Google

Log in Google dengan Sidik Jari? Bisa Lho Sekarang

Anda memiliki akun Google? Satu akun Google akan sangat berguna karena anda bisa log in ke semua aplikasi besutan Google seperti Google Mail, Google Maps, atau Youtube. Ribet karena harus memasukkan password setiap kali log in? Tenang saja karena hal itu tidak akan dialami lagi oleh anda karena fitur baru yang baru saja dirilis oleh Google.

Google telah merilis update terbaru dari Google Service yang memungkinkan anda log in akun Google anda menggunakan sidik jari, Fitur terbaru Google ini bisa anda cicipi bila ponsel anda menggunakan sistem operasi Android dengan spesifikasi minimal Android Nougat.

Saat anda ingin masuk ke halaman Google, pengguna biasanya diharuskan mengetikkan nama dan password untuk login. Dengan adanya fitur Fingerprint Lock, proses log ini menjadi lebih singkat karena proses masuk ke halaman akan menggunakan sidik jari.

Metode autentikasi fitur ini terbangun dari standar FIDO2, W3C WebAuth dan FIDO CTAP yang merupakan model fitur teranyar yang dihubungkan dengan sistem pembaca sidik jari yang tertanam dalam perangkat android. Sedangkan untuk keamanan data anda diklaim aman oleh Google karena biometric tidak akan mengalir ke dunia maya atau dikirim ke server.

Google hanya akan membaca data biometric yang dikirimkan dari penggunanya, bukan untuk mengirimkan ke dunia maya. Perlu diketahui, fitur fingerprint lock hanya digunakan melalui browser besutan Google, Google Chrome. Pertama-tama anda bisa mengunjungi situs Google Password Manager di Browser Chrome di ponsel anda.

Kemudian, setelah masuk situs Google Password Manager, pengguna harus memilih menu website, layanan, atau aplikasi yang akan diakses melalui sidik jari. Setelah log in pertama kali, nantinya daftar layanan atau aplikasi yang ingin diakses menggunakan sidik jari bisa ditambahkan. Pada proses log in ini, akan muncul pop up yang menyatakan kesediaan menyimpan data anda di situs Google Password Manager.

Setelah memilih layanan atau aplikasi untuk diakses, selanjutnya adalah halaman verifikasi. Tombol “Verify It’s You” akan muncul, lalu klik “Continue”. Lalu muncul jendela konfirmasi identitas sidik jari. Tempel jari anda pada pemindai di Smartphone. Selesai.

Rilis Oktober 2019, Huawei Rilis Aplikasi Peta untuk Saingi Google Maps

Produsen asal China, Huawei dikabarkan akan membuat sebuah aplikasi peta yang akan rilis Oktober 2019 mendatang. Huawei Technologies kabarnya ingin menantang Google dan dalam hal ini aplikasi peta yang mereka buat akan menyaingi Google Maps. Nama yang akan diberikan Huawei untuk aplikasi ini adalah Map Kit.

Namun demikian, aplikasi peta milik Huawei ini ditargetkan untuk pengembang, bukan untuk konsumen. Nantinya, para pengembang akan membuat aplikasi yang bisa memanfaatkan kemampuan pemetaan dari aplikasi peta Huawei ini. Keunggulan utama dari aplikasi peta Huawei digadang-gadang adalah mampu menggambarkan wilayah secara detil.

Rencananya, aplikasi peta Huawei akan bisa dihubungkan ke layanan pemetaan lokal, menjangkau di 150 negara dan tersedia dalam 40 bahasa. Yang menarik, aplikasi ini dikembangkan lewat kerjasama dua perusahaan asal Rusia dan Amerika Serikat. Pengembang awal aplikasi ini adalah Yandex Rusia dan situs aplikasi travel Amerika Serikat, Booking Holdings.

Untuk layanan pemetaan Map Kit, Huawei bakal memanfaatkan stasiunn pangkalan telekomunikasi pada beberapa negara untuk melengkapi penentuan posisi satelit.

Dari segi fitur, selain menyediakan pemetaan, Map Kit juga dilengkapi informasi lalu lintas, sistem navigasi yang memungkinkan kita mengenali saat mobil berpindah lajur, serta dukungan pemetaan AR. Hal ini seperti yang dikatakan ioleh Presiden Cloud Service Hauwei Consumer Business Group, Zhang Pigan seperti dilansir dari GizmoChina pada Kamis (15/8/2019).

Kemungkinan besar aplikasi peta ini merupakan langkah Huawei dalam mengantisipasi kebijakan Android yang tak akan lagi memasok kebutuhannya. Hal ini dikarenakan larangan pemerintah Amerika Serikat yang mengkategorikan Huawei sebagai produk yang mengancam, berbuntut perusahaan-perusahaan yang ada di sana, termasuk Google mau tak mau harus berhenti kerjasama dengan Huawei.

Konsekuensi yang didapatkan adalah Huawei tak akan lagi mendapat pasokan aplikasi dari Google seperti Google Maps, Youtube bahkan Android. Dalam perkembangannya, beberapa raksasa digital lainnya sudah lebih dulu meluncurkan aplikasi pemetaan. Misalnya Microsoft telah memperkenalkan aplikasi bernama Bing Maps, dan Apple memiliki aplikasi peta bernama Maps.

Bocoran Tampilan Google Pixel 4, Bezel Tebal untuk Apa?

Sebuah gambar HP Google Pixel 4 tersebar di dunia maya khususnya media sosial twitter. Sebuah akun bernama @OnLeaks mengunggah gambar desain yang diduga Google Pixel 4 pada Sabtu (20/7/2019). Foto tersebut menunjukkan render dari Smartphone Google Pixel 4 yang memiliki bezel yang besar baik di atas maupun di atas.

Sejumlah sensor kabarnya disiapkan pada bezel tersebut dan kamera depan Google Pixel 4. Salah satu sensor yang akan hadir adalah Project Soli, yaitu sebuah teknologi pengenal gerakan. Teknologi ini memungkinkan smartohone bisa mendeteksi gerakan bahkan yang sangat halus sekalipun menggunakan radar.

Hal ini yang membuat Google Pixel 4 membutuhkan bezel yang besar pada tampilannya. Project Soli ditempatkan di bingkai layar ponsel, yakni sejejar dengan kamera depan. Jika hal ini benar adanya, maka Google Pixel 4 menjadi ponsel pertama yang akan menggunakan teknologi Soli. Boleh jadi tidak hanya sensor gerakan yang akan hadir di amsa mendatang, namun juga fitur-fitur lainnya..

Rumor soal penggunaan teknologi ini semakin kuat saat Google merilis sebuah video yang menunjukkan Google Pixel 4 yang bisa digunakan tanpa gerakan tangan pada Selasa (30/7/2019). Dalam video tersebut diperlihatkan bahwa anda tak perlu menyentuh langsung layar, dan hanya menggerakkan tangan dari jarak sekian meter untuk mengontrol ponsel.

Selain teknologi Soli, ada juga fitur Face Unlock yang punya prinsip kerja seperti Face ID pada iPhone. Google rencananya menggunakan teknologi pengenalan wajah yang digabungkan dengan algoritma khusus, sehingga memungkinkan pengguna membuka ponsel secara otomatis tanpa menekan tombol apapun pada ponsel.

Itulah sedikit bocoran mengenai tampilan Google Pixel 4 yang akan memiliki bezel atas tebal karena punya fitur yang akan disematkan di situ selain kamera, yaitu Fitur Face Unlock dan teknologi Soli. Jadi jangan harap anda melihat Google Pixel 4 dengan tampilan tanpa notch atau poni seperti kebanyakan tampilan ponsel jaman sekarang.

Google belum mengumumkan tanggal untuk perilisan resmi Google Pixel 4. Namun demikian, diprediksi raksasa internet tersebut bakal memperkenalkannya pada Oktober 2019.

Waspada, Google Punya Semua Data Tentang Anda!

Raksasa internet, Google secara tidak sadar telah menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari. Bagaimana tidak, setiap hari paling tidak kita bersinggungan dengan salah satu layanan Google, seperti Youtube untuk menonton video atau Gmail untuk berkirim pesan. Google secara diam-diam berhasil memperoleh data kita lewat layanan yang mereka berikan.

Anda perlu waspada dengan hal ini karena bisa saja data-data diri anda yang sudah terekam oleh Google disalahgunakan dan digunakan untuk hal-hal yang tidak diinginkan. Berikut layanan Google yang bisa untuk merekam data diri anda.

  • Google Chrome

Google Chrome adalah browser yang paling banyak digunakan oleh orang-orang. Dengan melacak histori dari situs-situs yang pernah anda buka, Google bisa mengetahui data diri anda.

  • Google Search

Layanan Google Search juga termasuk dalam cara Google untuk mendapatkan data penggunanya. Google Search menumpulkan riwayat pencarian setiap pengguna.

  • Youtube

Youtube adalah aplikasi berbagi video yang telah diakuisisi dan dimiliki Google. Semakin berkembangnya teknologi, kini video Youtube semakin diminati dan ditonton oleh jutaan orang setiap harinya. Padahal, Google bisa mengumpulkan data dari para pengguna dan penonton video di Youtube.

  • Gmail

Layanan Gmail adalah layanan surat ekektronik yang bisa kita gunakan untuk mengirim pesan. Google bisa mengumpulkan data soal pengguna dan daftar kontak yang ada di dalamnya.

  • Google Foto

Jika kita menyimpan foto di Google Foto, itu berarti Google juga bisa mengakses foto tersebut.

  • Google Drive

Sama halnya dengan Google foto, Google Drive juga merupakan layanan penyimpanan namun untuk semua file. Google pun juga bisa mengakses semua file yang kita simpan di situ.

  • Google Fit

Layanan yang menunjang orang untuk mengatur target olahraga ataupun apaun yang berhubungan dengan kesehatan.

  • Google Calendar

Layanan yang mampu mengatur jadwal pengguna dari kalender yang disediakan.

  • Android

Sistem operasi yang dipakai oleh sebagian ponsel di dunia ini, Android juga merupakan salah satu produk dari perusahaan Google.

  • Google Maps

Layanan Google ini mengumpulkan data pengguna soal lokasi dan tempat mana saja yang pernah dikunjungi.

  • Waze

Sama seperti Google Maps, Waze juga merupakan aplikasi pangakses lokasi melalui layanan GPS. Waze diakuisisi oleh Google pada 2013

OS Fuchsia Buatan Google Siap Menjadi Pesaing Android

Dominasi Android sebagai sistem operasi smartphone memang tidak terbantahkan. OS yang dibuat oleh Google ini berhasil mengenyahkan Blackberry dan Nokia dengan Symbian-nya. Kesuksesan Android tidak membuat Google berhenti berkreasi. Perusahaan teknologi multinasional tersebut dikabarkan tengah mempersiapkan sistem operasi pengganti Android yang bernama Fuchsia. Kabar mengenai Fuchsia memang bukan kabar baru.

Sistem operasi Fuchsia ini sempat menjadi perbincangan penikmat dan pengamat teknologi di tahun 2016 lalu. Terdapat banyak rumor mengenai kapan OS tersebut dirilis dan informasi mengenai isi dari OS tersebut. Sayangnya, kabar yang beredar tersebut merupakan kabar palsu. Kali ini, kabar mengenai pengembangan OS Fuchsia berasal dari PhoneArea, Senin (1/7/2019) yang bersumber dari laporan Android Police.

Dikabarkan, Google telah membentuk tim yang terdiri dari seratus orang untuk mengembangkan sistem operasi Fuchsia. Sebelumnya, Google telah merilis situs untuk pengembang bernama Fuchsia.dev. Ada perbedaan antara Fuchsia dengan Android dan Chrome. Perbedaan tersebut terletak pada penggunaan kernel. Berbeda dengan Android dan Chrome yang menggunakan kernel Linux, Fuchsia menggunakan microkernel Zircon.

Zircon merupakan sebuah microkernel dari softwareyang diperlukan untuk menjalankan sebuah sistem operasi. Berdasarkan penggunaan kernel tersebut, Fuchsia akan berjalan berbeda dengan Android. Lintas platform Flutter SDK akan memungkinkan developer Android untuk memindahkan aplikasi mereka ke Fuchsia dengan cepat. November lalu, Fuchsia mendukung chipset Huawei Kirin 970 dan OS-nya berhasil disematkan di Honor Play.

Muncul Pertama Kali Agustus 2016

Nama Google Fuchsia pertama kali muncul ke khalayak di Github pada Agustus 2016. Kemunculan Fuchsia tersebut tanpa penjelasan jelas dari sang empunya, Google. Github sendiri adalah platform terbuka untuk para pengembang untuk saling berbagi, berkolaborasi, dan mengembangkan berbagai proyek. Tidak berbeda jauh dengan pendahulunya, Fuchsia merupakan produk software yang terbuka dan bebas untuk dikembangkan.

Pada saat itu, rumor mengenai eksistensi dan perkembangan Fuchsia cukup banyak. Selain itu publik pun bertanya-tanya mengenai kapankah Google akan mengembangkan Fuchsia menjadi sesuatu yang lebih serius. Seperti sudah disebutkan sebelumnya, Fuchsia tidak berdasarkan Linux tetapi berdasarkan Zricon. Zircon sendiri berarti kernel kecil. Fuchsia juga memiliki kemampuan untuk dapat dijalankan di berbagai perangkat.

Fuchsia dapat dijalankan di smartphone, tablet, dan komputer. Di awal 2017, para pengembang menggoda publik bahwa Fuchsia yang mendapatkan user interface pada saat itu bukan merupakan sesuatu yang akan ditinggalkan begitu saja. Sontak publik pun berspekulasi bahwa Fuchsia bisa jadi merupakan sesuatu yang lebih besar dari yang dipikirkan. Google dianggap memiliki rencana yang lebih besar untuk Fuchsia.

Fuchsia Akan Gantikan Android dan Chrome?

Banyak rumor yang beredar jika Fuchsia merupakan OS super yang akan menggantikan Android. Bahkan, muncul kabar yang lebih ambisius yang menyatakan bahwa Fuchsia akan menggantikan tidak hanya Android tetapi juga Chrome dalam 5 tahun ke depan. Jika benar, tentu hal tersebut merupakan sesuatu yang akan berdampak besar pada perkembangan OS dan smartphone. Hal tersebut juga merupakan sesuatu yang gila.

Kabar tersebut akhirnya dibantah Google. Kendati demikian Google tidak menyebutkan secara spesifik jika Fuchsia akan mengganti Android atau tidak. Hal tersebut tentu membuat spekulasi mengenai Fuchsia vs Android terus muncul. Fuchsia juga digadang-gadang akan menawarkan sesuatu yang lebih dengan jangkauan pemakaiannya yang tidak hanya terpaku pada perangkat seperti smartphone dan tablet.

Fuchsia sendiri memang dikembangkan untuk menembus batas sebuah sistem operasi yang sudah nyaman digunakan di smartphone dan komputer. Bukan tidak mungkin jika Fuchsia akan diintegrasikan dalam perangkat pintar di masa depan. Memang masih terlalu jauh berpikir sebuah produk yang masih dalam pengembangan digadang-gadang memberikan dampak signifikan dalam dunia sistem operasi di masa depan.

Namun, gelagat Fuchsia menjadi sesuatu yang besar memang mulai terlihat. Kendati demikian, bukan berarti Fuchsia tidak mungkin gagal. Karena masih belum sempurna penuh, Google bisa saja mematikan proyek ini. Hal lain yang bisa diperdebatkan mengenai Fuchsia adalah statusnya sebagai OS yang menggantikan Android dan Chrome. Jika pada dasarnya Fuchsia tidak signifikan kenapa tidak dibuat dalam bentuk update-ansaja?

Tentu, jawabannya sederhana. Kernel yang ada di Fuchsia disinyalir akan membuat Fuchsia menjadi sesuatu yang lebih dari OS. Dikutip dari Android Authority, kernel tersebut memiliki kemampuan untuk masuk ke sistem yang tertanam dan perangkat uang lebih kecil. Hal tersebut membuat Fuchsia bisa lebih superior dari Android. Bukan tidak mungkin Fuchsia cocok digunakan di perangkat pintar, seperti kulkas dan robot penyedot debu pintar.

Mungkinkah hal tersebut terjadi? Ada posibilitas besar mengenai kemungkinan hal tersebut terjadi. Untuk perusahaan raksasa macam Google, berpikir jauh ke depan dan memikirkan produk revolusioner yang melewati batas yang ada merupakan sebuah keharusan. Paradigma berpikir dari sebuah OS tidak lagi boleh dibatasi pada penggunaan komputer pada umumnya. OS di masa depan harus terintegrasi dengan berbagai produk digital.

Sangat disayangkan jika OS yang tengah dikembangkan tersebut hanya menghasilkan sesuatu yang sekadar lebih baik dari Android atau Chrome. Hal tersebut bukan berarti bukan sebuah pencapaian. Namun, publik memiliki ekspektasi yang lebih besar seiring dengan perkembangan teknologi pintar yang semakin berkembang. Patut ditunggu apakah rumor tersebut merupakan sebuah informasi percobaan atau benar adanya.

Bagaimana menurut Anda, terlalu ambisiuskan paradigma tersebut? Hal yang sangat disayangkan saat ini adalah minimnya informasi mengenai Fuchsia. Kendati sudah mendapatkan pengumuman yang jelas mengenai eksistensinya, tidak banyak yang bisa digali dari OS yang dirumorkan sebagai suksesor spiritual Andromeda. Yang pasti, OS Fuchsia kemungkinan tidak akan sempurna dalam waktu dekat.

Bersiap Kehadiran Google Stadia, Layanan Video Game Streaming Milik Google

Google Stadia merupakan sebuah layanan streaming game yang bisa dikendalikan oleh pemain. Ia bukanlah sebuah konsol seperti Playstastion atau Nintendo, namun Stadia dijalankan di data center Google dengan komputer bertenaga besar yang bisa menjalankan game dengan lancar. Cara streaming Stadia mirip dengan dengan Spotify atau Netflix, namun bukan lagu atau film yang distreaming, tetapi game.

Google Stadia didesain untuk bekerja di banyak hardware dengan berbagai spesifikasi dari Personal Computer (PC) hingga ponsel. Sehingga para pemain tidak membutuhkan spesifikasi khusus untuk memainkannya alias semua perangkat bisa digunakan untuk bermain. Namun demikian, Stadia membutuhkan perangkat dengan internet berkecepatan tinggi.

Wajar jika Stadia membutuhkan koneksi internet berkecepatan tinggi karena ia merupakan layanan cloud-gaming. Wakil Presiden Google, Phil Harisson menyatakan kecepatan internet yang dibutuhkan paling tidak sebesar 25 Mbps. “Meskipun, sebenarnya kami hanya menggunakan rata-rata 20 Mbps untuk mendapatkan resolusi 1080p dan frame rate 60 FPS,” kata Phil seperti dikutip dari Kompas Tekno.

Kecepatan internet dengan angka seperti itu mungkin sudah wajar di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris Jepang atau Korea Selatan. Namun kecepatan seperti itu jarang bisa dicapai di negara-negara berkembang seperti Indonesia. Sedangkan jika ingin memainkan game yang beresolusi 4K dengan rate sama, pengguna harus memiliki kecepatan internet sebesar 30 Mbps.

Sedangkan untuk controller, Google menyediakannya sendiri controller yang bisa terhubung dengan layanan Stadia melalui WiFi. Controller ini diprediksi memiliki tampilan yang hampir sama dengan controller PlayStation. Controller tersebut bisa langsung terhubung ke pusat data Stadia, sehingga pemain tidak perlu melakukan konfigurasi pada perangkat yang digunakan untuk streaming.

Kelebihan controller ini sendiri adalah adanya tombol Google Assistant dan tombol perekaman untuk mengambil foto dan video dari game,

Rilis November 2019

Dikutip dari CNBC Internasional pada Jumat (7/6/2019), Layanan Google Stadia akan mula dirilis pada November 2019 mendatang. Pengguna harus menggunakan Chromecast, yaitu adapter atau dingle HDMI digunakan pada sebuhab HDTV, yang disambungkan ke controller wireless video game milik Google. Sebelumnya, Google hanya memanfaatkan Chromecast untuk streaming musik atau video dari internet.

Sebanyak kurang lebih 30 game akan ditampilkan dalam Google Stadia. Termasuk game-game dari penerbit besar seperti Electronic Arts (EA), Warner Bros, 2K dan Sega. Untuk awal perilisannya, Stadia akan tersedia di 14 negara, di antaranya Amerika Serikat, Inggris dan Kanada. Namun di antara 14 negara, sayangnya Indonesia tidak termasuk di dalamnya.

30 Game yang dirilis di Google Stadia antara lain Dragon Ball Xenoverse 2, DOOM Eternal, Doom 2016, Rage 2, The Elder Scrolls Online, Wolfenstein, Youngblood, Destiny 2, Get Packed, GRID, Metro Exodus, Thumper, Farming Simulator 19, Baldur’s Gate 3, Power Rangers: Battle of the Grid, Football Manager, Samurai Shodown, Final Fantasy XV, Tomb Raider: Definitive Edition, Rise of the Tomb Raider, NBA 2K19, Borderland 3, Mortal Kombat 11, Darksider Genesis, Assasin’s Creed Odyset, Just Dance, Tom Clancy’s. Ghost Recon Breakpoint, Tom Clancy’s The Division 2, Trials Rising, dan The Crew 2.

Meski baru 30 game, pihak Google menjanjikan akan ada game-game lain yang bisa ditampilkan di dalam layanan Google Stadia. Sebab, Google mengonfirmasi telah ada lebih dari 100 studio game yang memiliki kit pengembang guna melakukan porting game ke layanan Stadia.Terlebih, studio baru bernama Stadia Games & Entertainment juga bakal muncul dan mengembangkan game ekslusif yang hanya muncul di Google Stadia.

Untuk perkembangan lebih lanjut, Google juga berencana memperkenalkan layanan Stadia Base, yaitu sebuah layanan yang memungkinkan pengguna untuk membeli, menyimpan dan memainkan game di browser komputer anda. Dalam hal ini adalah Chrome dan juga di Smartphone besutan Google Pixel 3. Namun demikian, informasinya belum terlalu detil untuk diketahui.

Biaya Langganan

Jika ingin menggunakan layanan Google Stadia, pengguna harus berlangganan dengan biaya 9,99 USD per bulan (atau sekitar Rp 140 ribu). Kategori ini masuk ke dalam paket Stadia Pro. Paket ini menawarkan akses penuh ke semua game yang ada di dalam Google Stadia dengan kualitas 4K/60fps/HDR dengan 5.1 surround sound, asal koneksi internetnya cepat seperti tadi disebutkan di atas.

Kabarnya, pelanggan-pelanggan pertama yang berlangganan paket Stadia Pro akan mendapat game Destiny 2. Pelanggan paket Stadia Pro juga akan mendapatkan diskon untuk game-game yang akan dirilis di waktu mendatang.

Jika anda belum memiliki perangkat untuk menunjang layanan Google Stadia, Google juga meyediakan paket yang terdiri dari Chromecast Ultra, Controller Nigt Blue, serta 3 bulan berlangganan senilai 112,99 USD (sekitar Rp 1,7 juta). Paket ini bernama paket Stadia Founder. Ada pula layanan Buddy Pass, yaitu akses untuk memberikan paket Stadia Pro kepada seorang teman selama 3 bulan.

Perlu diketahui jika Chromecast mutlak diperlukan agar pengguna bisa menikmati resolusi game hingga 4K. Sebenarnya perangkat ini dijual terpisah dengan paket Stadia Founder. Jika anda hanya ingin membeli Chrome Cast plus controllernya saja, dikenakan biaya 69 USD (sekitar Rp 985 ribu) per unit.

Stadia menjadi langkah besar Google untuk menggarap industry game yang memiliki nilai 140 miliar USD yang selama ini didominasi oleh Sony dan Microsoft. Langkah Google ini selanjutnya juga diikuti oleh perusahaan lain, Kabarnya, Amazon juga akan menyediakan layanan cloud gaming, hampir sama dengan Google Stadia.

Perang Huawei dan Google Semakin Memanas! Apakah Dampaknya?

Kabar mengenai putusnya hubungan kerja sama antara Google dengan Huawei cukup mendominasi pemberitaan di beberapa media. Dikutip dari Liputan 6 (liputan6.com), pemutusan hubungan kerja tersebut dilakukan berdasarkan perintah Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. Dengan tegas, Trump melarang Huawei berdiri di negaranya. Imbas dari pemutusan tersebut dapat berakibat fatal bagi pengguna smartphone Huawei.

Bagaimana tidak, Huawei akan kehilangan support terhadap pembaharuan pada sistem operasi Android. Artinya produk smartphone dari Huawei yang akan dirilis di luar Tiongkok tidak akan bisa menikmati dan menggunakan layanan aplikasi dari Google, contohnya Google Play dan Gmail. Lebih lanjut, Google juga akan menghentikan dukungan teknisnya untuk produk Huawei. Apa sebenarnya penyebab dari permasalahan tersebut?

Penyebab Putus Hubungan Kerja Huawei dengan Google?

Alasan keamanan merupakan jawaban kenapa permasalah tersebut terjadi. Dikutip dari Techradar (techradar.com), Trump mendeklarasikan “national emergency” untuk melindungi jaringan komunikasi AS. Huawei, sebagai perusahaan asing, dianggap membahayakan atau memiliki risiko membahayakan keamanan nasional. AS tidak akan mengambil risiko pada perusahaan yang berpotensi melakukan mata-mata atau sabotase.

Hal tersebut tidak terlepas dari pengaruh “perang dagang” antara AS dan Tiongkok sejak beberapa tahun ke belakang. Huawei yang memiliki keterikatan dengan pemerintah Tiongkok, dianggap melakukan aksi yang membahayakan keamanan AS. Akibatnya, pemerintah AS membatasi seluruh transaksi atau kerja sama antara perusahaan AS dengan perusahaan asing yang dianggap berpotensi membahayakan keamanan negara,

Kritikan terhadap pemutusan hubungan kerja antara Huawei dengan Google bermunculan sebagai respons kebijakan Trump tersebut. Kritikan ini tertuju pada alasan pemutusan yang dianggap berkaitan dengan perang dagang kedua negara. Banyak yang menilai keputusan tersebut dipicu oleh kompetisi dagang bukan alasan keamanan. Apapun alasan sebenarnya, pengguna produk Huawei dipastikan menjadi korban utamanya.

Fenomena putus kontrak Huawei-Google tersebut mengindikasikan pengaruh politik global yang semakin kuat pada dunia teknologi dan informasi. Permasalahan tersebut menjadi semacam peringatan untuk perusahaan smartphone asal Tiongkok yang semakin merajalela dengan produk murah fungsionalnya. Tentu, tidak semua mengalami kerugian atau merespons negatif permasalahan Huawei dan Google tersebut.

Ada pihak yang mendapatkan dampak positif dari permasalahan tersebut. Di antara sekian brand smartphone, Apple bisa jadi merupakan pihak yang paling diuntungkan. Selama ini, Huawei terbukti mampu menjadi pesaing ketat Apple dalam hal ranking global. Selain itu, secara perlahan Huawei mampu melakukan penetrasi pada segmen smartphone premium yang selama ini dikuasai oleh smartphone premium dari Apple.

Yang Akan Terjadi Selanjutnya bagi Pengguna Huawei

Putusnya hubungan kerja sama antara Huawei dengan Google menimbulkan kekhawatiran mengenai keberlangsungan layanan dan produk Huawei. Beragam pertanyaan mengenai keberlangsungan layanan dan eksistensi produk tersebut terus bermunculan. Hal yang pasti, semenjak Google menyatakan pemutusan hubungan kerja sama dengan Huawei, Anda tidak bisa lagi melakukan pembaharuan sistem Android.

Dikutip dari Wired (wired.co.uk), pemilik smartphone Huawei dan Honor sepertinya tidak akan menerima pembaharuan major pada sistem Android. Kemungkinan skenario terburuknya, Anda tidak bisa menggunakan semua layanan Google sama sekali, termasuk Google Play dan Gmail. Untungnya, Google sudah memberikan konfirmasi, tidak akan mem-blok pembaharuan keamanan dan aplikasi untuk perangkat Huawei.

Apakah ini akan menjadi akhir bagi Huawei? Tentu saja tidak. Ada kemungkinan Huawei masih bisa bernegosiasi dengan pemerintah AS dan membuktikan dirinya aman dan tidak memiliki risiko sabotase dan mata-mata. Google juga tentu tidak naif dan pasti tengah melakukan semacam review terhadap permasalahan yang terjadi. Ada banyak hal yang bisa dipelajari dan diambil hikmahnya dari permasalahan Google dan Huawei.

Hikmah terbesar dari permasalahan tersebut adalah urgensi untuk menciptakan sistem operasi yang lebih baik atau paling tidak, sama baiknya dengan Android. Untuk mengantisipasi klaim ‘membahayakan’ terjadi lagi di masa depan, yang merupakan produk politik tersebut, dunia tidak boleh bergantung pada satu sistem operasi. Tidak boleh ada dominasi dan ketergantungan. Android haus ditantang atau bahkan digantikan jika perlu.

Jadi, Harus Pindah Merek Smartphone Gitu?

Bagaimana respons pengguna smartphone Huawei terhadap permasalahan tersebut? Permasalahan terbesar yang muncul akibat pemutusan hubungan kerja adalah sistem operasi Android yang terpasang tidak lagi didukung oleh pembaharuan. Apa mungkin Huawei membuat sistem operasi sendiri? Mungkin saja dan bahkan rumor terkait pembuatan OS oleh Huawei untuk perangkatnya berhembus akhir-akhir ini.

Mengutip Digital Trends (digitaltrends.com), Huawei dirumorkan tengah mengembangkan OS baru yang dapat menjalankan aplikasi Android. Lebih lanjut, OS tersebut cukup fleksibel untuk digunakan di smartphone, komputer, tablet, televisi, dan bahkan mobil. Sebelumnya, kabar mengenai Huawei yang tengah mengembangkan OS alternatif Android juga pernah berhembus pada tahun 2018. Maukah Anda menunggu Huawei membuat OS baru?

Para pengguna loyal Huawei akan kesulitan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Hal yang sama juga terjadi bagi mereka yang baru membeli smartphone Huawei. Langkah paling realistis tentu saja mengganti smartphone Huawei dengan merek lain. Keputusan mengenai hal tersebut kembali lagi kepada para penggunanya. Apakah Anda cukup loyal dengan Huawei atau memilih lebih rasional dengan mencari smartphone merek lain.

Siri Vs Google

Siri merupakan sebuah aplikasi yang terintegrasi dengan iOS. Kebanyakan yang mengandalkannya adalah para pengguna Iphone meskipun pada Android kini pun bisa digunakan. Tak heran jika hal tersebut membuat banyak orang yang membanding – bandingkannya dengan Siri VS Googlemengingat keduanya menggunakan cara kerja yang sama. Apa sebetulnya perbedaan dari Siri dan Google?

Banyak orang yang berpendapat bahwa Google lebih baik dari Siri. Apa memang demikian adanya? Penjelasan di bawah ini akan membantu Anda menemukan jawabannya.

Manakah pilihan Anda Siri atau Google ?

1. Preferensi

Antara Google Assistant dan Siri, google lebih juara dalam mengingat kebiasaan pengguna smartphone. Di google, jika Anda pernah mengungkapkan atau sering melakukan pencarian terhadap artis tertentu, maka secara otomatis pencarian selanjutnya yang berkaitan dengan artis tersebut akan terpampang atau tersugesti pada halaman pencarian.

Berbeda dengan Siri yang harus melakukan perintah ulang kembali untuk bisa mendapatkan hasil informasi mengenai artis terkait. Dengan kata lain, Siri harus diingatkan kembali.

2. Analisa Suara

Meskipun sama – sama bisa memberikan perintah melalui input suara, Google sendiri memiliki fitur voice training sehingga bisa mengenali suara pemiliknya. Sedangkan siri, tidak memiliki analisa suara yang sejenis. Untuk melakukan transaksi perbankan jelas Google Assistant lebih baik dan aman, apalagi untuk keamanan yang mengandalkan suara.

3. Input Bahasa Inggris

Sebagai bahasa internasional yang digunakan sebagai pembanding, saat memasukkan perintah dengan suara, Google lebih sensitif sehingga hanya dengan mengubah perintah di bagian tengah kalimat saja Google sudah bisa memahami maksudnya. Berbeda dengan Siri, apalagi jika menggunakan aksen yang jauh dari native speaker seperti Bahasa Inggris orang Thailand misalnya.

4. Jawaban Lengkap

Sebagaimana disebut – sebut, Google merupakan yang terbaik dalam penyajian informasi. Misalnya Anda sedang mencari tahu mengenai “Kapan berdirinya Monumen Nasional?” akan langsung tersaji informasi lengkap mengenai Monas, bahkan hingga sejarahnya. Jika Anda mengandalkan Siri, hanya akan menunjukkan lokasi dan sedikit sekali informasi tentangnya.

5. Mencari Event

Dengan bertumpu pada update lokasi dan waktu google sanggup mencari event terdekat dengan lokasi Anda. Untuk Siri, hanya akan memberikan info mengenai event yang sedang berlangsung dari artikel saja.

Teknologi Pintar Google Assistan

Google memang tak henti – hentinya memberikan kejutan dalam perkembangannya. Semakin hari pekerjaan sehari – hari semakin mudah. Hanya dengan duduk dan berbekal smartphone, semua dapat dilakukan tanpa harus menguras tenaga dan pikiran. Apalagi setelah hadirnya teknologi pintar google assistan, ini harus betul – betul dimanfaatkan karena memang memberi banyak keuntungan.

Apa saja keuntungan dari layanan yang diberikan oleh Google ini? Langsung simak penjelasannya sebagai berikut ini!

Keuntungan Teknologi Pintar Google Assistan

  • Membuat Agenda

Ada fasilitas yang bisa Anda gunakan untuk memanajemen waktu baik itu secara bulanan, mingguan, sampai dengan harian. Hanya tinggal menuliskannya saja, pada jam – jam tertentu yang sudah Anda tuliskan, Google secara otomatis akan mengingatkan apa agenda kegiatan yang harus Anda lakukan. Ini sangat berguna sekali, terlebih jika Anda adalah seorang pelupa.

  • Menyelamatkan dari Ketersesatan

Sudah tidak zamannya lagi Anda tersesat hilang di tengah kota. Hanya dengan melakukan input suara atau melalui kolom pencarian, Anda sudah bisa selamat dan ditunjukkan jalan mana yang harus Anda lewati untuk menuju suatu tempat.

  • Pesan Tiket

Pemesanan tiket sekarang semakin mudah. Tak perlu download aplikasi tambahan, kini hanya dengan memanfaatkan Google Anda sudah bisa. Mengetahui nomor penerbangan, bus, kereta, maupun transportasi umum lainnya, semua bisa.

  • Menemukan Memori Lama

Untuk menemukan ribuan foto yang Anda simpan di dunia maya bahkan sampai beberapa tahun silam, kini hanya dengan mengandalkan Google semua bisa.

  • Penerjemahan

Kemudahan lain yang bisa Anda dapatkan adalah tentang penerjemahan. Untuk Anda yang hobi melakukan traveling ke manca negara apalagi untuk negara yang tidak berbahasa Inggris, Anda akan tetap bisa berkomunikasi dengan baik. Hanya dengan melakukan input suara saja, terjemahan ke dalam bahasa yang dikehendaki sudah bisa.

  • Hiburan

Google berkolaborasi dengan pihak lain seperti YouTube untuk bisa memberikan pelayanan hiburan bagi para penggunanya. Selain itu, masih ada Google Play yang menyediakan beragam hiburan untuk menemani hari – hari Anda.

  • Informasi Umum

Untuk menemukan informasi – informasi umum, Anda juga dapat mengandalkannya. Misalnya, mengetahui ATM terdekat, hotel, rumah makan, dan lain – lain.