Dampak bagi Google dan Pihak Ketiga
Jika Google tidak mematuhi peraturan ini, mereka berisiko menghadapi investigasi formal dan denda yang dapat mencapai 10% dari total penjualan tahunan global mereka. Dalam konteks Android, Google dituntut untuk memberikan akses yang sama kepada pengembang AI pihak ketiga terhadap fitur-fitur yang sama dengan yang dimiliki oleh layanan mereka sendiri, seperti Gemini. Hal ini bertujuan untuk menciptakan persaingan yang lebih adil di pasar smartphone, memberikan kesempatan yang sama bagi semua pengembang untuk berinovasi dan bersaing.
Akses Data untuk Mesin Pencari Pihak Ketiga
Selain itu, Google juga diwajibkan untuk memberikan akses kepada pesaing mesin pencari pihak ketiga terhadap data yang dianonimkan, termasuk informasi terkait peringkat, kueri, klik, dan tampilan yang dikelola oleh Google Search. Data ini dianggap penting agar mesin pencari alternatif dapat mengoptimalkan layanan mereka dan memberikan pilihan yang lebih baik bagi pengguna dibandingkan dengan Google Search.
Dalam konteks ini, Google tampaknya sedang berada di persimpangan jalan. Mereka harus memutuskan antara mempertahankan kontrol atas ekosistem Android dan Google Search, atau membuka akses kepada pihak ketiga untuk menciptakan lingkungan yang lebih kompetitif. Hal ini tidak hanya akan berdampak pada strategi bisnis Google, tetapi juga pada cara pengguna berinteraksi dengan teknologi AI dan mesin pencari di masa depan.
Seiring berjalannya proses hukum ini, banyak pihak menantikan bagaimana Google akan merespons tuntutan tersebut dan langkah-langkah apa yang akan diambil untuk memastikan kepatuhan terhadap DMA. Apakah mereka akan beradaptasi dengan tuntutan pasar yang semakin meningkat atau tetap mempertahankan model bisnis yang telah terbangun selama bertahun-tahun? Kita tunggu saja perkembangan selanjutnya.
Sumber: https://www.androidauthority.com/google-dma-android-ai-search-data-proceedings-3635493/

