Strategi Belajar yang Efisien
Agha memiliki pendekatan belajar yang efisien. Ia biasanya menghabiskan waktu belajar maksimal empat jam per hari, namun sering kali hanya memerlukan dua hingga tiga jam. “Saya biasanya mulai belajar setelah maghrib,” katanya. Dengan metode yang ia terapkan, Agha merasa dapat mengatur waktu belajarnya dengan baik dan tetap menjaga konsentrasi dalam memahami materi pelajaran.
Selain itu, Agha juga menyarankan untuk mengaktifkan mode penalaran AI jika tersedia, seperti di ChatGPT, karena menurutnya, kualitas jawaban yang diberikan akan lebih baik dibandingkan dengan mode cepat. Kualitas pengajaran AI yang lebih mendalam membantu Agha dalam memahami konsep-konsep fisika yang kompleks.
Persiapan Matang Menjelang TKA
Dalam persiapan menghadapi TKA, Agha telah memulai langkah-langkahnya sejak tiga bulan sebelum ujian. Ia menekankan pentingnya memahami ketentuan dan peraturan TKA secara menyeluruh, termasuk durasi ujian serta kisi-kisi mata pelajaran. “Setelah itu, saya mulai belajar secara bertahap agar tidak panik saat ujian mendekat,” jelasnya.
Agha juga menyusun rencana belajar yang sistematis. Ia mencatat materi, durasi belajar, dan target capaian di secarik kertas. Dengan disiplin yang tinggi, Agha menjalankan rencana tersebut dan selalu melakukan review terhadap materi yang telah dipelajari untuk memastikan pemahamannya. Metode ini terbukti efektif, dan hasilnya terlihat dari nilai yang ia peroleh.
Prestasi yang Menginspirasi
Selain berhasil meraih nilai sempurna di Fisika, Agha juga menunjukkan hasil yang baik di mata pelajaran lainnya. Di antaranya, ia memperoleh nilai 83,20 di Matematika, 80,13 di Bahasa Indonesia, dan 57,63 di Bahasa Inggris. Untuk Matematika Tingkat Lanjut, Agha meraih nilai 62,97. Pencapaian ini tidak datang begitu saja; selama masa SMA, ia telah mengikuti berbagai kompetisi, termasuk Olimpiade Sains Nasional (OSN) dan berbagai lomba Matematika dan IPA dari tingkat kabupaten hingga nasional.
Ketertarikan Agha pada Fisika berawal dari karakteristik ilmu tersebut yang bersifat numerik dan konseptual, menjadikannya lebih menarik untuk dipelajari. Dengan semangat dan metode belajar yang inovatif, Agha tidak hanya membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi alat bantu yang efektif, tetapi juga menginspirasi siswa lainnya untuk belajar mandiri dan memanfaatkan sumber daya yang ada.
Sumber: https://tekno.kompas.com/read/2026/01/20/10220027/belajar-mandiri-pakai-ai-siswa-sma-kudus-raih-nilai-100-fisika-di-tka

