Peran Nvidia dalam Ekonomi Global yang Membawa Tantangan Baru
Nvidia, perusahaan semikonduktor asal Amerika Serikat, kini menjadi salah satu korporasi paling berpengaruh di dunia teknologi. Nilainya melebihi USD 4 triliun atau sekitar Rp 67.000 triliun dengan kurs Rp 16.750 per dolar AS. Perusahaan ini tidak hanya memimpin pasar chip dan perangkat lunak komputasi berperforma tinggi, tetapi juga menjadi tulang punggung operasional sistem AI generatif seperti ChatGPT dari OpenAI.
Infrastruktur Nvidia tersebar di berbagai pusat data di seluruh dunia, termasuk Eropa dan Amerika Utara. Pada tahun 2025, perusahaan ini mencatatkan pendapatan sebesar USD 125 miliar atau sekitar Rp 2.094 triliun melalui berbagai kesepakatan strategis. Kesepakatan tersebut mencakup investasi bersama Intel, komitmen jangka panjang dengan OpenAI, serta kerja sama dengan penyedia layanan komputasi awan seperti CoreWeave.
Namun, pertumbuhan yang pesat ini juga membawa tantangan baru. Investor global mulai memperhatikan struktur kesepakatan bisnis Nvidia, yang dinilai memiliki pola sirkular. Dalam beberapa kasus, Nvidia menanamkan modal ke mitra usaha yang kemudian menggunakan dana tersebut untuk membeli produk dari perusahaan sendiri. Praktik ini mengingatkan analis pada model pembiayaan oleh pemasok atau vendor financing.
Kekhawatiran Investor terhadap Pola Bisnis Nvidia
Kekhawatiran ini semakin meningkat ketika Nvidia menggunakan kendaraan pembiayaan khusus (special-purpose vehicles/SPV) dalam beberapa transaksi. Contohnya, SPV yang terkait dengan xAI, perusahaan kecerdasan buatan milik Elon Musk. Skema ini mengingatkan pengamat pada Enron, perusahaan energi besar yang runtuh pada 2001 akibat praktik akuntansi agresif melalui SPV.
Meskipun Nvidia menolak perbandingan tersebut, manajemen perusahaan menyatakan bahwa laporan keuangannya “lengkap dan transparan” serta tidak menggunakan SPV untuk menyembunyikan utang atau menggelembungkan pendapatan. Selain itu, Nvidia menegaskan tidak bergantung pada pembiayaan oleh pemasok untuk mendukung pertumbuhan pendapatannya.
Namun, analis Forrester, Charlie Dai, menilai masalah utamanya bukan pada legalitas, melainkan pada keberlanjutan. Menurutnya, Nvidia sangat bergantung pada permintaan yang didukung pembiayaan dari ekosistemnya sendiri. Jika pertumbuhan AI melambat, hal ini bisa menciptakan eksposur risiko bagi perusahaan.
Prospek Jangka Panjang dan Risiko Gelembung AI
Di sisi lain, sejumlah analis tetap optimis terhadap prospek jangka panjang Nvidia. Mereka percaya bahwa AI akan menjadi fondasi transformasi ekonomi global. Namun, kekhawatiran akan terbentuknya gelembung AI tetap ada. Hal ini disebabkan oleh besarnya belanja modal dan utang yang terkait dengan pembangunan pusat data skala besar.
Posisi Nvidia di jantung ekonomi global akan sangat bergantung pada satu faktor kunci: apakah ledakan AI benar-benar mampu menghasilkan nilai ekonomi berkelanjutan bagi para penggunanya. Jika janji revolusi AI tidak terwujud secepat yang diharapkan, struktur kesepakatan yang kini menopang pertumbuhan Nvidia justru bisa menjadi sumber tekanan baru bagi pasar global.
Tantangan di Tengah Pertumbuhan Pesat
Dengan semua tantangan ini, Nvidia harus terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan keberlanjutan. Meski saat ini perusahaan berada di posisi yang kuat, investor dan analis tetap waspada terhadap potensi risiko yang muncul dari model bisnis yang kompleks. Keberhasilan Nvidia di masa depan akan bergantung pada kemampuan perusahaan untuk memastikan bahwa pertumbuhan AI benar-benar memberikan nilai nyata, bukan sekadar momentum sementara.

