Etika Penggunaan Teknologi Digital Dalam Pendidikan
Di tengah perkembangan pesat teknologi digital, khususnya kecerdasan buatan (AI), isu etika penggunaannya menjadi perhatian serius di dunia pendidikan. Berbagai institusi pendidikan mulai memperhatikan pentingnya membekali siswa dengan pemahaman tentang batasan, dampak, dan tanggung jawab dalam menggunakan teknologi ini.
Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengambil langkah proaktif dengan menegaskan komitmen untuk menyiapkan siswa yang tidak hanya mahir dalam teknologi, tetapi juga memiliki kesadaran etis dalam penggunaan AI. Hal ini dilakukan melalui penyelenggaraan AI Talent and Innovation Day (ATID) 2025, sebuah acara yang bertujuan untuk membangun kesadaran etis sejak dini.
Program 1.000 Duta AI
Salah satu inisiatif utama dari ITS adalah peluncuran Program 1.000 Duta AI. Program ini terdiri dari siswa dan guru dari berbagai jenjang pendidikan yang akan menjadi agen literasi etika AI di sekolah masing-masing. Mereka telah menjalani pelatihan AI selama tahun 2025, yang diikuti oleh 977 siswa dari 290 sekolah.
Ketua Panitia ATID 2025, Diana Purwitasari, menekankan bahwa literasi AI tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga harus menanamkan nilai-nilai etika, tanggung jawab, dan kejujuran akademik. Menurutnya, AI sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari siswa, dan tantangannya adalah memastikan mereka memahami batasan dan dampak dari penggunaan teknologi ini.
Pendidikan Etika AI
Rektor ITS, Prof. Dr. (HC) Ir. Bambang Pramujati, S.T., M.Sc.Eng., Ph.D, menegaskan bahwa pendidikan etika AI menjadi kebutuhan mendesak di era pembelajaran digital. Ia menilai, sekolah perlu membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis agar tidak terlalu bergantung pada AI.
“ITS ingin memastikan siswa memahami bahwa AI adalah alat bantu, bukan pengganti proses berpikir dan kreativitas manusia,” ujar Rektor ITS.
Dukungan Kebijakan dan Reputasi Institusi
Upaya ITS ini diperkuat dengan reputasinya sebagai universitas terbaik di Indonesia dalam bidang AI versi EduRank 2025. Reputasi ini menjadi modal penting dalam mendampingi sekolah menghadapi tantangan etika dan transformasi digital.
Dari sisi kebijakan nasional, Kementerian Komunikasi dan Digital menilai inisiatif ITS selaras dengan agenda penguatan talenta digital yang berkarakter. Kepala Badan Pengembangan SDM Komunikasi dan Digital, Bonifasius Wahyu Pudjianto, menekankan pentingnya menyiapkan generasi muda yang tidak hanya mampu memanfaatkan AI, tetapi juga memahami konsekuensi sosial dan etikanya.
Pembelajaran yang Jujur dan Bermakna
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Aries Agung Paewai, menilai pedoman etika AI dari ITS dapat menjadi acuan sekolah dalam menyikapi penggunaan AI oleh siswa. Ia menekankan bahwa teknologi harus mendukung pembelajaran yang jujur dan bermakna.
Selain forum diskusi, ATID 2025 juga menghadirkan Pameran Inovasi dan Produk AI karya tim riset ITS. Pameran ini menampilkan penerapan AI secara bertanggung jawab di berbagai bidang seperti pendidikan, kesehatan, industri, hingga lingkungan. Pameran ini memberikan gambaran nyata bahwa inovasi AI dapat berjalan seiring dengan nilai etika.

