Jumat, Januari 23, 2026
BerandaUncategorizedAncaman siber 2025: Ransomware AI merajalela

Ancaman siber 2025: Ransomware AI merajalela

Ancaman Siber yang Semakin Mengkhawatirkan pada Tahun 2025

Pada tahun 2025, ancaman siber terus berkembang dengan semakin canggihnya teknologi. Salah satu yang menarik perhatian adalah munculnya ransomware berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dianggap sebagai ancaman serius bagi keamanan dunia digital. Dalam laporan ESET Threat Report H2 2025, ditemukan bahwa ransomware bernama PromptLock menjadi yang pertama kali menggunakan AI untuk membuat skrip berbahaya secara dinamis. Hal ini menunjukkan pergeseran besar dalam strategi penyerang siber.

Dari data yang dikumpulkan, jumlah korban ransomware pada tahun 2025 melampaui angka tahun sebelumnya. Proyeksi kenaikan mencapai 40 persen secara year-on-year. Selain itu, target serangan tidak lagi hanya berupa perusahaan besar, tetapi juga usaha kecil dan menengah (UKM), institusi pendidikan, layanan kesehatan, hingga individu yang belum memiliki sistem keamanan yang memadai.

Modus Penipuan yang Berkembang Pesat

Selain ransomware, modus penipuan investasi dan scam online juga terus berevolusi. Salah satu contohnya adalah Nomani scam, yang mengalami peningkatan deteksi hingga 62 persen dalam setahun terakhir. Pelaku penipuan ini menggunakan teknologi deepfake berkualitas tinggi, situs phishing yang dibuat oleh AI, serta iklan digital yang sangat singkat untuk menghindari pendeteksian.

Di sektor perangkat mobile, ESET mencatat adanya lonjakan signifikan dalam serangan berbasis Near Field Communication (NFC). Tingkat deteksi serangan ini meningkat hingga 87 persen pada paruh kedua 2025. Beberapa malware lama seperti Ngate kini dapat mencuri kontak pengguna, sedangkan malware baru seperti RatOn menggabungkan remote access trojan (RAT) dengan serangan relay NFC.

Kemunculan Malware Baru dan Perubahan dalam Dunia Siber

RatOn disebarkan melalui halaman Google Play palsu dan iklan yang menyamar sebagai aplikasi populer, termasuk layanan perbankan digital. Di sisi lain, infostealer Lumma Stealer yang sempat merebak pada awal 2025 mengalami penurunan drastis setelah mengalami gangguan pada Mei. Tingkat deteksinya turun hingga 86 persen pada paruh kedua tahun ini.

Namun, penurunan tersebut diikuti kemunculan malware baru seperti CloudEyE (GuLoader) yang melonjak hampir 30 kali lipat. Malware ini digunakan sebagai pintu masuk untuk ransomware dan pencurian data lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa ancaman siber terus bermutasi dan semakin sulit untuk diprediksi.

Perlu Kewaspadaan yang Lebih Tinggi

Dengan perkembangan teknologi AI yang semakin pesat, ancaman siber juga semakin kompleks. Pemahaman akan risiko dan penerapan langkah-langkah keamanan yang lebih ketat menjadi sangat penting. Terlebih lagi, banyak individu dan organisasi masih kurang memahami bahaya yang bisa datang dari serangan siber. Oleh karena itu, penting untuk terus memperbarui sistem keamanan dan meningkatkan kesadaran akan ancaman digital.

zonagadget
zonagadgethttps://www.zonagadget.co.id/
Berikan ilmu yang kamu punya, niscaya kamu akan mendapatkan yang lebih
RELATED ARTICLES

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

New Post

Most Popular