Jumat, April 10, 2026
Beranda blog Halaman 451

Telkomsel Hadirkan AI di Seluruh Bisnis untuk Percepat Digitalisasi RI

0

Pemanfaatan Kecerdasan Buatan di Berbagai Lini Bisnis Telkomsel

Telkomsel, salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia, telah memasukkan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) ke dalam hampir seluruh lini bisnisnya. Mulai dari layanan pelanggan, keamanan, jaringan, hingga pengembangan produk digital baru, AI menjadi bagian penting dari strategi perusahaan.

Menurut Ronald Limoa, VP Technology Strategy and Consumer Product Development, Telkomsel mengintegrasikan AI sebagai bagian dari upaya mendukung visi Indonesia Emas 2045 melalui transformasi digital yang merata. Tujuan utamanya adalah memastikan semua masyarakat Indonesia memiliki akses dan kesempatan yang sama untuk memanfaatkan teknologi, termasuk AI.

Jaringan yang Menjangkau Seluruh Wilayah

Sebagai perusahaan yang berperan besar dalam menyediakan akses komunikasi bagi masyarakat, Telkomsel saat ini telah menjangkau hampir 100% populasi Indonesia. Tidak hanya manusia, jaringan ini juga mencakup perangkat Internet of Things (IoT). Contohnya, di sektor pertanian, sensor IoT Telkomsel digunakan untuk memantau unsur hara tanah. Di area tambang, teknologi serupa digunakan untuk menjaga keamanan pekerja sebelum dilakukan peledakan.

Selain itu, Telkomsel juga memperluas jangkauannya ke layanan fixed broadband melalui IndiHome, yang kini telah menjangkau pelosok desa. Penambahan konektivitas ini memiliki dampak langsung pada pertumbuhan ekonomi. Studi dari World Bank menunjukkan bahwa pertumbuhan GDP suatu daerah akan meningkat jika konektivitas sudah tersedia terlebih dahulu.

Solusi Berbasis AI untuk Masyarakat

Telkomsel telah mengembangkan berbagai solusi berbasis AI yang berdampak langsung pada kehidupan sehari-hari masyarakat. Salah satunya adalah Veronica dan Ted, asisten virtual Telkomsel yang kini berevolusi menjadi platform Your Own Advanced Virtual Assistant (Alfa). Dengan Alfa, pelaku usaha dapat membuat chatbot sendiri tanpa perlu kemampuan teknis rumit.

Misalnya, UMKM bisa membuat chatbot untuk melayani pelanggan hanya dengan memasukkan data bisnisnya ke Alfa, dan sistem akan menyiapkan asisten virtual otomatis. Selain itu, Telkomsel juga meluncurkan AI Smart Camera, layanan keamanan berbasis AI yang tidak hanya mendeteksi pergerakan, tetapi juga mampu mengenali situasi berisiko.

Di negara lain, teknologi serupa bahkan digunakan untuk membantu lansia yang sering lupa minum obat. Kamera akan mengenali rutinitas dan mengirim pengingat otomatis. Produk AI lain yang bisa diakses lewat aplikasi MyTelkomsel adalah AI Travel Assistant, yang membantu pengguna yang bepergian ke luar negeri dari mengurus visa, mencari makanan halal, menghitung kalori, hingga menerjemahkan percakapan secara langsung.

Pemanfaatan AI di Internal Perusahaan

Teknologi AI juga diimplementasikan secara masif di internal perusahaan. Teknologi ini terbukti dapat meningkatkan efisiensi kerja. Misalnya, dalam rapat internal, Telkomsel sudah menggunakan sistem otomatis untuk mencatat hasil meeting. AI mencatat semua pembicaraan, membuat ringkasan, lalu meminta persetujuan peserta sebelum disimpan.

Pengembangan Sumber Daya Manusia

Telkomsel sadar bahwa transformasi digital tidak akan berhasil tanpa sumber daya manusia yang siap. Oleh karena itu, perusahaan membangun AI Academy untuk mengasah kemampuan internal karyawan sekaligus bekerja sama dengan berbagai universitas, seperti UI dan kampus lain di Indonesia.

Melalui program NextDev, Telkomsel juga mencari startup yang ingin mengembangkan solusi berbasis AI agar bisa dikembangkan menjadi produk nyata. Ronald menegaskan bahwa teknologi AI memiliki potensi luar biasa untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, dari efisiensi bisnis, keamanan rumah tangga, hingga produktivitas nasional. Telkomsel ingin memastikan bahwa kemajuan digital tidak hanya dinikmati sebagian orang, tapi bisa dirasakan seluruh rakyat Indonesia.

AI Bukan Hanya Alat, UBSI Kampus Pontianak Tanamkan Etika Digital pada Mahasiswa

0

Workshop Inovasi: Etika dan Strategi Penggunaan AI dalam Dunia Akademik

Pada hari Rabu (15/10/2025), Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) kampus Pontianak sebagai Kampus Digital Kreatif berhasil menyelenggarakan sebuah workshop yang bertajuk “Innovation: Etika dan Strategi Penggunaan AI untuk Akademik”. Kegiatan ini menjadi bagian dari program AI Skilling for Young Workers, yang merupakan inisiatif AVPN dengan dukungan Google.org dan Asian Development Bank (ADB). Workshop ini dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai program studi, seperti Sistem Informasi, Informatika, dan Sistem Informasi Akuntansi.

Tujuan utama dari penyelenggaraan workshop ini adalah untuk meningkatkan literasi digital serta memperdalam pemahaman peserta tentang etika penggunaan kecerdasan buatan (AI) dalam dunia akademik. Selama prosesnya, para peserta diberikan wawasan mengenai pemanfaatan AI secara bertanggung jawab dalam berbagai aspek pembelajaran, riset, dan pengembangan inovasi digital.

Workshop ini juga mengundang beberapa narasumber terkemuka. Salah satunya adalah Heldi Muhammad Rizki, CEO & Founder PT Talenta Edukasi Sekumpul (Loda Academy) serta Kaprodi Sistem Informasi, Informatika dan Sistem Informasi Akuntansi. Mereka memberikan penjelasan mendalam mengenai peran AI dalam pendidikan modern.

Muhammad Sony Maulana, Kaprodi Sistem Informasi UBSI Kampus Pontianak, menekankan pentingnya persiapan sumber daya manusia dalam menghadapi era transformasi digital. Menurutnya, AI dapat menjadi alat yang sangat bermanfaat, tetapi harus digunakan dengan bijak dan tidak menggantikan proses berpikir kritis. Ia berharap mahasiswa UBSI memiliki kompetensi digital yang kuat sekaligus integritas akademik yang tinggi.

Narasumber utama lainnya, Uum Zakaria, menjelaskan pentingnya etika dalam penggunaan kecerdasan buatan (AI), khususnya dalam konteks akademik. Sebagai praktisi bersertifikat nasional dan internasional dengan predikat Certified Train-the-Trainer AVPN serta Certified BNSP 2025, ia memberikan strategi penerapan AI yang bertanggung jawab untuk mendukung proses belajar-mengajar di era digital.

Menurut Uum Zakaria, mahasiswa perlu memahami bahwa penggunaan AI bukan hanya tentang memanfaatkan kecanggihannya, tetapi juga tentang bagaimana menerapkannya secara etis dan bertanggung jawab. Ia menekankan bahwa AI adalah alat yang powerful, dan seperti alat lainnya, perlu digunakan dengan bijak.

Seminar ini diharapkan menjadi langkah awal dalam pengembangan literasi AI yang sehat dan bertanggung jawab di kalangan civitas akademika UBSI kampus Pontianak. Antusiasme tinggi dari para peserta menunjukkan kebutuhan akan edukasi dan pelatihan terkait pemanfaatan AI di dunia pendidikan. Dengan adanya workshop ini, diharapkan mahasiswa dan dosen dapat lebih siap menghadapi tantangan dan peluang di era digital yang semakin berkembang.

Revolusi Kerja Dimulai: AI dan Otomatisasi Ubah Kantor dan Pabrik Selamanya?

0

Masa Depan Pekerjaan yang Sedang Berubah

Masa depan pekerjaan sedang mengalami perubahan besar. Faktor utamanya adalah otomatisasi dan kecerdasan buatan (AI). Keduanya tidak lagi seperti tamu yang sopan, tetapi sudah menjadi pemilik rumah baru yang mengatur ulang segala sesuatu. Kekhawatiran ini nyata, bukan sekadar khayalan dari film fiksi ilmiah.

Dulu, yang paling cemas hanya para pekerja pabrik. Robot datang dan menggantikan tugas-tugas manual seperti mengangkat barang. Sekarang, siapa pun bisa terkena dampaknya. Penulis, desainer grafis, bahkan akuntan mulai merasa waspada. AI mampu menulis artikel, membuat logo, dan menyusun laporan keuangan dalam hitungan detik. Cepat, akurat, dan tidak pernah meminta kenaikan gaji.

Maka, pertanyaannya bukan lagi “apakah” pekerjaan kita akan terpengaruh, tetapi “kapan” dan “bagaimana” kita menghadapinya. Panik bukanlah pilihan. Mengutuk teknologi juga percuma. Ombak tidak bisa dilawan, tapi bisa ditunggangi.

Robot Mengambil Alih? Bukan Begitu Ceritanya

Banyak orang berpikir bahwa otomatisasi adalah soal robot menggantikan manusia. Gambaran umumnya selalu tentang lengan mekanis di pabrik mobil. Padahal, pertempuran sebenarnya sudah berpindah lokasi. Dari pabrik ke kantor. Dari otot ke otak.

Dari Otot ke Otak

Dulu, mesin uap menggantikan tenaga kuda. Traktor menggantikan tenaga petani. Itu adalah revolusi otot. Kini, AI dan perangkat lunak canggih menggantikan tugas-tugas kognitif. Pekerjaan entri data, layanan pelanggan via telepon, bahkan analisis data sederhana, semua bisa dilakukan oleh mesin. Lebih efisien, katanya. Dan memang benar.

Tugas-tugas yang berulang dan memiliki pola jelas adalah target empuk pertama. Manusia sering bosan dan membuat kesalahan saat melakukan pekerjaan monoton. Mesin justru sangat menikmatinya. Mereka bisa bekerja 24 jam sehari tanpa mengeluh, tanpa cuti, tanpa drama. Luar biasa, sekaligus mengerikan.

Kolaborasi, Bukan Kompetisi

Tapi tunggu dulu. Ceritanya tidak sekelam itu. Pilot tidak bersaing dengan sistem autopilot di pesawatnya. Dia justru memanfaatkannya. Dokter bedah tidak melawan robot bedah. Dia menggunakannya untuk presisi yang lebih tinggi. Itulah kuncinya: kolaborasi.

AI adalah alat bantu paling canggih yang pernah ada. Seorang marketing bisa memakai AI untuk menganalisis ribuan data tren pasar dalam sekejap. Seorang programmer bisa memakai AI untuk menemukan bug di kodenya lebih cepat. Posisi kita bergeser. Dari sekadar pelaksana, menjadi seorang strategis yang mengarahkan alat canggih.

Skill Baru untuk Dunia Baru

Jika tugas lama diambil alih mesin, artinya kita harus memiliki kemampuan baru. Ijazah sarjana yang didapat sepuluh tahun lalu mungkin tidak lagi cukup relevan. Dunia berubah begitu cepat, sehingga kemampuan terpenting bukanlah apa yang sudah kita ketahui. Tapi seberapa cepat kita bisa belajar hal baru.

Belajar Cepat, Lupakan Cepat

Dulu, orang belajar satu keahlian untuk seumur hidup. Jadi tukang kayu, ya sampai tua jadi tukang kayu. Zaman sekarang tidak bisa begitu. Hari ini ahli media sosial, besok mungkin harus jadi ahli prompt engineering untuk AI. Kemampuan untuk “melupakan” cara lama dan “mempelajari” cara baru menjadi sangat vital.

Ini bukan soal usia. Ini soal mentalitas. Anak muda yang malas belajar akan kalah telak dengan orang tua yang rajin ikut kursus online. Pasar kerja masa depan hanya menghargai mereka yang adaptif. Titik. Tidak ada tawar-menawar.

Sentuhan Manusia yang Tak Tergantikan

Hebatnya, ada satu benteng pertahanan yang sulit ditembus AI. Namanya: sentuhan manusia. Empati, kreativitas murni, negosiasi, kepemimpinan, dan kecerdasan emosional. AI bisa menganalisis data penjualan, tapi tidak bisa menenangkan tim yang sedang turun semangatnya.

AI bisa mendesain logo berdasarkan jutaan referensi. Tapi ide orisinal yang “nyeleneh” dan out of the box masih lahir dari kegelisahan pikiran manusia. Kemampuan berkomunikasi, membangun relasi, dan memecahkan masalah kompleks yang tidak ada rumusnya, itulah nilai jual tertinggi kita di masa depan.

Dulu, orang takut pada listrik. Khawatir kesetrum, khawatir rumahnya terbakar. Tapi lihat sekarang, kita justru takut kalau mati lampu. Setiap teknologi baru selalu datang dengan ketakutan dan kesempatan. Selalu begitu polanya.

Pada akhirnya, masa depan pekerjaan bukanlah tentang manusia versus mesin. Ini tentang manusia yang mau beradaptasi versus manusia yang menolak perubahan. Pemenangnya sudah bisa ditebak sejak awal.

3 Keterampilan Kerja Penting untuk Anak Remaja Menghadapi Era AI

0

Keterampilan yang Harus Diajarkan Orang Tua kepada Anak Remaja di Era AI

Di era saat ini, teknologi bukan lagi sekadar alat bantu, tetapi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Salah satu aspek terpenting dalam perkembangan teknologi adalah Artificial Intelligence (AI) yang semakin memengaruhi berbagai bidang, termasuk dunia kerja. Banyak pekerjaan yang dulu dilakukan manusia kini mulai digantikan oleh sistem otomatis yang didukung oleh AI. Hal ini membuat perusahaan-perusahaan kini lebih memilih kandidat yang memiliki kemampuan adaptasi dan pemahaman terhadap teknologi.

Perubahan Kualifikasi Pekerja

Dulu, kualifikasi utama untuk melamar pekerjaan seringkali berfokus pada pengetahuan fakta atau kemampuan teknis tertentu. Namun, seiring berkembangnya AI, pola tersebut mulai berubah. Perusahaan kini lebih menghargai individu yang mampu belajar cepat, beradaptasi dengan perubahan, serta bekerja sama dengan teknologi. Mereka juga mencari orang-orang yang dapat menggunakan AI sebagai alat bantu untuk mengambil keputusan yang bijak dan efektif.

Pentingnya Persiapan Dini

Karena perubahan ini, para orang tua perlu mempersiapkan anak-anak mereka sedini mungkin agar siap menghadapi dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh teknologi. Anak remaja tidak hanya perlu memahami konsep dasar AI, tetapi juga mengembangkan keterampilan yang akan membuat mereka unggul di masa depan.

Tiga Keterampilan yang Perlu Diasah

Berikut ini adalah tiga keterampilan utama yang sebaiknya diajarkan kepada anak remaja:

  • Kemampuan Berpikir Kritis dan Analitis

    Anak-anak perlu dilatih untuk berpikir secara logis dan mampu mengevaluasi informasi secara mandiri. Kemampuan ini sangat penting karena AI bisa memberikan data dan hasil analisis, tetapi manusia tetap diperlukan untuk memutuskan apakah data tersebut relevan dan dapat dipercaya.

  • Kemampuan Kolaborasi dan Komunikasi

    Meskipun AI bisa membantu dalam banyak hal, kolaborasi antarmanusia tetap menjadi inti dari keberhasilan suatu proyek. Anak remaja perlu belajar cara berkomunikasi dengan baik, bekerja dalam tim, dan memahami perspektif orang lain.

  • Kemampuan Belajar Sepanjang Hayat

    Teknologi terus berkembang, sehingga seseorang harus terus belajar untuk tetap relevan. Orang tua perlu mendorong anak-anak untuk memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, serta kemampuan untuk mengakses dan memahami informasi baru secara mandiri.

Langkah yang Bisa Dilakukan Orang Tua

Untuk memastikan anak-anak mampu menghadapi tantangan di masa depan, orang tua bisa melakukan beberapa langkah, seperti:

  • Memberikan akses ke sumber pembelajaran digital yang bermanfaat.
  • Mendorong anak untuk ikut program pelatihan teknologi atau kursus dasar pemrograman.
  • Mengajak anak untuk berdiskusi tentang isu-isu teknologi dan dampaknya terhadap masyarakat.
  • Membiasakan anak untuk menggunakan AI sebagai alat bantu dalam belajar dan menyelesaikan masalah.

Dengan persiapan yang tepat, anak-anak remaja akan lebih siap menghadapi dunia kerja yang penuh tantangan dan dinamika. Mereka tidak hanya akan mampu bersaing, tetapi juga menjadi bagian dari perubahan positif yang dibawa oleh inovasi teknologi.

Telkom Perkenalkan AI Campus, Tingkatkan Ekosistem Digital Perguruan Tinggi

0

Telkom Perkenalkan Inisiatif AI di Berbagai Perguruan Tinggi

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) terus berupaya mempercepat pengadopsian teknologi kecerdasan buatan (AI) di berbagai universitas di Indonesia. Salah satu inisiatif yang dilakukan adalah melalui seminar bertajuk “Artificial Intelligence di Ekosistem Perguruan Tinggi: Membangun Sinergi Kampus dan Industri Menuju Keunggulan Kompetitif Digital”. Acara ini digelar pada Senin, 20 Oktober 2025, di Graha Merah Putih, Japati, Bandung.

Seminar ini turut dihadiri oleh Direktur Utama Telkom Dian Siswarini serta EVP Telkom Regional 2 Edie Kurniawan. Acara tersebut diisi oleh berbagai narasumber, ahli, dan akademisi yang berbagi wawasan tentang perkembangan AI, implementasi di sektor industri, serta peluang kolaborasi riset. Selain itu, seminar ini menjadi ruang dialog untuk memperkuat pemahaman akademisi dan para ahli mengenai peran AI dalam mendorong transformasi digital.

Sebelumnya, Telkom juga melakukan kunjungan ke SMA Taruna Nusantara Kampus Cimahi untuk meresmikan Digital Lab Telkom. Digital Lab ini merupakan bagian dari inisiatif Telkom AI Center of Excellence.

Telkom AI Center of Excellence adalah salah satu produk dari Telkom Solution yang menyediakan berbagai platform teknologi dan AI Center untuk pengembangan berbagai use case dan pengembangan talenta AI. Langkah strategis ini diharapkan dapat memperkuat konektivitas digital, inovasi, serta kolaborasi dengan berbagai stakeholders, khususnya di sektor pendidikan.

EVP Telkom Regional 2 Edie Kurniawan menjelaskan bahwa seminar ini merupakan tindak lanjut dari peluncuran Telkom AI Center of Excellence di Bali beberapa waktu lalu. Tujuan dari acara ini adalah untuk membangun sinergi dengan berbagai kampus agar inovasi digital melalui penguatan ekosistem AI dapat segera diimplementasikan.

“Tujuan dari seminar ini adalah untuk mendapatkan insight terkini dari berbagai narasumber, berkolaborasi dengan para ahli, dan menciptakan synergy value untuk empat pilar Telkom AI Center of Excellence,” ujar Edie. Empat pilar tersebut antara lain:

  • AI Campus yang membuka ruang kolaborasi dengan perguruan tinggi.
  • AI Playground sebagai sarana riset dan eksplorasi praktis.
  • AI Connect yang mempertemukan praktisi, start-up, dan pelaku bisnis.
  • AI Hub yang fokus pada solusi nyata untuk berbagai sektor industri.

Direktur Utama Telkom Dian Siswarini menekankan pentingnya kerjasama dan kolaborasi dalam pengembangan AI. Menurutnya, komunikasi dan kolaborasi adalah hal yang paling krusial untuk mengakselerasi penggunaan AI.

“Saya sangat mengapresiasi acara ini karena melalui diskusi ini kita bisa berkomunikasi dan bertukar pikiran dengan berbagai stakeholders tentang langkah-langkah ke depan untuk berkolaborasi. Harapannya, melalui kegiatan ini akan lahir inovasi dan solusi baru,” kata Dian.

Telkom berkomitmen untuk menyambut perkembangan AI secara bijaksana. Perusahaan percaya bahwa adopsi AI harus inklusif, tidak hanya terbatas pada perusahaan besar dan sektor swasta, tetapi juga mencakup sektor pendidikan dan UMKM.

“Telkom ingin menjadi mitra strategis bagi stakeholders, khususnya universitas. Kami sadar bahwa salah satu sumber talenta terbaik berasal dari universitas. Talenta dan keamanan sistem yang handal dapat menjadi sumber kuat dalam mewujudkan pertumbuhan dan pergerakkan cepat dalam membuka peluang AI,” tambah Dian.

AS Minta OpenAI Serahkan Data Pengguna, ChatGPT Jadi Alat Penyelidikan

0

Penyelidikan Kriminal Pertama di Dunia yang Menggunakan Data ChatGPT

Pihak berwenang Amerika Serikat (AS) baru saja melakukan langkah historis dengan meminta OpenAI untuk menyerahkan data pengguna ChatGPT dalam penyelidikan kriminal. Ini merupakan pertama kalinya lembaga penegak hukum menggunakan prompt dari platform kecerdasan buatan (AI) sebagai alat bantu dalam investigasi.

Permintaan tersebut terungkap melalui surat perintah pencarian (search warrant) yang dibuka di pengadilan Maine pekan lalu. Dokumen ini menunjukkan bagaimana aparat hukum mulai memanfaatkan data dari AI dalam proses penyelidikan. Menurut informasi yang diperoleh Forbes, permintaan data diajukan oleh Homeland Security Investigations (HSI), unit di bawah U.S. Immigration and Customs Enforcement (ICE) yang fokus pada eksploitasi anak, kejahatan siber, dan perdagangan manusia.

Investigasi Terhadap Administrator Situs Eksploitasi Anak

Penyelidikan ini berfokus pada seorang administrator situs eksploitasi anak di dark web yang telah menjadi target selama beberapa tahun. Dalam upaya penyamaran, agen federal berinteraksi langsung dengan administrator tersebut di salah satu situs gelap. Selama percakapan, tersangka tanpa sadar mengungkap bahwa ia menggunakan ChatGPT. Bahkan, ia membagikan beberapa prompt dan tanggapan dari ChatGPT, termasuk percakapan ringan seperti, “Apa yang akan terjadi jika Sherlock Holmes bertemu Q dari Star Trek?”.

Dalam percakapan lain, tersangka juga menyebut bahwa ia pernah meminta ChatGPT menulis puisi sepanjang 200.000 kata dan mendapat contoh puisi bergaya Donald Trump yang lucu dan berlebihan. Informasi-informasi ini kemudian digunakan sebagai dasar untuk meminta OpenAI menyerahkan data terkait pengguna tersebut, termasuk riwayat percakapan, nama, alamat, serta data pembayaran.

Identifikasi Tersangka Tanpa Perlu Data ChatGPT

Meski permintaan data ini terbatas hanya pada dua prompt, ternyata penyelidik berhasil mengidentifikasi tersangka melalui informasi pribadi yang ia ungkap sendiri selama obrolan penyamaran. Informasi tersebut mencakup fakta bahwa ia pernah tinggal tujuh tahun di Jerman, menjalani pemeriksaan kesehatan militer, dan memiliki ayah yang pernah bertugas di Afghanistan.

Dari data tersebut, mereka menelusuri keterkaitan tersangka dengan pangkalan militer Ramstein Air Force Base di Jerman dan pekerjaannya di bawah Departemen Pertahanan AS. Akhirnya, pemerintah menuduh seorang pria berusia 36 tahun bernama Drew Hoehner sebagai administrator situs tersebut. Dia didakwa dengan satu tuduhan konspirasi untuk mengiklankan materi eksploitasi seksual anak (CSAM). Hingga berita ini diturunkan, Hoehner belum mengajukan pembelaan, sementara pengacaranya belum memberikan komentar.

Situs-Situs Dark Web yang Terlibat

Dokumen pengadilan menunjukkan bahwa HSI percaya Hoehner merupakan moderator atau administrator di sekitar 15 situs dark web berisi materi pelecehan anak, dengan total pengguna lebih dari 300.000 akun. Situs-situs tersebut beroperasi di jaringan Tor yang mengenkripsi lalu lintas pengguna agar sulit dilacak. Beberapa di antaranya bahkan memiliki kategori khusus untuk konten ilegal yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan.

Belum diketahui jenis data apa saja yang diserahkan OpenAI kepada pemerintah. Namun catatan menunjukkan bahwa perusahaan mengirimkan satu berkas Excel spreadsheet berisi informasi pengguna. Tidak ada rincian lebih lanjut, dan Departemen Kehakiman AS belum menanggapi permintaan konfirmasi. Data itu kemungkinan akan digunakan untuk memperkuat bukti identitas tersangka di pengadilan.

Tren Baru dalam Penggunaan AI untuk Penyelidikan

Meskipun permintaan data ini terbatas hanya pada dua prompt, para ahli menilai kasus ini menunjukkan tren baru di mana aparat hukum mulai memanfaatkan platform AI untuk mencari bukti kejahatan. Penasihat hukum dari Electronic Frontier Foundation (EFF) Jennifer Lynch mengatakan kasus ini menjadi pengingat penting bagi perusahaan AI.

“Ini menunjukkan semakin besarnya peran ChatGPT dalam penyelidikan kriminal. Karena itu, perusahaan seperti OpenAI perlu lebih berhati-hati dan membatasi data pengguna yang mereka kumpulkan,” katanya.

Menurut data OpenAI, antara Juli hingga Desember tahun lalu, perusahaan melaporkan 31.500 konten terkait eksploitasi anak ke National Center for Missing and Exploited Children (NCMEC) sesuai kewajiban hukum di AS. Dalam periode yang sama, OpenAI menerima 71 permintaan pemerintah untuk mengakses data pengguna, mencakup 132 akun.

20 Teks Hologram Gemini AI yang Menarik dan Keren

0

Penggunaan Gemini AI untuk Membuat Hologram Strava yang Futuristik

Pengguna mungkin tertarik mengetahui beberapa contoh prompt atau salinan teks dari Gemini AI yang bisa digunakan untuk membuat gambar hologram Strava. Tren penggunaan Gemini AI dalam pembuatan gambar semakin diminati, salah satunya adalah gambar hologram Strava. Strava merupakan aplikasi yang digunakan untuk mencatat aktivitas olahraga seperti lari atau bersepeda. Catatan yang ditampilkan biasanya berisi durasi, jarak tempuh, kecepatan, dan rute yang dilalui.

Dalam tren Gemini AI hologram Strava, catatan tersebut dapat diubah menjadi animasi futuristik yang muncul dari gadget pintar seperti smartwatch. Untuk membuat animasi ini, pengguna perlu memasukkan prompt tertentu. Berikut beberapa contoh salinan teks Gemini AI hologram Strava yang keren dan menarik:

  • Edit gambar tersebut menjadi hologram biru futuristik yang muncul dari smartwatch. Hologram muncul dengan bingkai yang bercahaya dan memiliki antarmuka yang canggih. Hologram menampilkan data persis yang muncul pada gambar tersebut. Latar di trek lari pada malam hari yang banyak orang-orang berlari. Smartwatch digunakan di pergelangan tangan kiri.
  • Edit gambar ini menjadi tampilan hologram futuristik berwarna biru neon yang muncul dari smartwatch di pergelangan tangan, dengan latar gym modern berlampu redup. Hologram menampilkan data persis yang muncul pada gambar tersebut.
  • Edit gambar ini menjadi catatan olahraga berbentuk hologram transparan yang melayang di atas smartwatch, dengan latar pemandangan kota futuristik di malam hari. Hologram menampilkan data persis yang muncul pada gambar tersebut.
  • Edit gambar ini menjadi tampilan data olahraga 3D bergaya sci-fi yang diproyeksikan dari smartwatch, dengan latar ruangan latihan berdesain high-tech. Hologram menampilkan data persis yang muncul pada gambar tersebut.
  • Edit gambar ini menjadi hologram data olahraga berwarna cyan dan ungu yang keluar dari smartwatch, dengan latar studio fitness minimalis dan pencahayaan biru lembut. Hologram menampilkan data persis yang muncul pada gambar tersebut.

Ada banyak variasi prompt yang bisa digunakan, mulai dari tampilan hologram transparan hingga proyeksi data olahraga interaktif. Pengguna juga bisa mengatur elemen seperti latar belakang, warna, dan jenis animasi sesuai keinginan.

Gemini kini memiliki alat baru yaitu Gemini 2.5 Flash Image atau Nano Banana. Alat ini dapat mengolah gambar baru dari objek yang terdapat di foto atau gambar unggahan pengguna. Kemampuan ini bisa dimanfaatkan untuk mengedit catatan Strava agar menjadi hologram futuristik yang seolah muncul dari smartwatch.

Selain menggunakan prompt yang sudah disediakan, pengguna juga bisa berkreasi sendiri dengan menyusun prompt sesuai keinginan. Contohnya, deskripsikan pose foto, latar, nuansa, dan lainnya agar hasilnya lebih sesuai dengan harapan.

Namun, penting untuk diingat bahwa penggunaan AI image generator seperti Gemini harus dilakukan secara bijak. Jika melibatkan foto atau gambar orang lain, pastikan untuk meminta izin terlebih dahulu dan tidak sembarangan membagikannya di media sosial. Foto yang diolah oleh AI sebaiknya tidak diklaim sebagai milik pribadi dan cukup dijadikan hiburan. Selain itu, hindari penggunaan foto yang mengandung pornografi, penipuan, fitnah, kekerasan, atau tindakan merugikan lainnya.

Jika tertarik, pengguna bisa langsung menyalin dan menempel (copy-paste) prompt yang tersedia di Gemini untuk membuat gambar hologram dari catatan Strava. Dengan begitu, pengguna bisa langsung menikmati hasil kreativitas mereka tanpa perlu repot-repot merancang prompt sendiri.

Dari Penelitian ke Tindakan: AI Memacu Inovasi dan Efisiensi di Berbagai Sektor

0

Forum Kumparan AI for Indonesia 2025: Mempercepat Inovasi dengan Penerapan Kecerdasan Buatan

Forum Kumparan AI for Indonesia kembali digelar di The Ballroom at Djakarta Theater dengan tema “Accelerating Impact with Applied AI.” Acara tahunan ini menyoroti penerapan nyata kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat inovasi dan produktivitas di berbagai sektor, mulai dari bisnis hingga kebijakan publik. Tahun ini, fokusnya lebih pada bagaimana AI dapat diterapkan secara konkret untuk menciptakan dampak positif yang terukur.

Sejalan dengan forum tersebut, Kumparan meluncurkan Indonesia AI Report 2025, sebuah laporan hasil riset bersama Populix yang memetakan persepsi dan adaptasi masyarakat terhadap teknologi AI. Survei yang melibatkan 1.000 responden dari berbagai kota besar di Indonesia menunjukkan bahwa masyarakat semakin melihat AI sebagai peluang untuk meningkatkan efisiensi kerja dan membuka lapangan pekerjaan baru. Meski demikian, sebagian besar responden masih memahami manfaat AI tanpa benar-benar menguasai cara kerjanya.

Andrias Ekoyuono, Chief of AI & Corporate Strategy Kumparan, menjelaskan bahwa dampak transformasi AI kini sudah terasa di ranah ekonomi, sosial, dan budaya. Menurutnya, 95 persen responden percaya AI akan mengubah cara mereka bekerja dalam lima tahun ke depan. Namun, 68 persen juga khawatir pekerjaannya bisa tergantikan oleh AI.

Implementasi AI di Kumparan kini mendapat pengakuan global. Berdasarkan laporan Ahrefs tentang Global Top 50 Most Cited Brands in AI Assistants, Kumparan menjadi salah satu brand asal Indonesia yang menjadi rujukan bagi ChatGPT, Perplexity, dan Google AI Overviews. Andrias menekankan bahwa tujuan Kumparan adalah mendorong penerapan AI secara konkret, bukan hanya sekadar membahas konsep, tetapi menampilkan hasil nyata dan kolaborasi yang mempercepat dampak positif bagi masyarakat.

Peran AI dalam Berbagai Sektor

Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa AI bukanlah ancaman, melainkan peluang besar jika dikembangkan dengan nilai dan etika yang tepat. Ia menekankan bahwa AI bukan sekadar algoritma, tapi cermin dari nilai yang kita tanamkan. Setiap langkah inovasi harus bersifat inklusif agar tidak meninggalkan siapa pun.

Sementara itu, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyoroti peran strategis AI dalam memperkuat daya saing industri nasional. Ia menyatakan bahwa AI telah menjadi fondasi penting bagi daya saing industri masa depan. Saat ini, 66% Chief Information Officer di berbagai perusahaan menyatakan kekhawatiran akan tertinggal dari kompetitor apabila mereka tidak segera mengimplementasikan AI dalam perusahaan masing-masing.

Dari sisi pendidikan dan riset, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie menekankan pentingnya kolaborasi lintas lembaga untuk membangun talenta yang siap menghadapi transformasi digital. Ia menekankan bahwa AI bisa menggantikan pekerjaan, tetapi juga bisa menciptakan pekerjaan. Selain itu, AI bisa menurunkan keamanan, tetapi juga bisa mendeteksi ancaman lebih akurat. Di Indonesia, ia menilai bahwa AI bisa digunakan sama seperti negara maju karena menjadi penyeimbang.

Potensi AI dalam Layanan Kesehatan

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menilai potensi AI sangat besar dalam meningkatkan layanan kesehatan, mulai dari deteksi dini penyakit hingga riset medis berbasis data. Ia menjelaskan bahwa AI butuh belajar dan data, dan ternyata upaya digitalisasi, konektivitas, robotik, serta bioteknologi akan berdampak besar terhadap perkembangan AI di bidang kesehatan. Dampak ini akan sangat signifikan terhadap layanan kesehatan di Indonesia.

Melalui Kumparan AI for Indonesia 2025, kolaborasi lintas sektor terus diperkuat untuk memastikan kecerdasan buatan tidak hanya menjadi simbol kemajuan teknologi, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian nasional. Dengan penerapan yang tepat dan kolaborasi yang kuat, AI dapat menjadi alat yang mendorong inovasi, efisiensi, dan kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Jet Tempur X-BAT AS Tanpa Pilot Dikendalikan AI

0

Teknologi Pertahanan Terkini: X-BAT, Jet Tempur Otonom yang Mengubah Perang Udara

Perusahaan teknologi pertahanan asal Amerika Serikat, Shield AI, telah memperkenalkan X-BAT, sebuah jet tempur otonom yang sepenuhnya dikendalikan oleh kecerdasan buatan (AI) tanpa adanya pilot manusia. Pesawat ini dianggap sebagai inovasi besar dalam dunia militer, karena kemampuannya untuk beroperasi secara mandiri dan melaksanakan tugas-tugas kritis dalam medan perang.

Sistem AI Hivemind yang Canggih

Salah satu fitur utama dari X-BAT adalah sistem AI bernama Hivemind, yang digunakan untuk mengontrol pesawat. Sistem ini tidak hanya mampu menerbangkan pesawat, tetapi juga melakukan duel udara dengan pesawat lain. Penggunaan AI dalam operasi udara ini sebelumnya telah diuji coba pada 2024, ketika F-16 modifikasi bernama X-62A VISTA berhasil bertarung melawan pesawat berawak dalam latihan udara.

Pada saat itu, Menteri Angkatan Udara AS, Frank Kendall, bahkan duduk di kursi belakang pesawat tanpa pilot tersebut. Ia menyebut pengujian tersebut sebagai “momen transformasional” yang menandai peralihan dari mimpi menjadi kenyataan dalam pertempuran udara otonom.

Fleksibilitas Operasional yang Luas

X-BAT memiliki kemampuan lepas landas dan mendarat vertikal (VTOL), sehingga bisa terbang dari berbagai lokasi seperti kapal perang, pulau terpencil, atau bahkan kapal kargo tanpa memerlukan landasan pacu. Dengan jangkauan hingga 2.000 mil laut, pesawat ini bisa diluncurkan dari berbagai titik strategis.

Menurut Wakil Presiden Senior bidang rekayasa pesawat di Shield AI, Armor Harris, desain ini memberi komandan militer kemampuan untuk memproyeksikan kekuatan udara dari segala tempat. Kapal amfibi besar dapat menampung hingga 60 unit X-BAT, sementara kapal kargo sipil bisa diubah menjadi pangkalan darurat.

Fleksibilitas ini sangat penting untuk mengatasi “tyranny of distance” — istilah yang digunakan militer AS untuk menggambarkan tantangan jarak yang luas antara pangkalan dan wilayah operasi potensial, termasuk jika terjadi konflik dengan China.

Operasi Tanpa GPS dan Keamanan yang Tinggi

X-BAT dirancang untuk beroperasi tanpa sinyal GPS. Pesawat ini menggunakan AI sepenuhnya untuk navigasi dan pertempuran, membuatnya mampu menembus wilayah musuh yang sulit dijangkau oleh pesawat berawak. Selain itu, karena tidak ada pilot di kokpit, X-BAT tidak lagi terikat pada batasan desain yang biasanya diperlukan untuk melindungi manusia. Hal ini memungkinkan pesawat untuk bermanuver lebih ekstrem dan membawa lebih banyak senjata.

“Berbeda dari pesawat tempur konvensional, X-BAT membebaskan pilot manusia untuk fokus pada misi yang membutuhkan pertimbangan moral dan keputusan kritis,” kata Shield AI dalam pernyataannya.

Fungsi sebagai Wingman untuk Pesawat Berawak

X-BAT juga dapat berfungsi sebagai drone pendamping (wingman) bagi pesawat tempur berawak. Dalam hal ini, pesawat ini akan membantu melindungi pesawat berawak sekaligus memperluas daya serang armada udara. Konsep ini sejalan dengan program Collaborative Combat Aircraft (CCA) milik Angkatan Udara AS, yang bertujuan mengembangkan “jet pendamping” untuk mendampingi pesawat berawak.

Harris menjelaskan bahwa X-BAT adalah langkah selanjutnya setelah fase awal program CCA. Program Increment 1 menjadi dasar, dan kini X-BAT mendorong batas lebih jauh dengan kemampuan peperangan elektronik canggih, kapasitas muatan yang lebih besar, serta jangkauan yang lebih jauh.

Biaya Lebih Murah dan Tahan Terhadap Serangan

Selain canggih, X-BAT diklaim lebih hemat biaya dibanding jet tempur tradisional. Shield AI menyebut pesawat ini sebagai solusi yang menawarkan kemampuan tingkat tinggi dengan biaya hanya sebagian kecil dari jet tempur konvensional. Dalam perang modern yang penuh risiko, konsep “attritable aircraft” — pesawat yang bisa dikorbankan tanpa kerugian besar — menjadi sangat penting.

Dengan armada tak berawak seperti X-BAT, militer dapat memiliki pasukan udara yang lebih besar, lebih tahan terhadap serangan, dan tidak menimbulkan korban manusia jika jatuh.

Strategi di Tengah Persaingan AI Militer

Peluncuran X-BAT di Washington DC disaksikan langsung oleh pejabat militer dan politikus AS. Shield AI menyatakan bahwa pesawat ini dikembangkan untuk memastikan AS dan sekutunya tidak tertinggal di medan tempur akibat perubahan teknologi yang cepat. “Pesawat tanpa pilot seperti X-BAT akan mengubah cara perang masa depan dilakukan dan dipertahankan,” tulis perusahaan tersebut.

Pertarungan HP Oppo A5i Pro 5G vs Samsung Galaxy A17 di Bawah Rp2 Jutaan

0

Perbandingan Spesifikasi HP Oppo A5i Pro 5G dengan Samsung Galaxy A17

Pada tahun 2025, pasar ponsel di Indonesia kembali ramai dengan kehadiran dua model terbaru, yaitu Oppo A5i Pro 5G dan Samsung Galaxy A17. Meskipun keduanya dirilis dalam waktu yang hampir bersamaan, masing-masing memiliki keunggulan dan perbedaan spesifikasi yang patut diperhatikan.

Harga kedua smartphone ini juga berada dalam kisaran yang sama, yaitu sekitar Rp2 jutaan. Namun, meski harganya relatif mirip, terdapat perbedaan signifikan dalam beberapa aspek penting seperti chipset, kamera, layar, dan baterai.

Perbedaan Chipset

Dari segi prosesor, Oppo A5i Pro 5G menggunakan MediaTek Dimensity 6300, sedangkan Samsung Galaxy A17 mengandalkan Mediatek Helio G99 (6 nm). Dalam hal kinerja, Dimensity 6300 menawarkan kemampuan yang lebih baik untuk penggunaan sehari-hari, termasuk multitasking dan pemrosesan grafis yang lebih cepat.

Kamera: Pembanding Utama

Sementara itu, dalam hal kamera, Samsung Galaxy A17 dilengkapi dengan tiga kamera belakang, yaitu kamera utama 50 MP (f/1.8), kamera ultrawide 5 MP (f/2.2), dan kamera makro 2 MP (f/2.4). Sementara Oppo A5i Pro 5G hanya memiliki dua kamera belakang, yaitu kamera utama 50 MP (f/1.8) dan kamera 2 MP (f/2.4). Meskipun jumlah kameranya lebih sedikit, Oppo tetap memberikan fitur tambahan seperti optical zoom 3x pada kamera utamanya.

Di bagian kamera depan, Samsung Galaxy A17 memiliki resolusi 13 MP (f/2.0), sedangkan Oppo A5i Pro 5G memiliki kamera 5 MP (f/2.2). Kedua model ini cukup cocok untuk penggunaan sehari-hari, namun Samsung Galaxy A17 menawarkan resolusi yang lebih tinggi untuk foto selfie.

Layar: Ukuran dan Teknologi Berbeda

Samsung Galaxy A17 memiliki layar yang lebih besar, yaitu 6,7 inci dengan resolusi Full HD+ (1080 x 2340 pixels) dan refresh rate 90 Hz. Sementara Oppo A5i Pro 5G memiliki layar IPS LCD 6,67 inci dengan resolusi 720 x 1604 pixels dan refresh rate 120 Hz. Meskipun ukurannya sedikit lebih kecil, layar Oppo menawarkan kecepatan refresh yang lebih tinggi, sehingga lebih responsif saat digunakan.

Baterai dan Pengisian Cepat

Dari segi daya tahan baterai, Oppo A5i Pro 5G unggul dengan kapasitas baterai 6000 mAh yang didukung oleh pengisian cepat 45W. Sedangkan Samsung Galaxy A17 memiliki baterai 5000 mAh dengan pengisian cepat 25W. Jadi, jika Anda sering bepergian, Oppo A5i Pro 5G mungkin menjadi pilihan yang lebih baik.

Fitur Lainnya

Dalam hal dimensi dan bobot, Oppo A5i Pro 5G memiliki ukuran 165,71 mm x 76,24 mm x 7,9 mm dengan bobot 193 gram. Sementara Samsung Galaxy A17 memiliki ukuran 164,4 mm x 77,9 mm x 7,5 mm dengan bobot 190 gram. Keduanya memiliki bobot yang hampir sama, namun Samsung Galaxy A17 sedikit lebih tipis.

Harga dan Varian Penyimpanan

Oppo A5i Pro 5G hadir dalam varian RAM 8 GB dan penyimpanan 256 GB dengan harga Rp2.999.000. Sementara Samsung Galaxy A17 tersedia dalam dua opsi, yaitu RAM 6 GB/8 GB dan penyimpanan 128 GB/256 GB, dengan harga mulai dari Rp2.999.000 hingga Rp3.349.000.

Kesimpulan

Meskipun keduanya memiliki harga yang relatif sama, Oppo A5i Pro 5G menawarkan baterai yang lebih besar, layar dengan refresh rate lebih tinggi, dan kamera yang cukup kompetitif. Di sisi lain, Samsung Galaxy A17 memiliki kamera belakang yang lebih lengkap dan layar yang sedikit lebih besar. Pemilihan antara keduanya tergantung pada kebutuhan pengguna, apakah lebih memilih performa atau fitur fotografi.