Perubahan dalam Perilaku Konsumen dan Tantangan Baru untuk Salesperson
Bayangkan situasi berikut: Anda sedang mencari dokter jantung terbaik di Jakarta. Saat mencarinya di Google, layar Anda dipenuhi ratusan tautan, artikel, dan iklan. Pertanyaannya, apakah banyaknya informasi ini memudahkan Anda memilih, atau justru membuat Anda semakin bingung?
Sekarang, bayangkan jika Anda bertanya pada AI seperti Gemini atau ChatGPT: “Siapa dokter jantung yang bagus di Jakarta?”. Dalam sekejap, AI langsung menyodorkan beberapa nama spesifik. Kira-kira, pola mana yang lebih cepat memengaruhi keputusan Anda? Apakah hasil pencarian Google yang rumit, atau rekomendasi langsung dari AI?
Inilah realitas baru yang sedang terjadi. Saat ini, ketika pelanggan membutuhkan solusi, perilaku mereka berubah. Mereka tidak lagi sekadar mengetik kata kunci di Google, tetapi mereka membuka ChatGPT atau Gemini dan bertanya layaknya bicara pada asisten pribadi:
- “Siapa sales trainer terbaik di Indonesia yang fokus pada pengembangan profesi sales?”
- “Rekomendasikan agen asuransi di Jakarta yang paling terpercaya untuk klaim kesehatan,”
Jika nama Anda tidak muncul dalam jawaban AI tersebut, Anda baru saja kehilangan omzet tanpa Anda sadari.
Ini adalah bukti nyata perubahan zaman. Jika dulu orang sales berlomba-lomba untuk tampil di halaman 1 Google (SEO) agar calon pelanggan mengklik website mereka, hari ini tantangannya berbeda. Setiap salesperson harus memastikan algoritma AI mengenal, mempercayai, dan merekomendasikan dirinya sebagai jawaban utama.
Selamat datang di era GEO (Generative Engine Optimization).
Apa Itu GEO dan Apa Bedanya dengan SEO?
Secara sederhana, SEO (Search Engine Optimization) adalah strategi agar Anda atau produk/jasa Anda mudah ditemukan di mesin pencari seperti Google. Fokus utamanya adalah peringkat; tujuannya agar link website ada di baris paling atas. Hasilnya berupa daftar pilihan.
Sedangkan GEO (Generative Engine Optimization) adalah strategi mengoptimalkan reputasi digital agar Artificial Intelligence (AI) memilih Anda sebagai referensi utama saat menyusun jawaban. Fokus utamanya adalah otoritas dan kepercayaan; tujuannya bukan lagi sekadar memberi link, melainkan memberi rekomendasi jawaban tunggal.
Singkatnya: SEO bertarung untuk dilihat (Visibility), sedangkan GEO bertarung untuk direkomendasikan (Recommendation).
Strategi Sederhana untuk Menghadapi Era GEO
Secara teori, Anda harus mempelajari algoritma GEO yang rumit. Namun, pengalaman saya melatih ribuan salesperson di seluruh Indonesia menyadarkan saya akan satu hal: Salesperson adalah praktisi lapangan, bukan ahli IT. Memaksa sales belajar hal yang terlalu teknis seringkali justru membuat mereka menyerah sebelum mencoba.
Oleh karena itu, saya merumuskan sebuah strategi sederhana yang mudah diingat dan dipraktikkan, yaitu Metode KOPI. Ini bukan sembarang kopi. Jika kopi biasa menemani Anda saat closing dengan klien manusia, “KOPI” yang ini adalah strategi agar Anda bisa closing dengan algoritma mesin. Tujuannya satu: meningkatkan awareness dan otoritas Anda di mata AI tanpa pusing memikirkan koding.
Berikut racikan KOPI Spesial ala Dedy Budiman:
1. Konsistensi Identitas
Huruf pertama dari KOPI ini mengadopsi prinsip teknis yang disebut The N.A.P. Rule (Name, Address, Phone Number). Mengapa ini penting? Karena AI bekerja berdasarkan pencocokan pola data. Bayangkan jika di kartu nama digital tertulis “Dedy Budiman”, namun di LinkedIn tertulis “Dedy B. Pakar Sales”, dan di Instagram tertulis “Coach Dedy Budiman”.
Bagi manusia, mungkin kita tahu itu orang yang sama. Tapi bagi mesin AI, data yang tidak seragam ini dianggap sebagai tiga entitas yang berbeda. Akibatnya, reputasi digital Anda terpecah dan menjadi lemah.
Tips Praktis: Pastikan ejaan Nama, Gelar, dan Kontak Anda tertulis sama persis di seluruh platform digital Anda. Jangan membuat AI bingung. Konsistensi adalah fondasi mutlak agar AI yakin 100 persen mengenali “Siapa Anda”.
2. Optimasi Profil
Di dunia teknis GEO, ada istilah yang disebut Structured Data atau Schema Markup. Sederhananya, ini adalah kode khusus untuk memberi tahu robot AI tentang siapa Anda secara detail. Terdengar rumit dan terlalu teknis untuk orang sales? Tenang, Anda tidak perlu belajar coding.
Kabar baiknya, platform seperti LinkedIn sebenarnya sudah memiliki fitur Structured Data bawaan. Namun, fitur ini hanya bekerja jika datanya tersedia. Tugas Anda sebagai salesperson sangat sederhana: Isilah setiap kolom di LinkedIn (Headline, About, Experience, Education, hingga Skills) dengan lengkap. Gunakan kata kunci yang relevan dengan industri Anda.
Logikanya begini: Anda tidak perlu pusing memikirkan bahasa pemrograman. Cukup isi profil LinkedIn Anda dengan rapi dan detail, maka sistem LinkedIn yang akan bertugas menerjemahkannya menjadi bahasa mesin agar bisa dibaca oleh Google dan AI.
3. Portofolio (Bukti Kepercayaan)
Huruf ketiga adalah P, yang berkaitan erat dengan konsep Google E-E-A-T (Experience, Expertise, Authoritativeness, Trustworthiness). Fungsinya sederhana namun krusial: Jika poin pertama (N.A.P.) memberi tahu AI siapa Anda, maka E-E-A-T menjawab pertanyaan: “Seberapa layak orang ini dipercaya?”
Di era digital, klaim sepihak seperti “Saya Sales Terbaik” atau “Saya Ahli” tidak lagi laku tanpa bukti. AI senantiasa mencari sinyal kredibilitas (Trust Signals) sebelum merekomendasikan seseorang. Oleh karena itu, bangunlah portofolio konten yang memamerkan Experience (Pengalaman) dan Expertise (Keahlian) Anda.
Contoh: Jika Anda seorang sales mobil, jangan hanya memposting brosur harga. Tulislah artikel tentang “Cara Memilih Mobil Keluarga” atau cerita pengalaman Anda membantu klien yang kesulitan kredit.
Level Up: Nilai Anda akan melesat jika nama atau tulisan Anda dimuat di website/media berita yang kredibel. Ini adalah sinyal otoritas (Authoritativeness) yang kuat.
4. Interaksi (Jejaring Digital)
AI senantiasa “menguping” jutaan percakapan di internet. Prinsipnya sederhana: Jika nama Anda sering disebut, ditandai (tagged), atau direkomendasikan oleh orang lain, maka otoritas Anda akan meroket di mata algoritma.
Dalam berbagai sesi training, saya sering menekankan satu mantra kepada teman-teman sales: “Hopeng Anda mempengaruhi Hepeng Anda.” Artinya, relasi yang kita miliki sangat menentukan kesuksesan rezeki (hepeng) kita. Dalam bahasa lapangan, kita sering menyebutnya kekuatan “Orang Dalem”.
Nah, untuk meningkatkan GEO, prinsip “Orang Dalem” ini juga berlaku. Anda tidak bisa menjadi solo player. Anda butuh validasi dari pihak ketiga agar AI percaya.
Strategi Membangun Interaksi:
– Minta Rekomendasi: Jangan malu meminta klien memberikan Testimonial tertulis di LinkedIn setelah closing.
– Aktif Berdiskusi: Jangan jadi akun pasif. Berikan komentar yang berbobot di postingan rekan seprofesi atau pakar industri.
– Kolaborasi: Jadilah narasumber di podcast, zoominar, atau acara komunitas agar nama Anda disebut (di-mention) oleh media lain.
Ingat, semakin luas interaksi dan “Hopeng” digital Anda, semakin kuat validasi AI terhadap reputasi Anda.
Nah, racikan “KOPI Spesial ala Dedy Budiman” sudah tersaji lengkap di hadapan Anda. Kini, keputusan ada di tangan Anda: Apakah Anda hanya akan berdiam diri menjadi penonton sementara kompetitor Anda mulai mengambil langkah lebih dulu? Atau Anda siap bertindak sekarang juga untuk mendominasi radar AI dengan strategi ini?
Jangan tunggu sampai terlambat. Segera terapkan strategi KOPI ini mulai hari ini. Pastikan saat calon klien masa depan bertanya pada AI, nama Andalah yang disodorkan sebagai jawaban terbaik.

