Informasi Pribadi yang Terancam
Gugatan tersebut juga mengklaim bahwa data yang dibagikan kepada Google dan Meta oleh Perplexity mencakup informasi yang dapat diidentifikasi secara pribadi, terlepas dari apakah informasi tersebut dimasukkan dalam mode Incognito, yang dalam gugatan ini disebut “tipuan”. Menariknya, Perplexity tidak mewajibkan pengguna untuk menyetujui kebijakan privasinya sebelum menggunakan layanan, dan menemukan kebijakan tersebut di aplikasi web Perplexity cukup sulit karena tidak terhubung langsung.
Penggugat anonim ini menyatakan bahwa ia menggunakan Perplexity untuk berbagai tujuan sensitif, termasuk untuk mendapatkan nasihat keuangan dan hukum. Hal ini menimbulkan kekhawatiran lebih lanjut mengenai keamanan dan privasi data pengguna.
Tuntutan Terhadap Google dan Meta
Tidak hanya Perplexity yang menjadi sasaran dalam gugatan ini; Google dan Meta juga dituduh gagal menegakkan kebijakan mereka sendiri yang seharusnya dapat mencegah pelacakan dengan cara ini. Gugatan ini berpotensi melibatkan pengguna Perplexity di AS yang percakapan mereka dibagikan dengan Google dan Meta antara akhir 2022 hingga awal 2026.
Jika gugatan ini berhasil, kompensasi yang mungkin diterima pengguna bisa sangat besar. Menurut Ars Technica, kerugian dalam gugatan ini dapat melebihi $5,000 untuk setiap pelanggaran individu, dan jumlah pelanggaran tersebut bisa mencapai jutaan.
Kasus ini menjadi pengingat penting akan perlunya transparansi dalam kebijakan privasi dan penggunaan data pengguna oleh perusahaan teknologi. Dengan semakin banyaknya laporan tentang pelanggaran privasi, pengguna diharapkan lebih waspada dan cermat dalam memilih layanan yang mereka gunakan.
Sumber: https://www.androidauthority.com/perplexity-google-meta-class-action-3654860/

