangkat lainnya.

Chip DNN-nya dilatih menggunakan 13,5 juta kalimat percakapan, sehingga perangkat dapat mengenali pola kebisingan dan meredamnya secara cerdas. Hasilnya adalah suara bicara yang lebih natural, bahkan di ruang yang ramai. Meskipun ukurannya kecil, performanya luar biasa, dan dampaknya terasa setiap hari.

Mengapa Alat Bantu Dengar Lama Tidak Efektif?

Sebagian besar pengguna yang berhenti memakai alat bantu dengar bukan karena kurang peduli pada pendengaran, melainkan karena suara yang dihasilkan sering kali terasa keras, tajam, atau melelahkan. Dengan AI, pengalaman itu berubah total. Alih-alih membesarkan semua suara sekaligus, AI memahami apa yang perlu didengar terlebih dahulu, yaitu suara manusia. Ia meredam kebisingan, menyesuaikan diri dengan lingkungan, dan beradaptasi secara otomatis.

“Banyak orang datang kepada kami dan berkata, ‘Saya punya alat bantu dengar, tapi tidak saya pakai,’” ujar Chen. “Masalahnya bukan pada orangnya, melainkan pada teknologinya. AI akhirnya memberikan solusi yang selama ini ditunggu,” tambahnya.

Program Uji Coba Tanpa Risiko

Sejak 2014, SOUNDLIFE telah membantu lebih dari 20.000 orang di Indonesia meningkatkan kualitas pendengaran mereka. Satu hal yang selalu terbukti adalah, ketika suara terdengar natural, hidup menjadi lebih mudah dijalani. Untuk memberikan kesempatan bagi pengguna mencoba teknologi terbaru, SOUNDLIFE menawarkan program uji coba alat bantu dengar AI selama 10 hari tanpa risiko.

Program ini bisa digunakan oleh pengguna di berbagai tempat dan situasi, seperti di rumah, saat percakapan, restoran, tempat kerja, dan acara keluarga. Jika perangkat tidak memberikan manfaat nyata, pengguna dapat mengembalikannya tanpa beban.

Chen menjelaskan bahwa SOUNDLIFE ingin masyarakat berinvestasi pada pendengaran ketika benar-benar merasakan manfaatnya. Tujuan dari dua perangkat tersebut cukup sederhana, yakni membantu pengguna kembali terhubung dengan orang lain dan dengan hidup mereka.

Pada akhirnya, teknologi hanya berarti ketika dapat membuat hidup terasa lebih mudah dan lebih menyenangkan. Alat bantu dengar berbasis AI tidak hanya memperjelas suara, tetapi juga mengembalikan momen, memperbaiki hubungan, dan menghadirkan kembali rasa hadir dalam percakapan.

Pendengaran yang baik tidak sekadar soal suara, tetapi juga tentang memberi keberanian untuk terlibat, kekuatan untuk terhubung, dan keyakinan untuk menjalani hidup sepenuhnya. Mulai sekarang ambil satu langkah kecil menuju percakapan yang lebih jelas. Hubungi WhatsApp (0815) 1353-8888 untuk menjadwalkan uji coba alat bantu dengar AI 10 hari tanpa risiko.

Perintah Trump Larang Negara Bagian Atur AI Terlalu Ketat

0

Langkah Presiden Trump dalam Mengatur Kecerdasan Buatan

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah menandatangani perintah eksekutif yang bertujuan untuk menciptakan kerangka aturan tunggal mengenai kecerdasan buatan (AI). Perintah ini dikeluarkan dengan tujuan membatasi otoritas negara bagian dalam merancang aturan ketat terkait pengembangan AI. Dalam pernyataannya, Trump menyatakan bahwa perusahaan AI di AS harus bebas berinovasi tanpa adanya regulasi yang memberatkan. Namun, ia menilai bahwa regulasi dari pihak negara bagian sering kali menghambat inovasi tersebut.

Perintah eksekutif ini menjadi langkah strategis bagi pemerintahan Trump dalam menghadapi tantangan regulasi yang bervariasi di seluruh negeri. Dengan bantuan para ahli teknologi seperti David Sacks dan Chamath Palihapitiya, pemerintah berupaya agar aturan federal dapat menggantikan aturan yang diterbitkan oleh negara bagian. Tujuannya adalah mencegah negara-negara besar yang dipimpin oleh Partai Demokrat, seperti California dan New York, untuk mengendalikan industri AI yang sedang berkembang pesat.

Dalam acara penandatanganan perintah eksekutif tersebut, Trump didampingi oleh beberapa tokoh penting, termasuk Senator Partai Republik Ted Cruz dan Menteri Perdagangan Howard Lutnick. Selain itu, Sacks dan Palihapitiya juga hadir sebagai pendukung utama langkah ini. Mereka percaya bahwa regulasi federal akan lebih efektif dalam menjaga pertumbuhan industri AI tanpa menghalangi inovasi.

Dampak terhadap Perusahaan Teknologi

Langkah ini mendapat dukungan dari sejumlah perusahaan teknologi besar seperti OpenAI dan Google, serta perusahaan modal ventura Andreessen Horowitz. Para pemilik perusahaan ini telah lama melobi untuk membatasi regulasi yang mereka anggap terlalu memberatkan. Mereka bahkan membuka kantor di dekat Capitol Hill dan melakukan kampanye politik melalui super PAC dengan dana hingga US$ 100 juta (sekitar Rp 1,63 triliun) yang akan digunakan dalam pemilihan paruh waktu tahun 2026.

Kebijakan ini juga menjadi bentuk dukungan terhadap upaya AS dalam menghadapi persaingan global di bidang AI. Para pendukung aturan federal berargumen bahwa perbedaan regulasi antar negara bagian akan menghambat kemampuan AS untuk bersaing secara efektif. Rancangan perintah eksekutif ini sebelumnya muncul bulan lalu dan akan menjadi standar nasional untuk regulasi AI.

Regulasi yang Diusulkan dan Konsekuensi

Salah satu poin penting dalam perintah eksekutif ini adalah larangan sepuluh tahun terhadap negara bagian untuk mengatur AI. Meskipun awalnya dimasukkan dalam RUU Pengeluaran Partai Republik, larangan ini akhirnya dihapus sebelum ditandatangani oleh Trump pada Juli lalu.

Selain itu, perintah eksekutif ini juga meminta jaksa agung untuk membentuk Gugus Tugas Litigasi AI. Tugas utamanya adalah menantang undang-undang AI yang dikeluarkan oleh negara bagian. Negara bagian yang tidak mematuhi aturan ini dapat menghadapi pembatasan pendanaan. Dalam perintah tersebut disebutkan bahwa dalam waktu 90 hari setelah penandatanganan, menteri perdagangan harus menentukan kondisi di mana negara bagian dapat memenuhi syarat untuk menerima sisa pendanaan di bawah program Broadband Equity Access and Deployment (BEAD).

Program BEAD merupakan inisiatif senilai US$ 42,5 miliar (sekitar Rp 706,77 triliun) yang bertujuan memperluas akses internet berkecepatan tinggi di daerah pedesaan. Dengan adanya perintah eksekutif ini, pemerintah pusat berusaha memastikan bahwa regulasi AI tidak mengganggu proyek-proyek infrastruktur penting seperti BEAD.

Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah AS untuk menciptakan lingkungan yang ramah bagi inovasi teknologi, sambil tetap menjaga keseimbangan antara regulasi dan kebebasan berbisnis. Dengan perintah eksekutif ini, harapan besar diletakkan pada kemampuan AS untuk tetap menjadi pemimpin dalam dunia AI global.

Purbaya: Trade AI Cegah Kebocoran Rp1,2 Miliar di Awal Proses

0

Pengembangan Trade AI, Inovasi Kecerdasan Buatan di Sektor Kepabeanan

Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam sektor kepabeanan kini mulai menunjukkan hasil yang signifikan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan bahwa sistem Trade AI yang dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) telah memberikan indikasi awal yang positif, meski masih berada di tahap awal pengembangan.

Dalam uji coba terhadap sekitar 145 Pemberitahuan Impor Barang (PIB), Trade AI mampu mengidentifikasi potensi ketidaksesuaian nilai barang impor. Menurut Purbaya, pada uji coba pertama saja, sistem ini berhasil mendeteksi ketidakwajaran nilai kepabeanan hingga mencapai Rp 1,2 miliar. Meskipun angka tersebut dinilai masih kecil dibandingkan potensi yang ada, Purbaya menyebut bahwa sinyal awal ini cukup menjanjikan untuk mengurangi tindakan ilegal yang selama ini dilakukan oleh oknum tertentu.

Trade AI dikembangkan sepenuhnya secara internal oleh DJBC. Proses pengembangan menggunakan sumber daya yang sudah ada, baik perangkat keras maupun lunak, sehingga tidak memerlukan investasi besar di tahap awal. Namun, untuk memperluas dan meningkatkan kemampuan sistem ini di seluruh Indonesia, pemerintah memperkirakan diperlukan tambahan investasi sebesar Rp 45 miliar untuk memperkuat infrastruktur teknologi informasi.

Selain Trade AI, DJBC juga meluncurkan beberapa inovasi digital lainnya. Salah satunya adalah Self Service Report Mobile (SSR-Mobile), yang bertujuan untuk mempermudah proses pelaporan. Selain itu, alat pemindai peti kemas (X-Ray) yang dilengkapi dengan fitur radiation portal monitor (RPM) juga resmi diberlakukan di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Alat ini digunakan untuk memperkuat keamanan dan transparansi arus barang.

Penerapan teknologi seperti X-Ray dan Trade AI merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat sistem kepabeanan. Dengan adanya transformasi digital, diharapkan birokrasi dapat lebih efisien, tingkat kepatuhan meningkat, serta celah-celah kecurangan dapat diminimalkan.

Transformasi digital di sektor kepabeanan menjadi hal yang sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik dan daya saing ekonomi nasional. Dengan penggunaan teknologi yang lebih canggih, diharapkan proses pengawasan dan pengelolaan barang impor akan lebih akurat dan transparan.

Beberapa inovasi yang telah diluncurkan ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menghadapi tantangan global dengan solusi lokal. Dengan terus mengembangkan teknologi dan memperbaiki sistem, diharapkan sektor kepabeanan akan menjadi lebih efektif dan dapat memberikan kontribusi maksimal bagi perekonomian negara.

Selain itu, kolaborasi antara lembaga pemerintah dan pelaku bisnis juga menjadi kunci dalam suksesnya implementasi teknologi ini. Dengan sinergi yang baik, diharapkan semua pihak dapat saling mendukung dalam menciptakan lingkungan bisnis yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Mahasiswa ITS Ciptakan Rompi Pintar SAFE Tingkatkan Keselamatan Lansia

0

Inovasi Teknologi untuk Keselamatan Lansia

Di tengah meningkatnya populasi lansia, muncul inovasi teknologi yang bertujuan untuk memberikan perlindungan lebih bagi kelompok usia lanjut. Tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jawa Timur (Jatim), berhasil menciptakan rompi pintar bernama SAFE (Smart Assistive Fail-detection Equipment). Perangkat ini dirancang khusus untuk meningkatkan keselamatan dan aktivitas harian para lansia.

Fitur Unggulan Rompi Pintar SAFE

Rompi pintar SAFE dilengkapi berbagai teknologi canggih seperti Internet of Things (IoT) dan Deep Learning. Dengan menggunakan sensor IMU, Raspberry Pi 5, GPS Neo BM, kamera, dan aktuator getar, perangkat ini mampu mendeteksi risiko jatuh, mengenali rintangan berbahaya, serta memantau aktivitas pengguna secara real-time.

Salah satu anggota tim pengembang, Faris Akbar, menjelaskan bahwa sistem ini dirancang agar dapat memberikan peringatan dalam hitungan detik. “Sistem ini dirancang untuk segera mengirimkan notifikasi lokasi kepada caregiver begitu terdeteksi potensi bahaya,” ujarnya.

Kolaborasi dan Pengembangan Lanjutan

Tim pengembang terdiri dari Faris Akbar, Ahmad Farhat, dan Katherina Agatha, dengan bimbingan dosen Muhammad Adib Syamlan ST MT. Mereka menekankan pentingnya kolaborasi antara teknologi dan kebutuhan nyata masyarakat. Selain itu, SAFE juga dibekali algoritma berbasis Deep Learning yang mampu mendeteksi rintangan, aktivitas pengguna, hingga kejadian jatuh secara otomatis.

Dokter geriatri RSUD dr Soetomo, dr Yudha Haryono Sp N(K), menyampaikan bahwa inovasi ini memiliki potensi besar dalam meningkatkan keselamatan dan kualitas hidup para lansia. “SAFE bisa menjadi solusi efektif dalam melindungi lansia dari berbagai risiko yang sering terjadi di lingkungan sehari-hari,” katanya.

Proses Pengembangan dan Peluang Kolaborasi

Meskipun masih dalam tahap pengembangan, tim ITS terus menyempurnakan fitur-fitur pada rompi pintar SAFE. Beberapa aspek yang sedang diperbaiki termasuk perlindungan perangkat di dalam rompi dan peluang kolaborasi dengan penyedia asuransi untuk memastikan keberlanjutan teknologi ini.

Inovasi rompi pintar SAFE juga sukses meraih medali perak pada ajang Gemastik di Divisi Piranti Cerdas, Sistem Benam, dan IoT. Prestasi ini menunjukkan bahwa teknologi yang dikembangkan oleh mahasiswa ITS memiliki nilai dan dampak nyata bagi masyarakat.

Potensi Aplikasi yang Luas

Rompi pintar SAFE tidak hanya berfungsi sebagai alat pemantau, tetapi juga sebagai alat komunikasi antara lansia dan caregiver. Dengan kemampuan mengirimkan lokasi secara real-time, perangkat ini membantu caregiver untuk segera menanggapi situasi darurat.

Selain itu, SAFE juga bisa menjadi bagian dari sistem layanan kesehatan yang lebih terintegrasi. Dengan adanya teknologi IoT dan Deep Learning, perangkat ini bisa terhubung dengan sistem lain untuk memberikan layanan yang lebih optimal.

Kesimpulan

Inovasi rompi pintar SAFE adalah contoh nyata dari upaya mahasiswa ITS dalam menghadirkan teknologi yang bermanfaat bagi masyarakat. Dengan kombinasi teknologi canggih dan fokus pada kebutuhan nyata, SAFE memiliki potensi besar untuk menjadi solusi efektif dalam melindungi lansia. Dengan terus disempurnakan, teknologi ini bisa menjadi bagian dari sistem perlindungan lansia yang lebih luas dan berkelanjutan.

Disney Investasi Rp 16 T ke OpenAI, Tokoh Marvel-Pixar Kini Bisa Digunakan di ChatGPT

0

Investasi Besar Disney untuk OpenAI

Disney telah mengumumkan investasi sebesar 1 miliar dolar AS atau sekitar Rp 16 triliun (kurs Rp 16.646,55) ke OpenAI. Dengan langkah ini, OpenAI akan memiliki akses untuk menggunakan karakter-karakter ikonik dari Marvel, Pixar, dan Star Wars di platform ChatGPT maupun Sora. Investasi yang diumumkan pada Kamis (11/12) waktu setempat menjadi salah satu langkah penting dalam pengadopsian teknologi kecerdasan buatan (AI) generatif di Hollywood.

Kesepakatan ini menjadikan Disney sebagai mitra lisensi konten utama pertama yang dimiliki OpenAI untuk platform pembuat konten mereka. Pengguna ChatGPT maupun Sora dapat menciptakan video pendek atau gambar menggunakan karakter-karakter ikonik Disney, seperti Mickey Mouse, pahlawan super Marvel, hingga legenda Star Wars. Dengan menggabungkan kisah dan karakter ikonik Disney bersama teknologi inovatif OpenAI, imajinasi dan kreativitas para penggemar bisa langsung diwujudkan dalam cara yang belum pernah ada sebelumnya.

Akses Kepada Karakter-Karakter Populer

Platform Sora dan ChatGPT Images akan memiliki izin akses ke lebih dari 200 karakter dari berbagai brand di bawah payung Disney, termasuk Walt Disney Animation, Pixar, Marvel, dan Lucasfilm. Mulai awal 2026, penggemar bisa mengetikkan perintah teks (prompt) untuk membuat video pendek berdurasi maksimal 30 detik atau gambar statis yang menampilkan karakter-karakter seperti:

  • Disney/Pixar: Mickey & Minnie Mouse, Simba, Elsa (Frozen), Belle, hingga Woody dan Buzz Lightyear.
  • Marvel: Iron Man, Captain America, Thor, Black Panther, hingga Thanos.
  • Star Wars: Darth Vader, Luke Skywalker, Yoda, hingga The Mandalorian.

Teknologi OpenAI juga akan diintegrasikan ke dalam bisnis inti Disney. Perusahaan berencana menggunakan API OpenAI untuk membangun produk baru di layanan streaming Disney+. Bahkan, video kreasi fans yang terpilih nantinya bisa ditonton langsung melalui platform Disney+.

Selain itu, Disney juga akan mendapatkan akses pada “ChatGPT for Enterprise” untuk digunakan oleh karyawan mereka dalam proses kreatif internal, mulai dari pengembangan cerita hingga efisiensi produksi.

Batasan Ketat dalam Kesepakatan

Meski demikian, ada batasan ketat dalam kesepakatan ini. Kesepakatan ini tidak mencakup penggunaan kemiripan (likeness) atau suara aktor asli. Robert A. Iger, CEO Disney, menyampaikan bahwa ini sama sekali bukan ancaman bagi para kreator, malah sebaliknya. Ia menilai langkah ini justru menghargai dan menghormati mereka, sebagian karena ada biaya lisensi yang menyertainya.

Perubahan Strategi Industri Hiburan

Langkah Disney merangkul OpenAI dinilai sebagai perubahan drastis dalam strategi industri hiburan. Pasalnya, selama setahun terakhir, Disney gencar menuntut perusahaan AI karena masalah hak cipta. Bahkan, Disney diketahui sedang menggugat Midjourney atas penggunaan karakter mereka.

Namun, bersamaan dengan investasi ini, Disney justru melayangkan surat peringatan ke Google. Disney menuduh pesaing OpenAI itu menggunakan konten mereka secara ilegal untuk melatih AI mereka, Gemini. Dengan kemitraan Disney dan OpenAI, kedua perusahaan berkomitmen membangun sistem keamanan yang ketat untuk mencegah pembuatan konten ilegal, berbahaya, atau tidak pantas yang melibatkan karakter ramah keluarga milik Disney.

Pengawasan oleh Serikat Pekerja Hollywood

Adapun kerja sama ini sendiri disorot ketat oleh Serikat pekerja Hollywood, seperti WGA (penulis) dan SAG-AFTRA (aktor), yang menyatakan akan memantau kesepakatan ini dengan cermat untuk memastikan hak-hak pekerja seni tetap terlindungi di tengah gempuran teknologi generatif.

Presiden Animation Guild, Danny Lin, menyebut kemitraan ini akan menumbuhkan kekhawatiran besar terkait kompensasi bagi para pekerja seni. “Meskipun animator tidak memegang hak cipta atas karakter-karakter Disney, kami jelas merupakan alasan karakter itu ada dan alasan mengapa mereka memiliki potensi pendapatan sebesar itu,” ujar Lin.

Samsung Galaxy Xcover 6 Pro: Kuat di Luar, Cepat di Dalam! Review Lengkap

0

Desain Kokoh dengan Sertifikasi Militer

Samsung Galaxy Xcover 6 Pro menawarkan desain yang sangat tangguh, cocok untuk pengguna yang sering berada di lingkungan keras. Ponsel ini memiliki sertifikasi MIL-STD-810H yang memastikan ketahanan terhadap guncangan, suhu ekstrem, kelembapan, dan tekanan. Selain itu, ponsel ini juga memiliki rating IP68 yang menjadikannya tahan air dan debu. Bodi bertekstur memberikan grip kuat meski tangan basah atau berkeringat, sedangkan bumper tebal di setiap sudut melindungi ponsel dari benturan. Dengan desain seperti ini, Galaxy Xcover 6 Pro sangat cocok untuk pekerja lapangan, pendaki, petualang, hingga teknisi.

Layar Responsif yang Tetap Nyaman di Luar Ruangan

Meskipun mengusung desain tangguh, Samsung tetap memberikan layar berkualitas pada Xcover 6 Pro. Ponsel ini dibekali layar 6,6 inci FHD+ dengan refresh rate 120Hz yang memberikan tampilan halus dan responsif. Touch sensitivity tinggi membuat layar tetap responsif meski digunakan dengan sarung tangan. Kecerahan optimal membuat layar nyaman digunakan di bawah sinar matahari, dan Gorilla Glass Victus+ memberikan perlindungan ekstra terhadap goresan. Layar ini menjadi nilai tambah besar bagi pengguna yang sering bekerja di luar ruangan atau membutuhkan tampilan jelas dalam kondisi cahaya ekstrem.

Performa Andal Berkat Snapdragon 778G

Untuk urusan performa, Samsung Galaxy Xcover 6 Pro tidak main-main. Smartphone ini ditenagai chipset Qualcomm Snapdragon 778G, salah satu prosesor kelas menengah yang terkenal stabil dan efisien. Multitasking lancar berkat RAM besar, cocok untuk aplikasi berat seperti pemetaan, logistik, atau aplikasi industri. Performa hemat daya memungkinkan penggunaan seharian tanpa khawatir kehabisan baterai. Meski bukan fokus utamanya, performa gaming cukup baik. Dengan performa seperti ini, Xcover 6 Pro mampu menjalankan berbagai aplikasi profesional tanpa hambatan.

Kamera Serbaguna untuk Dokumentasi Lapangan

Samsung menyematkan kamera yang cukup mumpuni pada Xcover 6 Pro. Meski bukan kamera flagship, kualitasnya sudah lebih dari cukup untuk dokumentasi pekerjaan atau aktivitas outdoor. Kamera utama 50 MP menghasilkan foto tajam dan detail, sementara kamera ultrawide 8 MP cocok untuk memotret area luas. Kamera depan 13 MP cukup baik untuk video call atau selfie. Kamera ini sangat membantu pekerja lapangan yang perlu mendokumentasikan kondisi proyek, kerusakan, atau laporan visual lainnya.

Baterai Tahan Lama dan Bisa Dilepas

Salah satu fitur yang semakin langka di smartphone modern adalah baterai yang bisa dilepas, dan Samsung menghadirkannya kembali di Xcover 6 Pro. Ini menjadi keunggulan besar bagi pengguna profesional. Kapasitas baterai 4.050 mAh cukup untuk penggunaan seharian, dan baterai removable memungkinkan penggantian cepat tanpa menunggu pengisian. Selain itu, ponsel ini juga didukung fast charging yang mempercepat pengisian daya. Fitur ini sangat berguna bagi pekerja yang tidak bisa menunggu ponsel terisi, seperti teknisi lapangan atau petugas logistik.

Fitur Tambahan untuk Produktivitas Tinggi

Samsung Galaxy Xcover 6 Pro juga dibekali berbagai fitur tambahan yang mendukung produktivitas. Xcover Key adalah tombol khusus yang bisa diprogram untuk membuka aplikasi tertentu. Samsung DeX memungkinkan ponsel digunakan layaknya komputer. Speaker keras cocok untuk lingkungan bising, dan konektivitas 5G memastikan akses internet cepat. Fitur-fitur ini membuat Xcover 6 Pro bukan hanya tangguh, tetapi juga sangat fungsional untuk pekerjaan profesional.

Cocok untuk Pengguna Profesional dan Outdoor

Dengan desain rugged, performa kuat, dan fitur lengkap, Galaxy Xcover 6 Pro sangat cocok untuk berbagai profesi. Pekerja konstruksi, teknisi lapangan, petugas logistik, pendaki, dan petualang dapat memanfaatkan ponsel ini secara maksimal. Ponsel ini bukan untuk mereka yang mencari desain elegan, tetapi untuk pengguna yang membutuhkan perangkat tahan banting dan andal.

Samsung Galaxy Xcover 6 Pro adalah smartphone yang dirancang untuk ketahanan dan produktivitas. Dengan desain kokoh, performa stabil, layar responsif, serta fitur profesional, ponsel ini siap menghadapi berbagai kondisi ekstrem. Jika kamu membutuhkan perangkat yang kuat dan dapat diandalkan di lingkungan kerja berat, Xcover 6 Pro adalah pilihan yang sangat tepat.

Samsung Galaxy S25 Ultra: Kamera 200MP dan AI Gemini untuk Perjalanan Canggih

0

Persiapan Liburan ke Jepang yang Lebih Menyenangkan

Jelang musim liburan, Jepang menjadi salah satu destinasi favorit bagi wisatawan Indonesia. Data dari Japan National Tourism Organization (JNTO) menunjukkan peningkatan kunjungan wisatawan Indonesia ke Jepang sebesar 18,4% pada tahun 2025. Jika Anda merencanakan perjalanan ke Negeri Sakura dan ingin pengalaman liburan yang lebih menyenangkan, Samsung Galaxy S25 Ultra bisa menjadi rekan perjalanan yang ideal.

Dengan kamera utama beresolusi 200MP dan integrasi dengan Google Gemini, Galaxy S25 Ultra menawarkan kemudahan dalam merencanakan, menjelajah, dan mengabadikan momen selama liburan. Fitur-fitur seperti Gemini Canvas dan Gemini Live Share Screen memperkaya pengalaman perjalanan, sementara kamera berkualitas tinggi membantu traveler menangkap setiap momen dengan detail terbaik.

Rencanakan Perjalanan dengan Lebih Mudah dan Efisien

Fitur Gemini Live di Galaxy S25 Ultra bertindak sebagai asisten perjalanan yang responsif dan interaktif. Dengan memahami minat, durasi, serta gaya liburan, Gemini Live mampu menyaring ratusan pilihan destinasi dan memberikan rekomendasi yang sesuai dengan keinginan pengguna.

Setelah mendapatkan rekomendasi lokasi, pengguna dapat membuat itinerary yang menarik menggunakan Gemini Canvas. Dengan prompt seperti:

“Gemini, saya mau liburan bersama keluarga ke Jepang, buatkan itinerary visual 8 hari di Jepang dengan desain yang estetik, lengkap dengan peta rute, urutan kegiatan per hari, detail waktu kunjungan, dan highlight informasi tentang kuil bersejarah di Kyoto, onsen di Hokkaido, dan street food di Tokyo.”

Gemini Canvas akan menyusun itinerary secara rapi dan menarik. Peta rute, waktu kegiatan, serta ringkasan setiap destinasi tergambar dengan jelas. Pengguna juga bisa menambahkan atau mengubah aktivitas, dan Gemini Canvas akan memperbarui tampilan secara instan.

Maksimalkan Pengalaman Eksplorasi

Saat berada di Jepang, fitur Gemini Live with Camera bisa memperkaya pengalaman eksplorasi. Cukup arahkan kamera Galaxy S25 Ultra ke kuil di Kyoto atau menu ramen di restoran lokal, dan Gemini akan langsung mengenali objek tersebut, memberikan informasi sejarah atau detail makanan secara real-time.

Fitur ini membantu traveler memahami cerita di balik situs bersejarah, festival budaya, atau menu makanan tanpa perlu repot mencari di internet atau bertanya kepada orang sekitar. Semua dukungan Google Gemini berlangsung responsif dan mulus, sehingga liburan di Jepang terasa lebih mudah, teredukatif, dan menyenangkan.

Abadikan Setiap Momen dengan Kualitas Terbaik

Mengabadikan setiap momen selama liburan ke Jepang menjadi hal wajib. Galaxy S25 Ultra dilengkapi kamera utama 200MP yang mampu menangkap detail, lensa ultrawide 50MP untuk panorama dramatis, serta dua telefoto 3x & 5x optical zoom yang memungkinkan pengambilan foto jauh tanpa mengorbankan kualitas.

  • Pilih lensa sesuai adegan: 200MP untuk detail, 50MP ultrawide untuk panorama, tele untuk jarak jauh.
  • Atur mode video/pro sesuai kebutuhan: 8K30 untuk sinematik, 4K120 untuk slow-motion.
  • Gunakan Photo Assist untuk komposisi dan Samsung Log untuk kontrol warna dasar.
  • Rekam audio bersih dengan AI Audio Eraser dan buat transisi halus pakai Zoom Slider.
  • Lakukan edit cepat: Generative Edit → Auto Trim → export siap unggah.

Dengan alur tersebut, setiap tujuan wisata mulai dari bunga sakura di Kyoto hingga lanskap salju Hokkaido bisa ditangkap dengan kualitas yang jauh lebih sinematik. Mode Pro Video dengan opsi 8K30 dan 4K120 memberi keleluasaan membuat footage yang khas, sementara Samsung Log, Zebra Pattern, dan False Color membantu menjaga eksposur tetap akurat dalam berbagai kondisi cuaca dan cahaya di Jepang.

Nightography memastikan hasil tetap terang saat memotret festival lampion Asakusa atau suasana neon Shinjuku di malam hari. Ditambah Audio Eraser untuk membersihkan noise lingkungan serta Zoom Slider untuk transisi visual yang lebih halus, Galaxy S25 Ultra bukan hanya kamera perjalanan tapi perangkat produksi konten lengkap yang siap membuat liburan Anda terlihat profesional.

Harga dan Penawaran Spesial

Samsung Galaxy S25 Ultra tersedia dalam tiga pilihan kapasitas, yaitu 12GB/256GB (Rp20.999.000), 12GB/512GB (Rp22.999.000), dan 12GB/1TB (Rp26.999.000) dengan pilihan warna Titanium Silverblue, Titanium Whitesilver, Titanium Gray, dan Titanium Black.

Selain itu, ada penawaran spesial yang bisa dinikmati mulai tanggal 11 Desember 2025 hingga 14 Januari 2026 dengan total cashback hingga Rp2,2 juta. Penawaran ini cocok menjadi partner liburan akhir tahun Anda.

Harga HP Samsung A07 5G Terbaru 12 Desember 2025 dan Spesifikasi, Dijamin Update 6 Tahun

0

Samsung Galaxy A07: Ponsel Entry Level dengan Fitur Menarik dan Harga Terjangkau

Samsung Galaxy A07 menjadi salah satu pilihan yang menarik bagi pengguna yang mencari ponsel dengan fungsi dasar namun tetap memiliki fitur unggulan. Dengan harga mulai dari sejutaan rupiah, ponsel ini cocok untuk kebutuhan sehari-hari seperti mengakses media sosial atau menggunakan aplikasi pesan instan.

Galaxy A07 merupakan bagian dari seri A terbaru yang dirilis pada Agustus 2025. Salah satu keunggulan utamanya adalah jaminan pembaruan sistem operasi (OS) dan keamanan hingga enam tahun. Hal ini menjadikannya pilihan yang layak dipertimbangkan, terutama bagi pengguna yang ingin memperpanjang masa pakai perangkat.

Spesifikasi Lengkap Samsung Galaxy A07

Dari segi layar, Galaxy A07 dilengkapi dengan layar infinity-U berukuran 6,7 inci dengan resolusi HD+ dan refresh rate 90 Hz. Ukuran layar yang besar serta kecepatan refresh yang tinggi memberikan pengalaman visual yang nyaman saat digunakan.

Perangkat ini memiliki dimensi 164,4 mm x 77,4 mm x 7,6 mm dengan bobot 184 gram. Bobot yang ringan membuatnya nyaman digenggam dan dibawa ke mana-mana.

Untuk kamera, Galaxy A07 dilengkapi kamera belakang ganda yang terdiri dari kamera utama 50 MP dan kamera sekunder 2 MP. Kedua kamera ini ditempatkan dalam modul berbentuk pil di bagian belakang. Sementara itu, kamera depan memiliki resolusi 8 MP dan ditempatkan dalam modul waterdrop di tengah atas layar.

Dapur pacu Galaxy A07 didukung oleh chipset Helio G99 yang tersedia dalam empat opsi RAM dan penyimpanan, yaitu 4/64 GB, 4/128 GB, 6/128 GB, dan 8/256 GB. Kapasitas penyimpanan bisa diperluas hingga 2 TB melalui slot microSD.

Sistem operasi yang digunakan adalah Android 15 dengan antarmuka One UI 7. Samsung menjamin bahwa OS Galaxy A07 akan mendapat enam kali pembaruan dan enam tahun pembaruan keamanan, sehingga perangkat ini bisa digunakan hingga setidaknya tahun 2031.

Daya Tahan dan Keamanan

Baterai Galaxy A07 memiliki kapasitas 5.000 mAh yang mendukung pengisian cepat hingga 25 watt. Dengan baterai besar dan teknologi pengisian cepat, pengguna tidak perlu khawatir tentang daya tahan baterai.

Fitur keamanan juga menjadi hal penting dalam Galaxy A07. Perangkat ini dilengkapi dengan Samsung Knox Vault dan Auto Blocker yang membantu mencegah instalasi aplikasi berbahaya. Selain itu, Galaxy A07 memiliki sertifikasi IP54 yang menunjukkan ketahanan terhadap cipratan air dan debu.

Bagian belakang ponsel ini juga dilapisi dengan Glass Fiber Reinforced Polymer (GFRP) yang diklaim lebih kuat dan ringan. Di bagian samping, terdapat pemindai sidik jari yang terintegrasi langsung dengan tombol daya.

Harga Terbaru Samsung Galaxy A07

Samsung Galaxy A07 tersedia dalam tiga varian warna, yaitu Green, Light Violet, dan Black. Harga di laman resmi Samsung.com untuk berbagai varian adalah sebagai berikut:

  • 4/64 GB: Rp 1.399.000
  • 4/128 GB: Rp 1.649.000
  • 6/128 GB: Rp 1.949.000
  • 8/256 GB: Rp 2.299.000

Harga di toko-toko online seperti Tokopedia dan Shopee bisa lebih murah. Misalnya, pada 12 Desember 2025, harga di Tokopedia untuk varian 4/64 GB adalah mulai dari Rp 1.150.000, sedangkan di Shopee untuk varian 4/128 GB mulai dari Rp 1.170.000.

Meskipun harga bisa berbeda, perbedaan biasanya tidak signifikan. Saat membeli secara online, penting untuk mempertimbangkan reputasi toko, bukan hanya harga termurah. Pastikan untuk memeriksa detail spesifikasi dan ulasan pembeli sebelum melakukan pembelian.

Pertahankan Sertifikasi ISO 27001 dan 27701, Blibli Kuatkan Keamanan Data Konsumen

0

Keamanan Digital di Tengah Pesta Promo Akhir Tahun

Di tengah meningkatnya aktivitas belanja online selama musim promo akhir tahun, ancaman kejahatan siber semakin mengkhawatirkan. Banyak konsumen menantikan momen seperti Hari Belanja Nasional (Harbolnas) 12.12 dan berbagai penawaran spesial lainnya. Namun, di balik diskon dan keseruan belanja, risiko kejahatan digital juga meningkat tajam.

Menurut laporan dari Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), terdapat lebih dari 274.000 kasus penipuan yang terjadi antara November 2024 hingga September 2025. Potensi kerugian yang bisa terjadi mencapai Rp 6,1 triliun. Modus penipuan kini semakin canggih, termasuk phishing, akun customer service palsu, rekayasa sosial (social engineering), hingga penipuan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang sulit dibedakan dari interaksi normal.

Untuk menjaga keamanan data dan privasi pengguna, Blibli dan GDPu mempertahankan sertifikasi ISO 27001:2022 dan ISO 27701:2019. Sertifikasi ini menjadi bukti komitmen perusahaan dalam menjaga standar internasional manajemen keamanan informasi serta perlindungan data pribadi sesuai regulasi yang berlaku.

Standar Keamanan yang Diterapkan

Blibli menjadi e-commerce pertama di Indonesia yang mendapatkan sertifikasi ISO 27001 pada Desember 2019. Kini, perusahaan berhasil mempertahankannya dengan standar terbaru yaitu ISO 27001:2022. Sementara itu, ISO 27701:2019 memberikan perlindungan tambahan terhadap data pribadi pengguna, sejalan dengan UU Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi dan praktik global seperti GDPR di Uni Eropa.

Dengan menerapkan dua standar tersebut, Blibli memastikan semua aspek platform aman, mulai dari proses login, autentikasi, transaksi pembayaran, hingga percakapan dengan customer service. Bahkan, toko fisik pun mengikuti standar keamanan yang sama.

Sistem keamanan Blibli dirancang untuk menjaga kerahasiaan, integritas, dan ketersediaan data secara konsisten. Pendekatan ini memberikan perlindungan berlapis tanpa harus terlihat oleh pengguna, tetapi sangat penting untuk mencegah kebocoran atau penyalahgunaan data.

Peran Pengguna dalam Keamanan Digital

IT GRC Manager Blibli Yosua Sugianto menyatakan bahwa pembaruan sertifikasi ISO menjadi bukti komitmen perusahaan dalam menjaga keamanan. Namun, ia menekankan bahwa keamanan optimal hanya dapat dicapai melalui kolaborasi antara platform dan pengguna.

“Kami menyediakan platform yang aman, sementara pengguna juga perlu menjalankan praktik keamanan digital yang baik,” ujarnya.

Pengguna disarankan untuk selalu waspada dan memahami cara melindungi diri. Edukasi anti-phishing, tips mengenali kanal resmi, imbauan tidak membagikan one-time password (OTP), hingga edukasi membaca pola penipuan dilakukan secara berkelanjutan oleh Blibli.

Keterlibatan dengan Otoritas dan Program Edukasi

Blibli memiliki hubungan strategis dengan Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN). Tim teknologi Blibli sering kali menjadi juara dalam berbagai kompetisi dan program pengujian kerentanan yang diselenggarakan oleh badan nasional tersebut. Hal ini menunjukkan kredibilitas dan kompetensi perusahaan dalam bidang keamanan digital.

Selain mengandalkan teknologi, Blibli juga aktif dalam meningkatkan literasi keamanan digital, terutama selama musim promo. Edukasi ini bertujuan agar pelanggan merasa aman, bukan hanya karena sistem yang kuat, tetapi juga karena mereka memahami cara melindungi diri sendiri.

Keamanan terbaik selalu tercapai ketika platform dan pengguna bekerja sama. Dengan pendekatan ini, Blibli berkomitmen untuk terus memperkuat keamanan dan memberikan pengalaman belanja yang aman bagi konsumen.

10 Tahun Setelah Lahir, OpenAI dan Musk Jadi Lawan Berat

0

Sejarah dan Perkembangan OpenAI: Dari Laboratorium Nonprofit ke Raksasa Teknologi

OpenAI didirikan pada 11 Desember 2015 sebagai laboratorium riset nonprofit. Pada awalnya, organisasi ini bertujuan untuk mengembangkan kecerdasan buatan (AI) dengan fokus pada manfaat bagi manusia tanpa tekanan komersial atau motif keuntungan. Pendiriannya diawali oleh sejumlah tokoh teknologi seperti Elon Musk, Peter Thiel, dan Reid Hoffman, yang menjanjikan pendanaan sebesar 1 miliar dolar AS.

Misi awal OpenAI adalah memastikan bahwa AI dikembangkan secara etis dan berkontribusi positif bagi masyarakat. Namun, setelah sepuluh tahun berkembang, misi tersebut nyaris terabaikan. Banyak perubahan terjadi dalam struktur dan tujuan organisasi ini, termasuk pergeseran dari nonprofit menjadi entitas komersial.

OpenAI Melejit Jadi Raksasa Komersial

OpenAI kini menjadi salah satu perusahaan AI dengan pertumbuhan tercepat. Valuasinya mencapai 500 miliar dolar AS, terutama didorong oleh kesuksesan ChatGPT selama tiga tahun terakhir. Setiap minggu, lebih dari 800 juta pengguna aktif menggunakan chatbot tersebut.

Sementara itu, pesaing baru OpenAI bernama xAI, yang didirikan oleh Elon Musk, juga menunjukkan pertumbuhan signifikan. xAI diperkirakan akan menutup pendanaan sebesar 15 miliar dolar AS dengan valuasi pra-pendanaan mencapai 230 miliar dolar AS. OpenAI dan xAI kini menjadi dua pemain utama di pasar AI bersama Google, Anthropic, dan Meta.

Industri AI sedang berkembang pesat, mulai dari chatbot berbasis teks hingga video buatan AI dan bentuk konten yang lebih kompleks. Termasuk dalam pengembangan agentic AI yang digunakan perusahaan besar untuk meningkatkan produktivitas.

Biaya Infrastruktur yang Menggelegar

Untuk mendukung pertumbuhan dan inovasi, OpenAI menghabiskan dana yang sangat besar. Biaya infrastruktur mencapai 1,4 triliun dolar AS, terutama untuk pusat data raksasa dan chip berdaya tinggi. Investasi ini terus meningkat, mirip dengan era awal perusahaan teknologi yang bertarung melawan perusahaan besar.

Gil Luria, analis ekuitas di D.A. Davidson, menyatakan bahwa OpenAI memiliki peran penting dalam sejarah pengembangan AI. Ia menegaskan bahwa peran itu akan tetap ada, meskipun tidak jelas apakah perannya akan sebesar Netscape atau Google.

Awal Ketegangan: Visi Nonprofit Mulai Terkikis

Pada 2016, CEO Nvidia Jensen Huang mengirimkan superkomputer DGX-1 senilai 300.000 dolar AS ke kantor OpenAI. Mesin ini menelan biaya pengembangan beberapa miliar dolar AS, namun hanya digunakan oleh Musk. Huang merasa terkejut karena mesin tersebut akan digunakan oleh organisasi nonprofit.

Idealisme nonprofit mulai tergerus saat itu, dan Musk tidak setuju dengan arah OpenAI. Pada 2017, Musk memberi peringatan kepada para co-founder bahwa ia tidak akan lagi mendanai OpenAI jika berubah menjadi startup komersial. Altman menjawab keesokan harinya bahwa ia tetap antusias dengan struktur nonprofit.

Rivalitas Altman dan Musk Semakin Terbuka

Pada Februari 2018, Musk mundur dari dewan OpenAI. Ia mengatakan langkah ini dilakukan untuk menghindari potensi konflik kepentingan karena Tesla semakin masuk ke pengembangan AI. Namun, latar belakangnya lebih kompleks.

Pada awal 2024, Musk menggugat OpenAI dan Altman, menuding keduanya meninggalkan misi awal untuk mengembangkan AI “demi manfaat umat manusia.” Ia juga kerap mengkritik kedekatan OpenAI dengan Microsoft sebagai pendukung utama. Musk bahkan mencoba mencegah transformasi OpenAI menjadi entitas for-profit dan berusaha mengakuisisi laboratorium tersebut senilai 97,4 miliar dolar AS.

Pada Oktober 2024, OpenAI merampungkan proses recapitalization dengan struktur baru yang menempatkan entitas nonprofit sebagai pemegang kendali atas bisnis for-profit yang kini berbentuk public benefit corporation bernama OpenAI Group PBC.

Anthropic dan Persaingan Baru di Pasar AI

Selain Musk, dua eks anggota tim awal OpenAI, Dario dan Daniela Amodei, juga berubah menjadi pesaing. Keduanya keluar pada akhir 2020 dan mendirikan Anthropic, yang bulan lalu mengumumkan rencana pendanaan dari Microsoft dan Nvidia. Valuasi Anthropic bisa mencapai 350 miliar dolar AS dari putaran pendanaan tersebut.

Model bahasa besar Claude milik Anthropic menjadi salah satu pesaing utama GPT besutan OpenAI. Altman bertaruh dapat memenangkan kompetisi dengan membelanjakan dana lebih besar. OpenAI menyiapkan infrastruktur bernilai lebih dari satu triliun dolar AS, sedangkan Anthropic memiliki komitmen komputasi sekitar 100 miliar dolar AS yang tersebar dalam beberapa tahun ke depan.

Investasi Raksasa dan Pasar AI yang Meledak

Menurut Luria, komitmen Anthropic dan perusahaan lain masih sesuai dengan pendanaan dan pertumbuhan yang mereka miliki. Namun ia menilai OpenAI membuat komitmen “fantastis” dengan “keyakinan samar bahwa angka itu mungkin tercapai.”

Altman mengatakan bahwa permintaan pasar cukup besar untuk mendukung rencana belanja OpenAI. “Pertumbuhan pada skala ini memang tidak biasa, tetapi itu yang kami lihat dari data sekarang,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa “permintaan pasar sangat ekstrem.”

Bulan lalu, Altman menyebut pendapatan tahunan diperkirakan mencapai 20 miliar dolar AS pada akhir tahun dan ratusan miliar pada 2030. Pertumbuhan ini memberikan dorongan besar bagi perusahaan teknologi utama.

Oracle menandatangani kontrak infrastruktur senilai 500 miliar dolar AS dengan OpenAI untuk lima tahun. Chipmaker seperti Advanced Micro Devices (AMD) dan Broadcom juga memasukkan permintaan OpenAI dalam proyeksi multi-tahun mereka.

Namun saham Oracle anjlok 11 persen setelah pendapatan perusahaan lebih rendah dari perkiraan. Kondisi itu ikut menekan Nvidia, CoreWeave, dan saham terkait AI lainnya. Investor mulai khawatir tentang beban utang Oracle untuk membiayai ekspansi tersebut.

‘Mother of All Waves’ dan Fokus Baru OpenAI

Meski demikian, Matt Murphy dari Menlo Ventures menyebut gelombang AI saat ini sebagai “yang terbesar dalam 25 tahun.” Kombinasi model AI, chip kustom, dan pusat data berskala besar membuka peluang hasil triliunan dollar AS.

Altman baru-baru ini menetapkan status “code red” di perusahaannya dan mengalihkan sumber daya untuk mempercepat ChatGPT agar lebih cepat, lebih andal, dan lebih personal. Fokus baru ini membuat pengembangan iklan, agen kesehatan dan belanja, serta asisten pribadi bernama Pulse ditunda. Langkah ini diambil setelah Google meluncurkan Gemini 3 bulan lalu.

Pada Kamis, OpenAI memperkenalkan ChatGPT-5.2, model reasoning baru yang lebih cepat dan lebih mumpuni untuk penggunaan profesional. OpenAI juga menandatangani perjanjian konten dan ekuitas tiga tahun senilai 1 miliar dolar AS dengan Disney terkait pengembangan generator video Sora.

Altman menepis ancaman dari Google. Ia mengatakan bahwa Gemini tidak memberikan dampak sebesar yang diperkirakan perusahaan. “Saat ancaman kompetitif muncul, Anda harus fokus dan menanganinya cepat,” ujarnya. Ia memperkirakan OpenAI dapat keluar dari status code red pada Januari 2026.