Rabu, April 15, 2026
Beranda blog Halaman 437

Apple Segera Luncurkan iPhone Lipat, Ini Bocoran Desain dan Harga

0

Perkembangan Terbaru Mengenai iPhone Lipat

Apple kembali menunjukkan inovasi terbarunya dengan mempersiapkan peluncuran iPhone Fold, sebuah ponsel lipat yang akan bersaing dengan berbagai ponsel Android. Dalam beberapa tahun terakhir, Apple telah melakukan sejumlah perubahan dalam jajaran produk iPhone-nya, dan kini mereka percaya bahwa versi terbaru ini akan sangat diminati oleh konsumen.

Pada 2025, Apple tidak akan mengumumkan perubahan besar-besaran, tetapi akan menjadi titik awal untuk perubahan signifikan pada tahun 2026 dan 2027. Hal ini akan memberikan pengalaman baru bagi para penggemar iPhone. Beberapa sumber menyebutkan bahwa peluncuran iPhone Fold akan dilakukan pada akhir 2026 atau awal 2027. Tanggal rilis ini juga didukung oleh berbagai laporan dari sumber seperti The Information, The Wall Street Journal, serta analis Ming-Chi Kuo dan Mark Gurman.

Rencana Produksi dan Waktu Peluncuran

Menurut informasi yang beredar, desain dan spesifikasi utama iPhone Fold akan rampung pada pertengahan 2025, dengan target produksi akhir 2026. Namun, volume produksi di awal kemungkinan akan sangat terbatas karena kompleksitas dan biaya produksi yang tinggi. Model kedua yang dirilis pada akhir 2027 diperkirakan akan memiliki jumlah produksi yang lebih besar.

Mark Gurman melaporkan bahwa Apple akan fokus pada fitur-fitur untuk iPhone lipat di iOS 27, yang direncanakan dirilis pada musim gugur 2026. Selain itu, Samsung Display juga dikabarkan sedang mempersiapkan produksi massal OLED untuk ponsel lipat yang akan dipasok ke klien di Amerika Utara.

Desain dan Teknologi yang Digunakan

Dalam beberapa tahun terakhir, Apple telah membuat beberapa prototipe desain ponsel lipat “clamshell” dan “buku”. Gaya “buku” ini mirip dengan Google Pixel 9 Pro Fold dan Samsung Galaxy Z Fold. Engsel ponsel ini diperkirakan akan menjadi salah satu fitur uniknya. Beberapa laporan menyebutkan bahwa engselnya akan terbuat dari paduan titanium, sementara laporan lain menyebutkan penggunaan LiquidMetal untuk meningkatkan daya tahan dan kerataan layar.

Selain itu, Apple telah menerima beberapa paten untuk desain engsel, namun belum jelas mana yang akan digunakan dalam desain akhir. Pada Juli 2025, analis Ming-Chi Ku melaporkan bahwa Apple menemukan cara untuk menghilangkan lipatan menggunakan pelat logam.

Ukuran dan Dimensi Ponsel

Analis Ming-Chi Kuo mengatakan bahwa iPhone lipat bergaya buku ini akan memiliki layar bagian dalam sebesar 7,8 inci dan layar bagian luar sebesar 5,5 inci. Ketebalan maksimal saat dilipat adalah 9,5 mm dan 4,5 mm saat dibuka. Untuk perbandingan, iPhone 16 Pro Max memiliki ketebalan 8,5 mm, sedangkan iPhone 6 adalah yang paling tipis dengan ketebalan 6,9 mm.

Spesifikasi dan Fitur

Meskipun masih belum diketahui pasti prosesor apa yang akan digunakan, kemungkinan besar iPhone lipat akan menggunakan A20 atau A20 Pro seperti varian prosesor pada iPhone 18. Modem seluler dan chip Wi-Fi/Bluetooth Apple sendiri juga kemungkinan akan digunakan. Chip-chip tersebut bahkan mungkin terintegrasi ke dalam sistem-pada-chip utama.

Harga yang Diprediksi

iPhone lipat diperkirakan akan menjadi model yang sangat mewah dan ultra-premium. Harga awal peluncuran diperkirakan mencapai angka yang sangat tinggi, bahkan bisa dua kali lipat dari harga iPhone Pro Max termahal. Ini menunjukkan bahwa iPhone Fold akan menjadi ponsel yang ditujukan untuk pasar premium.

Gemini AI Ubah Foto Jadi Karakter 3D Berbaju Batik, Seperti Film Animasi

0

Mengubah Foto Jadi Karakter 3D dengan Sentuhan Budaya Indonesia

Banyak orang yang pernah berpikir bagaimana foto mereka bisa diubah menjadi karakter animasi 3D yang mirip tokoh dalam film Disney. Tapi, kali ini ada cara unik untuk membuatnya tetap memiliki ciri khas Indonesia. Dengan bantuan teknologi AI seperti Gemini AI, hal ini kini bisa dilakukan dengan mudah dan menarik.

Gemini AI kini menjadi alat kreatif yang populer di media sosial karena kemampuannya mengubah foto biasa menjadi animasi 3D yang sangat detail dan realistis. Jika kamu ingin tampil beda namun tetap membawa identitas budaya Indonesia, kamu bisa mencoba beberapa prompt khusus yang dirancang untuk menghasilkan karakter 3D dengan pakaian batik yang indah.

Tiga Prompt Kreatif untuk Membuat Karakter 3D Berbaju Batik

1. Menari di Pendopo Tradisional (Batik Klasik)

Prompt:
“Karakter 3D perempuan Indonesia sedang menari di pendopo Jawa, mengenakan kain batik cokelat klasik, suasana sore keemasan, pencahayaan lembut, latar tradisional.”

Prompt ini menciptakan suasana anggun dan tradisional. Gemini AI akan menampilkan karakter yang sedang menari di pendopo dengan kain batik klasik, lengkap dengan pencahayaan lembut yang memberi kesan budaya khas Jawa.

2. Berjalan di Jalan Kota (Batik Modern)

Prompt:
“Karakter 3D pria atau wanita Indonesia berjalan di jalan kota saat senja, mengenakan pakaian batik modern bermotif geometris, pencahayaan realistis, suasana urban dan elegan.”

Prompt ini menggambarkan perpaduan antara budaya dan modernitas. Batik tampil dengan potongan kontemporer, berpadu dengan latar perkotaan yang hangat saat matahari terbenam. Hasilnya menunjukkan sisi profesional dan kekinian.

3. Naik Motor di Jalan Kota dengan Jaket Batik (Batik Kasual)

Prompt:
“Karakter 3D pria Indonesia sedang mengendarai motor di jalan kota pada malam hari, memakai jaket batik bercahaya, pantulan lampu neon di sekitar, gaya sinematik dan dinamis.”

Prompt ini menghadirkan kesan gagah dan modern. Jaket batik bercahaya menambah kesan futuristik, sementara latar malam kota dengan lampu neon membuat hasil animasi terasa hidup. Cocok untuk kamu yang ingin tampil keren tapi tetap berbudaya.

Langkah-Langkah Menggunakan Prompt di Gemini AI

  1. Buka Gemini AI

    Masuk ke laman resmi atau aplikasi Gemini AI.

  2. Pilih Mode Pembuatan Gambar

    Klik menu “Generate Image” atau “Buat Gambar” untuk mengaktifkan fitur pembuat gambar berbasis prompt.

  3. Unggah Foto Kamu

    Pilih foto dengan pencahayaan yang jelas, latar belakang bersih, dan posisi wajah menghadap kamera agar hasil animasi lebih presisi.

  4. Masukkan Prompt

    Salin dari tiga prompt di atas ke kolom teks. Kamu bisa menyesuaikan detail seperti jenis kelamin, warna batik, atau gaya ekspresi sesuai keinginan.

  5. Atur Gaya dan Resolusi

    Jika tersedia, pilih gaya “3D” atau “Realistic Animation” agar hasilnya menyerupai karakter animasi.

  6. Klik “Generate” atau “Buat”

    Tunggu beberapa detik hingga sistem menyelesaikan proses rendering. Hasil gambar akan muncul dalam bentuk animasi 3D yang bisa langsung diunduh.

  7. Simpan dan Bagikan

    Setelah hasilnya muncul, kamu bisa menyimpannya di galeri atau langsung membagikannya di media sosial.

Dengan langkah-langkah di atas, kamu bisa dengan mudah mengubah foto diri sendiri menjadi karakter 3D yang menarik dan penuh nuansa budaya Indonesia. Coba eksplorasi berbagai prompt lainnya untuk mendapatkan hasil yang semakin kreatif dan unik.

Microsoft Buka 3 Perubahan dalam Dunia Ancaman Siber

0

Tiga Perubahan Utama dalam Ancaman Siber Menurut Laporan Microsoft 2025

Laporan Digital Defence 2025 yang dirilis oleh Microsoft mengungkap tiga pergeseran signifikan dalam lanskap ancaman siber. Ancaman ini tidak hanya berpotensi menyerang individu, tetapi juga organisasi dan institusi di berbagai wilayah, termasuk Indonesia yang menduduki peringkat ke-12 sebagai negara dengan aktivitas siber terbesar di kawasan Asia Pasifik.

Presiden Direktur Microsoft Indonesia, Dharma Simorangkir, menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia harus diimbangi dengan kesiapan dan disiplin keamanan yang kuat. “Keamanan siber kini bukan hanya tanggung jawab IT, melainkan bagian dari tata kelola bisnis dan fondasi kepercayaan dalam berinovasi,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Pergeseran Pertama: Serangan Berbasis Identitas

Salah satu pergeseran utama dalam ancaman siber adalah meningkatnya serangan berbasis identitas. Lebih dari 97 persen dari serangan tersebut berupa penebakan kata sandi secara massal. Namun, penerapan multifactor authentication (MFA) yang tahan terhadap phishing telah terbukti mampu mencegah hingga 99 persen serangan tersebut.

Pergeseran Kedua: Ransomware yang Berkembang Menjadi Pemerasan Data

Ransomware, yang sebelumnya hanya mengenkripsi sistem untuk meminta tebusan, kini berkembang menjadi bentuk pemerasan data. Pelaku tidak hanya mengenkripsi sistem, tetapi juga mencuri data sensitif untuk dijual atau digunakan sebagai alat negosiasi. Organisasi seperti rumah sakit, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah sering menjadi target karena keterbatasan sumber daya keamanan.

Pergeseran Ketiga: Infostealer yang Mencuri Data Sensitif

Infostealer, yaitu malware yang bertindak sebagai akses awal, semakin marak. Malware ini mencuri data sensitif dari perangkat korban, seperti password, cookie browser, data kartu kredit, hingga kredensial akun. Pelaku menggunakan metode seperti kampanye malvertising atau manipulasi hasil pencarian internet. Ancaman ini meningkat pesat karena kemampuan otomatis untuk mencuri kredensial dan memicu rangkaian serangan lanjutan.

AI Sebagai Paradoks Baru dalam Keamanan Siber

Kehadiran kecerdasan buatan (AI) membawa paradoks baru dalam keamanan siber. Meskipun AI dapat meningkatkan keamanan, pelaku kejahatan juga memanfaatkannya untuk mempercepat pencarian kerentanan dan melipatgandakan skala phishing otomatis. Tingkat keberhasilan phishing yang dilakukan dengan AI kini 4,5 kali lebih tinggi daripada phishing tradisional, dengan click-through rates antara 12 hingga 54 persen.

“Dengan AI, kita memiliki peluang sekaligus tanggung jawab baru, yakni bagaimana memastikan setiap organisasi, dari startup hingga lembaga publik, dapat berinovasi dengan aman dan bertanggung jawab,” ujar Dharma Simorangkir.

Pendekatan Microsoft dalam Menghadapi Ancaman Siber

Microsoft menghadapi ancaman siber dengan menyediakan berbagai pengamanan melalui produk seperti Microsoft Sentinel, Security Copilot, dan rangkaian solusi di Microsoft Security Store. Pendekatan mereka sejalan dengan Secure Future Initiative (SFI), yang didasarkan pada prinsip secure by design, secure by default, dan secure operations. Tujuannya adalah memastikan keamanan menjadi bagian dari DNA setiap produk dan proses.

Rekomendasi untuk Organisasi

Untuk memperkuat keamanan siber, Microsoft merekomendasikan empat langkah penting:

  • Gunakan MFA tahan phishing untuk melindungi akses.
  • Bangun budaya keamanan siber dengan meningkatkan keterampilan siber di setiap divisi.
  • Pemetaan dan pengawasan aset cloud untuk memastikan keamanan lingkungan digital.
  • Manfaatkan AI secara aman dan bertanggung jawab untuk mencegah risiko yang muncul dari penggunaan teknologi ini.

Dengan langkah-langkah ini, organisasi dapat membangun sistem keamanan yang lebih kuat dan siap menghadapi ancaman siber yang terus berkembang.

Lebih dari 1 Juta Pengguna ChatGPT Diskusikan Kematian Setiap Pekan, OpenAI Ambil Tindakan Darurat

0

Data Mengejutkan: Jutaan Pengguna ChatGPT Mengungkapkan Kecemasan Emosional

Dalam laporan terbaru yang dikeluarkan oleh perusahaan pengembang AI, terungkap fakta mengejutkan tentang pengguna ChatGPT. Menurut data yang dirilis, lebih dari satu juta pengguna aktif setiap minggu pernah menyampaikan keinginan atau pikiran untuk bunuh diri melalui percakapan dengan chatbot. Hal ini menjadi alarm bagi para ahli teknologi dan kesehatan mental, yang memicu tindakan segera dari OpenAI untuk meningkatkan sistem keamanan dan respons emosional ChatGPT.

Data yang diungkap menunjukkan bahwa sekitar 0,15 persen dari total pengguna aktif mingguan ChatGPT mengungkapkan indikasi eksplisit terkait potensi bunuh diri. Dengan jumlah pengguna global yang mencapai hingga 800 juta orang, maka angka tersebut berarti sekitar 1,2 juta pengguna telah membicarakan ide-ide negatif seperti itu. Selain itu, sekitar 0,05 persen pesan yang dikirim ke ChatGPT mengandung indikasi terkait bunuh diri. Angka ini semakin menunjukkan betapa pentingnya penanganan masalah ini secara serius.

Banyak Pengguna Menunjukkan Tanda-Tanda Gangguan Mental

Selain itu, OpenAI juga menemukan bahwa sekitar 0,07 persen pengguna ChatGPT menunjukkan gejala gangguan mental berat seperti psikosis atau mania. Sementara itu, sebanyak 0,15 persen pengguna lainnya menunjukkan keterikatan emosional berlebihan terhadap chatbot. Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran, terutama karena banyak pengguna menjadikan chatbot sebagai tempat curhat dan pelarian emosional.

Para ahli kesehatan mental khawatir bahwa interaksi berulang dengan chatbot bisa memperburuk kondisi mental seseorang. Chatbot cenderung merespons dengan cara yang memperkuat pandangan pengguna, bukan menantangnya, sehingga dapat memperparah ilusi atau keputusasaan yang sudah ada sebelumnya.

Kerja Sama dengan Ahli Kesehatan Mental

Untuk mengatasi masalah ini, OpenAI mengumumkan kerja sama dengan puluhan pakar kesehatan mental internasional. Tujuannya adalah memperbarui algoritma ChatGPT agar lebih sensitif dan empatik dalam mengenali tanda-tanda gangguan psikologis. Chatbot akan dilatih untuk mengenali pola percakapan berisiko, seperti kata-kata yang mencerminkan tekanan emosional berat, rasa putus asa, atau pikiran bunuh diri.

Sistem baru ini juga akan memprioritaskan respons yang menenangkan, penuh empati, dan tidak memperkuat keyakinan negatif pengguna. Langkah ini dianggap sebagai bagian dari misi OpenAI untuk memastikan kecerdasan buatan digunakan secara aman dan bertanggung jawab, terutama dalam konteks kesehatan mental.

Munculnya Fenomena “Psikosis AI”

Fenomena baru yang kini menjadi perhatian para ahli disebut “psikosis AI”, yaitu kondisi di mana pengguna mulai mengembangkan delusi, pikiran paranoid, atau keyakinan tidak rasional akibat terlalu sering berinteraksi dengan chatbot. Dalam beberapa kasus, pengguna bahkan memperlakukan ChatGPT layaknya teman pribadi atau konselor, sehingga memunculkan ketergantungan emosional.

Para psikiater memperingatkan bahwa interaksi panjang dengan chatbot tanpa kontrol bisa memperburuk kondisi mental seseorang. Untuk mengatasi hal ini, OpenAI memperketat sistem deteksi dan intervensi dini agar percakapan berisiko tinggi bisa ditangani lebih cepat.

Upaya Pencegahan dan Penanganan Krisis Psikologis

Lonjakan percakapan terkait bunuh diri ini tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, tetapi juga di berbagai negara lain. Banyak pengguna menjadikan ChatGPT sebagai tempat curhat karena dianggap netral dan selalu tersedia 24 jam. Namun, para ahli menegaskan bahwa AI bukan pengganti bantuan profesional, dan bisa berbahaya bila digunakan untuk menampung keluh kesah tanpa bimbingan manusia.

OpenAI kini sedang mengembangkan fitur yang memungkinkan ChatGPT untuk menyediakan tautan langsung ke layanan darurat lokal bila mendeteksi tanda-tanda krisis psikologis. Beberapa versi eksperimental bahkan akan dilengkapi dengan sistem rujukan otomatis ke hotline kesehatan mental di berbagai negara.

Masa Depan Kesehatan Mental Digital

Kasus ini menjadi peringatan keras bagi industri kecerdasan buatan. Di satu sisi, chatbot seperti ChatGPT terbukti bermanfaat dalam edukasi, pekerjaan, dan komunikasi. Di sisi lain, interaksi tanpa batas dengan AI bisa menimbulkan ketergantungan psikologis dan penurunan koneksi sosial manusiawi.

Para pakar menilai, masa depan AI harus diarahkan pada pendekatan “AI dengan empati”, yaitu sistem yang tidak hanya pintar menjawab, tetapi juga memahami kondisi emosional pengguna. OpenAI berkomitmen bahwa seluruh model baru ChatGPT nantinya akan dilengkapi mekanisme pengaman psikologis yang lebih kuat agar dapat membantu pengguna tanpa menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan mental mereka.

OpenAI Siap IPO, Targetkan Nilai Rp 1 Triliun, Rekor Tertinggi Sejarah

0

Persiapan IPO OpenAI yang Bisa Menjadi Salah Satu yang Terbesar dalam Sejarah

OpenAI, salah satu perusahaan pengembang kecerdasan buatan (AI) terkemuka di dunia, sedang mempersiapkan langkah awal untuk melakukan penawaran umum perdana (IPO). Rencana ini dilaporkan dapat memberikan valuasi perusahaan hingga USD 1 triliun. Jika rencana tersebut terealisasi, maka IPO OpenAI akan menjadi salah satu yang terbesar sepanjang sejarah.

Menurut sumber internal yang mengetahui rencana tersebut, OpenAI diperkirakan akan mengajukan dokumen ke otoritas sekuritas pada paruh kedua tahun 2026. Perusahaan berencana untuk mencari pendanaan minimal sebesar USD 60 miliar. Namun, angka dan waktu pastinya bisa berubah tergantung pada pertumbuhan bisnis serta kondisi pasar saat itu.

Sarah Friar, Direktur Keuangan OpenAI, menyebutkan bahwa pencatatan saham direncanakan pada 2027. Namun, beberapa penasihat memperkirakan prosesnya bisa dipercepat menjadi akhir 2026. Meski demikian, juru bicara perusahaan menegaskan bahwa IPO bukan fokus utama mereka. Mereka lebih fokus pada pembangunan bisnis yang tahan lama dan memajukan misi mereka agar semua orang mendapat manfaat dari AI generasi berikutnya (AGI).

Persiapan IPO ini menandai tahap baru bagi OpenAI setelah melalui restrukturisasi besar-besaran yang mengurangi ketergantungan pada Microsoft. Saat ini, valuasi OpenAI diperkirakan mencapai sekitar USD 500 miliar. Perusahaan juga menghadapi tekanan untuk memperkuat pendanaan demi mendukung rencana CEO Sam Altman dalam membangun infrastruktur AI bernilai triliunan dolar.

Altman sendiri mengakui bahwa IPO adalah opsi paling realistis untuk memenuhi kebutuhan modal besar di masa depan. Ia menyatakan bahwa jalur ini adalah yang paling mungkin bagi OpenAI mengingat kebutuhan modal yang besar. Dalam beberapa bulan terakhir, pendapatan tahunan OpenAI diperkirakan mencapai USD 20 miliar, meskipun kerugian perusahaan juga meningkat seiring ekspansi agresif di sektor AI.

OpenAI telah mengalami beberapa kali perubahan struktur. Awalnya sebagai organisasi nirlaba pada 2015, kini perusahaan dikendalikan oleh lembaga nirlaba baru bernama OpenAI Foundation. Lembaga ini memiliki 26 persen saham di OpenAI Group dan berhak mendapatkan tambahan saham jika target bisnis tercapai.

Restrukturisasi ini juga membuat yayasan menjadi pemegang saham penting dalam kesuksesan finansial perusahaan. Microsoft tetap menjadi investor utama dengan kepemilikan sekitar 27 persen saham setelah memberikan dana sebesar USD 13 miliar. Selain Microsoft, investor lain termasuk SoftBank, Thrive Capital, dan MGX dari Abu Dhabi.

Rencana IPO OpenAI muncul di tengah euforia saham berbasis kecerdasan buatan di pasar global. Tahun ini, perusahaan cloud AI CoreWeave mencatatkan sahamnya di bursa dengan valuasi USD 23 miliar dan kini telah melonjak hampir tiga kali lipat. Sementara itu, Nvidia mencatat sejarah sebagai perusahaan pertama yang menembus kapitalisasi pasar USD 5 triliun.

Sebagai perbandingan, IPO terbesar dalam sejarah adalah IPO Saudi Aramco, yang berlangsung pada Desember 2019. Perusahaan energi ini awalnya berhasil mengumpulkan USD 25,6 miliar dengan menjual 3 miliar saham, dan angka ini meningkat menjadi USD 29,4 miliar setelah tambahan 450 juta saham dijual. Pencapaian ini melampaui rekor IPO sebelumnya oleh Alibaba pada tahun 2014, yang mengumpulkan USD 21,8 miliar pada awalnya dan USD 25 miliar termasuk penjualan saham tambahan.

Saudi Aramco adalah perusahaan energi dan salah satu perusahaan terbesar di dunia, serta memilih untuk mencatatkan saham di Bursa Saham Saudi tanpa mencatatkan di luar negeri, sehingga kendali utama tetap dimiliki oleh investor domestik.

BYD U9X Pecahkan Rekor, Rahasia Bodi 3D yang Mengagumkan

0

Inovasi Bodi Cetak 3D pada Mobil Listrik BYD U9X

Merek premium BYD, Yangwang, baru-baru ini mengungkap detail teknis terkini mengenai struktur bodi hasil cetak 3D yang digunakan pada model U9 Xtreme (U9X). Mobil ini sebelumnya mencatatkan rekor resmi dalam putaran di sirkuit Nürburgring Nordschleife, menjadi mobil listrik produksi massal pertama yang mampu melewati batas tujuh menit di sirkuit legendaris tersebut.

Menurut Yang Feng, Kepala Yangwang Research Institute di BYD Auto Engineering Research Institute, proyek pencetakan 3D ini merupakan langkah eksperimental menuju paradigma baru dalam manufaktur kendaraan. Ia menjelaskan bahwa pengembangan teknologi ini mengintegrasikan material dan proses setara dengan tingkat dirgantara untuk menyeimbangkan kekakuan, keselamatan, serta bobot ringan.

Tim rekayasa menggunakan paduan aluminium berkekuatan tinggi yang dikembangkan khusus untuk proyek ini. Material ini terinspirasi dari penelitian peringanan struktur di industri dirgantara dan diklaim memiliki kekuatan luluh tiga kali lebih tinggi dibanding aluminium cor konvensional. Selain itu, material ini mempertahankan keseimbangan struktural yang baik.

Selain itu, tim juga memperkenalkan teknologi multidimensional surface parametric modelling, dirancang untuk mengatasi tantangan transisi kontinu pada permukaan melengkung yang kompleks. Dari proses ini lahir struktur Printing HyperCell, inovasi pertama di dunia otomotif, yang mengintegrasikan rongga internal dan tulang penopang dalam pola menyerupai sarang lebah. Struktur ini dilaporkan meningkatkan kekakuan torsi lebih dari 200 persen dibanding struktur padat dengan bobot setara.

Proses manufaktur mengandalkan teknik laser selective melting dengan presisi hingga 0,03 milimeter. Untuk mengatasi deformasi termal pada komponen berdinding tipis, tim menerapkan algoritma kompensasi proses dinamis. Hal ini memungkinkan toleransi akurasi dipertahankan dalam kisaran 0,1 milimeter di permukaan instalasi utama—setara dengan standar yang digunakan pada komponen mesin pesawat terbang.

Kombinasi antara material, optimasi topologi, dan presisi manufaktur memungkinkan bodi cetak 3D U9X mempertahankan stabilitas dan performa dinamis bahkan pada kecepatan 400 km/jam. Pendekatan ini juga memungkinkan integrasi yang lebih rapat antar subsistem kendaraan, sehingga meningkatkan karakter pengendalian secara keseluruhan.

Struktur bodi 3D U9X baru-baru ini meraih penghargaan di European Car Body Conference, menjadikannya satu-satunya proyek dari merek China yang mendapat pengakuan dalam ajang tersebut. Penghargaan yang diberikan berdasarkan nilai tertinggi dari dewan juri menyoroti keberhasilan adaptasi rekayasa berstandar dirgantara ke aplikasi otomotif serta membuka peluang inovasi lintas industri di masa depan.

Teknologi Pencetakan 3D yang Membawa Perubahan

Penggunaan teknologi pencetakan 3D dalam pembuatan bodi mobil U9X menunjukkan kemajuan signifikan dalam industri otomotif. Proses ini tidak hanya mengurangi waktu produksi tetapi juga meningkatkan efisiensi material dan kualitas produk akhir. Dengan bantuan teknologi laser selective melting, produsen dapat menciptakan komponen yang sangat presisi dan tahan terhadap tekanan ekstrem.

Selain itu, pendekatan multidimensional surface parametric modelling memberikan fleksibilitas dalam desain, memungkinkan pembuatan bentuk-bentuk kompleks yang sebelumnya sulit dicapai dengan metode tradisional. Hal ini sangat penting untuk mobil sport yang membutuhkan aerodinamika optimal dan stabilitas tinggi.

Teknologi Printing HyperCell juga menjadi salah satu inovasi paling menonjol dalam proyek ini. Struktur ini tidak hanya meningkatkan kekakuan torsi tetapi juga mengurangi berat bodi tanpa mengorbankan kekuatan. Dengan demikian, mobil dapat mencapai performa maksimal tanpa mengorbankan keamanan.

Peluang Masa Depan dalam Industri Otomotif

Inovasi yang dilakukan oleh BYD U9X menunjukkan potensi besar dalam pengembangan teknologi pencetakan 3D di industri otomotif. Dengan mengadopsi standar dirgantara, produsen dapat menciptakan kendaraan yang lebih ringan, kuat, dan efisien. Hal ini akan membuka peluang bagi kolaborasi lintas industri, seperti antara otomotif dan aeronautika.

Selain itu, penghargaan yang diterima oleh U9X menunjukkan bahwa inovasi teknologi ini mulai diakui secara global. Ini bisa menjadi awal dari tren baru dalam pengembangan kendaraan, di mana teknologi pencetakan 3D menjadi bagian integral dari proses produksi.

Dengan kombinasi material berkualitas tinggi, teknologi pemodelan canggih, dan presisi manufaktur yang luar biasa, U9X bukan hanya sebuah mobil, tetapi juga simbol dari transformasi dalam industri otomotif. Masa depan mobil listrik semakin cerah dengan adanya inovasi seperti ini.

AMSI dan Google News Initiative Latih 40 Media Manfaatkan AI untuk Jurnalisme Berkualitas

0

Pelatihan Jurnalisme Berbasis AI untuk Meningkatkan Kualitas Liputan Media

Dalam upaya memperkuat kemampuan redaksi di tengah tantangan transformasi digital, Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) bekerja sama dengan Google News Initiative (GNI) menyelenggarakan pelatihan bertajuk “Pemanfaatan Google AI Tools untuk Jurnalisme”. Kegiatan ini diikuti oleh 40 media dari berbagai daerah di Indonesia dan menjadi langkah penting dalam pengembangan jurnalisme yang lebih berbasis data dan teknologi.

Pelatihan berlangsung selama dua hari dan fokus pada pemanfaatan alat bantu digital dari Google untuk meningkatkan kualitas liputan, verifikasi data, serta efisiensi kerja redaksi. Tujuan utamanya adalah membantu jurnalis menghadapi perubahan industri media dengan alat yang lebih canggih dan adaptif.

Dalam sambutannya, Umi Kalsum, Pengurus AMSI, menyampaikan apresiasi kepada GNI atas dukungan mereka terhadap penguatan media nasional. Ia menekankan bahwa pelatihan ini tidak hanya bertujuan untuk menghasilkan konten berkualitas, tetapi juga membantu membangun audiens dan bisnis yang berkelanjutan, khususnya bagi media di daerah.

Selama dua hari pelatihan, peserta diberikan pembekalan oleh Aidila Razak, seorang jurnalis dan pelatih data berpengalaman dari Google. Ia membimbing peserta dalam memanfaatkan berbagai alat berbasis AI untuk jurnalisme dan verifikasi data.

Pada hari pertama, peserta belajar teknik verifikasi dan analisis data menggunakan berbagai produk Google seperti Google Trends untuk menemukan topik populer dan ide liputan. Mereka juga mengenal reverse image search, Google Lens, dan Synth ID untuk mendeteksi konten hasil rekayasa AI. Selain itu, peserta belajar menggunakan Google Maps untuk geolokasi gambar dan verifikasi kesaksian lapangan. Mereka juga mempraktikkan advanced search operators agar proses pencarian dokumen lebih efisien. Sesi ditutup dengan pengenalan Fact Check Explorer, alat bantu verifikasi klaim dan gambar yang beredar di ruang publik.

Pada hari kedua, fokus pelatihan bergeser ke penerapan Google AI tools dalam proses produksi konten jurnalistik. Peserta diperkenalkan pada Pinpoint, alat bantu yang mampu menangani dataset besar, menyalin audio otomatis, mengekstrak data terstruktur, serta melakukan OCR (Optical Character Recognition) pada gambar. Selain itu, peserta juga menjajal Notebook AI, platform riset multimodal dan multibahasa untuk mendukung brainstorming ide cerita dan penulisan berita.

Berdasarkan evaluasi peserta, Pinpoint dinilai sangat efisien dalam pengelolaan data, sedangkan Notebook AI membantu mempercepat riset dan pengembangan naskah. Melalui inisiatif ini, AMSI berharap para jurnalis peserta dapat mengoptimalkan berbagai alat digital berbasis AI untuk meningkatkan kualitas liputan, memperluas jangkauan audiens, serta memperkuat model bisnis media lokal agar lebih adaptif dan berkelanjutan di tengah perubahan lanskap digital.

Setelah pelatihan, 40 perwakilan media akan mengikuti program fellowship untuk melatih tim redaksi di media masing-masing dalam penggunaan Google AI Tools sesuai kebutuhan mereka. Selain itu, mereka diharapkan mengintegrasikan alat-alat tersebut ke dalam proses kerja redaksi dan mengembangkan inovasi berbasis AI untuk memperkuat praktik jurnalistik di medianya.

Pemilik ChatGPT Siap Luncurkan Saham ke Publik, Rekor Harga Tertinggi?

0

OpenAI Dikabarkan Akan Melakukan IPO Tahun Depan

Perusahaan teknologi terkemuka, OpenAI yang dikenal sebagai pengembang chatbot terkenal ChatGPT, disebut akan mempertimbangkan untuk melakukan Initial Public Offering (IPO) pada tahun depan. Informasi ini muncul dari laporan yang mengungkapkan bahwa OpenAI sebelumnya dijadwalkan melakukan IPO pada 2027. Namun, kabar terbaru menunjukkan kemungkinan pelaksanaannya lebih cepat, yaitu pada paruh kedua tahun 2026.

Dalam rencana IPO tersebut, OpenAI berencana mengumpulkan dana sebesar 60 miliar dollar AS atau sekitar Rp 997 triliun. Jika berhasil, ini akan menjadi IPO terbesar dalam sejarah, melebihi pencapaian perusahaan minyak dan gas nasional Arab Saudi, Saudi Aramco, yang melantai di bursa saham pada 2019 dengan total pendanaan sebesar 25,6 miliar dollar AS (sekitar Rp 425 triliun).

Selain itu, valuasi OpenAI diperkirakan akan mencapai 1 triliun dollar AS atau setara dengan Rp 16.000 triliun jika IPO benar-benar dilakukan. Meskipun informasi ini masih bersifat spekulatif, pihak OpenAI sendiri belum memberikan konfirmasi resmi.

Fokus pada Pengembangan Bisnis Berkelanjutan

Juru bicara OpenAI menyatakan bahwa saat ini perusahaan tidak sedang fokus pada IPO. “Fokus kami adalah membangun bisnis yang berkelanjutan dan memastikan manfaat AI yang cerdas seperti manusia, atau AGI (Artificial General Intelligence), dapat dirasakan semua orang,” ujarnya.

CEO OpenAI, Sam Altman, juga menyampaikan pandangan serupa. Ia mengatakan bahwa IPO mungkin menjadi arah yang wajar bagi perusahaan karena kebutuhan modal dan pendanaan yang semakin besar di masa depan. “Saya rasa cukup wajar jika mengatakan bahwa itu (IPO) kemungkinan besar akan menjadi arah kami ke depan,” tambahnya.

Perubahan Struktur Perusahaan

OpenAI kini telah melakukan restrukturisasi besar-besaran. Pada 28 Oktober 2025, perusahaan membentuk entitas baru bernama OpenAI Group PBC (Public Benefit Corporation). Sementara itu, induk nirlaba sebelumnya berganti nama menjadi OpenAI Foundation.

Yayasan ini memegang 26 persen saham OpenAI Group, setara dengan nilai Rp 2.161 triliun, dan akan terus meningkat sesuai pertumbuhan valuasi perusahaan. Sementara itu, 47 persen saham lainnya dimiliki oleh karyawan serta investor lama dan baru.

Komitmen untuk Penelitian dan Kemitraan dengan Microsoft

Sebagai bagian dari komitmen pasca restrukturisasi, OpenAI Foundation akan menyalurkan 25 miliar dollar AS (Rp 415 triliun) untuk riset kesehatan dan keamanan AI. Selain itu, kemitraan dengan Microsoft juga diperkuat. Microsoft kini memegang 27 persen saham OpenAI dan memiliki hak kekayaan intelektual atas model dan produk OpenAI hingga 2023, serta model masa depan yang berkaitan dengan AGI.

Sebagai bagian dari kerja sama ini, OpenAI akan menggunakan layanan Azure senilai 259 miliar dollar AS (Rp 4.305 triliun) secara bertahap. Kedua pihak menyatakan bahwa kemitraan baru ini akan memperkuat inovasi dan memperluas peluang ekonomi berbasis AI di masa depan.

AI Membuat Penipu dan Hacker Lebih Canggih, Zero Trust Jadi Jawaban

0

Perubahan Mendasar dalam Dunia Siber Akibat Pemanfaatan Kecerdasan Buatan

Tren adopsi kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara dunia bekerja, termasuk bagaimana para penyerang siber melakukan serangan. Dari email phishing yang terlihat seperti dari rekan kerja hingga panggilan telepon yang terdengar mirip anggota keluarga, AI menjadi alat yang bisa digunakan baik untuk kejahatan maupun pencegahan. Kecepatan dan efisiensi yang diberikan oleh AI membuat ancaman siber semakin cepat dan kompleks.

Pada 2021, rata-rata peretas membutuhkan sembilan hari untuk mengekstraksi data, tetapi kini waktu tersebut berkurang menjadi kurang dari satu jam. Hal ini menunjukkan bahwa AI memberikan keuntungan signifikan bagi pelaku kejahatan siber. Menurut Tom Scully, Principal Architect for Government and Critical Infrastructure di Palo Alto Networks, ancaman siber kini bisa terjadi 100 kali lebih cepat dibanding sebelumnya.

Jumlah serangan siber juga meningkat drastis. Data Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mencatat ada 3,64 miliar serangan siber atau anomali traffic sepanjang Januari hingga Juli 2025. Angka ini hampir menyamai total selama lima tahun terakhir. Tantangan utama saat ini bukan hanya tentang memperbarui antivirus, tetapi juga membangun sistem pertahanan yang mampu mengimbangi kecepatan pelaku kejahatan siber berbasis AI.

Infrastruktur penting seperti jaringan listrik dan air juga menghadapi risiko baru karena banyak sistem operasional masih menggunakan teknologi lama. Untuk menghadapi tantangan ini, pendekatan zero trust menjadi dasar dalam membangun pertahanan masa depan. Prinsip zero trust mengharuskan semua entitas, baik internal maupun eksternal, untuk diverifikasi sebelum diberi akses.

Bagaimana AI Mempengaruhi Modus Operasi Penyerang Sibernya?

AI tidak hanya mempercepat proses serangan, tetapi juga memungkinkan penyerang untuk menyerang dalam skala yang lebih besar dan dengan metode yang lebih canggih. Contohnya, dalam uji coba yang dilakukan Palo Alto Networks, serangan siber yang sebelumnya membutuhkan dua hari berhasil dalam waktu 25 menit setelah AI generatif diterapkan. Ini menunjukkan betapa otomatis dan canggihnya serangan yang dapat dilakukan dengan bantuan AI.

Di sisi lain, penggunaan AI juga membuka peluang untuk meningkatkan keamanan siber. Misalnya, AI dapat digunakan untuk mendeteksi email phishing atau payload berbahaya secara akurat. Dengan menggabungkan data ancaman dan AI generatif, sistem keamanan dapat melihat dan memprediksi cara-cara baru yang digunakan oleh penyerang.

Infrastruktur Nasional sebagai Target Utama

Infrastruktur nasional, seperti pusat data, menjadi target utama serangan siber karena mereka memiliki data sensitif yang sangat berharga. Pengintegrasian AI ke dalam infrastruktur ini meningkatkan risiko jika tidak dikelola dengan benar. Oleh karena itu, penerapan arsitektur zero trust sejak awal menjadi langkah penting untuk membangun fondasi keamanan yang kuat.

Selain itu, manajemen permukaan serangan (attack surface management) juga menjadi penting. Teknologi ini memungkinkan organisasi untuk melihat sistem dari perspektif penyerang, sehingga mereka dapat mengidentifikasi kerentanan dan mengurangi risiko secara strategis.

Ancaman pada Sektor Operational Technology

Sektor Operational Technology seperti kontrol SCADA, utilitas, listrik, dan air menjadi area yang sangat rentan terhadap serangan siber. Banyak teknologi yang digunakan di bidang ini sudah usang dan tidak diperbarui secara berkala. Selain itu, sektor ini cenderung memprioritaskan waktu operasional dan ketersediaan sistem daripada keamanan dan integritas perangkat.

Dengan perkembangan jaringan listrik pintar dan baterai pintar, risiko keamanan akan semakin tinggi. Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa semua sistem aman sebelum teknologi AI diintegrasikan lebih jauh.

Tren Penipuan Berbasis AI di Indonesia

Di Indonesia, tren penipuan berbasis AI seperti video deepfake dan penelepon palsu yang meniru suara mulai marak. Penyerang memanfaatkan AI di setiap tahap rantai serangan siber, mulai dari pengintaian hingga tindakan objektif. Metode ini sangat efektif karena menyerang sisi manusia dari sistem keamanan.

Untuk menghadapi ancaman ini, autentikasi multifaktor menjadi salah satu penerapan terbaik. Dengan menambahkan langkah keamanan tambahan, seperti kode verifikasi, deepfake tidak akan bisa mengakses informasi sensitif. Selain itu, penggunaan agen AI yang memerlukan validasi identitas yang aman dan berlapis menjadi sangat penting.

Regulasi dan Edukasi dalam Menghadapi Era AI

Regulasi dan edukasi menjadi kunci dalam menghadapi era AI. Di Australia, pemerintah telah mengembangkan panduan arsitektur dan teknis untuk membantu organisasi dalam membangun dan mengintegrasikan sistem AI. Meskipun panduan ini bukan kebijakan wajib, ia menjadi pedoman penting dalam menghadapi tantangan keamanan di masa depan.

Di Indonesia, program CyberLight dan CyberSafe Kids dari Palo Alto Networks bertujuan untuk meningkatkan literasi dan kesadaran tentang AI. Pelatihan dan edukasi yang tepat dapat memperkuat kewaspadaan dan kesiapan organisasi dalam menghadapi ancaman siber.

Pentingnya Kolaborasi dan Persiapan Jangka Panjang

Kolaborasi antara sektor publik dan swasta serta edukasi yang luas menjadi kunci dalam menghadapi perkembangan teknologi AI. Pendekatan yang proaktif dan adaptif akan membantu organisasi bersiap menghadapi era AI dengan cara yang aman dan bertanggung jawab. Dengan membangun tata kelola yang jelas dan memastikan penggunaan AI yang sesuai, organisasi dapat memanfaatkan potensi AI tanpa mengorbankan keamanan dan integritas data.

Mengalirkan Data Real-Time Berkelanjutan, Confluent Intelligence Atasi Kesenjangan Konteks AI

0

Solusi Baru untuk Membangun Sistem AI yang Lebih Efisien

Confluent, sebuah penyedia layanan data streaming, telah meluncurkan solusi terbaru bernama Confluent Intelligence. Solusi ini dirancang khusus untuk membantu organisasi membangun dan mengoptimalkan sistem kecerdasan buatan (AI) yang berbasis event-driven secara cepat dan efisien. Dengan menggunakan platform Confluent Cloud sebagai dasar, Confluent Intelligence menawarkan infrastruktur yang mampu mengalirkan serta memproses data historis maupun real-time secara berkelanjutan.

Dengan kemampuan tersebut, Confluent Intelligence dapat memberikan konteks yang relevan langsung ke aplikasi AI, sehingga meningkatkan stabilitas, keamanan, dan skalabilitas sistem kecerdasan buatan. Penggunaan solusi ini memungkinkan perusahaan menciptakan sistem AI yang didasarkan pada data yang dinamis, akurat, dan dapat diandalkan.

Menurut Atilio Ranzuglia, Head of Data and AI di Palmerston North City Council, AI yang baik membutuhkan data yang berkualitas tinggi. Ia menyebutkan bahwa Confluent menjadi sumber kebenaran tepercaya yang mampu mengalirkan data berkualitas ke data lake dan platform AI. Dengan demikian, model AI dapat dilatih secara real-time dan diberi konteks serta orkestrasi untuk mengotomatisasi alur kerja dan mempercepat transformasi smart city.

Laporan MIT berjudul “The State of AI in Business 2025” menyebutkan bahwa sekitar USD 30–40 miliar telah diinvestasikan oleh perusahaan di seluruh dunia untuk pengembangan kecerdasan buatan generatif (GenAI). Namun, sebanyak 95 persen dari proyek tersebut belum memberikan hasil finansial yang nyata. Salah satu tantangan utama adalah kurangnya konteks dalam data yang digunakan oleh model AI. Untuk mencapai penalaran yang tepat, dibutuhkan infrastruktur yang mampu mengalirkan dan memproses data secara konstan, sehingga sistem dapat meninjau kejadian masa lalu, menyesuaikan diri dengan kondisi terkini, dan mengirimkan informasi tersebut ke aplikasi AI secara instan.

Siklus berkelanjutan yang mencakup evaluasi, adaptasi, dan penyajian data menjadi kunci untuk melampaui kemampuan chatbot biasa dan menciptakan agen AI yang siap digunakan di tingkat produksi. Sayangnya, hingga saat ini belum ada solusi di pasar yang mampu menyediakan seluruh kemampuan tersebut dalam satu paket, sehingga banyak organisasi masih menghadapi alur kerja yang rumit dan berisiko tinggi.

Jay Kreps, Co-founder dan CEO Confluent, menjelaskan bahwa Confluent memiliki posisi unik untuk mengatasi kesenjangan konteks AI. Meskipun model siap pakai sangat powerful, mereka tidak dapat menghasilkan keputusan yang tepat waktu tanpa aliran data yang terus menerus. Di sinilah data streaming menjadi sangat penting.

Confluent Intelligence adalah layanan terkelola penuh yang dirancang untuk mendukung sistem AI real-time dengan konteks yang kaya. Solusi ini memanfaatkan teknologi Apache Kafka dan Apache Flink untuk memberikan pondasi menyeluruh bagi organisasi dalam membangun dan mengembangkan agen maupun aplikasi AI dalam skala besar.

Beberapa fitur utama Confluent Intelligence antara lain:

  • Real-Time Context Engine: Layanan terkelola yang menyalurkan konteks real-time yang terstruktur dan tepercaya langsung ke agen atau aplikasi AI. Tim dapat mengakses data real-time tanpa perlu mengelola infrastruktur backend.
  • Streaming Agents: Kemampuan membangun dan mengelola agen berbasis peristiwa langsung di Flink. Agen ini dapat memproses data, mengambil keputusan, dan bertindak secara otomatis dalam waktu nyata.
  • Fungsi Machine Learning Bawaan: Menyederhanakan analisis data seperti deteksi anomali, prediksi, dan visualisasi real-time melalui Flink SQL, sehingga keputusan bisnis dapat diambil lebih cepat dan akurat.