ZONAGADGET – Tidak semua HP atau smartphone berbasis Android kebagian Android 16. Dalam hal ini, pengguna smartphone Android merek Oppo kiranya perlu mengetahui daftar HP Oppo yang tidak bisa update Android 16.
Sistem operasi terbaru besutan Google itu sudah dirilis sejak Juni kemarin. Setelah dirilis, sesuai tradisi sebelumnya, HP pertama yang mendapatkan pembaruan Android 16 adalah Google Pixel.
Setelahnya, update Android 16 akan digelontorkan ke smartphone-smartphone merek lain, termasuk HP Oppo. Akan tetapi, tak semua HP Oppo bakal kebagian update Android 16. Lantas, apa saja HP Oppo yang tidak dapat update Android 16?
Daftar HP Oppo yang tidak bisa update Android 16
HP Oppo yang tidak bisa update Android 16 merupakan model-model HP yang masa dukungan pembaruan perangkat lunaknya sudah habis. Misalnya, Oppo Reno 10 yang rilis dengan Android 13 dan hanya mendapat dukungan OS sampai dua tahun.
Artinya, Oppo Reno 10 hanya dapat update ke Android 14 dan Android 15. Selain itu, model HP keluaran lebih lama dari Oppo Reno 10 bisa dipastikan tidak kebagian Android 16. Adapun daftar HP Oppo yang tidak kebagian Android 16 adalah sebagai berikut:
Oppo Find N
Oppo Find X5
Oppo Find X5 Pro
Oppo Find X5 Lite
Oppo Reno 10
Oppo Reno 10 Pro
Oppo Reno 10 Pro Plus
Oppo Reno 9
Oppo Reno 9 Pro
Oppo Reno 9 Pro Plus
Oppo Reno 8
Oppo Reno 8 Pro
Oppo F23
Oppo F21 Pro
Oppo F21 Pro 5G
Oppo K11
Oppo K11x
Oppo K10
Oppo K10 Pro
Oppo K10x
Oppo Pad 2
Oppo Pad Air
Oppo Pad Air 2
Oppo Pad Neo
Oppo A3
Oppo A3 Pro
Oppo A3x
Oppo A2
Oppo A2 Pro
Oppo A2x
Oppo sebenarnya belum merilis daftar resmi smartphone yang tidak bisa update Android 16. Namun, daftar HP Oppo yang tidak kebagian Android di atas dapat diketahui dengan melihat batas masa dukungan pembaruan perangkat lunaknya.
Jika masa dukungannya habis, HP Oppo tidak akan bisa mendapatkan update Android 16. Itulah sejumlah HP Oppo yang tidak bisa update Android 16.
Dapatkan update berita teknologi dan gadget pilihan setiap hari. Mari bergabung di Kanal WhatsApp KompasTekno. Caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VaCVYKk89ine5YSjZh1a. Anda harus install aplikasi WhatsApp terlebih dulu di ponsel.
ZONAGADGET Bayangkan, anak atau remaja Anda menghadapi konflik dengan sahabatnya, dan bukannya bercerita ke orangtua, guru, atau teman dekat, mereka malah memilih curhat ke chatbot.
Hal ini benar-benar terjadi pada James Johnson-Byrne, 16 tahun, yang meminta saran dari asisten AI ketika dua temannya bertengkar.
Chatbot tersebut memberi tahu Johnson-Byrne, yang tinggal di Philadelphia, Amerika Serikat, untuk memisahkan teman-temannya. Ia melakukannya dan masalah langsung teratasi.
“Namun, sekarang mereka tidak banyak bicara. Pendamping AI tidak dapat menemukan masalah yang lebih mendalam,” katanya kepada CNN.
Hal lain yang mengejutkan Johnson-Byrne adalah bagaimana rekan AI tampaknya selalu setuju dengannya dan mengatakan apa yang ingin ia dengar.
Karakter AI seperti ini memang semakin populer di kalangan remaja. Berdasarkan laporan dari Common Sense Media, sebanyak 72 persen remaja berusia 13–17 tahun pernah menggunakan “pendamping AI”, dan sepertiganya mengandalkan chatbot untuk membahas isu-isu serius dalam hidup mereka.
Secara umum, chatbot dirancang untuk menjadi teman digital yang responsif, sopan, dan selalu siap mendengarkan.
Namun justru di situlah letak tantangannya. Mereka memang “ramah”, tetapi juga cenderung selalu setuju dengan penggunanya. Tidak ada dinamika emosional atau tantangan sosial seperti dalam hubungan manusia pada umumnya.
Bahkan, James sempat mengaku hampir lupa bahwa yang diajak bicara bukanlah manusia sungguhan.
Menurut psikolog Michael Robb dari Common Sense Media, masa remaja adalah masa penting dalam perkembangan sosial dan emosional.
“Kami tidak ingin anak-anak merasa mereka harus curhat atau mengandalkan teman AI, alih-alih teman, orang tua, atau profesional yang berkualifikasi, terutama ketika mereka membutuhkan bantuan untuk masalah serius,” kata Robb, penulis utama studi ini.
Mengurangi keterampilan interpersonal
Ketergantungan pada chatbot bisa menghambat remaja dalam membangun keterampilan interpersonal yang sehat, mulai dari membaca bahasa tubuh, menangkap nada bicara, hingga belajar mengatasi konflik nyata.
“Di dunia nyata, ada berbagai macam isyarat sosial yang harus ditafsirkan dan dibiasakan oleh anak-anak, serta dipelajari cara meresponsnya,” Robb menjelaskan.
Chatbot juga bersifat menjilat, kata Robb. “Mereka ingin menyenangkan Anda, dan mereka tidak akan menciptakan banyak gesekan seperti yang mungkin terjadi di dunia nyata,” ujarnya.
Jika anak remaja terbiasa dengan teman AI yang selalu memberi tahu apa yang ingin mereka dengar, ketika kelak mengalami gesekan atau kesulitan dalam interaksi di dunia nyata, anak akan kurang siap.
Belum lagi soal privasi. Dalam survei yang sama, 1 dari 4 remaja mengaku pernah membagikan informasi pribadi kepada chatbot.
Padahal, data tersebut bisa saja digunakan oleh perusahaan di balik platform AI, bukan hanya disimpan sebagai “rahasia” teman curhat digital.
Dalam uji risiko Common Sense Media, AI menunjukkan konten yang tidak pantas kepada anak-anak seperti materi seksual dan terkadang mereka memberikan nasihat yang berbahaya.
Yang perlu dilakukan orangtua
Khawatir berlebihan? Tidak juga. Chatbot bisa bermanfaat sebagai teman digital atau media hiburan, selama anak-anak dan remaja tidak menggantikan interaksi manusia sepenuhnya dengan AI.
Orang tua sebaiknya mulai dengan berbicara kepada anak remaja mereka tentang curhat ke AI “tanpa menghakimi.
“Anda dapat bertanya ke anaknya apakah pernah menggunakan aplikasi untuk curhat atau berteman dengan AI. Dengarkan penjelasan mereka untuk mempelajari apa yang menarik bagi anak remaja Anda sebelum Anda terburu-buru mengungkapkan kekhawatiran”, saran Robb.
Penting bagi orangtua untuk membuka ruang komunikasi dan rasa percaya, agar anak merasa nyaman berbagi cerita secara langsung tanpa harus mencari validasi dari mesin.
Lalu, ada baiknya untuk menunjukkan bahwa “teman AI diprogram untuk menyenangkan dan memvalidasi” dan membahas mengapa hal itu menjadi perhatian. Remaja harus tahu bahwa cara kerja hubungan persahabatan bukan seperti itu karena teman sejati terkadang tidak setuju dengan kita.
Selain itu, dorong anak untuk berteman dengan teman sebaya di dunia nyata.
ZONAGADGET, JAKARTA— OpenAI mengungkap ChatGPT kini menerima sekitar 2,5 miliar prompt setiap harinya dari pengguna di seluruh dunia.
Melansir laman TechCrunch, pada Selasa (22/7/2025) kabar tersebut dibagikan oleh Open AI kepada Axios.
Dari jumlah tersebut, sekitar 330 juta berasal dari pengguna di Amerika Serikat. Sebagai pembanding, perusahaan induk Google, Alphabet, memang tidak merilis data resmi terkait jumlah pencarian harian.
Namun, baru-baru ini mereka mengungkapkan Google menerima sekitar 5 triliun pencarian per tahun, atau setara hampir 14 miliar pencarian setiap hari.
Estimasi ini juga sejalan dengan data dari peneliti independen. Neil Patel dari NP Digital memperkirakan Google menerima sekitar 13,7 miliar pencarian harian, sementara riset gabungan dari dua perusahaan pemasaran digital, SparkToro dan Datos, menyebutkan angka mencapai 16,4 miliar pencarian per hari. Meski volume penggunaan ChatGPT belum mendekati skala pencarian Google, pertumbuhannya tergolong sangat pesat.
Pada Desember lalu CEO OpenAI, Sam Altman, menyatakan ChatGPT menerima lebih dari 1 miliar prompt per hari. Artinya, dalam kurun waktu sekitar delapan bulan, jumlah permintaan harian yang diterima ChatGPT telah meningkat lebih dari dua kali lipat.
Dari sisi bisnis, OpenAI mengklaim telah mencapai pendapatan tahunan sebesar US$10 miliar atau sekitar Rp160 triliun. Angka tersebut melonjak tajam dari sekitar US$5,5 miliar atau sekitar Rp88 triliun pada tahun sebelumnya.
Lonjakan ini mencerminkan pertumbuhan pesat OpenAI sejak meluncurkan ChatGPT kurang dari tiga tahun lalu. Seorang juru bicara OpenAI menyebut angka pendapatan tersebut mencakup kontribusi dari berbagai lini usaha, termasuk produk konsumen ChatGPT, produk bisnis untuk perusahaan, serta layanan API yang ditawarkan kepada pengembang.
Saat ini, OpenAI melayani lebih dari 500 juta pengguna aktif mingguan dan memiliki 3 juta pelanggan bisnis berbayar.
OpenAI sendiri memproyeksikan pendapatan sebesar US$11,6 miliar atau sekitar Rp185,6 triliun pada 2025, naik tajam dari estimasi pendapatan tahun 2024 yang mencapai US$3,7 miliar atau sekitar Rp59,2 triliun. Perusahaan juga menargetkan pendapatan sebesar US$125 miliar atau sekitar Rp2.000 triliun pada 2029.
Namun demikian, OpenAI menghadapi tekanan besar untuk terus meningkatkan pendapatannya. Perusahaan menghabiskan miliaran dolar setiap tahunnya untuk merekrut talenta terbaik dan membangun infrastruktur yang dibutuhkan dalam pelatihan serta pengoperasian sistem AI. Hingga kini, OpenAI belum mengungkapkan secara pasti besaran biaya operasionalnya maupun apakah mereka telah mencapai titik impas.
Oleh: Haiyudi, S.Pd., M.Ed. – Dosen Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung
MEDIA sosial dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sedikit banyaknya telah mengubah cara hidup secara signifikan. Banyak yang mengatakan bahwa hadirnya memberikan kemudahan bagi sebagian orang. Namun, di balik tawaran kemudahan yang menggiurkan tersebut, tersembunyi potensi besar untuk penyebaran propaganda yang memanipulasi persepsi masyarakat tentang standar kehidupan.
Propaganda tidak senantiasa berbentuk narasi politik terang-terangan, melainkan lebih sering beroperasi secara subliminal, membentuk keinginan, menyebabkan perbandingan strata dan status sosial, dan pada akhirnya mengikis identitas serta konsistensi seseorang atau sekelompok orang.
Penting untuk diketahui bahwa algoritma AI dan media sosial dirancang untuk mengetahui dan menelisik intensitas keterlibatan pengguna. Ini dicapai melalui personalisasi konten yang sangat canggih, di mana setiap interaksi, suka, komentar, dan durasi tontonan akan dianalisis untuk menyajikan konten serupa di masa mendatang. Dalam konteks standar kehidupan, algoritma ini secara tidak langsung menciptakan gelembung realitas (filter bubble) di mana pengguna terus-menerus terpapar pada gambaran tertentu tentang kesuksesan, kebahagiaan, kemewahan, dan pencapaian orang lain.
Sebagai contoh yang paling nyata adalah munculnya rasa atau keinginan yang didorong oleh konten yang disajikan media sosial. Media sosial dipenuhi dengan individu atau influenser yang menampilkan gaya hidup ideal: rumah mewah, liburan eksotis, pakaian bermerek, atau bahkan prestasi mentereng anak-anaknya. Konten ini, sering kali hasil dari endorsement berbayar, disajikan sebagai representasi kehidupan yang seharusnya atau diinginkan.
Pengguna, terutama mereka yang belum memiliki fondasi dan benteng yang kokoh dalam membedakan sajian konten, akan mulai membandingkan kehidupan mereka dengan standar buatan ini. Fenomena itu diperparah oleh adanya efek bandwagon, di mana kecenderungan untuk mengikuti tren atau perilaku mayoritas makin menguat karena visibilitas yang tinggi di media sosial.
Vyncke dan De Pauw (2018) dalam Journal of Business Research menyoroti bagaimana media sosial menciptakan tekanan sosial untuk berpartisipasi dalam konsumsi simbolis, di mana pembelian barang bukan hanya tentang fungsi, tetapi juga tentang mempertahankan citra atau status yang dipersepsikan. Lebih lanjut, Bauman (2000) dalam karyanya Liquid Modernity telah lama mengidentifikasi masyarakat kontemporer sebagai masyarakat konsumen di mana identitas dibentuk dan dibongkar ulang melalui apa yang mereka konsumsi dalam aspek tontonan, serta tampilan maya yang disajikan media sosial.
Akibat paparan propaganda standar kehidupan yang konstan, masyarakat sering kali mengalami kebingungan dan hilangnya pegangan hidup. Ketika realitas yang disajikan media sosial jauh berbeda dengan pengalaman pribadi, timbullah disonansi kognitif. Masyarakat menjadi bingung tentang apa yang sebenarnya penting dalam hidup, karena nilai-nilai intrinsik seperti kebahagiaan sejati, hubungan interpersonal yang mendalam, atau kepuasan diri sering kali terpinggirkan oleh pencitraan eksternal.
Sejalan dengan itu, kepribadian individu dapat terkikis. Dalam upaya untuk menyesuaikan diri dengan standar yang didorong media sosial, banyak yang cenderung mengadopsi persona atau gaya hidup yang tidak autentik. Hal ini dapat menyebabkan ketidaknyamanan psikologis, kecemasan, dan depresi, sebagaimana diungkapkan oleh penelitian tentang dampak media sosial pada kesehatan mental remaja. Individu kesulitan mengembangkan konsistensi dalam nilai, perilaku, dan tujuan hidup mereka karena terus-menerus dihadapkan pada tren baru dan ekspektasi yang berubah-ubah.
Sebagai contoh konkret, lihatlah fenomena “FOMO” (Fear of Missing Out) yang merajalela di kalangan pengguna media sosial. Ketika melihat teman atau influenser menikmati pengalaman tertentu, timbul dorongan kuat untuk meniru atau memiliki hal serupa, terlepas dari apakah hal tersebut sesuai dengan kemampuan finansial atau nilai pribadi. Ini bukan lagi sekadar keinginan individu, melainkan hasil dari strategi pemasaran dan algoritma yang sengaja memicu rasa kekurangan dan perbandingan sosial.
Lebih jauh, propaganda tersebut berkontribusi pada masyarakat yang makin terfragmentasi. Standar kehidupan yang disajikan seringkali homogen, mengabaikan keragaman budaya, ekonomi, dan preferensi personal. Ini dapat menciptakan ketidakpuasan yang meluas di kalangan mereka yang tidak mampu mencapai standar tersebut, memicu ketegangan sosial dan kesenjangan aspirasi.
Propaganda AI dan media sosial tentang standar kehidupan juga memiliki implikasi serius terhadap dunia pendidikan. Dalam konteks ini, tekanan untuk mencapai standar “ideal” yang sering kali tidak realistis dapat menggeser fokus pendidikan dari pengembangan holistik individu menjadi pencapaian yang didorong oleh citra.
Peserta didik, yang terus-menerus terpapar oleh kehidupan influenser yang sukses secara finansial dengan jalan pintas atau karier yang tampak glamor di media sosial, mungkin kehilangan minat pada jalur pendidikan tradisional yang membutuhkan dedikasi dan proses panjang. Fenomena ini dapat memunculkan ketidakpuasan dan kecemasan akademik karena ekspektasi yang tinggi tidak sejalan dengan realitas. Mereka mungkin merasa tertinggal atau kurang berharga jika tidak segera mencapai “kesuksesan” seperti yang digambarkan di linimasa mereka. Akibatnya, esensi pendidikan—yakni pembentukan karakter, kemampuan berpikir kritis, dan pengembangan potensi diri—dapat terdistorsi.
Lembaga pendidikan perlu lebih aktif dalam mengajarkan literasi digital dan ketahanan mental agar peserta didik mampu menyaring informasi, membangun identitas yang autentik, dan mengejar tujuan hidup yang bermakna, bukan sekadar mengikuti tren yang dibuat oleh algoritma dan endorsement. Ini adalah tugas krusial untuk memastikan pendidikan tetap relevan dan memberdayakan di era digital.
Sebagai contoh lain, dalam waktu dekat ini, acap kali kita melihat sosial media menampilkan orang tua memamerkan hasil belajar anak, hasil seleksi masuk perguruan tinggi hingga sekolah dasar. Sebagian dari mereka membanggakan pencapaian anak-anaknya yang berhasil masuk ke perguruan tinggi atau sekolah favorit dan idaman.
Hal itu menimbulkan standar hidup baru bagi orang tua yang menganggap bahwa pencapaian anak itu harus sama. Hasilnya, pembandingan terjadi di mana-mana. Ketidakpuasan terjadi di mana-mana. Sebagai implikasi jangka panjang, proses belajar anak tidak akan mendapat dukungan maksimal karena dibatasi oleh standar pencapaian anak dianggap tidak sama dengan keinginan orang tua.
Paul J. Goebbels pernah mengatakan bahwa kebohongan yang ditampilkan satu kali adalah kebohongan, namun jika kebohongan sudah ditampilkan berulang kali, itu akan jadi kebenaran. Peristiwa ini yang disebut dengan fenomena post-truth, sebagaimana diperkenalkan oleh Lee McIntyre dan George A. Lindbeck.
Fenomena itu ditakutkan oleh masyarakat waras hari ini di mana suatu peristiwa dianggap benar dikarenakan sering kali muncul di hadapan masyarakat dianggap benar oleh banyak orang, padahal secara substansi apa yang disampaikan itu adalah salah. Dengan kata lain, standar kebenaran masyarakat era ini akan berubah dan melenceng dari nilai-nilai yang sesungguhnya. Kebenaran akan dibentuk dari apa yang ditampilkan di media sosial, dan itu berbahaya.
Maka, sangat penting bagi orang tua, atau bahkan individu untuk mengembangkan literasi media dan pemikiran kritis dalam menyaring informasi yang disajikan oleh AI dan media sosial hari ini. Pemahaman tentang bagaimana algoritma bekerja, mengenali konten dan perbedaan standar pencapaian, dan kemampuan untuk membedakan antara realitas dan pencitraan adalah kunci untuk mempertahankan identitas diri dan konsistensi hidup dalam era digital yang makin rumit ini. Tanpa kesadaran ini, masyarakat berisiko terjebak dalam siklus keinginan yang tak berujung, kehilangan esensi kebahagiaan sejati dan makna hidup. (*)
ZONAGADGET.CO.ID, DEPOK – Persaingan industri digital kini memasuki babak baru dengan masifnya adopsi teknologi Artificial Intelligence (AI). Perusahaan dari berbagai sektor menjadi semakin selektif dalam merekrut karyawan. Perusahaan lebih memilih talenta yang tidak hanya paham teori, tetapi juga memiliki pengalaman kerja nyata serta kemampuan adaptif terhadap perkembangan teknologi.
Menanggapi tantangan ini, Universitas Nusa Mandiri (UNM) yang dikenal sebagai Kampus Digital Bisnis, menghadirkan solusi konkret melalui Internship Experience Program (IEP) 3+1. Program unggulan ini dirancang untuk menjembatani dunia akademik dan dunia industri secara strategis dan berkelanjutan.
“Program IEP 3+1 memberikan pengalaman kerja sejak dini bagi mahasiswa. Mereka menjalani tiga tahun perkuliahan intensif di kampus dan satu tahun penuh magang profesional di perusahaan mitra kami, mulai dari BUMN, perusahaan swasta nasional, hingga lembaga pemerintahan,” kata Kepala Kampus UNM Margonda Andry Maulana, dalam rilis yang diterima, Selasa (22/7/2025).
Dengan pendekatan ini, kata Andry, mahasiswa UNM tidak hanya siap lulus, tetapi juga siap kerja. Mereka dibekali portofolio proyek, pengalaman langsung di lapangan, serta jejaring profesional yang dibangun sejak masa kuliah. Hal ini memberi nilai tambah yang signifikan, terutama di tengah dinamika industri yang didorong oleh teknologi AI.
“Mahasiswa kami bukan hanya datang ke kampus untuk belajar teori. Mereka disiapkan untuk langsung masuk ke dunia kerja. Di tengah gempuran AI, lulusan UNM punya posisi tawar yang lebih tinggi dibanding lulusan tanpa pengalaman,” kata dia.
Ia menyampaikan Program IEP 3+1 diperkuat oleh beragam program studi kekinian yang disusun secara adaptif terhadap kebutuhan industri digital, seperti Sains Data, Bisnis Digital, Sistem Informasi, Informatika, dan Manajemen. Semua prodi tersebut dikembangkan dengan kurikulum yang responsif terhadap tren teknologi, kebutuhan pasar tenaga kerja dan tantangan masa depan.
“Tak hanya itu, UNM juga aktif membangun jejaring industri melalui kerja sama dengan berbagai perusahaan teknologi, startup digital, hingga lembaga nasional. Banyak mahasiswa UNM yang direkrut langsung oleh tempat magangnya atau direkomendasikan ke perusahaan lain melalui jalur kemitraan kampus,” kata Andry.
UNM membuktikan diri sebagai institusi pendidikan yang tidak hanya mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga menjadi bagian dari pendorong transformasi digital di Indonesia.
“Kami percaya bahwa kuliah seharusnya menjadi gerbang awal menuju karier, bukan sekadar tempat belajar teori. Melalui program 3+1, kami memastikan mahasiswa kami punya bekal nyata untuk sukses di dunia kerja dan wirausaha digital,” ucap Andry.
Bagi calon mahasiswa yang ingin merasakan pengalaman kuliah yang berbeda dan relevan dengan masa depan digital, pendaftaran kini dibuka melalui laman resmi pmb.nusamandiri.ac.id atau aplikasi MyNusa PMB di Playstore. UNM Kampus Margonda, sebagai Kampus Digital Bisnis, Tempat Lahirnya Talenta Tangguh di Era AI.
Tak ada yang lebih menarik di industri teknologi saat ini selain penawaran kerja senilai 100 juta dolar AS atau setara Rp 1,6 triliun. Itulah yang dilakukan CEO Meta Mark Zuckerberg demi merekrut para ilmuwan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) paling jenius ke divisi barunya yang bernama Superintelligence Labs.
Tujuan dari divisi ini sangat ambisius, yakni menciptakan AI yang kecerdasannya melebihi manusia. Banyak yang bertanya-tanya, untuk apa Mark Zuckerberg repot-repot membangun AI sekelas dewa, padahal Meta sudah mengantongi untung besar dari media sosial seperti Facebook dan Instagram?
Namun, jika berpikir seperti itu, kita mungkin tak sadar bahwa ada “harta karun” besar yang tersimpan dari AI super canggih yang kini diperebutkan oleh raksasa teknologi macam Google dan OpenAI.
Zuckerberg memang memulai perlombaan ini dari belakang. Namun dengan strategi agresif dan tawaran yang sulit ditolak, peluangnya untuk menyalip justru makin besar. Hanya dalam sebulan terakhir, Zuckerberg berhasil membajak sejumlah tokoh besar dari kompetitor.
Mereka adalah Lucas Beyer, ilmuwan OpenAI yang ikut menciptakan vision transformer; kemudian Ruoming Pang, pemimpin pengembangan model AI di Apple; dan Alexandr Wang, mantan CEO Scale AI yang kini memimpin Superintelligence Labs bersama Zuckerberg.
Untuk menggaet Wang, Meta harus merogoh kocek miliaran dolar. Namun hasilnya? Efek domino langsung terasa. Nama-nama besar lain ikut bergabung, seperti investor Nat Friedman dan Daniel Gross, CEO Safe Superintelligence milik Ilya Sutskever sekaligus eks kepala ilmuwan OpenAI.
Di tengah arus ini, para talenta AI lainnya pun mulai takut ketinggalan kapal, alias takut kehilangan kesempatan jadi yang pertama menciptakan AI super cerdas.
Kalau kamu berpikir uang adalah pendorong besar para ilmuwan AI itu bergabung dengan Zuckerberg, tampak itu sedikit keliru. Jangan salah, para ilmuwan ini sudah sangat kaya. Yang mereka incar bukan sekadar kapal pesiar atau rumah mewah, tapi prestise. Dengan kata lain, namanya tercetak di jurnal Nature, atau jadi otak di balik model AI paling revolusioner berikutnya.
Zuckerberg juga mendapatkan simpati karena komitmennya terhadap AI open-source lewat model Llama. Banyak ilmuwan percaya bahwa AI yang terbuka untuk publik bisa memberi dampak demokratis yang lebih besar. Hal serupa sempat dilakukan OpenAI, yang dulu membagikan risetnya secara bebas untuk menarik talenta, sebelum akhirnya tertutup dan komersial.
Meski begitu, keputusan Zuckerberg untuk membagikan teknologi AI-nya secara cuma-cuma sempat bikin investor bertanya-tanya. Apalagi, performa terbaru Llama belum bisa menyaingi model dari Google DeepMind atau OpenAI. Bahkan, salah satu varian model Meta hanya duduk di posisi ke-17 dalam leaderboard AI real-time dan butuh biaya operasional yang lebih tinggi.
Oleh: Sherlie Karnidta, Country Manager Indonesia, Cloudera
[Redaksi]: Bayangkan ketika rekan kerja kita yang tak hanya menunggu instruksi, tapi mampu merencanakan, mengambil keputusan, dan menyelesaikan tugas Anda sebelum Anda menyadarinya. Itulah kekuatan agentic AI.
Hari Apresiasi AI bukan sekadar merayakan inovasi — ini adalah momen untuk mengakui bagaimana kecerdasan buatan (AI) telah berkembang dari teknologi baru menjadi kontributor yang dipercaya di tempat kerja modern.
Kehadiran GenAI telah menunjukkan kepada kita bagaimana model bisa menciptakan konten, menyusun email, atau menjawab pertanyaan pelanggan. Kini, evolusi berikutnya yaitu agentic AI mulai mengambil momentumnya. Sistem ini tidak hanya merespons perintah (prompt), mereka bertindak secara mandiri. Mereka mampu merencanakan, mengambil keputusan, dan menjalankan tugas berdasarkan tujuan dan konteks. Singkatnya, mereka bekerja seperti rekan kerja. Dan seperti tim yang efektif, keberhasilannya tergantung pada seberapa baik tiap anggota memahami peran mereka, berkolaborasi dan beradaptasi secara real time.
AI Menjadi Bagian dari Tim
Agentic AI mengubah cara kita memandang kerja tim. AI kini bukan lagi sekadar tools yang pasif, melainkan menjadi peserta yang proaktif dalam operasional sehari-hari; mampu merencanakan, mengambil keputusan, dan bertindak bersama dengan kolega manusia. Sistem ini menangani tugas-tugas rutin seperti optimasi infrastruktur, triase layanan pelanggan, dan pengecekan kepatuhan. Hasilnya, tim manusia dapat berfokus pada hal-hal strategis dan kreatif.
Di kawasan Asia Pasifik, landasan menuju perubahan ini sudah dibangun. Perusahaan di kawasan ini telah mengembangkan strategi data yang kuat dan bereksperimen dengan teknologi AI dan machine learning (ML). Mereka berinvestasi di infrastruktur yang bisa ditingkatkan, mengurai silo data, dan membuktikan nilai AI di fungsi bisnis yang spesifik. Kini, mereka siap melangkah ke tahapan berikutnya.
Institusi keuangan seperti OCBC dan UOB memanfaatkan AI dan ML untuk memberikan pengalaman yang dipersonalisasi dan meningkatkan kualitas pengambilan keputusan. Bank Rakyat Indonesia dan Bank of Thailand membangun budaya kerja berbasis data untuk meningkatkan efisiensi dan ketahanan/resiliensi. Di sektor telekomunikasi, Vodafone Idea melaporkan penurunan churn dan peningkatan layanan berkat penggunaan analitik cerdas. Di bidang kesehatan, Hong Kong Hospital Authority memanfaatkan data berskala besar untuk mendukung pembuatan keputusan diagnosis dan memperlancar proses pelayanan.
Dengan fondasi yang sudah terbentuk ini, agentic AI menjadi langkah alami berikutnya. Agen cerdas ini bekerja layaknya spesialis dalam tim lintas fungsi: otonom, terfokus, dan responsif. Seperti halnya pemimpin pemasaran, compliance officer, dan engineer TI yang berkolaborasi untuk menjalankan kampanye, agen AI semakin mampu bekerja mandiri sambil tetap selaras dengan tujuan bisnis yang lebih luas. Dengan pengawasan manusia yang tepat, mereka bisa memantau performa, mendeteksi anomali atau kejanggalan, melakukan uji software, dan membantu menyelesaikan keluhan pelanggan dengan konsistensi dan kecepatan yang tinggi.
Keunggulan Asia Pasifik terletak pada kecepatan perusahaan dalam mewujudkan visi ini. Berdasarkan survei global Cloudera tahun 2025, sebanyak 95% pemimpin IT di Indonesia berencana untuk meningkatkan penggunaan agentic AI tahun ini. Dan ini bukan sekadar eksperimen. Ini adalah solusi untuk kebutuhan nyata. Retailer mengandalkan AI untuk menyesuaikan kalkulasi harga secara real time. Produsen mengubah jalur pasokan saat krisis terjadi. Perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik menerapkan AI bukan hanya untuk berpikir dengan lebih cepat, namun juga bertindak dengan lebih cepat.
Pola pikir teknologi yang progresif, infrastruktur digital yang memadai, dan pengalaman mendalam dengan AI memberikan keuntungan nyata di era kerja sama tim berbasis AI. Banyak bisnis di kawasan ini sekarang siap melangkah dari fase eksperimen menuju integrasi AI yang lebih luas.
Di Indonesia, agen AI bukan lagi konsep futuristik; mereka dengan cepat ini menjadi bagian inti dalam operasional bisnis. Dengan 79% organisasi mulai mengadopsi agen AI hanya dalam dua tahun terakhir dan 91% menyatakan bahwa investasi pada GenAI sudah memberikan persiapan yang kuat, jelas bahwa perusahaan di negeri ini sudah siap memasuki babak baru. Platform data modern membantu AI memproses dan menganalisis data secara aman dan transparan dalam infrastruktur yang ada. Hal ini membangun kepercayaan terhadap AI dan membuka potensi penuhnya di berbagai industri.
Kepercayaan Tak Bisa Ditawar Lagi
Seiring agen AI mengambil lebih banyak tanggung jawab, kepercayaan menjadi hal yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Hal ini mencakup transparansi atau visibilitas terhadap apa yang dilakukan agen, pengawasan untuk menjamin akuntabilitas, dan tata kelola data yang terintegrasi sejak awal.
Banyak perusahaan di Asia Pasifik masih menyimpan data di lingkungan on-premise. Oleh karena itu, pendekatan yang membawa model AI ke data menjadi sangat penting. Pendekatan yang menjalankan model AI dekat dengan sumber data terbukti menjaga keamanan dan kepatuhan dengan lebih baik. Pendekatan ini memungkinkan agen bekerja dekat dengan data penting tanpa mengorbankan keamanan atau kepatuhan, baik di lingkungan hybrid, on-premise, atau di cloud.
Perusahaan juga menerapkan kontrol untuk memantau perilaku agen, mendeteksi bias, dan menelusuri asal usul data dalam setiap keputusan. Karena dalam tim yang sehat, transparansi bukan sebuah pilihan, ini adalah fondasi kepercayaan.
Membangun Tim Masa Depan
Masa depan dunia kerja tidak akan didorong oleh manusia atau AI saja, melainkan oleh sinergi antara keduanya. Agen AI tidak menggantikan manusia; mereka menjadi rekan kerja yang memperkuat kekuatan kita dan menjembatani kesenjangan. Untuk memulainya, bisnis sebaiknya berfokus pada use case yang spesifik, berinvestasi dalam infrastruktur yang siap untuk AI dan membangun budaya kerja di mana manusia dan mesin bekerja berdampingan.
Jadi, saat kita merayakan Hari Apresiasi AI, mari kita melihat lebih dari sekadar teknologinya. Mari rayakan dinamika tim baru yang diciptakan oleh AI, tim yang lebih cerdas, lebih cepat, dan siap menyongsong masa depan. Karena di tempat kerja modern, tim terbaik bukan hanya manusia. Mereka adalah tim hybrid dan AI dengan cepat menjadi pemain paling berpengaruh.
ZONAGADGET – Di era digital yang semakin kompleks, teknologi tidak hanya hadir untuk mempermudah kehidupan, tetapi juga mulai mengambil peran dalam aspek-aspek emosional manusia.
Salah satunya adalah kemunculan AI companions aplikasi berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk menjadi teman virtual yang selalu tersedia kapan pun Anda membutuhkannya.
Mereka hadir melalui aplikasi seperti Replika, Kindroid, hingga Character.AI yang secara teknis mampu merespons kebutuhan emosional manusia.
Namun, apakah kehadiran mereka benar-benar bisa menggantikan relasi sosial yang selama ini hanya bisa diberikan oleh sesama manusia?
Banyak pihak menganggap AI companions sebagai solusi atas krisis kesepian global, tetapi tidak sedikit pula yang memandangnya sebagai bentuk pelarian dari kenyataan yang justru memperparah isolasi sosial.
Di sinilah perdebatan mulai muncul antara manfaat dan potensi risiko dari ketergantungan emosional terhadap teknologi.
Artikel ini akan mengulas secara kritis tentang kemampuan AI companions dalam memberikan dukungan emosional, membahas batasan mereka dibandingkan relasi manusia, serta menjawab pertanyaan penting: bisakah hubungan dengan AI dianggap “nyata”? Anda akan diajak untuk melihat dua sisi dari koin yang sama antara potensi dan bahaya dari hubungan emosional dengan entitas buatan.
Simak selengkapnya yang telah dirangkum dari Atlantic International University pada Selasa (22/07).
1. AI Companions dan Dukungan Emosional: Solusi Sementara atau Kenyamanan Semu?
AI companions menawarkan kenyamanan yang tampaknya ideal. Mereka tidak menghakimi, selalu siap sedia, dan dirancang untuk merespons sesuai kebutuhan emosional Anda.
Bagi sebagian orang yang kesulitan membangun relasi sosial, kehadiran teman virtual seperti ini bisa menjadi titik awal yang aman untuk belajar membuka diri.
Contohnya, seorang pengemudi truk bernama Paul Berry mengaku bahwa percakapannya dengan AI companion bernama Jade membantunya tetap waras dan optimistis dalam kesendirian.
Namun, kenyamanan ini bersifat semu. Hubungan dengan AI tidak dibentuk atas dasar timbal balik emosional sejati.
Mereka sekadar menjalankan algoritma yang meniru empati, tanpa benar-benar merasakan apa yang Anda rasakan.
Seiring waktu, hal ini bisa menimbulkan ilusi hubungan yang memuaskan, padahal sebenarnya hanya menciptakan ruang kosong yang disamarkan oleh interaksi digital.
Dari sudut pandang psikologis, ini menjadi bahaya tersembunyi.
Saat pengguna terbiasa dengan validasi instan dan tanpa konflik dari AI, relasi manusia yang sesungguhnya yang lebih kompleks dan penuh tantangan bisa terasa melelahkan.
Ketika itu terjadi, AI companion bukan lagi jembatan menuju interaksi sosial, melainkan dinding yang semakin memisahkan Anda dari dunia nyata.
2. Batasan AI Companions dalam Meniru Relasi Manusia
Tidak dapat dimungkiri bahwa AI companions belum mampu menandingi kedalaman relasi manusia yang sejati.
Meski mereka bisa memberikan dukungan emosional di permukaan, AI tetap tidak memiliki kesadaran, pengalaman hidup, atau empati sejati seperti manusia.
Mereka hanya bisa meniru respons berdasarkan data yang telah diprogram.
Sebagian besar aplikasi AI companions bahkan menggunakan gamifikasi untuk mendorong keterikatan pengguna.
Semakin sering Anda berinteraksi, semakin banyak fitur yang bisa diakses layaknya sebuah permainan.
Hal ini dapat menimbulkan ketergantungan emosional yang tidak sehat, terutama pada pengguna dengan kondisi psikologis rentan.
Alih-alih mendorong Anda kembali ke dunia nyata, AI companion malah bisa menjebak dalam dunia ilusi yang sulit ditinggalkan.
Di sisi lain, hubungan sejati antara manusia terbentuk dari pengalaman bersama dari kesalahan, konflik, hingga kompromi. Inilah yang tidak dimiliki oleh AI companions.
Relasi tanpa ketidaksempurnaan tidaklah utuh, dan ketika Anda terbiasa dengan interaksi yang “selalu benar” dari AI, Anda bisa menjadi tidak siap menghadapi relasi manusia yang dinamis dan tidak selalu sesuai harapan.
3. Apakah Hubungan dengan AI Bisa Disebut “Nyata”?
Pertanyaan apakah hubungan dengan AI bisa dianggap nyata sangat bergantung pada bagaimana seseorang memaknai kedekatan emosional.
Jika realitas diukur dari perasaan yang dialami, maka mungkin hubungan dengan AI terasa “nyata” bagi sebagian orang.
Namun, dari perspektif relasi yang utuh, hubungan dengan AI hanyalah simulasi pola interaksi satu arah yang tidak didasarkan pada empati dan kesadaran timbal balik.
Dalam banyak kasus, pengguna AI companions menyadari bahwa mereka berinteraksi dengan program.
Namun, seiring meningkatnya kecanggihan teknologi, batas antara kenyataan dan simulasi bisa menjadi kabur.
Hal ini bisa sangat membahayakan bagi individu yang mengalami kesepian akut atau gangguan mental, karena mereka bisa menganggap hubungan dengan AI sebagai satu-satunya relasi yang aman dan memuaskan.
Apa yang membuat hubungan manusia menjadi “nyata” bukan hanya kehadiran dan interaksi, tetapi juga rasa tanggung jawab, rasa peduli yang timbal balik, serta keberanian untuk menerima kekurangan satu sama lain.
Inilah yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh AI seberapa pun canggihnya teknologi yang menggerakkannya.
4. Potensi Ketergantungan dan Tantangan Etika
Di balik manfaat yang dijanjikan, AI companions juga menyimpan potensi bahaya besar, terutama dalam bentuk ketergantungan emosional.
Banyak pengguna yang secara perlahan menggantikan relasi nyata dengan hubungan simulatif bersama AI.
Ketika validasi, perhatian, dan kenyamanan bisa didapatkan dengan mudah dari AI, kebutuhan untuk berinteraksi secara nyata bisa memudar.
Tak hanya berdampak secara pribadi, fenomena ini juga memunculkan persoalan etika dan perlindungan pengguna.
Beberapa perusahaan teknologi telah dilaporkan memanfaatkan kerentanan emosional pengguna demi keuntungan.
Manipulasi melalui fitur premium atau personalisasi ekstrem bisa mendorong pengguna untuk terus berinteraksi tanpa sadar bahwa mereka sedang dieksploitasi secara psikologis.
Kasus-kasus ekstrem seperti laporan kematian akibat interaksi intensif dengan AI companions harus menjadi peringatan serius.
Regulasi ketat dan transparansi teknologi sangat dibutuhkan agar pengguna tidak terjebak dalam hubungan yang seolah nyata, namun pada dasarnya tidak manusiawi.
AI harus menjadi pelengkap, bukan pengganti.
5. Masa Depan Hubungan: Teknologi sebagai Alat, Bukan Pengganti
Ke depan, AI companions tetap memiliki tempat dalam kehidupan manusia, terutama sebagai alat bantu untuk meningkatkan kesejahteraan emosional.
Bagi individu dengan keterbatasan fisik, isolasi geografis, atau gangguan sosial, AI bisa menjadi jembatan awal menuju pemulihan.
Tetapi, penggunaannya harus didampingi dengan pemahaman bahwa AI bukanlah manusia, dan tidak seharusnya menggantikan mereka.
Yang paling penting adalah menjaga keseimbangan.
Edukasi publik tentang risiko ketergantungan, fitur pembatas waktu penggunaan, hingga evaluasi kesehatan mental sebelum interaksi intensif dengan AI dapat menjadi langkah awal.
Teknologi seharusnya membawa manusia lebih dekat dengan sesamanya, bukan menjauhkan secara halus dan perlahan.
Pada akhirnya, apa yang membuat hubungan menjadi bermakna bukanlah seberapa sering kita berinteraksi, tetapi bagaimana kita saling terhubung sebagai makhluk hidup yang sama-sama mampu merasakan.
Selama itu belum bisa dihadirkan oleh AI, maka hubungan dengan mereka hanya akan menjadi tiruan yang nyaris, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh.
ZONAGADGET Kemajuan teknologi kecerdasan buatan telah membawa kita pada era baru, di mana penciptaan kembaran digital bukan lagi sekadar imajinasi.
Kloning AI dan deepfake kini mampu meniru wajah, suara, bahkan perilaku seseorang dengan presisi yang mengkhawatirkan.
Meski membawa manfaat di beberapa sektor, kemunculan teknologi ini juga memicu persoalan etis dan psikologis yang tidak bisa diabaikan begitu saja.
Bayangkan jika suara Anda dipakai dalam panggilan penipuan, atau wajah Anda dimanipulasi untuk konten yang tidak pernah Anda buat.
Ini bukan skenario fiksi ilmiah ini adalah realitas yang sudah banyak terjadi.
Ancaman terhadap reputasi, identitas, dan rasa aman kini hadir dalam bentuk yang semakin sulit dikenali kebenarannya.
Fenomena klon digital yang beredar tanpa izin menimbulkan kekhawatiran psikologis yang nyata.
Dari kecemasan ekstrem, gangguan identitas, hingga ingatan palsu yang dapat memengaruhi persepsi publik dampaknya merambah ke sisi paling personal dari keberadaan manusia.
Artikel ini akan membahas enam dampak psikologis utama dari kloning AI dan deepfake, serta solusi yang bisa diupayakan untuk melindungi identitas Anda di era digital yang dihimpun dari Psychology Today pada Selasa (22/07).
1. Kecemasan dan Stres Akibat Penyalahgunaan Klon AI
Penyalahgunaan citra dan suara melalui klon AI dapat menyebabkan tekanan psikologis yang besar.
Banyak individu merasa tidak berdaya ketika menyadari bahwa identitas digital mereka digunakan tanpa izin.
Hal ini menimbulkan rasa terancam dan cemas berlebih, apalagi ketika hasil deepfake digunakan untuk tujuan yang merusak nama baik.
Kondisi ini sering kali disebut sebagai “doppelgänger-phobia”, yaitu ketakutan bahwa seseorang memiliki tiruan digital yang bisa menciptakan kekacauan dalam kehidupan nyata.
Rasa aman yang selama ini melekat pada identitas pribadi menjadi runtuh saat klon AI bisa berbicara dan bertindak seolah-olah itu adalah Anda.
Dalam jangka panjang, hal ini berpotensi memicu gangguan kecemasan dan penurunan kepercayaan diri.
Lebih buruk lagi, banyak korban merasa tidak memiliki kendali atau perlindungan hukum yang memadai atas keberadaan klon digital mereka.
Ketidakpastian hukum ini semakin memperparah kondisi mental, menumbuhkan perasaan terisolasi dan rentan di tengah arus teknologi yang berkembang tanpa batas.
2. Hilangnya Kepercayaan pada Realitas Digital
Kemampuan AI untuk menciptakan media sintetis membuat batas antara nyata dan palsu menjadi kabur.
Video, suara, atau foto hasil manipulasi sulit dibedakan dari yang asli, bahkan oleh mata terlatih.
Ketidakmampuan ini mengakibatkan menurunnya kepercayaan terhadap bukti visual maupun verbal di ruang digital.
Fenomena ini menyebabkan keresahan kolektif dalam masyarakat.
Banyak orang mulai mempertanyakan keaslian setiap konten yang mereka lihat, dan ketakutan akan penipuan pun meningkat.
Dalam banyak kasus, bahkan klarifikasi atau pembuktian kebenaran tidak lagi cukup kuat untuk memulihkan reputasi atau kepercayaan publik.
Selain itu, situasi ini dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk menutupi kesalahan dengan alasan “itu hanya deepfake”.
Ini dikenal sebagai “dividen pembohong” sebuah kondisi di mana ketidakpastian teknologi digunakan sebagai tameng untuk menghindari tanggung jawab.
Akibatnya, kebenaran menjadi semakin relatif dan sukar diperjuangkan.
3. Fragmentasi Identitas dan Rasa Autentik yang Terganggu
Keberadaan klon AI dapat menciptakan kebingungan dalam memahami siapa diri Anda yang sesungguhnya.
Ketika versi digital dari diri Anda bisa berinteraksi, berbicara, dan bahkan memengaruhi orang lain tanpa persetujuan, maka batas antara identitas nyata dan virtual menjadi kabur.
Hal ini berdampak pada integritas personal dan rasa otentik dalam berinteraksi sosial.
Fragmentasi identitas digital dapat merusak hubungan sosial dan profesional.
Orang mungkin mengira telah berkomunikasi dengan Anda, padahal sebenarnya hanya berinteraksi dengan klon digital.
Ini bisa menciptakan konflik, kesalahpahaman, bahkan pengucilan sosial. Anda bisa disalahkan atas tindakan yang tidak pernah Anda lakukan.
Dalam jangka panjang, individu bisa merasa teralienasi dari citra dirinya sendiri. Ketika klon AI mengambil alih narasi personal, kontrol atas jati diri menjadi semakin sulit dipertahankan.
Hal ini menimbulkan kelelahan emosional dan ketidakpastian dalam membentuk identitas yang utuh dan konsisten.
4. Kenangan Palsu yang Terbentuk Akibat Interaksi Digital
Interaksi dengan klon AI, meskipun disengaja, bisa menimbulkan dampak kognitif berupa terbentuknya memori palsu.
Penelitian menunjukkan bahwa manusia cenderung mempercayai sesuatu yang mereka lihat atau dengar berulang kali, bahkan jika itu adalah hasil manipulasi digital.
Ini sangat berbahaya karena dapat mengubah persepsi seseorang terhadap peristiwa atau individu tertentu.
Kenangan palsu ini dapat bersifat merusak maupun memperindah.
Dalam kasus negatif, reputasi seseorang dapat hancur akibat kesan yang salah dari video atau suara deepfake.
Sementara dalam bentuk positif, kenangan yang terlalu ideal justru menciptakan harapan semu yang tidak sesuai dengan kenyataan.
Masalah ini menjadi semakin kompleks ketika seseorang berinteraksi dengan klon digital dirinya sendiri.
Rasa familiar yang ditimbulkan bisa menipu otak untuk menganggap peristiwa itu nyata.
Dalam jangka panjang, ini dapat memengaruhi keputusan, emosi, bahkan identitas sosial Anda secara keseluruhan.
5. Gangguan Psikologis Akibat Klon AI Orang yang Telah Meninggal
Klon AI yang dibuat dari orang yang telah meninggal, seperti griefbots, memicu perdebatan emosional dan etis.
Beberapa orang merasa terbantu karena bisa “bertemu” kembali dengan sosok yang mereka cintai, sementara yang lain justru terjebak dalam kesedihan yang tak kunjung selesai.
Teknologi ini bisa mengganggu proses berduka yang sehat.
Secara psikologis, griefbots dapat menciptakan ikatan emosional palsu yang membuat individu sulit menerima kenyataan kehilangan.
Berkomunikasi dengan klon AI dari orang yang telah tiada dapat menunda penerimaan terhadap kematian dan memperpanjang trauma emosional.
Ini menjadi tantangan besar dalam dunia terapi.
Tanpa pendampingan profesional, penggunaan griefbots bisa menyebabkan ketergantungan emosional.
Oleh karena itu, pengembangan dan penyebaran teknologi ini harus disertai dengan regulasi serta intervensi psikologis yang tepat agar tidak menimbulkan dampak merugikan bagi kesehatan mental pengguna.
6. Tekanan Baru dalam Sistem Keamanan dan Otentikasi Digital
Dengan maraknya kloning wajah dan suara untuk kepentingan penipuan, sistem otentikasi digital kini berada dalam tekanan besar.
Verifikasi melalui biometrik seperti wajah dan suara tidak lagi cukup aman karena bisa dipalsukan dengan deepfake yang sangat meyakinkan.
Hal Ini membuka celah bagi aksi kejahatan siber yang lebih canggih.
Diperkirakan banyak perusahaan akan kehilangan kepercayaan pada metode otentikasi konvensional jika tidak segera diatasi.
Pengguna pun harus menyesuaikan diri dengan sistem keamanan baru yang mungkin lebih kompleks dan menyita waktu.
Hal ini menambah beban mental, terutama bagi mereka yang tidak terbiasa dengan teknologi digital lanjutan.
Pengembangan teknologi otentikasi yang lebih aman dan inovatif menjadi keharusan.
Mulai dari deteksi sinyal otentikasi berbasis gerakan mikro, pengenalan iris mata, hingga sistem multi-faktor berbasis perilaku pengguna harus segera diterapkan untuk melindungi identitas digital Anda dari penyalahgunaan AI.
Kecerdasan buatan atau akal imititasi (AI) yang semakin canggih bak pisau bermata dua. Bisa meningkatkan kinerja manusia, tapi tak jarang menjadi sarana hoaks.
Di Arab Saudi, belum lama ini pemimpin imam Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Syeikh Abdurrahman As-Sudais menjadi “korban” AI. Khotbahnya di Masjidil Haram tentang Palestina dimanipulasi dengan AI sehingga bermakna lain. Video hoaks itu lantas disebarkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab.
Penyalahgunaan AI ini akan menjadi tema khotbah salat Jumat pada 25 Juli mendatang di masjid-masjid di seantero Arab Saudi.
Perintah khotbah bertema AI itu datang dari Menteri Urusan Islam, Dakwah, dan Bimbingan Arab Saudi, Dr. Abdul Latif bin Abdul Aziz Al-Syaikh.
Kementerian yang dipimpin Abdul Latif ini membawahi semua masjid di Arab Saudi kecuali Masjidil Haram dan Masjid Nabawi.
Dalam pernyataan tertulisnya pada Selasa (22/7), Menteri Abdul Latif mengarahkan kepada seluruh khatib masjid membahas tentang syukur atas nikmat-nikmat Allah yang telah Dia tundukkan bagi hamba-hamba-Nya, termasuk di antaranya adalah teknologi AI. Peringatan agar tidak menyalahgunakannya juga perlu ditekankan.
Materi yang disampaikan dalam khotbah tersebut didasarkan pada kita suci Al-Quran dan hadis Nabi Muhammad Saw.
Berikut poin-poinnya:
1. Menunjukkan nikmat Allah kepada hamba-hamba-Nya berupa pengajaran terhadap apa yang sebelumnya mereka tidak ketahui, serta penundukan segala yang ada di langit dan bumi untuk dimanfaatkan dalam hal-hal yang bermanfaat bagi mereka.
Termasuk dalam hal ini adalah teknologi kecerdasan buatan yang memberi banyak manfaat dalam kehidupan manusia. Allah Ta’ala berfirman:
“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, dari-Nya” (QS. Al-Jatsiyah: 13).
Maka bentuk syukur terhadap nikmat ini adalah dengan menggunakannya dalam hal yang bermanfaat.
2. Peringatan dari menggunakan teknologi kecerdasan buatan dan media sosial dalam perkara-perkara yang diharamkan syariat dan dilarang, seperti:
Berbohong,
Fitnah,
Tuduhan palsu,
Pemalsuan gambar, suara, dan video,
Pemalsuan identitas.
Tujuan dari perbuatan tersebut adalah memutarbalikkan fakta, menyebarkan informasi menyesatkan, mencemarkan nama baik, merusak kehormatan, menyakiti orang-orang yang tidak bersalah, hingga merekayasa fatwa palsu atas nama para ulama.
Ditekankan pula agar umat mengingat firman Allah Ta’ala:
“Tiada satu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaf: 18)
3. Menjelaskan tanggung jawab seorang muslim untuk tabayyun (klarifikasi) dan memastikan kebenaran informasi sebelum menyebarkannya. Jangan mudah terbawa arus dan mempercayai segala yang tersebar di media modern.
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Cukuplah seseorang dianggap berdusta jika ia menceritakan semua yang ia dengar.” (HR. Muslim)
4. Peringatan terhadap dampak buruk dari menyebarkan kebohongan dan fitnah terhadap masyarakat dan individu.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Barang siapa berkata tentang seorang mukmin sesuatu yang tidak ada padanya, maka Allah akan menempatkannya di dalam ‘radghatul khabal’ (nanah penghuni neraka) sampai ia keluar dari apa yang ia katakan.” (HR. Abu Dawud dan lainnya)