Minggu, April 5, 2026
Beranda blog Halaman 494

5 Smartphone Android Tercepat di AnTuTu September 2025, Nomor 2 Jadi Andalan Flagship Killer!

0

Daftar 5 HP Android Tercepat Versi AnTuTu September 2025

Platform benchmark AnTuTu kembali merilis daftar HP Android terkencang pada bulan September 2025. Hasil pengukuran ini mencakup skor total yang dihitung berdasarkan performa CPU, GPU, memori, dan pengalaman pengguna (UX). Dalam daftar terbaru ini, muncul nama-nama besar serta beberapa kejutan, termasuk model flagship dan “flagship killer” yang menawarkan performa tinggi dengan harga lebih terjangkau.

Berikut adalah lima HP Android tercepat versi AnTuTu pada bulan September 2025:

  1. iQOO 13

    HP ini menduduki peringkat pertama dengan skor sekitar 2.648.446 poin (varian 16/512 GB). Mengusung prosesor Snapdragon 8 Elite (3 nm) dengan memori LPDDR5X dan penyimpanan UFS 4.1, iQOO 13 juga dilengkapi fitur fast charging 120 W dan layar AMOLED 2K 144 Hz. Performa yang luar biasa ini membuatnya menjadi salah satu pilihan utama bagi pengguna yang menginginkan kecepatan maksimal.

  2. POCO F7 Ultra

    Di posisi kedua, POCO F7 Ultra mengejutkan dengan performa tinggi namun harga yang relatif kompetitif. Skor sekitar 2.438.753 poin menunjukkan bahwa smartphone ini bisa disebut sebagai “flagship killer”. Spesifikasinya meliputi chipset Snapdragon 8 Elite, RAM LPDDR5X, dan layar AMOLED 120 Hz. Keunggulan ini menjadikannya pilihan menarik bagi konsumen yang ingin mendapatkan performa premium tanpa harus membayar mahal.

  3. Xiaomi 15 Ultra

    Sebagai flagship Xiaomi, model ini berada di posisi tiga besar dengan skor 2.427.215 poin. Ditenagai oleh Snapdragon 8 Elite, Xiaomi 15 Ultra juga dilengkapi kamera Leica Summilux dan spesifikasi kelas atas. Meskipun tidak memiliki varian ultrapremium, model ini tetap menawarkan pengalaman yang sangat baik.

  4. vivo X200 Pro

    Meski menggunakan chipset MediaTek Dimensity 9400 (3 nm), vivo X200 Pro tetap bisa menempatkan diri di peringkat atas dengan skor 2.411.591 poin. Vivo mengombinasikan chip ini dengan sistem pendingin canggih dan optimasi performa untuk menjaga kestabilan selama penggunaan intensif.

  5. Xiaomi 15

    Versi non-Ultra dari Xiaomi 15 juga menunjukkan performa luar biasa dengan skor 2.377.260 poin. Dilengkapi dengan Snapdragon 8 Elite dan modul kamera Leica, Xiaomi 15 membuktikan bahwa tidak selalu diperlukan varian ultrapremium untuk mendapatkan kecepatan tinggi.

Harga vs Performa

POCO F7 Ultra yang menempati urutan kedua menjadi sorotan utama karena kemampuannya bersaing dengan flagship mahal namun dijual di harga lebih terjangkau. Ini menunjukkan tren bahwa “flagship killer” semakin serius dalam pasar performa tinggi. Konsumen kini lebih sadar akan nilai yang mereka dapatkan, sehingga merek-merek seperti POCO dan Xiaomi semakin diminati.

Dominasi Snapdragon 8 Elite

Beberapa produk di daftar ini menggunakan Snapdragon 8 Elite, yang disinyalir menjadi chipset andalan bagi banyak produsen Android pada paruh kedua 2025. Kombinasi fabrikasi 3 nm dan optimasi SoC memungkinkan lonjakan performa signifikan. Sementara itu, vivo X200 Pro menggunakan chip Dimensity 9400, menandakan bahwa pesaing non-Qualcomm masih bisa bersaing, terutama lewat optimasi di sisi perangkat lunak dan hardware pendukung seperti pendinginan.

Faktor-Faktor Penentu Skor

AnTuTu mengukur lebih dari sekadar kecepatan prosesor. Skor akhir dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

  • Kecepatan GPU
  • Efisiensi memori (RAM + penyimpanan)
  • Kinerja UX (simulasi penggunaan sehari-hari)
  • Manajemen termal

Model seperti iQOO 13 dan Xiaomi 15 Ultra pun terbantu oleh sistem pendingin dan optimasi real-time agar tidak terjadi throttling performa.

Kesimpulan

Daftar 5 HP Android terkencang versi AnTuTu September 2025 ini memperlihatkan bahwa persaingan performa kian sengit. iQOO 13 masih memimpin, namun POCO F7 Ultra menarik perhatian khusus sebagai pilihan kuat dengan harga lebih ramah. Tren ini menunjukkan bahwa konsumen semakin cerdas dalam memilih perangkat yang sesuai dengan kebutuhan dan anggaran.

AI Google, Gemini, Kini Ciptakan Buku Cerita Anak Lengkap Ilustrasi

0

Fitur Baru Google Gemini untuk Membuat Dongeng dengan Gambar

Google baru-baru ini meluncurkan fitur terbaru yang memungkinkan pengguna membuat cerita dongeng lengkap dengan gambar. Fitur ini diberi nama “Storybook” dan menggunakan kemampuan Artificial Intelligence (AI) Gemini untuk menghasilkan kisah yang menarik. Pengguna dapat memasukkan prompt ke dalam ChatBot Gemini AI, dan secara otomatis akan dihasilkan 10 halaman cerita yang berisi paragraf singkat, ilustrasi, serta audio pembacaaan.

Fitur Storybook ini sangat cocok digunakan untuk membuat dongeng pengantar tidur bagi anak-anak. Pengguna hanya perlu memberikan penjelasan tentang cerita yang mereka bayangkan atau inginkan. Selanjutnya, AI akan langsung menghasilkan cerita yang siap dibaca. Tidak hanya itu, pengguna juga bisa menambahkan visual sendiri dengan mengunggah foto atau file dari galeri pribadi. Bahkan, pengguna bisa memilih gaya ilustrasi yang ingin digunakan, seperti claymation, anime, komik, atau banyak lagi.

Menurut informasi yang diberikan oleh Google, fitur pembuatan cerita ini sudah tersedia dalam 45 bahasa. Pengguna hanya perlu memilih bahasa yang ingin digunakan atau memberikan instruksi lebih detail kepada Gemini. Hal ini membuat fitur ini sangat fleksibel dan mudah diakses oleh berbagai kalangan.

Google menyebutkan bahwa fitur ini menjadi salah satu konsep pembelajaran bagi anak-anak. Dengan menggunakan kisah dan visual yang menarik, anak-anak dapat lebih mudah memahami konsep pembelajaran. Selain itu, fitur ini juga digunakan sebagai cara untuk menciptakan pengalaman berharga bagi anak. Misalnya, gambar yang dibuat oleh anak bisa dijadikan bagian dari cerita kreatif yang bisa dikenang. Atau, perjalanan keluarga bisa diubah menjadi petualangan personal dengan ilustrasi dan kisah yang lebih menarik.

Pengalaman Pengguna dengan Fitur Storybook

The Verge melaporkan pengalaman pengguna saat mencoba fitur Storybook. Emma Roth, seorang jurnalis yang mencoba fitur ini, menceritakan pengalamannya pertama kali. Ia meminta Gemini untuk membuat cerita tentang ikan lele yang berjuang untuk berteman di akuarium baru. Namun, saat ia membuka halaman-halaman cerita tersebut, ia merasa alur cerita masih memiliki beberapa celah.

“Namun, semuanya tampak cukup standar untuk cerita anak-anak yang dihasilkan AI,” katanya. Meskipun demikian, saat ia membaca ulang cerita dan melihat hasil ilustrasi, Roth merasa kaget karena ada tangan manusia yang masuk ke dalam akuarium dan menyentuh seekor ikan. Ia merasa bahwa fitur ini masih memiliki inkonsistensi dalam mendesain karakter.

“Chatbot sepertinya tidak memiliki visi artistik yang sama dengan saya ketika saya mengunggah gambar kartun yang saya gambar,” ujarnya. Meskipun masih membutuhkan pengembangan, Roth belum menemukan keanehan lain yang mencolok dalam kisah yang ia minta.

Dengan fitur Storybook, Google mencoba memberikan pengalaman baru dalam membuat cerita yang menarik dan interaktif. Meski masih ada kekurangan, fitur ini menunjukkan potensi besar dalam dunia pendidikan dan kreativitas.

Profil Alexandr Wang, Miliarder AI Kaya Raya Rp58 Triliun

0

Profil dan Pendidikan Alexandr Wang

Alexandr Wang lahir pada Januari 1997 di Los Alamos, New Mexico, Amerika Serikat. Ia adalah anak dari pasangan imigran Tiongkok yang bekerja sebagai fisikawan di Los Alamos National Laboratory, sebuah pusat riset nuklir terkenal di AS. Lingkungan keluarga yang penuh dengan dunia ilmiah membuat Wang terbiasa dengan logika, eksperimen, dan rasa ingin tahu sejak kecil.

Sejak usia sekolah menengah, ia sudah menunjukkan kecemerlangan di bidang akademik. Ia menjadi finalis Olimpiade Komputasi Amerika Serikat (USACO) pada 2012 dan 2013, lolos ke program Olimpiade Matematika pada 2013, serta bergabung dengan Tim Fisika AS pada 2014. Setelah menamatkan pendidikan di Los Alamos High School, Wang melanjutkan studi di Massachusetts Institute of Technology (MIT) jurusan ilmu komputer. Namun, ia hanya bertahan satu tahun karena memutuskan keluar untuk fokus membangun perusahaannya sendiri.

Perjalanan Karier dan Bisnis

Perjalanan profesional Wang dimulai sejak remaja. Ia sempat bekerja sebagai programmer di Quora, kemudian bergabung dengan Addepar—perusahaan manajemen kekayaan berbasis teknologi—serta menjadi pengembang algoritma di Hudson River Trading, sebuah firma perdagangan frekuensi tinggi. Pengalaman ini memperkaya pemahamannya mengenai industri teknologi sekaligus membuka jaringan yang kelak berharga bagi kariernya.

Pada 2016, di usia 19 tahun, Wang bersama Lucy Guo mendirikan Scale AI lewat program akselerator Y Combinator. Scale AI hadir sebagai jawaban atas tantangan utama dalam pengembangan AI: ketersediaan data berlabel berkualitas tinggi. Layanan mereka membantu perusahaan besar dan institusi pemerintah melatih model AI dengan lebih efektif. Tak butuh waktu lama, Scale AI berhasil menarik klien besar, mulai dari General Motors, Flexport, hingga Departemen Pertahanan AS.

Kekayaan dan Pencapaian Alexandr Wang

Keberhasilan Scale AI membawa Wang menjadi miliarder termuda di dunia pada usia 24 tahun. Saat itu, valuasi perusahaannya mencapai USD 7,3 miliar (Rp119,79 triliun), dengan kepemilikan saham pribadi sebesar 15 persen. Kekayaannya terus melonjak seiring pesatnya perkembangan bisnis, hingga nilai kekayaannya diperkirakan mencapai USD 3,5–3,6 miliar atau sekitar Rp58–59 triliun.

Tak hanya kekayaan, Wang juga mengantongi beragam penghargaan bergengsi. Ia dua kali masuk daftar Forbes 30 Under 30 untuk kategori teknologi, serta dinobatkan sebagai bagian dari TIME 100 Next dan TIME 100 AI, yang menyoroti pemimpin muda paling berpengaruh di bidangnya. Julukan “The Next Elon Musk” pun sempat disematkan kepadanya, mencerminkan ekspektasi besar publik atas peran Wang dalam membentuk masa depan teknologi.

Peran Baru Alexandr Wang di Meta

Tahun 2025 menjadi babak baru bagi Wang. Meta, salah satu klien terbesar Scale AI, resmi mengakuisisi 49% saham perusahaan tersebut senilai USD 14,3 miliar (Rp234,68 triliun). Dalam perjanjian itu, Wang setuju melepas jabatan CEO dan bergabung dengan Meta sebagai Chief AI Officer. Ia kini memimpin divisi AI superintelligence, sebuah langkah strategis Meta untuk bersaing dalam “perlombaan AI” global.

Meski tidak lagi memegang kendali penuh di Scale AI, Wang tetap duduk di dewan direksi perusahaan yang ia dirikan. Kehadirannya di Meta menegaskan pengaruhnya bukan hanya sebagai pendiri startup sukses, tetapi juga sebagai arsitek utama dalam pengembangan teknologi AI yang lebih besar dan kompleks di kancah internasional.

Visi Alexandr Wang untuk Gen Z di Era AI

Selain kiprahnya di dunia bisnis, Wang juga dikenal lantang menyuarakan gagasan visioner tentang masa depan teknologi dan generasi muda. Dalam wawancara terbaru dengan Fortune serta beberapa forum internasional, ia menekankan pentingnya Gen Z untuk berani terjun langsung ke dunia pemrograman berbasis kecerdasan buatan. Menurutnya, generasi ini tidak perlu lagi terpaku pada metode lama yang menuntut hafalan sintaks rumit, melainkan bisa memanfaatkan AI sebagai “rekan kreatif” dalam mencipta.

Konsep yang ia perkenalkan disebut vibe coding. Dengan pendekatan ini, pemrograman bukan lagi sekadar menulis ribuan baris kode manual, melainkan berinteraksi kreatif dengan AI. Coder cukup memberikan ide atau instruksi, lalu membiarkan AI menghasilkan kode dasar, melakukan tes, dan menyempurnakannya.

“Kalau kamu berusia 13 tahun, habiskan waktumu untuk vibe coding. Dari situlah bakal lahir Bill Gates berikutnya,” tegas Wang.

Bagi Wang, inilah momen “diskontinuitas” yang akan membedakan generasi masa depan. Seperti halnya Bill Gates, Steve Jobs, dan Mark Zuckerberg yang tumbuh di era awal komputer pribadi, Gen Z kini punya peluang serupa melalui AI. Mereka yang berani bereksperimen dan menghabiskan waktu mendalami tools berbasis AI akan memiliki keunggulan besar dalam ekonomi global yang sedang berubah cepat.

IBM dan NASA Rilis Model AI Open Source untuk Peramalan Cuaca dan Iklim

0

Pengenalan Model Surya: Kecerdasan Buatan untuk Memahami Aktivitas Matahari

IBM dan NASA baru-baru ini meluncurkan model dasar open-source terbaru yang diberi nama Surya. Model ini dirancang khusus untuk memahami data observasi Matahari beresolusi tinggi. Tujuan utamanya adalah memprediksi aktivitas Matahari yang bisa memengaruhi Bumi, serta digunakan dalam studi cuaca dan iklim. Dengan kemampuan ini, model ini diharapkan dapat menjadi alat penting dalam memahami dinamika lingkungan dan memperkuat perlindungan terhadap teknologi yang bergantung pada luar angkasa.

Surya memiliki makna yang berasal dari bahasa Sansekerta, yaitu “Matahari”. Nama ini menunjukkan peran pentingnya dalam memahami fenomena astronomi. Model ini merupakan inovasi signifikan dalam pemanfaatan kecerdasan buatan untuk menganalisis citra Matahari dan penelitian cuaca antariksa. Teknologi ini diharapkan dapat membantu melindungi berbagai sistem penting seperti navigasi GPS, jaringan listrik, hingga telekomunikasi dari dampak aktivitas Matahari yang tidak terduga.

Aktivitas Matahari seperti suara matahari dan lontaran massa korona dapat menyebabkan gangguan serius. Fenomena ini berpotensi merusak satelit, mengganggu navigasi penerbangan, memicu pemadaman listrik, serta membahayakan astronot. Laporan dari Lloyd’s menyebutkan bahwa kerugian global akibat badai matahari bisa mencapai 2,4 triliun dolar AS dalam lima tahun. Bahkan satu badai besar bisa menyebabkan kerugian hingga 17 miliar dolar AS.

Beberapa fenomena terbaru telah menunjukkan risiko nyata yang dihadapi. Misalnya, gangguan layanan GPS, pengalihan penerbangan, kerusakan satelit, hingga dampak pada produksi pangan. Semakin meningkatnya ketergantungan manusia pada teknologi berbasis luar angkasa serta rencana eksplorasi ruang angkasa membuat prediksi cuaca matahari semakin penting.

Selain itu, Surya juga dirancang untuk mendukung penelitian cuaca dan iklim di Bumi. Model ini dapat digunakan untuk membuat prakiraan lokal, mendeteksi cuaca ekstrem, meningkatkan resolusi simulasi iklim global, serta memperbaiki representasi proses fisik dalam model numerik. Surya telah melalui pra-pelatihan dengan data observasi Bumi selama 40 tahun dari Modern-Era Retrospective analysis for Research and Applications, Versi 2 (MERRA-2) yang dimiliki oleh NASA.

Surya menjadi bagian dari strategi IBM dalam mengembangkan algoritma generatif dan otomatis yang dapat diuji serta diperluas secara global. Model ini melengkapi lini foundation model Prithvi yang sebelumnya mencakup geospasial dan cuaca. Dengan demikian, Surya memberikan kontribusi signifikan dalam membangun sistem yang lebih tangguh dan dapat diandalkan oleh masyarakat setiap hari.

HP Tipis & Stylish 2025: 4 Ponsel Paling Ramping, Termasuk Apple dan Samsung!

0

Era Baru Desain Smartphone: 4 Rekomendasi Paling Tipis Tahun Ini

Tahun 2025 menjadi tahun yang menarik bagi dunia smartphone. Desain tipis kini tidak lagi dianggap sebagai kompromi terhadap performa atau fitur. Sebaliknya, produsen berlomba-lomba menghadirkan perangkat yang ramping, tangguh, dan kaya akan teknologi. Dari Apple hingga Tecno, berikut adalah empat rekomendasi smartphone paling tipis yang layak dipertimbangkan.

iPhone 17 Air – Tipis Elegan dengan Performa Pro

Apple kembali memimpin tren desain dengan merilis iPhone 17 Air, yang menjadi iPhone paling tipis sepanjang sejarah. Dengan ketebalan hanya 5,6 mm, perangkat ini bahkan lebih ramping dibandingkan Galaxy S25 Edge. Meski tipis, iPhone 17 Air tidak mengorbankan performa. Ditenagai chip A19 Pro berbasis proses 3nm, ponsel ini menghadirkan CPU 6-core dan GPU 5-core dengan akselerator neural.

Layarnya berukuran 6,5 inci Super Retina XDR OLED dengan refresh rate 120Hz dan kecerahan puncak hingga 3.000 nits. Fitur unggulan lainnya termasuk kamera belakang Fusion 48MP, kamera depan 18MP dengan teknologi Center Stage, serta kemampuan Dual Capture untuk merekam video dari dua kamera sekaligus. iPhone Air juga mendukung konektivitas eSIM global dan menjalankan iOS 26 dengan fitur Mode Daya Adaptif untuk efisiensi baterai.

Samsung Galaxy S25 Edge – Tipis, Tangguh, dan Kaya AI

Samsung tak mau kalah dengan menghadirkan Galaxy S25 Edge, smartphone seri S tertipis mereka dengan ketebalan 5,8 mm dan bobot hanya 163 gram. Desain ramping ini dibalut frame titanium dan Gorilla Glass Ceramic 2, menjadikannya tangguh dan elegan. Layarnya berukuran 6,7 inci QHD+ LTPO AMOLED dengan refresh rate adaptif 1–120Hz.

Di sektor performa, Galaxy S25 Edge ditenagai Snapdragon 8 Elite for Galaxy dan dilengkapi ruang uap baru untuk manajemen suhu optimal. Kamera utamanya menggunakan sensor 200MP dengan peningkatan 40% untuk kondisi minim cahaya, didampingi kamera ultra-wide 12MP dan kamera depan 12MP. Fitur Galaxy AI seperti transkrip panggilan, bantuan menulis, dan Circle to Search menjadikan pengalaman pengguna semakin cerdas dan praktis.

Tecno Pova Slim 5G – Ramping dengan Layar Lengkung dan Harga Terjangkau

Tecno menghadirkan Pova Slim 5G sebagai jawaban untuk pengguna yang menginginkan smartphone tipis dengan harga bersahabat. Dengan ketebalan hanya 5,95 mm dan bobot 156 gram, ponsel ini tetap kokoh berkat perlindungan Gorilla Glass 7i. Layar lengkung AMOLED 6,78 inci beresolusi 1,5K dan refresh rate 144Hz memberikan tampilan visual yang memukau.

Dapur pacunya ditenagai chipset MediaTek Dimensity 6400, dipadukan dengan RAM 8GB dan penyimpanan 128GB. Meski bukan flagship, Tecno Pova Slim 5G menawarkan desain premium dan performa cukup untuk kebutuhan harian, gaming ringan, dan hiburan multimedia.

Vivo X Fold 5 – Smartphone Lipat Paling Tipis dan Tangguh

Vivo X Fold 5 menjadi pilihan menarik bagi kamu yang menginginkan smartphone lipat dengan desain super tipis. Meski membawa baterai jumbo 6.000mAh, bobotnya tetap ringan dan desainnya ramping. Perangkat ini dilengkapi layar lipat Ultra-Thin Glass (UTG) dengan lapisan anti benturan, serta sertifikasi IPX9 dan IP5X yang menjadikannya tahan air dan debu.

Vivo juga menyematkan teknologi SmartFold AI untuk meningkatkan produktivitas dan hiburan. Kamera profesional ZEISS, pengisian cepat 80W FlashCharge, dan fitur multitasking menjadikan Vivo X Fold 5 sebagai foldable paling canggih dan tipis di kelasnya.

Kesimpulan

Desain tipis kini bukan berarti kompromi. Keempat smartphone di atas membuktikan bahwa perangkat ramping bisa tetap kuat, canggih, dan nyaman digunakan. iPhone 17 Air dan Galaxy S25 Edge cocok untuk pengguna premium yang menginginkan performa maksimal dalam bodi elegan. Sementara Tecno Pova Slim 5G dan Vivo X Fold 5 menawarkan alternatif menarik dengan fitur unggulan masing-masing.

Nvidia dan OpenAI Investasi Rp 1.650 Triliun Bangun Pusat Data AI Raksasa

0

Kerja Sama Strategis antara Nvidia dan OpenAI untuk Membangun Infrastruktur Kecerdasan Buatan

Nvidia dan OpenAI telah menandatangani nota kesepahaman tidak mengikat (Letter of Intent/LoI) dalam rangka membangun infrastruktur pendukung kecerdasan buatan (AI) menggunakan sistem Nvidia. Dalam kerja sama ini, daya komputasi yang disediakan mencapai 10 gigawatt, yang akan menjadi fondasi penting bagi pengembangan teknologi AI di masa depan.

Sebagai bagian dari kolaborasi tersebut, Nvidia berencana untuk menginvestasikan dana hingga 100 miliar dollar AS. Investasi ini akan digunakan untuk membangun pusat data dan menyediakan kapasitas energi yang cukup besar untuk mendukung pengoperasian sistem skala besar. Fase pertama pembangunan pusat data ini ditargetkan mulai beroperasi pada paruh kedua tahun 2026, dengan platform Nvidia Vera Rubin sebagai teknologi utama.

Nvidia akan menjadi mitra strategis utama OpenAI dalam bidang komputasi dan jaringan. Tujuannya adalah untuk mendukung rencana pengembangan “pabrik AI” yang sedang dijalankan oleh OpenAI. Kedua perusahaan akan bekerja sama dalam menyelaraskan peta jalan pengembangan, mulai dari model dan perangkat lunak infrastruktur OpenAI hingga perangkat keras dan perangkat lunak Nvidia. Hal ini dimaksudkan agar seluruh sistem terintegrasi secara optimal.

Dalam konteks seberapa besar infrastruktur yang dibangun, data center Hyperion yang sedang dikembangkan oleh Meta memiliki daya komputasi setengah dari yang direncanakan oleh Nvidia dan OpenAI. Data center tersebut memiliki daya komputasi 5 gigawatt dengan nilai investasi sebesar 10 miliar dollar AS.

Kemitraan ini juga bertujuan untuk mempercepat inovasi dan memperluas kemampuan AI di masa depan. CEO sekaligus pendiri Nvidia, Jensen Huang, menyatakan bahwa kemitraan ini merupakan langkah maju berikutnya dalam mengalokasikan daya komputasi 10 gigawatt untuk mendukung era kecerdasan buatan generasi terbaru.

Sementara itu, CEO OpenAI, Sam Altman, menambahkan bahwa bersama Nvidia, mereka akan memanfaatkan apa yang telah dibangun untuk menciptakan terobosan AI baru dan memberdayakan masyarakat serta dunia usaha dengan teknologi ini dalam skala besar.

Greg Brockman, Co-Founder sekaligus Presiden OpenAI, menjelaskan bahwa pihaknya telah menjalin kerja sama erat dengan Nvidia sejak awal berdirinya OpenAI. Platform Nvidia digunakan untuk mengembangkan sistem AI yang kini digunakan ratusan juta orang setiap hari.

Menurut Brockman, OpenAI sangat bersemangat untuk mengimplementasikan 10 gigawatt daya komputasi bersama NVIDIA guna mendorong batas kecerdasan buatan dan memperluas manfaat teknologi tersebut bagi masyarakat luas.

Kemitraan dengan Nvidia ini melengkapi kolaborasi mendalam yang selama ini dijalankan kedua perusahaan bersama jaringan mitra luas, termasuk Microsoft, Oracle, SoftBank, serta para mitra Stargate. Jaringan ini berfokus pada pembangunan infrastruktur AI yang paling canggih di dunia. Dengan kerja sama ini, kedua perusahaan berharap dapat mempercepat inovasi dan memperluas kemampuan AI di masa depan.

OpenAI, Oracle, dan SoftBank Bangun Lima Pusat Data Senilai Rp6.642 Triliun

0

Pengembangan Infrastruktur Kecerdasan Buatan di Amerika Serikat

OpenAI, Oracle, dan SoftBank mengumumkan pembangunan lima pusat data kecerdasan buatan (AI) baru di Amerika Serikat (AS). Proyek ini diberi nama Stargate, yang merupakan platform infrastruktur AI utama OpenAI. Dalam pernyataannya, proyek ini akan memperluas kapasitas Stargate hingga hampir 7 gigawatt, dengan nilai investasi diperkirakan melebihi US$400 miliar atau sekitar Rp6.642 triliun dalam tiga tahun ke depan.

Peningkatan kapasitas ini membantu OpenAI lebih cepat mencapai target komitmen US$500 miliar (Rp8.302 triliun) untuk mencapai total kapasitas 10 gigawatt pada akhir 2025, lebih awal dari jadwal yang telah ditetapkan. Pada Juli lalu, OpenAI dan Oracle menandatangani kesepakatan untuk mengembangkan kapasitas tambahan hingga 4,5 gigawatt. Kemitraan ini bernilai lebih dari US$300 miliar atau sekitar Rp4.981 triliun dalam lima tahun ke depan.

Tiga dari lima lokasi baru akan berada di Shackelford County, Texas; Doña Ana County, New Mexico; serta sebuah lokasi di Midwest yang akan diumumkan kemudian. Ditambah dengan potensi perluasan kapasitas 600 megawatt di dekat Abilene, ketiga lokasi ini diperkirakan dapat menyumbang lebih dari 5,5 gigawatt dan menciptakan lebih dari 25.000 lapangan kerja langsung, serta puluhan ribu pekerjaan tambahan di seluruh AS.

Dua lokasi Stargate lainnya akan dikembangkan bersama SoftBank, dengan kapasitas hingga 1,5 gigawatt dalam 18 bulan ke depan. Lokasinya berada di Lordstown, Ohio, yang kini tengah dibangun dengan desain pusat data canggih dan dijadwalkan beroperasi tahun depan, serta di Milam County, Texas, bekerja sama dengan SB Energy (anak usaha SoftBank) yang akan menyediakan infrastruktur tenaga listrik.

Pemilihan lima lokasi baru ini merupakan hasil proses seleksi nasional sejak Januari lalu, di mana lebih dari 300 proposal dari 30 negara bagian dievaluasi. Ini merupakan tahap pertama, dengan rencana penambahan lokasi baru di masa mendatang seiring komitmen investasi Stargate yang ditargetkan menembus US$500 miliar.

Kampus utama Stargate di Abilene sendiri sudah beroperasi dengan Oracle Cloud Infrastructure (OCI). Oracle bahkan sudah mengirim rak NVIDIA GB200 pertama sejak Juni lalu untuk mendukung pelatihan dan inferensi AI generasi berikutnya.

CEO OpenAI, Sam Altman, menegaskan bahwa kemajuan AI hanya bisa tercapai jika didukung infrastruktur komputasi yang memadai. “Komputasi itulah yang menjadi kunci untuk memastikan semua orang dapat memperoleh manfaat dari AI dan untuk membuka terobosan di masa depan. Kita telah membuat kemajuan bersejarah menuju tujuan tersebut melalui Stargate dan bergerak cepat tidak hanya untuk memenuhi komitmen awalnya, tetapi juga untuk meletakkan fondasi bagi langkah selanjutnya,” katanya.

Sementara itu, CEO Oracle Clay Magouyrk menyatakan infrastruktur OCI membantu OpenAI berkembang dengan cepat dan efisien. Adapun Chairman dan CEO SoftBank, Masayoshi Son, menambahkan kolaborasi ini memanfaatkan desain pusat data inovatif dan keahlian energi SoftBank untuk menghadirkan infrastruktur komputasi berskala besar yang menopang masa depan AI.

“Bersama OpenAI, Arm, dan mitra Stargate kami, kami membuka jalan bagi era baru di mana AI memajukan umat manusia,” katanya.

Dengan tambahan lima pusat data baru ini, OpenAI, Oracle, dan SoftBank optimistis dapat menghadirkan infrastruktur berskala besar yang tidak hanya memperkuat riset AI generasi berikutnya, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi di berbagai wilayah AS. Komitmen US$500 miliar tersebut pertama kali diumumkan pada Januari lalu di Gedung Putih bersama Presiden AS Donald Trump sebagai bagian dari upaya mendorong investasi besar-besaran di infrastruktur AI Amerika.

Pengguna iPhone 17 dari Berbagai Negara Keluhkan Masalah Serupa

0

iPhone 17 Series Menghadapi Masalah Kebiasaan Terkait Permukaan yang Rentan Tergores

iPhone 17 series telah tersedia untuk pembelian langsung oleh konsumen di Apple Store sejak 19 September 2025. Banyak penggemar Apple langsung berbondong-bondong membeli perangkat terbaru ini dari toko ritel resmi Apple. Namun, setelah ponsel tersebut tiba di tangan pengguna, muncul keluhan mengenai desainnya yang rentan tergores, terutama pada beberapa varian tertentu.

Khususnya, model iPhone 17 Pro dan iPhone 17 Pro Max dengan varian warna Deep Blue mendapat banyak keluhan. Selain itu, iPhone 17 Air dalam varian Space Black juga diketahui mudah tergores. Keluhan ini tidak hanya datang dari satu negara, tetapi berasal dari berbagai wilayah di dunia.

Di Tiongkok, sejumlah konsumen mengunggah bukti goresan pada iPhone 17 melalui media sosial. Tagar terkait masalah ini sempat menjadi trending topik di Weibo, dengan penayangan lebih dari 40 juta kali. Temuan serupa dilaporkan oleh Bloomberg saat berkunjung ke Apple Store di Hong Kong, Shanghai, dan London. Mereka menemukan unit iPhone 17 Pro dan iPhone 17 Pro Max Deep Blue serta iPhone 17 Air Space Black yang sudah tergores meskipun baru saja dipajang di rak display.

Pengamatan Pengguna dan Uji Coba Ketangguhan Ponsel

Amir Singh, seorang pengguna X/Twitter dengan akun @amisecured, juga membagikan video yang menunjukkan iPhone 17 Pro Deep Blue yang dipajang di Apple Store dengan beberapa goresan di bagian tengah punggungnya. Ia membandingkan perangkat ini dengan varian Cosmic Oranye dan Silver. Meski varian Cosmic Oranye juga tergores, tingkat goresannya lebih sedikit dibanding Deep Blue. Sementara itu, varian Silver tampak lebih mulus dan nyaris tanpa goresan.

Menurut Amir Singh, meskipun penggunaan casing bisa membantu, permukaan iPhone 17 tetap rentan tergores bahkan hanya ditaruh di saku bersama kunci selama beberapa menit saja.

Video lainnya yang dibagikan oleh JerryRigEverything, seorang YouTuber yang kerap menguji ketangguhan ponsel, juga menunjukkan bahwa iPhone 17 Pro dalam warna biru dan oranye sangat rentan tergores. Dalam uji coba, Zack Nelson, nama asli JerryRigEverything, menggores dan menguji ketangguhan perangkat menggunakan pisau, obeng, korek api, koin hingga kunci. Hasilnya, iPhone 17 Pro mudah tergores meskipun hanya sedikit. Oleh karena itu, JerryRigEverything menyarankan pengguna untuk menggunakan casing tambahan.

Penyebab Permukaan Rentan Tergores

Menurut JerryRigEverything, penyebab utama permukaan iPhone 17 yang rentan tergores adalah lapisan aluminium oksida yang diwarnai. Proses anodisasi yang digunakan Apple tidak menempel kuat di area sudut atau tepi tajam seperti modul kamera. Hal ini membuat bagian tersebut lebih rentan tergores.

Selain itu, penggunaan material aluminium di iPhone 17 menandai peralihan dari titanium yang digunakan di iPhone 16 Pro. Faktanya, aluminium lebih mudah tergores dibanding titanium.

Masih belum jelas seberapa luas masalah ini terjadi. Intensitas goresannya juga berbeda-beda. Dalam video JerryRigEverything, beberapa goresan hanya berupa noda yang bisa diatasi, sementara goresan dalam seperti yang ditunjukkan Amir Singh lebih sulit dihilangkan.

Pihak Apple belum memberikan tanggapan resmi terkait isu ini. Namun, masalah ini semakin mengundang perhatian publik dan memicu diskusi tentang kualitas dan desain perangkat terbaru mereka.

HP Gaming Ringan dengan Harga Rp2 Jutaan? Cek Spesifikasi Redmi 15

0

Smartphone Gaming Murah dengan Harga Terjangkau

Jika Anda sedang mencari smartphone gaming yang terjangkau, dengan budget sekitar dua jutaan rupiah, Redmi 15 bisa menjadi pilihan yang cocok. Dengan harga yang relatif terjangkau, perangkat ini menawarkan berbagai fitur yang cukup menarik untuk kebutuhan sehari-hari maupun aktivitas hiburan seperti bermain game atau menonton video.

Smartphone ini telah resmi diluncurkan di Indonesia dan tersedia dengan dua varian RAM dan ROM. Untuk versi RAM 8GB dan ROM 128GB, harganya sebesar Rp 2.099.000. Sementara itu, untuk varian RAM 8GB dan ROM 256GB, harganya sedikit lebih mahal, yaitu Rp 2.299.000. Harga ini membuat Redmi 15 bersaing dengan beberapa smartphone lain yang sudah lebih dulu hadir di pasar Indonesia, seperti OPPO A3, TECNO Spark 20 Pro Plus, atau POCO M6 Pro.

Spesifikasi Lengkap Redmi 15

Redmi 15 memiliki layar berukuran 17,5 cm dengan refresh rate 144Hz. Fitur ini memberikan pengalaman penggunaan yang nyaman, baik saat menjelajahi media sosial maupun menonton video di YouTube.

Salah satu fitur unggulan dari Redmi 15 adalah baterai besar dengan kapasitas 7000 mAh. Baterai ini mendukung pengisian cepat hingga 33W, sehingga hanya membutuhkan waktu sekitar 59 menit untuk mengisi daya hingga 70 persen. Dengan baterai sebesar ini, pengguna dapat menggunakan smartphone selama 28 jam untuk menonton video, 108 jam untuk mendengarkan musik, atau 29 jam untuk membaca secara terus-menerus.

Meskipun spesifikasi baterainya sangat menarik, chipset yang digunakan pada Redmi 15 adalah Snapdragon 685 dengan ukuran 66 nm. Chipset ini tidak dirancang khusus untuk gaming berat, tetapi masih mampu menjalankan game ringan. Jika ingin bermain game yang lebih intensif, pengguna mungkin perlu menyesuaikan pengaturan grafis agar sesuai dengan kemampuan perangkat.

Beberapa smartphone dengan harga serupa di pasaran, seperti Tecno Pova Neo 3, iQOO Z9x, atau Infinix Hot 60 Pro+, sudah menggunakan chipset khusus untuk gaming. Namun, Redmi 15 tetap menjadi pilihan yang layak untuk pengguna yang lebih mengutamakan daya tahan baterai dan penggunaan harian.

Kamera dan Fitur Tambahan

Di bagian belakang, Redmi 15 dilengkapi dengan kamera ganda beresolusi 50 MP, sementara kamera depannya memiliki resolusi 8 MP. Kamera ini juga didukung oleh teknologi kecerdasan buatan yang membantu dalam proses pengambilan gambar, sehingga menghasilkan foto yang lebih berkualitas.

Selain itu, Redmi 15 juga dilengkapi dengan fitur NFC yang memudahkan pengguna dalam melakukan transaksi elektronik, seperti mengisi saldo kartu uang elektronik atau mengecek informasi terkait pembayaran.

Pemesanan dan Rilis Resmi

Jika Anda tertarik membeli Redmi 15 secara online, Anda dapat melakukan pemesanan melalui tautan yang tersedia. Perangkat ini akan mulai dirilis pada 25 September 2025. Dengan kombinasi harga yang terjangkau dan fitur yang cukup lengkap, Redmi 15 menjadi salah satu pilihan yang patut dipertimbangkan bagi pengguna yang mencari smartphone gaming dengan budget terbatas.

ChatGPT Go: AI Canggih dengan Harga Terjangkau Rp75.000/Bulan

0

ChatGPT Go Hadir di Indonesia dengan Harga Terjangkau dan Fitur Canggih

OpenAI baru-baru ini meluncurkan layanan terbaru bernama ChatGPT Go yang kini tersedia di Indonesia. Layanan ini hadir sebagai paket langganan yang menawarkan keseimbangan sempurna antara fitur canggih dan harga yang ramah di kantong. Dengan biaya sebesar Rp75.000 per bulan, ChatGPT Go menjadi pilihan ideal bagi pelajar, pekerja kreatif, hingga pengguna biasa yang ingin merasakan manfaat teknologi kecerdasan buatan (AI) tanpa harus berlangganan versi premium.

Fitur Unggulan yang Menarik Perhatian

ChatGPT Go dilengkapi berbagai fitur unggulan yang memperkaya pengalaman pengguna dalam menggunakan AI. Beberapa fitur utamanya adalah:

  • Batas penggunaan GPT-5 lebih luas: Pengguna dapat mengakses hingga 10 kali lebih banyak dibandingkan versi gratis.
  • Pembuatan gambar lebih banyak: Pengguna bisa membuat 10 kali lebih banyak gambar setiap harinya.
  • Unggah dokumen dan gambar lebih fleksibel: Batasan pengunggahan mencapai 10 kali lipat per hari, sehingga sangat membantu dalam pekerjaan kreatif maupun produktif.
  • Memori percakapan dua kali lebih panjang: Membuat interaksi lebih personal, adaptif, dan mendalam sesuai kebutuhan pengguna.

Dengan fitur-fitur tersebut, ChatGPT Go memberikan nilai tambah luar biasa bagi siapa saja yang ingin meningkatkan produktivitas dan kreativitas mereka melalui teknologi AI.

Pertama di Asia Tenggara

Indonesia menjadi negara pertama di kawasan Asia Tenggara yang mendapatkan kesempatan untuk menikmati layanan ChatGPT Go. Sebelumnya, layanan ini telah diluncurkan di India, yang menunjukkan betapa besar minat OpenAI terhadap pasar Indonesia. Pasar Indonesia dinilai dinamis dan semakin melek teknologi, sehingga menjadi target strategis bagi perusahaan-perusahaan teknologi global.

Mudah Diakses dan Dibayar

Berlangganan ChatGPT Go sangat praktis dan mudah. Pengguna dapat melakukan pembelian langsung melalui aplikasi atau situs resmi ChatGPT. Proses pembayaran bisa dilakukan dengan berbagai metode, mulai dari Google Play, App Store, hingga Stripe. Fleksibilitas ini memudahkan pengguna dari berbagai kalangan untuk mengakses layanan AI canggih tanpa adanya hambatan.

Bersaing dengan Paket AI Lain

Peluncuran ChatGPT Go juga menandai langkah strategis OpenAI dalam bersaing dengan penyedia layanan AI lainnya. Salah satunya adalah Google yang juga menawarkan paket AI serupa di Indonesia. Dengan harga yang sebanding namun fitur yang kompetitif, ChatGPT Go diharapkan menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang membutuhkan layanan AI berkualitas tinggi dengan biaya yang terjangkau.

Solusi Terbaik untuk Kebutuhan Harian

Bagi Anda yang ingin merasakan pengalaman menggunakan AI generasi terbaru tanpa menguras kantong, ChatGPT Go adalah solusi terbaik. Dengan hanya Rp75.000 per bulan, Anda bisa menikmati batasan penggunaan yang lebih luas, pembuatan gambar yang lebih banyak, serta percakapan yang lebih personal. Kini saatnya memaksimalkan produktivitas dan kreativitas Anda bersama ChatGPT Go!