Jumat, Januari 23, 2026
BerandaUncategorizedPerkembangan Otak Cerdas, Cerita Kita di Era AI

Perkembangan Otak Cerdas, Cerita Kita di Era AI

Perubahan Kecerdasan di Era Digital

Dalam kehidupan sehari-hari, mungkin kita tidak menyadari bahwa cara kita menjadi “pintar” telah mengalami perubahan yang signifikan. Perubahan ini tidak terjadi dalam ruang rapat atau seminar, melainkan di meja makan, di KRL dan TransJakarta, di ruang kelas sekolah negeri, di kafe tempat mahasiswa mengerjakan skripsi, bahkan saat kita rebahan sambil scroll TikTok.

Ketika layar di tangan kita semakin canggih, otak kita diam-diam ikut bertransformasi. Ada yang semakin tajam. Ada yang makin goyah. Ada yang tetap berlari. Ada juga yang tanpa sadar melambat. Dan di tengah perubahan besar itu, ada pertanyaan yang semakin relevan: apa sebenarnya arti dan makna “pintar” di zaman sekarang?

Dari Buku ke Pencarian: Cara Lama yang Mulai Pudar

Dulu, kehidupan belajar orang Indonesia identik dengan buku fisik. Dari LKS, Bupena, hingga diktat fotokopian yang baunya khas. Di era itu, siapa yang rajin menghafal, dialah yang dianggap pintar. Sistem sekolah memang menuntut itu. Ini era ketika kerja keras otak adalah tentang fokus panjang—membaca halaman demi halaman tanpa distraksi, kemampuan yang menurut penelitian Shenhav dkk. (2017), sangat melatih ketahanan mental dan kapasitas kognitif jangka panjang.

Namun kemudian Google datang. Internet masuk warnet, lalu ke HP, dan tiba-tiba “mencari” jadi lebih penting daripada “menghafal”. Orang yang cepat menemukan informasi jadi unggul. Kita belajar untuk membandingkan sumber, mengecek kebenaran, dan lebih skeptis. Buku memang tetap ada, tapi kecepatan mengetik kata kunci mengalahkan kecepatan membalik halaman.

Era Algoritma: Ketika Kita Tak Lagi Mencari-Kita Dicari

Lalu datanglah media sosial. Mendadak, kita tidak lagi perlu mencari informasi. Informasi datang dengan sendirinya. Kita cukup buka Instagram atau TikTok, dan dunia seolah mengalir ke kita tanpa henti. Di titik ini, bahaya halus mulai muncul. Algoritma hanya menyajikan hal yang kita sukai. Kita hidup dalam “filter bubble”—istilah dari Pariser (2011)—yang membuat kita nyaman sekaligus tumpul. Kita marah jika ada pendapat berbeda. Kita stres jika like berkurang. Kita berpikir kita objektif padahal kita sedang terkurung bias.

Di era ini, pintar sering disalahartikan sebagai viral. Padahal yang dibutuhkan justru satu hal yang makin mahal: kewarasan. Kemampuan tetap jernih di tengah banjir emosi digital.

Era Gen AI: Ketika Pertanyaan Lebih Berharga daripada Jawaban

Lalu datanglah era Generative AI. ChatGPT, Claude, Copilot, Gemini—semuanya menjadi “teman ngobrol” yang tak pernah capek. Mereka tidak hanya memberi link, tetapi memberi jawaban yang sudah tersusun rapi. Di sini, definisi pintar bergeser sekali lagi. Bukan lagi siapa yang hafal. Bukan siapa yang paling cepat mencari. Bukan siapa yang paling viral.

Tapi siapa yang paling tepat bertanya. Menurut Bommasani dkk. (2021), kemampuan manusia memformulasikan masalah dengan jelas—problem framing—menjadi inti kecerdasan era AI. Kita belajar dengan berdialog. Kita mengasah argumen dengan debat kecil bersama mesin. Kita membangun ide sedikit demi sedikit, seperti sedang rally ping-pong antara otak kita dan algoritma yang kita sparring-kan.

Era yang Sedang Datang: Ketika AI Bergerak dengan Sendirinya

Para pakar menyebut fase selanjutnya sebagai Post-Gen AI atau Agentic AI. Di masa itu, kita tidak lagi mengetik, tidak lagi browsing, bahkan tidak lagi mengeksekusi tugas. Kita hanya memberi instruksi, dan AI yang bekerja dari awal sampai akhir. Bayangkan seseorang di Jakarta berkata, “Tolong atur perjalanan ke Labuan Bajo minggu depan.” AI akan memilih maskapai, membandingkan harga hotel, mengatur itinerary, bahkan menghubungi AI agen tur untuk negosiasi.

Teknologi jadi invisible interface. Seolah punya staf pribadi 24/7. Di titik itu, kecerdasan manusia tidak lagi diukur dari kemampuan teknis, tetapi dari kearifan mengambil keputusan, kesadaran moral, dan kemanusiaan dalam menentukan arah. Seperti yang dijelaskan Churchland (2019), moralitas bukan sekadar logika; ia lahir dari empati, pengalaman, dan intuisi yang tidak bisa direplikasi mesin.

Popcorn Brain dan Kemewahan yang Kembali Menjadi Langka

Namun ada jebakannya. Di tengah keterjangkauan teknologi, otak manusia menghadapi risiko “Popcorn Brain”—istilah populer untuk pikiran yang meloncat-loncat, mirip kereta yang tak mau berhenti di stasiun. Nicholas Carr (2010) menyebutnya gejala otak yang kehilangan kedalaman karena terlalu sering dibombardir distraksi digital.

Dan di sinilah kejutan terbesar muncul. Di era serba instan, kemampuan kuno yang dulu dianggap membosankan tiba-tiba berubah menjadi kemewahan kelas atas: deep reading. Maryanne Wolf (2007) menunjukkan bahwa membaca mendalam bukan hanya soal memahami teks, tapi melatih empati, logika sebab-akibat, dan struktur berpikir kompleks—hal-hal yang tidak bisa digantikan AI. Tanpa itu, kita punya pengetahuan luas tapi dangkal, cepat tetapi rapuh.

Masalah Kita di Indonesia: Sistem Pendidikan Masih Tertinggal di Era Hafalan

Ketika dunia berlari menuju Agentic AI, sebagian besar sekolah dan kampus di Indonesia masih menguji anak-anak dengan hafalan yang bisa dijawab AI dalam lima detik. Kita menghukum rasa ingin tahu, tapi memberi nilai A untuk kemampuan mengingat. Akibatnya muncul jurang kognitif: sekelompok kecil orang yang mampu mengarahkan AI karena mereka punya kedalaman berpikir, dan massa besar yang hanya mengikuti arus algoritma. Kesenjangan ini bukan hanya teknologi, tetapi kesadaran.

Kecerdasan Akan Murah, Kemanusiaan Akan Mahal

Kita sedang berada di titik paling ironis dalam sejarah manusia. Mesin memiliki kecerdasan hampir tanpa batas. Tapi mesin tidak punya empati. Tidak punya nurani. Tidak punya rasa pedih melihat kemiskinan atau kehancuran. Kita bisa meminta AI mencari data kemiskinan. Kita bisa meminta AI menulis strategi penanggulangannya. Bahkan kelak AI bisa menyalurkan bantuan sosial secara otomatis. Tapi AI tidak bisa merasakan perihnya kemiskinan. Itulah wilayah manusia.

Dan seperti diingatkan Kahneman (2011), keputusan paling penting dalam hidup tidak ditentukan oleh logika yang dingin, tetapi oleh intuisi yang matang, pengalaman emosional, dan nilai moral.

Penutup: Saat Dunia Melaju Cepat, Jangan Sampai Kita Tersesat

Kita sebenarnya tak perlu gentar menghadapi AI. Teknologi, pada hakikatnya, hanyalah alat bantu. Hal yang patut dikhawatirkan justru ketika, di tengah kecanggihan yang melesat ini, sisi kemanusiaan kita perlahan memudar. Saat kita piawai mengendalikan mesin, tetapi gagap memahami sesama manusia. Ketika kita terobsesi pada pengetahuan instan, namun meninggalkan kebijaksanaan yang tumbuh perlahan. Ketika kita lihai berdialog dengan AI, tetapi jarang berhenti untuk bertanya pada diri sendiri: apa makna dari semua yang kita kejar ini?

Sebab pada akhirnya, mungkin dunia akan melupakan apa yang tidak kita bagikan. Namun yang lebih berbahaya, kita sendiri akan kehilangan apa yang tak pernah kita latih. Maka tugas kita hari ini sesungguhnya sederhana, sekaligus luhur: terus belajar tanpa kehilangan kejernihan, menjaga kelembutan hati, dan tetap menjadi manusia—di tengah kecerdasan yang nyaris tak berbatas.

zonagadget
zonagadgethttps://www.zonagadget.co.id/
Berikan ilmu yang kamu punya, niscaya kamu akan mendapatkan yang lebih
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

New Post

Most Popular