ZONAGADGET – Pengguna smartphone Vivo kiranya penting untuk mengetahui daftar HP Vivo yang tidak kebagian Android 16. Untuk diketahui, sistem operasi terbaru Android 16 telah dirilis sejak Juni kemarin.
Tak lama setelah dirilis, HP pertama yang mendapatkan pembaruan Android 16 adalah Google Pixel. Selanjutnya, Android 16 bakal digelontorkan ke sejumlah merek smartphone lain, termasuk HP Vivo.
Namun, tidak semua HP Vivo mendapatkan dukungan pembaruan Android 16. Lantas, apa saja HP Vivo yang tidak dapat update Android 16? Jika tertarik untuk mengetahui lebih lanjut, silakan simak daftar di bawah ini.
Daftar HP Vivo yang tidak bisa update Android 16
HP Vivo yang tidak bisa update Android 16 sejatinya merupakan model-model HP yang masa dukungan pembaruan perangkat lunaknya sudah habis. Misalnya, Vivo X80 yang rilis dengan Android 12 dan hanya mendapat dukungan OS sampai tiga tahun.
Artinya, Vivo X80 hanya dapat update ke Android 13, Android 14, dan Android 15. Selain itu, model HP keluaran lebih lama dari Vivo X80 bisa dipastikan tidak kebagian Android 16. Adapun daftar HP Vivo yang tidak kebagian Android 16 adalah sebagai berikut:
Vivo X80
Vivo X80 Pro
Vivo X80 Lite
Vivo X80 Lite 5G
Vivo X70
Vivo X70 Pro
Vivo X70 Pro Plus
Vivo V29
Vivo V29e
Vivo V29 Pro
Vivo V29 Lite
Vivo V27
Vivo T2
Vivo T2 Pro
Vivo T2x
Vivo Y200
Vivo Y100 5G
Vivo Y100i
Vivo Y100t
iQoo 10
iQoo 10 Pro
iQoo Z8
iQoo Z8x
iQoo Z7
iQoo Z7 Pro
iQoo Z7x
iQoo Z7s
iQoo Z7i
iQOO Neo 8
iQoo Neo 8 Pro
Vivo sebenarnya belum merilis daftar resmi smartphone yang tidak bisa update Android 16. Namun, daftar HP Vivo yang tidak kebagian Android di atas dapat diketahui dengan melihat batas masa dukungan pembaruan perangkat lunaknya.
Jika masa dukungannya habis, HP Vivo tidak akan bisa mendapatkan update Android 16. Itulah sejumlah HP Vivo yang tidak bisa update Android 16, semoga bermanfaat.
Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno. Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.
ZONAGADGET, PEKANBARU – Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) kini tak hanya dimanfaatkan untuk kemajuan pendidikan, tapi juga menjadi ‘senjata’ baru dalam praktik judi online (judol) di Indonesia. Bahkan, algoritma AI disebut sengaja dirancang untuk membuat pemain menang di awal, lalu kecanduan dan mengalami kekalahan terus-menerus.
“Judol itu dikelola menggunakan AI. Di awal pemain bisa menang, tapi kemudian kalah terus. Hati-hati dengan itu,” ungkap GM Witel Riau PT Telkom Indonesia, Susila Shane Sihombing ST.MM dalam acara Ngobrol Pintar AI dan Pendidikan, Jumat (25/7/2025) di Pekanbaru.
Kegiatan hasil kolaborasi PT Telkom Indonesia dan Tribun Pekanbaru ini diikuti lebih dari 550 guru dari seluruh kabupaten/kota di Riau.
Dalam paparannya, Susila menyoroti berbagai sisi perkembangan dunia digital di Indonesia, termasuk sisi gelapnya seperti judi online dan pinjaman online (pinjol) yang marak.
Menurutnya, nilai transaksi judol di Indonesia mencapai Rp 100 triliun hanya dalam beberapa bulan awal 2024.
Sepanjang tahun 2024, perputaran uang dari judol tercatat hingga Rp 900 triliun dengan jumlah pengguna mencapai 8,8 juta orang.
Di sisi lain, AI juga memiliki potensi besar untuk membantu sektor pendidikan, terutama untuk peserta didik disabilitas.
“Banyak hal yang bisa dicapai dengan AI, bahkan lompatannya bisa disebut lompatan kuantum,” ujar Susila.
Ia mengungkapkan bahwa saat ini 70 persen penduduk Indonesia telah menggunakan internet, dengan pengguna aktif internet mencapai 212 juta jiwa. Bahkan, anak usia lima tahun pun sudah mengenal internet.
Menurutnya, hal ini jadi peluang besar untuk mengembangkan pendidikan digital yang inklusif dan merata.
Namun, Susila menekankan masih ada sejumlah tantangan dalam digitalisasi pendidikan, mulai dari kesenjangan akses internet di beberapa daerah, kesiapan guru, perubahan pola belajar siswa, hingga potensi ketergantungan terhadap teknologi dan ancaman keamanan data.
Untuk mengatasinya, Telkom Indonesia berperan aktif melalui pembangunan infrastruktur digital, pelatihan literasi digital untuk guru dan siswa, pengembangan platform belajar digital, hingga kolaborasi dengan komunitas dan pemerintah.
Ia juga memaparkan perilaku digital masyarakat Indonesia yang menunjukkan tren positif dalam menjaga privasi. Sebanyak 64,8 persen masyarakat tidak membagikan data pribadi di media sosial, 60,7 persen menonaktifkan GPS, dan 56,1 persen aktif melaporkan pelanggaran di media sosial.
Namun di sisi transaksi digital, sekitar 75 persen pembayaran online masih dilakukan secara tunai. Susila menilai perlu ada sertifikasi khusus bagi pelaku usaha daring agar dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat dalam pembayaran digital.
Mengakhiri paparannya, Susila juga mengingatkan pentingnya memahami regulasi digital seperti UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Tanda Tangan Elektronik, hingga materai digital sebagai fondasi literasi digital di Indonesia.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya bersama meningkatkan literasi digital, menghadapi tantangan era teknologi, dan memastikan pemanfaatan AI secara positif di dunia pendidikan.
ZONAGADGET, PEKANBARU – Seorang guru sekarang tidak cukup hanya memastikan siswa jadi orang pintar. Tapi, guru harus mampu mendorong siswanya berkomunikasi dengan baik, punya soft skill hingga mampu berkolaborasi.
Hal itu disampaikan Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Riau, Dr Arden Simeru, M.Kom saat menyampaikan materi pada Ngobrol Pintar AI dan Pendidikan yang ditaja PT Telkom Indonesia berkolaborasi dengan Tribun Pekanbaru di Hotel Furaya Pekanbaru, Jumat (25/7/2025).
Ditambahkan dia, guru juga harus mampu memastikan informasi yang tersebar di dunia internet itu benar. Kemudian, harus mampu memastikan karakter anak didik sesuai dengan norma yang berlaku.
“Sentuhan seorang guru tetap sangat penting,” ujar Arden.
Meski demikian, Arden memastikan teknologi dan AI sangat penting di dunia pendidikan. Dimana, AI membuat ruang belajar kini tak terbatas ruang dan waktu. Lalu, dengan teknologi AI, banyak kerjaan guru semakin dimudahkan.
“AI penting bagi guru. Namun, jangan bertuhan kepada AI. Tapi manfaatkan AI secara maksimal sebagai tools atau alat untuk mempercepat dan mempermudah pembelajaran di sekolah,” ungkap Arden.
Guru, tuturnya, perlu memahami bagaimana AI dapat digunakan untuk personalisasi pembelajaran, otomatisasi tugas administrasi, analisis kinerja siswa dan pengembangan konten.
Di samping itu, bisa juga untuk mengidentifikasi peluang dan tantangan, mengembangkan keterampilan baru, mempersiapkan siswa untuk masa depan hingga mencegah penyalahgunaan.
Arden juga memaparkan sikap guru profesional menghadapi fenomena AI.
Dimana, mereka harus proaktif, adaptif dan etis. Guru harus menghadapi AI dengan jadi pembelajar sepanjang hayat.
“Guru harus memiliki keinginan kuat untuk terus belajar dan beradaptasi dengan teknologi baru, termasuk AI,” kata dia.
Lalu, guru harus inovatif dan eksperimental. Kritis dan reflektif, etis dan bertanggung jawab.
“Ajarkan dan tanamkan pada siswa agar etis dan bertanggung jawab saat menggunakan teknologi. Begitulah harusnya seorang guru untuk memastikan karakter anak semakin bagus,” ujar Arden.
Kemudian, guru harus mampu bersikap kolaboratif dan berfokus pada kemanusiaan.
Arden juga memaparkan prinsip penggunaan AI bagi guru dalam pembelajaran. Di antaranya, harus berpusat pada manusia. AI, kata dia, harus dipakai untuk mendukung dan memperkuat peran guru, bukan menggantikannya.
“Fokus utama pada kebutuhan dan perkembangan siswa,” katanya.
Prinsip lainnya, guru mesti mampu menjaga transparansi dan penjelasan, menjaga keadilan dan kesetaraan, memastikan privasi dan keamanan data, akuntabilitas dan sebagainya.
Arden juga memaparkan integrasi AI ke dalam pembelajaran dapat dilihat melalui beberapa kerangka teori.
Di antaranya model SAMR (substitution, augmentation, modification, redefinition). Ada juga teori Konstruktivisme, teori kognitif dan pembelajaran adaptif.
AI, terangnya, memiliki potensi besar untuk berfungsi sebagai asisten virtual yang sangat membantu guru dalam berbagai tugas. Membebaskan waktu guru untuk fokus pada interaksi yang lebih bermakna dengan siswa.
Seperti mengotomatisasi tugas administratif (penilaian otomatis, penjadwalan, manajemen absensi). Lalu, dapat mempersonalisasi pembelajaran, umpan balik instan, analisis data pembelajaran hingga pembuatan konten.
Indonesia Siap Songsong Era Ekonomi Berbasis Agentic AI
Oleh Juhi McClelland
KITA saat ini berada pada momen penting dalam perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence – AI).
Meskipun large language models telah banyak menarik perhatian, kini giliran agen AI — sistem yang mampu belajar, beradaptasi, dan bertindak secara mandiri dalam alur kerja yang kompleks — yang siap membawa inovasi fase selanjutnya di dunia usaha. Hasilnya, kita akan memasuki paradigma
ekonomi yang sepenuhnya baru.
Indonesia memiliki posisi yang kuat untuk memimpin pergeseran menuju Agentic AI dan mendorong pertumbuhan ekonomi.
Contohnya, keberhasilan dalam negeri seperti Tokopedia dan GoTo telah menunjukkan bagaimana layanan digital mampu mengubah kehidupan sehari-hari dan membuka pasar baru, baik bagi konsumen maupun pelaku UMKM.
Platform digital berkembang pesat berkat populasi yang mengedepankan mobile-first, tingginya penetrasi media sosial, dan kemauan untuk langsung melompati infrastruktur tradisional.
Salah satunya adalah sistem QRIS di Indonesia, yang telah membawa manfaat ekonomi nyata, seperti meningkatkan akses keuangan, mendorong inklusi digital, dan melahirkan model
bisnis baru.
Namun, di balik keberhasilan berbasis platform ini, muncul kesadaran baru: platform memang kuat, tapi tidak cukup untuk mendorong gelombang produktivitas tahap selanjutnya dan menciptakan keunggulan strategis yang berkelanjutan.
Kebangkitan Agentic AI: Dari Peran Pendukung Menuju Kemandirian Penuh
Agentic AI menandai pergeseran besar dari sistem yang hanya merekomendasikan atau
mengotomatisasikan tugas, menuju sistem yang mampu bertindak secara mandiri atas nama pengguna atau organisasi.
Berbeda dengan otomasi tradisional yang bersifat statis dan berbasis aturan tetap, agen
AI berorientasi pada tujuan, memahami konteks, dan mampu membuat keputusan secara dinamis dan real-time. Mereka menjadi batas baru atau frontier dalam kecerdasan perusahaan, melampaui sekadar efisiensi, menuju kemandirian sejati dalam pengambilan keputusan.
Dengan proyeksi lebih dari satu miliar aplikasi pada tahun 2028, Agen AI mulai muncul sebagai pengatur ideal, mampu menghubungkan berbagai sistem yang terpisah, mengelola alur kerja kompleks, dan memungkinkan operasi lintas platform yang mulus.
Di berbagai sektor seperti manufaktur, logistik, dan layanan keuangan, adopsi awal Agen AI sudah
menunjukkan hasil nyata.
Agen AI digunakan untuk mengalihkan jalur rantai pasok secara real-time, mengoptimalkan maintenance prediktif, serta melakukan deteksi penipuan, hingga memastikan
kepatuhan regulasi secara otomatis.
Sementara di sektor publik, Agen AI mulai membantu meningkatkan efisiensi, meningkatkan layanan masyarakat, dan mendukung operasional pemerintah, terutama di bidang-bidang di mana pengambilan keputusan oleh manusia sering mengalami kewalahan oleh kompleksitas data dan tekanan waktu.
Namun, jalan menuju penerapan agen AI secara luas bukanlah tanpa tantangan. Skalanya tidak cukup hanya mengandalkan inovasi, namun juga memerlukan infrastruktur digital yang kokoh, tata kelola data yang baik, kerangka akuntabilitas AI yang transparan, serta integrasi mendalam antara sistem lama dan modern.
Era AI yang mandiri bisa terhambat oleh sistem yang terputus, arsitektur data yang terfragmentasi, dan lemahnya protokol tata kelola. Ini bukanlah masalah yang bisa ditunda untuk diselesaikan nanti, semua harus diantisipasi dan ditangani sejak awal.
Singkatnya, agen AI tidak dapat beroperasi di atas fondasi yang rapuh. Tanpa sistem yang terintegrasi, data yang bersih dan mudah diakses, serta tata kelola yang dapat ditegakkan, risiko dari penerapan agen AI bisa jadi lebih besar daripada manfaatnya.
Indonesia, meskipun telah menunjukkan kemajuan pesat dalam inovasi digital, kini harus mempercepat upaya pada aspek-aspek mendasar ini agar dapat memosisikan diri sebagai pemimpin dalam ekonomi dengan Agentic AI yang sedang berkembang.
Dari Ekonomi Berbasis Platform ke Platform dengan Agentic AI
Evolusi ini bukan proses yang binary. Dalam 3–5 tahun ke depan, ekonomi berbasis platform masih akan menjadi pendorong utama pertumbuhan jangka pendek, terutama di sektor yang berhadapan langsung dengan konsumen dan pelaku UMKM.
Platform-platform ini sudah mengalami peningkatan skala, menghasilkan pendapatan, dan mendapat keuntungan dari efek jaringan yang kuat.
Namun dalam 5–10 tahun ke depan, Agentic AI diperkirakan akan menjadi kekuatan yang lebih disruptif.
Mengapa? Karena tantangan berikutnya bukan lagi sekadar akses, melainkan produktivitas. Jika platform selama ini membantu dalam hal pencarian dan konektivitas, maka Agentic AI mampu mengatasi kompleksitas seperti dengan mengoordinasikan rantai pasok, mengoptimalkan performa aset, dan mempercepat pengambilan keputusan maupun tindakan.
Transformasi sesungguhnya adalah konvergensi antara kedua model ini.
Bayangkan sebuah platform finansial yang tidak hanya menawarkan layanan kredit terintegrasi, tetapi juga menggunakan agen AI untuk mengelola arus kas secara proaktif, membuat laporan kepatuhan regulasi, dan mendiversifikasi portofolio secara otomatis bagi jutaan pelaku UMKM.
Atau platform ride-hailing di mana logistik, penetapan harga, dan optimasi rute sepenuhnya dikoordinasikan oleh agen-agen otonom yang belajar secara real-time.
Pendekatan hybrid dengan platform yang diperkuat dengan agentic AI ini, berpotensi membuka efek
pertumbuhan berlipat ganda di pasar Asia Pasifik yang beragam.
Tantangan Integrasi dan Penambahan Kompleksitas dari AI
Meskipun visinya sangat menjanjikan, jalan untuk mewujudkannya tidaklah mudah. Bahkan sebelum AI hadir, integrasi lintas ekosistem bisnis—melalui API, alur kerja, dan lapisan data—sudah menjadi tantangan besar.
Kini, dengan diperkenalkannya sistem AI, khususnya agen otonom, kompleksitasnya
semakin meningkat.
Banyak perusahaan Indonesia masih dalam tahap modernisasi aplikasi lama dan migrasi pekerjaaannya ke cloud. Tanpa kontrol yang terpusat, skalabilitas platform atau AI otnomom justru bisa menjadi beban, bukan keuntungan.
Namun Agentic AI juga bisa menjadi solusi. Contohnya, platform integrasi cerdas yang kini diperkuat agen AI dapat membantu mengatur aliran data dan logika aplikasi dengan pengawasan manusia yang minimal.
Sebuah studi terbaru dari Forrester menemukan bahwa perusahaan yang menggunakan Agentic AI untuk integrasi aplikasi dan API memperoleh ROI sebesar 176 persen dalam tiga tahun.
Menatap Masa Depan: Peluang Strategis bagi Indonesia
Indonesia berada di momen yang bersejarah. Dengan populasi yang melek digital, kemitraan publikswasta yang suportif, serta ekosistem startup dan pusat inovasi yang terus berkembang, Indonesia berada dalam posisi yang sangat baik untuk menjadi pemimpin, bukan hanya dalam adopsi platform digital, namun juga dalam inovasi Agentic AI.
Jalan ke depan tidak akan bebas dari tantangan—dari ketimpangan digital dan kerangka regulasi, hingga pengembangan talenta dan penerapan AI yang etis.
Namun, peluangnya juga sangat besar: dari layanan kesehatan dan logistik yang lebih cerdas, hingga pertanian yang berkelanjutan dan inklusi finansial yang lebih luas.
Saat skala platform bertemu dengan otonomi AI, pemenangnya adalah mereka yang bisa memimpin satu orchestra yang bervariasi — bukan sekadar menghubungkan.
Dengan ini, mereka bukan hanya mendefinisikan ulang bisnis—tetapi juga menciptakan aturan main baru bagi ekonomi masa depan.
*) Juhi McClelland adalah Managing Partner, IBM Consulting Asia Pacific. Artikel ini sepenuhnya pendapat penulis.
TRIBUNPEKANBARU .COM, PEKANBARU – Sebanyak 550 guru se-Provinsi Riau menghadiri Ngobrol Pintar Artificial Intelligence (AI) dan Pendidikan yang digelar PT Telkom Indonesia bersama Tribun Pekanbaru di Furaya Hotel Pekanbaru, Jumat (25/7/2025).
Kegiatan ini menghadirkan beberapa materi ahli. Seperti Guru Besar Universitas Riau (Unri), Prof. Dr. Afrianto Daud, S.Pd., Kaprodi S1 Informatika Telkom University, Dr. Erwin Budi Setiawan, S.Si, M.T serta Sekretaris Dinas Pendidikan, Dr Arden Simeru, M.Kom.
General Manager (GM) Witel Riau PT Telkom Indonesia, Susila Shane Sihombing ST.MM berterima kasih kepada guru yang hadir dalam acara ini.
Menurut dia, dulu sering dikenal kalimat rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya dan sebagainya.
Namun kini, dua kalimat itu saja sudah tak cukup lagi.
“Sekarang, ada tambahan kalimat jika seseorang ingin mencapai kebaikan. Yaitu, menggunakan AI pangkal lihai,” tutur Susila.
Orang lihai, tambahnya, adalah orang yang mahir atau memiliki kemampuan ahli. Makanya, di era digital sekarang, jika menggunakan AI, bisa membuat tiap orang menjadi ahli.
AI ini, tuturnya, berfokus pada sistem komputer yang mampu meniru kecerdasan manusia. AI punya algoritma yang dapat memprediksi, memberi saran, menyelesaikan masalah dan sebagainya.
Kalau sudah menggunakan AI, tak ada lagi peribahasa berguru kepalang ajar atau belajar yang tanggung. Karena, apapun yang ingin dipelajari dapat dilakukan dengan AI.
Dia juga mengapresiasi narasumber yang hadir dalam kegiatan ini. Menurut dia, narasumber yang hadir adalah pakar di bidang teknologi. Diharap, materi yang dipaparkan dapat memberi pencerahan kepada seluruh peserta.
Sementara itu, Plt. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Riau, H. Erisman Yahya, MH dalam sambutannya memberi apresiasi pada Telkom dan Tribun Pekanbaru yang menggelar Ngobrol Pintar.
Dia berharap, kegiatan ini mampu mendorong peserra mengajar lebih cerdas di era digital.
Momen luar biasa ini harus dimanfaatkan dan dimaksimalkan untuk kemajuan dunia pendidikan di Riau.
Erisman juga berpesan pada peserta yang juga guru agar tidak gagap teknologi atau Gaptek.
“Kita harus update pada perkembangan teknologi. Kalau kita Gaptek, tentu bapak ibu akan kesulitan menyelami dunia pendidikan,” ujarnya.
Dia juga bercerita di zaman dulu biasanya siswa belajar dengan kapur dan papan tululis hitam. Tapi sekarang, sulit mendapat papan tulis seperti dulu.
Banyak sekolah juga sudah menerapkan digitalisasi. Anak didik juga sudah bisa belajr sendiri dan sumber belajar lain dari internet.
“Semua serba digitalisasi,” paparnya.
Hal yang menjadi tantangan adalah transformasi digital. Apalagi, masih ada yang tidak mau berubah. Padahal, seharusnya pendidik mampu menyesuaikan diri dengan kondisi di eranya.
“Kita seharusnya tidak boleh ketinggalan teknologi. Tapi harus mampu menggunakan teknologi untuk kebaikan,” ujar dia.
Ajang Indonesia Future of Learning Summit (IFLS), yang sebelumnya sudah tiga kali dilaksanakan, kembali digelar dengan memfokuskan pembahasan pada kecerdasan buatan (AI) dalam sektor pendidikan.
Pameran pendidikan yang dihelat oleh PT Reformasi Generasi Indonesia (REFO) ini akan diselenggarakan pada Sabtu (23/8) pukul 08.00–17.00 WIB, di Episode Gading Serpong Hotel.
IFLS 2025, dengan mengajak lebih dari 300 pemangku kepentingan pendidikan dari seluruh Indonesia, mengusung tema “AI-ducated: Unlocking The Future with AI Skills and Beyond.” Ini mencerminkan era baru saat menjadi terdidik berarti memahami kekuatan dan dampak AI, mampu beradaptasi dengan percaya diri, serta bijak dalam memanfaatkan AI untuk kebaikan umat manusia.
Hal ini sejalan dengan visi pendiri PT REFO, Pepita Gunawan, untuk menghadirkan konten pendidikan yang berkualitas, kontekstual, dan mudah diakses.
“Menjadi AI-ducated berarti memahami kapan dan untuk apa kita menggunakan AI. Tentunya dengan tujuan baik dan memperkaya kehidupan manusia,” ujar Pepita Gunawan.
Ia juga menegaskan bahwa merangkul AI bukan sekadar mengikuti tren, tetapi merupakan bentuk tanggung jawab.
“Kita tak bisa memprediksi masa depan, tapi bisa mempersiapkan generasi untuk memimpinnya lewat pendidikan yang berpihak pada kemanusiaan,” tambahnya.
Menurutnya, IFLS 2025 bukan sekadar konferensi, melainkan juga sebuah ruang untuk berbagi pengetahuan, berdialog terbuka, dan merumuskan visi bersama demi terciptanya sistem pendidikan Indonesia yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.
Mengutip pepatah Afrika ‘it takes a village to raise a child’, Pepita menekankan bahwa membesarkan generasi penerus merupakan tanggung jawab bersama. Membutuhkan kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045.
“Melalui IFLS 2025 ini saya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berkontribusi membangun masa depan pendidikan Indonesia. IFLS 2045 bukan event biasa, ini adalah sebuah pergerakan, ikhtiar kolektif untuk membangun bangsa,” kata Pepita.
Sesi-sesi dalam IFLS 2025
Event ini memiliki beberapa sesi dengan fokusnya masing-masing. Berikut rinciannya:
• Where is School in the Key Skills vs AI Saga?
Sesi ini mengungkap wawasan dari pemimpin sekolah visioner tentang menyeimbangkan AI dengan pengembangan keterampilan masa depan, serta menetapkan batasan jelas bagi siswa, guru, dan orang tua.
• Ter-AI-ducated: AI to Support Mastery of Key Skills
Dengan format demo slam , sesi ini menampilkan dua pendidik yang menggunakan AI untuk mendukung pengembangan dan penguasaan keterampilan kunci siswa.
• Finding the Balance at Home
Sesi ini berbicara soal refleksi jujur orang tua tentang tantangan membesarkan anak di era digital dan AI, dilengkapi strategi praktis dari sisi psikologis untuk membentuk kebiasaan teknologi yang sehat di rumah.
• The Most Important Skills for The Future
Sesi berbasis data ini mengungkap keterampilan masa depan yang kritis tetapi kerap diabaikan oleh institusi pendidikan, serta menyoroti keterampilan lama yang kini mulai kehilangan relevansinya.
• AI and Beyond
Tema ini mengeksplorasi manfaat AI dalam dunia pendidikan dan menyoroti nilai-nilai yang lebih dalam serta tujuan jangka panjang di balik penggunaannya, mendorong adopsi AI dengan niat baik, empati, dan klaritas.
Pembicara-pembicara dalam IFLS 2025
Sementara itu, para pembicara dengan berbagai latar belakang dan kepakaran akan hadir di event ini. Berikut daftarnya:
• Dr. Iwan Syahril (Global Advisory Council, Teach for All).
Diakui oleh UNESCO, UNICEF, dan World Bank, Iwan adalah pemimpin transformasi pendidikan yang menekankan pentingnya human agency dan kepemimpinan berempati dalam era AI.
• Okki Sutanto
Penulis dan pembicara dengan latar psikologi yang menyoroti isu kemanusiaan, teknologi, dan pendidikan. Okki menekankan pentingnya membangun ketahanan psikososial anak di tengah digitalisasi, serta menjaga empati dan kemampuan berpikir kritis.
• Claire Simms (Assistant Principal-Innovation and Technology, St. Joseph’s Institution International Elementary School Singapore)
Ia merupakan pemimpin pendidikan asal Inggris dengan lebih dari 25 tahun pengalaman di Asia. Dikenal atas pendekatannya yang membumi dan berpusat pada siswa. Di SJI International, Claire memimpin integrasi AI berbasis nilai untuk memberdayakan guru dan siswa.
• Haoken Huoermaiti, Ed. D. (IBEN Consultant & SVTL, International Baccalaureate, IB Diploma Program Coordinator, Sinarmas World Academy)
Pendidik International Baccalaureate (IB) berpengalaman ini juga merupakan advisor bagi sekolah-sekolah IB terkemuka di Asia-Pasifik. Haoken juga aktif sebagai konsultan, pemimpin program, dan penguji IB.
Sebagai pencetus program Desain dan Teknologi, Haoken menerapkan integrasi STEM dan AI dalam pembelajaran. Sebagai ayah dari penerima beasiswa Harvard, Haoken menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan keluarga dalam membentuk karakter dan ketahanan siswa.
Dia merupakan pendidik inovatif dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, dikenal atas kepemimpinannya dalam integrasi teknologi di sekolah negeri. Lulusan IKIP Surabaya dan ITS ini telah menerima berbagai penghargaan atas kontribusinya dalam pendidikan.
• Mindy Slaughter (Elementary Learning Innovation and Technology Coach, Jakarta Intercultural School)
Pendidik dan Pemimpin Lokakarya IB dengan pengalaman lebih dari 15 tahun ini dikenal atas perannya dalam mendorong integrasi AI yang bertanggung jawab.
Di JIS, Mindy memanfaatkan AI untuk pembelajaran diferensiatif dan umpan balik real-time.
• Hanna Christina Sondakh (Learning Innovation & Technology Coach, Jakarta Intercultural School Elementary)
Pendidik STEAM dan pelatih teknologi ini berpengalaman dalam merancang pembelajaran berbasis inkuiri yang terintegrasi AI dan pemikiran desain. Hanna aktif mengeksplorasi pemanfaatan teknologi seperti Flint AI untuk mendemokratisasi akses pendidikan.
• Yuliana, M.Pd. (Director of IPEKA International Schools)
Pendidik dan pemimpin kurikulum berbasis iman ini berpengalaman lebih dari 20 tahun di pendidikan Kristen. Yuliana kini berfokus pada pengembangan profesional guru dan kepala sekolah.
• Lee Ting Jian (Head of School, Jakarta Nanyang School)
Dengan pengalaman lebih dari 20 tahun, Ting Jian memimpin transformasi JNY melalui integrasi teknologi, literasi AI, dan fokus pada kesejahteraan serta pembelajaran masa depan.
ZONAGADGET – Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar menegaskan bahwa pembangunan ekosistem kecerdasan buatan (AI) di Indonesia harus dilakukan secara berkesinambungan, bukan sekadar seremonial.
Hal ini disampaikan dalam acara peluncuran Semesta AI, inisiatif AI terbaru hasil kolaborasi Lintasarta dengan Nvidia.
“Pembangunan AI tidak bisa sekadar seremonial. Apa yang kita lakukan harus berkesinambungan. Kita sudah tidak punya waktu di tengah digitalisasi yang sangat cepat,” ujar Irene dalam sambutannya, Kamis (24/7/2025).
Irene menekankan bahwa langkah paling penting dalam pengembangan AI adalah membangun fondasi yang kuat. Menurutnya, pengembangan teknologi tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru atau hanya mengejar tren.
“Mulailah dari yang dasar. Setelah itu, bangun perlahan, bata demi bata. Saya yakin, dengan cara ini Indonesia bisa membangun fondasi (AI) yang sangat kuat,” tambahnya.
Ia menilai, pendekatan ini akan membantu Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga produsen inovasi AI di masa depan.
Tantangan infrastruktur
Meskipun perkembangan AI di Indonesia kian pesat, Irene melihat masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah infrastruktur digital, terutama jaringan internet yang belum merata hingga ke pelosok daerah.
“Jika internet saja belum tersedia dengan baik, bagaimana AI bisa diakses secara luas oleh masyarakat di berbagai wilayah?” ucap Irene.
Selain itu, biaya investasi peralatan AI menjadi hambatan tersendiri, terutama bagi pelaku industri kreatif seperti animator atau pengembang aplikasi.
“Animator, misalnya, takut berinvestasi pada hardware karena merasa teknologi cepat usang dan harganya mahal. Padahal, tidak selalu begitu. Jadi, ini adalah gap yang harus kita atasi agar teknologi bisa segera dimanfaatkan oleh banyak orang,” jelas Irene.
Acara peluncuran Semesta AI ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk mengatasi tantangan tersebut.
Irene menegaskan, pembangunan AI tidak hanya tentang teknologi semata, tetapi juga tentang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“AI harus menjawab kebutuhan sehari-hari. Mulai dari yang paling sederhana, kemudian kita akselerasi dengan pondasi yang kuat,” ujarnya.
Menjawab kebutuhan talenta digital
Sementara itu, Bayu Hanantasena selaku President Director dan CEO Lintasarta dalam kesempatan yang sama menilai tantangan besar dalam membangun ekosistem AI di Indonesia tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga ketersediaan talenta digital.
Bayu optimistis masalah talenta digital ini akan teratasi, salah satunya melalui kolaborasi dalam pengembangan ekosistem AI, seperti program Semesta AI yang digelar oleh Lintasarta ini.
Program Semesta AI merupakan bagian dari gerakan AI Merdeka yang dijalankan Lintasarta bekerja sama dengan Nvidia, melalui program Inception-nya untuk startup.
Kolaborasi Semesta AI bersama Nvidia Inception memberikan manfaat sebagai berikut:
Pendampingan langsung dari para pakar industri dan profesional AI.
Akses ke teknologi komputasi akselerasi NVIDIA terkini.
Pelatihan teknis dan dukungan pengembangan solusi AI.
Peluang kolaborasi dengan perusahaan-perusahaan terkemuka dalam jaringan
Lintasarta.
Voucher GPU Merdeka senilai hingga USD 15.000 untuk proyek AI terbaik.
Sejak pendaftaran dibuka pada akhir 2024, Semesta AI mendapat sambutan positif dari
ekosistem startup tanah air. Tercatat 155 startup dari berbagai daerah di Indonesia telah mendaftar.
Setelah proses seleksi, 20 startup terpilih untuk mengikuti program mentoring intensif yang difasilitasi oleh Lintasarta. Kemudian 30 peserta lain akan mendapatkan pendampingan tekhnis untuk pengembangan solusi berbasis AI.
Pernah nggak sih kamu kepikiran buat mulai bisnis, tapi takut kalah saing sama teknologi? Tenang, justru sekarang saat yang tepat buat berdamai sama AI dan manfaatin potensinya!
Di 2025, bisnis digital yang didukung teknologi AI makin menjanjikan, bahkan buat kamu yang baru mau mulai. Yuk, intip beberapa peluang yang bisa kamu coba biar tetap cuan di era serba otomatis ini!
1. AI Content Creator: Bikin Konten Lebih Cepat, Lebih Cuan
Punya kemampuan bikin konten tapi sering kehabisan ide? Di 2025, tools AI seperti ChatGPT, Notion AI, dan Jasper bisa bantu kamu jadi content creator yang lebih produktif. Kamu bisa menawarkan jasa penulisan artikel, caption media sosial, bahkan naskah video dengan bantuan AI.
Peluangnya besar banget karena makin banyak UMKM, influencer, dan brand yang butuh konten cepat dan terjangkau. Yang penting, kamu tetap kontrol kualitas dan kasih sentuhan personal supaya hasilnya nggak terasa “robotik”.
2. Jasa AI Prompting: Skill Baru yang Lagi Dicari Banyak Orang
Percaya atau nggak, jadi “tukang bikin prompt” alias AI prompter sekarang bisa jadi ladang cuan. Banyak orang masih bingung gimana cara ngobrol sama AI biar hasilnya maksimal. Nah, kamu bisa bantu bikin prompt terbaik buat kebutuhan desain, konten, coding, bahkan skrip film!
Skill ini masih baru, tapi potensinya gede banget di dunia kerja kreatif dan digital. Kamu bisa jual jasa ini di platform freelance seperti Fiverr atau Upwork, atau tawarkan lewat media sosial.
3. Desain Visual Pakai AI: Cepat, Kreatif, Tetap Estetik
Buat kamu yang suka desain, AI kayak Midjourney, Canva AI, atau Adobe Firefly bisa jadi sahabat baru. Kamu tetap butuh sense of art, tapi AI bakal bantu mempercepat proses kreatifmu. Kamu bisa bikin desain logo, branding kit, konten promosi, bahkan digital art untuk dijual di platform seperti Etsy.
Bisnis ini cocok banget buat Gen Z yang mau cuan dari kreativitas. Dengan strategi pemasaran yang pas, kamu bisa dapetin klien dari lokal sampai luar negeri.
4. Bisnis Produk Digital Berbasis AI: Dari E-Book sampai Template
Produk digital adalah model bisnis yang fleksibel dan tahan banting. Nah, dengan bantuan AI, kamu bisa bikin e-book, template bisnis, planner digital, atau worksheet dalam waktu yang lebih singkat.
Produk-produk ini bisa kamu jual di platform seperti Gumroad, Notion, atau bahkan lewat Instagram. Modalnya kecil, tapi bisa dijual berkali-kali. Cocok banget buat kamu yang pengin punya passive income.
5. AI-Based Virtual Assistant: Solusi Cerdas untuk Pebisnis Sibuk
Banyak pelaku bisnis online yang butuh bantuan buat urusan harian, tapi belum bisa rekrut admin full time. Nah, kamu bisa hadir sebagai AI-powered virtual assistant—nggak cuma bantu jawab chat, tapi juga pakai AI buat nyusun laporan, jadwalin konten, atau analisis data sederhana.
Kombinasi skill digital dan tools AI bikin kamu jadi VA andalan dengan bayaran yang oke. Apalagi tren kerja remote dan solopreneur makin naik daun di 2025.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kita punya dua pilihan: ikut tumbuh bareng atau cuma jadi penonton. Nggak perlu langsung jadi ahli, yang penting berani mulai dan terus belajar. Siapa tahu, peluang bisnis digital berbasis AI ini justru jadi jalan kamu menuju masa depan yang kamu impikan.
JAKARTA, ZONAGADGET–Gubernur Jakarta Pramono Anung menilai teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dapat menjadi solusi untuk mempercepat pelayanan publik dan memangkas birokrasi yang berbelit di Jakarta.
Hal itu ia sampaikan saat membuka Workshop Penyusunan Roadmap Implementasi AI di Ruang Pola Balai Kota Jakarta, Kamis (24/7/2025).
“Birokrasi kita harus bisa mampu untuk beradaptasi dengan perubahan zaman ini. Dengan artificial intelligence ini. Jangan kemudian bermain Artificial Intelligence hanya wajahnya Pramono Anung bisa ditempelin untuk acara-acara apa saja,” kata Pramono.
Teknologi AI untuk permudah layanan
Pramono menegaskan, seluruh aparatur Pemprov Jakarta harus siap beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Ia meyakini banyak urusan warga yang bisa diselesaikan lebih cepat melalui sistem berbasis AI.
Teknologi ini, kata dia, bisa dimanfaatkan untuk berbagai layanan, mulai dari pembuatan KTP, SIM, paspor, hingga pengajuan bantuan pendidikan seperti Kartu Jakarta Pintar (KJP) dan Kartu Jakarta Mahasiswa Unggul (KJMU).
Termasuk pula dalam proses perizinan yang selama ini dikenal rumit dan lambat, seperti izin mendirikan bangunan (IMB).
Pramono mencontohkan pengalaman seorang warga yang harus menunggu 12 tahun untuk memperoleh izin bangunan.
Namun setelah ditangani dengan sistem yang lebih efisien, izin tersebut bisa keluar hanya dalam dua minggu.
“Kenapa ini saya sampaikan? Di era artificial intelligence masih ada ngurus perizinan sampai 12 tahun. Saya bilang stop,” ujar dia.
Sistem lalu lintas pintar sudah diterapkan
Pramono juga menyampaikan, Pemprov Jakarta sudah mulai menerapkan teknologi AI dalam sektor transportasi, salah satunya melalui Intelligent Traffic Control System atau sistem pengatur lalu lintas pintar.
Saat ini, tercatat ada 65 titik lampu lalu lintas di Jakarta yang telah menggunakan teknologi tersebut. Namun, menurut Pramono, jumlah itu belum ideal.
“Ini saja secara signifikan dari survei-survei yang ada, tidak menempatkan Jakarta menjadi kota termacet di Indonesia. Sekarang sudah nomor lima,” ujarnya.
Ia mengatakan, jumlah titik yang ideal untuk penerapan sistem ini agar berdampak maksimal adalah sekitar 300 titik.
Belajar AI dari anak
Dalam kesempatan itu, Pramono juga mengungkapkan dirinya banyak belajar mengenai AI dari putrinya yang merupakan lulusan program master bidang AI di Columbia University, Amerika Serikat.
“Dia menyampaikan begini. Prinsipnya dari artificial intelligence itu, satu data, kedua pola, ketiga ada mesin yang bisa menangkap itu. Dan kemudian inilah yang disarankan atau dilakukan yang bisa secara publik bermanfaat bagi masyarakat,” kata Pramono.
Pramono berharap, pemanfaatan AI dapat mempercepat transformasi layanan publik di Jakarta menjadi lebih cepat, efisien, dan tidak menyulitkan warga.
“Inilah yang menurut saya akan menjadi masa depan pemerintahan di republik ini. Kalau kita mau maju, maka kita harus membuka diri terhadap itu,” tuturnya.
Ada pemandangan seru di kantor ZONAGADGETpada Sabtu sore, 19 Juli 2025. Kantor mendadak dipenuhi oleh lebih dari 120 pekerja pemula (first jobber) yang sedang bersiap upgrade skill, ingin tahu lebih banyak tentang kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) yang katanya bisa jadi “teman kerja”.
Peserta mengantre di meja registrasi sejak jam 14.00 WIB untuk ikut langsung keseruan ZONAGADGETHangout bersama Lenovo. Event ini mengajak peserta nongkrong, untuk bermain dan belajar bagaimana AI di laptop Lenovo AI PC bisa dijadikan partner kerja.
Di dunia kerja yang semakin kompetitif, para first jobber memang dihadapkan pada dua persimpangan jalan: tergantikan oleh kecerdasan buatan, atau berkolaborasi dengan AI untuk lebih produktif dan kreatif sehingga bisa mendapatkan hasil yang lebih powerfull.
Inilah yang diangkat dalam ZONAGADGETHangout x Lenovo dengan tema besar “From Zero to AI Hero”, sebuah kolaborasiZONAGADGET dan Lenovo untuk menghadirkan pengalaman AI dalam bentuk nyata dan menyenangkan, membantu karyawan muda mengeksplorasi tantangan serta peluang di era AI, upgrade skill dengan memanfaatkan tools AI, serta menambah wawasan dari para pembicara AI expert.
Dalam ZONAGADGETHangout bersama Lenovo, para first jobber tidak hanya dijejali oleh pengetahuan seputar AI, tapi mencoba langsung fitur-fitur AI yang ada di laptop Lenovo Copilot+ PC yang sudah memiliki performa NPU lebih dari 40 TOPS.
Begitu proses registrasi selesai, para peserta diajak ke ruangan khusus untuk ikut AI Challenge. Ini bukan sembarang tantangan, karena mereka diminta untuk bermain dengan aplikasi Microsoft Copilot, fitur cerdas yang bisa menghasilkan desain poster dari prompt atau perintah teks.
Bayangkan saja, kamu hanya perlu menuliskan deskripsi menarik yang di dalamnya terdapat tiga kata kunci: karyawan, deadline dan Lenovo. Dalam hitungan detik, sebuah visual keren langsung muncul di layar. Ada yang bikin poster bertema futuristik, ada juga yang menambahkan sentuhan budaya lokal, semua bebas bereksplorasi.
Di sesi ini, para peserta tampak antusias untuk menuliskan prompt sebaik-baiknya. Hasil gambar lalu dinilai oleh juri untuk kemudian dipilih yang terbaik. Tampak sederhana, tapi faktanya tidak semua peserta dapat melakukannya. Sebab, hasil gambar akan sangat bergantung pada bagaimana seseorang melakukan prompt dengan baik.
AI Talk dan THE PLAIGROUND
Setelah semua peserta selesai membuat generate image di Copilot AI, acara masuk ke sesi inti: Sesi AI Talk “From Zero to AI Hero: Becoming a First Jobber Superpower with Lenovo AI PC”, bincang asyik seputar AI bersama AI Expert.
Sesi ini diisi oleh dua narasumber utama dengan pendekatan berbeda tapi saling melengkapi, hadir untuk membagikan sudut pandangnya. Mereka adalah Catur Nugroho Pre-Sales Development, Lenovo Indonesia; dan Syammas P. Syarbini, AI Content Creator yang juga dikenal sebagai Dokter Canva. Acara dipandu oleh Gisela Thesa sebagai moderator.
Dalam sesi ini, para narasumber berbagai insight kepada generasi muda tentang tantangan kerja modern dan bagaimana AI dapat menjadi peluang. Mereka juga menginspirasi peserta untuk memanfaatkan teknologi AI, khususnya di Lenovo AI PC yang bukan hanya sekadar mesin biasa, tapi sebuah perangkat pintar yang bisa dijadikan partner kerja.
Catur Nugroho dari Lenovo Indonesia yang mengupas bagaimana laptop Lenovo AI PC bisa menjadi lebih dari sekadar alat kerja. Lenovo AI PC merupakan perangkat yang masuk dalam lini Copilot+ PC. Artinya, laptop ini sudah memenuhi syarat yang ditentukan oleh Microsoft untuk menjadi Copilot+ PC, seperti NPU (Neural Processing Unit) dengan performa di atas 40 TOPS (Trillions of Operations Per Second), RAM 16 GB, dan penyimpanan SSD minimal 256 GB.
Sebagai Copilot+ PC, Lenovo AI PC juga hadir dengan fitur pintar Microsoft Copilot yang dapat membantu pengguna menyelesaikan tugas harian. Ada CoCreator, Windows Studio Effects, hingga Live Captions.
Fitur yang saat ini menjadi andalan di Lenovo AI PC adalah AI Now. AI Now merupakan software berbasis kecerdasan buatan yang dapat menjadi pusat kontrol laptop, juga alat produktivitas. Beberapa fitur yang ada di AI Now termasuk Local Chat, Knowledge Assistant, PC Assistant, hingga Cloud Chat. Beberapa fitur bisa dijalankan tanpa perlu koneksi internet.
“Kami menyediakan software AI (Lenovo AI Now) sudah terintegrasi, artinya gak usah download lagi. Itu sudah terinstal dan sesuai kebutuhan. AI Now ada di semua lini Lenovo AI PC,” papar Catur.
Catur mendemokan kemampuan AI Now dalam sesi THE PLAIGROUND, sebuah showcase interaktif yang menampilkan inovasi terbaru di bidang AI. Di sini, ruangan disulap jadi arena eksplorasi, semacam laboratorium kecil tempat Lenovo memamerkan teknologi AI terbarunya.
Salah satu fitur AI Now yang Catur pamerkan adalah Knowledge Assistant. Fitur ini memungkinkan pengguna bisa mengakses informasi, mengajukan pertanyaan hingga merangkum konten serta file yang ada di perangkat tanpa harus membuka aplikasi tambahan.
Fitur ini bahkan bisa digunakan untuk mencari halaman khusus pada file PowerPoint yang memiliki kaitan dengan kata kunci yang diberikan. Seperti misalnya, dengan hanya menuliskan perintah “please find the AI PPT” di kolom chat, AI akan membantu mencari dan memberikan sejumlah file atau document yang berhubungan dengan AI.
Selain itu, AI Now juga bisa dimanfaatkan untuk membantu pengguna mengubah dokumen jadi materi pertanyaan. Catur bilang, fitur ini bisa digunakan oleh tenaga pengajar yang ingin menyusun soal ujian.
Fitur lain AI Now yang turut dipamerkan adalah PC Assistant. Fitur ini dapat digunakan untuk memeriksa status perangkat dengan lebih cepat dan mudah, mulai dari hardware, sistem operasi, BIOS, baterai hingga sejumlah informasi perangkat lainnya yang biasanya hanya bisa ditemukan ketika pengguna menjalankan alat diagnostik bawaan laptop.
Pengguna juga dapat mengaktifkan berbagai fitur spesifik di perangkatnya hanya melalui perintah teks, seperti menyalakan Eye Care Mode semudah menulis “Turn on Eye Care Mode”. Ini termasuk menyalakan Battery Saver Mode, Night Mode, Adaptive Power Mode, Performance Mode, hingga Dolby Mode.
Kalau Catur menjelaskan fitur AI secara general, Syammas adalah orang yang telah merasakan langsung manfaat dari laptop Lenovo AI PC. Dengan gaya bercerita yang ringan dan relate, Syammas menjelaskan bagaimana fitur-fitur AI sudah jadi bagian hidupnya sehari-hari.
Syammas menunjukkan secara langsung bagaimana dirinya menggunakan AI di Lenovo untuk menyusun strategi konten. Semua terasa dekat dan membumi, seolah apa yang dia lakukan bisa dengan mudah kita tiru, hanya dengan membuka laptop dan mulai mencoba. Berkat Lenovo AI PC, dia mengaku bisa melakukan kerja cerdas yang memang dibutuhkan di dunia kerja modern.
Dari menulis ide konten sampai mengedit visual, Syammas merasa terbantu, terutama karena dia juga dulunya seorang first jobber yang harus serba mandiri. Termasuk fitur AI Now dan Copilot yang menurutnya dapat membantu dalam workflow menciptakan desain menggunakan Canva AI.
Dalam sesi AI Talk dan THE PLAIGROUND, dia juga berbagi tips cara prompting yang bagus untuk menghasilkan output kerja termasuk desain gambar yang berkualitas.
“Kalau kita malas prompt, hasilnya juga malas,” kata Syammas.
Baik Catur maupun Syammas sepakat, saat ini first jobber harus mulai beradaptasi dengan teknologi yang berkembang pesat. Salah satunya dengan mulai mencoba AI, bekerja berkolaborasi dengan AI untuk mendapatkan hasil yang lebih powerfull.
Hari itu, kantor ZONAGADGET jadi ruang belajar dan bermain yang tak biasa. Semua yang hadir pulang dengan membawa sesuatu, bukan cuma goodie bag atau foto-foto Instagramable, tapi juga semangat baru untuk menjadikan teknologi bukan sekadar alat, melainkan mitra dalam meraih potensi.
Dalam dunia kerja yang semakin cepat dan dinamis, menjadi AI Hero bukanlah mimpi yang jauh. Berkat dukungan teknologi yang tepat, seperti yang ditawarkan Lenovo AI PC, siapa pun bisa memulainya, termasuk para first jobber, guru, UMKM, atau kamu yang sedang mencari pijakan pertama di dunia kerja.