Jumat, Januari 23, 2026
BerandaUncategorizedPeluang AI di Ritel Indonesia Tertunda Karena Kurangnya Dasar Data

Peluang AI di Ritel Indonesia Tertunda Karena Kurangnya Dasar Data

Pertumbuhan Adopsi AI di Sektor Ritel Indonesia yang Mengesankan

Adopsi kecerdasan buatan (AI) di sektor ritel Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang sangat pesat. Pada tahun 2024, sebanyak 28% bisnis telah menggunakan teknologi AI, dengan total sekitar 5,9 juta usaha yang mengadopsinya. Angka ini bahkan melampaui tingkat adopsi AI di Amerika Serikat, menunjukkan bahwa Indonesia sedang mempercepat transformasi digital dalam industri ritel.

Antusiasme terhadap AI di kalangan peritel Indonesia sangat tinggi. Sebagian besar perusahaan global berencana meningkatkan investasi infrastruktur AI dalam dua tahun ke depan. Namun, di balik momentum positif ini, masih ada tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam hal kesiapan operasional.

Menurut Rosemary DeAragon, Global Head of Retail and Travel di Snowflake, hambatan utama dalam adopsi AI di ritel Indonesia tidak terletak pada teknologinya, melainkan pada fondasi data dan sumber daya manusia. Banyak peritel masih menghadapi masalah seperti data yang terfragmentasi akibat sistem lama, kualitas data yang rendah, serta kurangnya strategi data yang terpadu.

Selain itu, kekhawatiran terhadap keamanan dan tata kelola data juga menjadi hambatan. Masalah ini diperparah oleh kekurangan talenta digital, di mana Indonesia diperkirakan membutuhkan sembilan juta tenaga kerja digital pada 2030.

Untuk membuat implementasi AI memberikan dampak nyata, peritel perlu membangun strategi data yang kuat sebelum mengadopsi model AI yang kompleks. Praktik terbaiknya adalah menggunakan satu platform data terpadu yang aman, memiliki tata kelola yang baik, dan mudah digunakan. Platform ini mampu menghilangkan silo data, menyatukan data terstruktur maupun tidak terstruktur, serta memungkinkan AI digunakan secara efektif dalam operasional harian.

Tanpa fondasi yang kuat, investasi AI berisiko gagal memberikan nilai bisnis yang signifikan. Pengalaman global menunjukkan bahwa kesiapan data berbanding lurus dengan ROI AI. Contohnya, Workwear Group di Australia berhasil menurunkan biaya hingga 30% hanya dengan menyederhanakan pembaruan metrik setelah membangun single source of truth.

Studi Forrester juga mencatat bahwa perusahaan yang mengadopsi platform data dan AI modern mampu meraih ROI hingga 354% dalam tiga tahun, dengan peningkatan pendapatan dan margin operasional yang signifikan.

Dari sisi investasi, AI tidak lagi identik dengan biaya awal yang besar. Platform cloud modern menggunakan skema bayar sesuai pemakaian, memungkinkan peritel menengah memulai dari proyek kecil dan meningkatkan skala secara bertahap. Selain itu, time-to-value menjadi jauh lebih cepat—banyak organisasi mampu mencapai titik balik modal dalam waktu kurang dari enam bulan, sehingga manfaat bisnis dapat dirasakan hampir secara langsung.

Ke depan, integrasi data online dan offline serta pemanfaatan analitik real-time akan menjadi kunci daya saing ritel. Analitik real-time memberikan gambaran kondisi saat ini, sementara AI memanfaatkan data historis untuk memprediksi permintaan dan merekomendasikan tindakan. Kombinasi keduanya memungkinkan peritel mengoptimalkan inventori, meningkatkan pengalaman pelanggan, dan mengambil keputusan berbasis data secara lebih cepat dan presisi—menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan di era AI ritel.

zonagadget
zonagadgethttps://www.zonagadget.co.id/
Berikan ilmu yang kamu punya, niscaya kamu akan mendapatkan yang lebih
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

New Post

Most Popular