ZONA GADGET
– Di era digital yang kompetitif, fokus pengguna merupakan harta berharga. Teknologi AI generatif muncul sebagai jawaban untuk menghasilkan materi yang tak sekadar memukau, namun juga tepat sasaran dan disesuaikan dengan tiap orang.
Bikin Audiens Terpaku! Inilah Cara Mempersonalisasikan Konten Secara Otomatis Menggunakan Generative AI
Kontroversi: Meta Rekrut Peneliti OpenAI dengan Upah Fantastis
ZONA GADGET
, JAKARTA—
Meta
Disebut-sebut sedang agresif dalam menarik minat para peneliti kecerdasan buatan (AI) dari OpenAI dan Google DeepMind dengan iming-iming penghasilan mencapai 1,6 triliun rupiah.
Hal itu diungkapkan CEO
OpenAI
, Sam Altman, dalam suatu wawancara podcaster dengan kakaknya, Jack Altman, pada hari Selasa (17/6/2025). Meskipun demikian, menurut Altman, pendekatan yang digunakan sampai saat ini belum memberikan dampak positif.
Dia mengatakan bahwa Meta secara aktif berusaha menarik bakat dari OpenAI agar dapat bersatu dalam tim kecerdasan buatan terbaru yang diketuai oleh mantan CEO Scale AI, Alexandr Wang.
Bahkan, posisi kerja tersebut dilaporkan berada satu ruangan dengan CEO Meta, Mark Zuckerberg.
“[Meta] telah mengajukan tawaran yang cukup signifikan bagi beberapa anggota tim kita, dengan bonus tandatangan mencapai US$100 juta serta gaji tahunan di atasnya. Namun demikian, hingga kini, saya merasa lega karena tidak ada satupun dari mereka yang menerima tawaran tersebut,” ujar Altman seperti dilansir TechCrunch pada hari Kamis, 19 Juni 2025.
Altman berpendapat bahwa karyawan di OpenAI tetap bertahan lantaran yakin dengan misi serta kemampuan OpenAI untuk menjelma sebagai pemimpin utama dalam pengembangan Kecerdasan Buatan Jenderal (KBH).
Dia juga membahas tentang kebudayaan perusahaan dan mengisyaratkan bahwa Meta terlalu banyak memusatkan diri pada janji upah besar daripada tujuan jangka panjang, hal ini menurut pendapatnya dapat memberikan dampak negatif pada iklim kerja yang tidak kondusif.
Meta sempat dikabarkan mencoba merekrut peneliti utama OpenAI, Noam Brown, serta arsitek AI dari Google DeepMind, Koray Kavukcuoglu. Namun, upaya tersebut gagal.
Selain itu, Altman mengatakan bahwa budaya inovasi yang solid adalah salah satu faktor penting dalam keberhasilan OpenAI. Menurutnya, usaha Meta dalam area AI sampai saat ini belum mencapai dampak besar.
“Saya menghormati banyak hal dari Meta, tapi saya tidak menganggap mereka perusahaan yang unggul dalam hal inovasi,” ujarnya.
Meta sudah membeli beberapa perusahaan terkenal dalam bidang AI, termasuk Jack Rae dari Google DeepMind dan Johan Schalkwyk dari Sesame AI. Tambahan pula, perusahaan ini juga menyatakan akan berinvestasi banyak pada Scale AI, sebuah firma yang dulunya diketuai oleh Alexandr Wang.
Namun, tantangan besar masih menanti Meta untuk membangun tim AI unggulan yang dapat bersaing dengan OpenAI, Anthropic, dan Google DeepMind yang saat ini tengah melaju kencang.
Dalam kompetisi tersebut, OpenAI dilaporkan sedang mengerjakan model AI open-source terbaru yang bisa jadi akan menjadikan Meta semakin di belakang.
Menariknya, Altman juga membocorkan bahwa OpenAI tengah mengeksplorasi kemungkinan menciptakan aplikasi media sosial berbasis AI yang menyajikan konten sesuai preferensi pengguna yang berbeda dari feed algoritmik tradisional seperti di Instagram atau Facebook.
Hal ini dipandang sebagai ancaman langsung terhadap dominasi Meta di sektor media sosial.
Sebaliknya, Meta sedang melakukan pengujian pada sebuah aplikasi media sosial yang didukung oleh teknologi AI lewat platform Meta AI. Namun, peluncuran ini menimbulkan keresahan saat beberapa obrolan pribadi bersama bot AI bocor ke tangan publik.
AI Google Veo 3 Kini di Canva: Buatan Video Sinematik Cepat dan Mudah!
ZONA GADGET
– Versi terbaru model AI untuk video yang dirilis oleh Google yakni Veo 3 saat ini sudah dapat digunakan dalam aplikasi desain Canva. Pengumuman tentang dukungan tersebut disampaikan secara resmi melalui laman web official Canva.
“Canva meluncurkan Create a Video Clip, sebuah fitur baru dari Canva AI yang menggunakan model pembuatan video maju terbaru Google bernama Veo 3, sehingga memberikan lebih banyak peluang untuk apa saja yang dapat dilakukan oleh pengguna,” seperti diumumkan perusahaan tersebut.
Dukungan itu akan memudahkan kreator atau pengguna Canva untuk membuat video berkualitas tinggi hanya dari perintah berbasis teks.
Sebagai contoh, pengguna dapat menulis pesan teks seperti “matahari terbit di desa saat pagi” atau “teaser produk dengan gaya sinematografi”.
Jadi, Canva yang didukung oleh model AI Veo 3 ini akan menghasilkan video berdasarkan instruksi teks tersebut dengan kualitas premium dan durasi sekitar delapan detik. Video itu pun telah diatur suara-nya agar sinkron dengan setiap adegannya.
Hasil videonya akan muncul di jendela editor Canva sehingga memungkinkan pengguna mengedit lebih lanjut. Contohnya, mereka dapat menyisipkan musik, teks, atau elemen tambahan lainnya. Pengaturan format videonya pun fleksibel; itu bisa disesuaikan untuk keperluan media sosial, presentasi, ataupun projek berbeda.
Google Veo 3 akan tersedia melalui opsi Create a Video Clip, dalam fitur Canva AI di aplikasi Canva. Saat opsi ini dipilih, pengguna akan mendapati kolom promt untuk memasukkan perintah teks.
Berdasarkan informasi dari Canva, proses membuat video berbasis AI tersebut hanya memerlukan waktu kurang dari dua menit. Akan tetapi, terdapat batasan pada penggunaannya sebanyak lima kali produksi video setiap bulannya.
Namun demikian, Canva menegaskan bahwa mereka berencana untuk meningkatkan kapasitasmu di masa depan.
Harap diingat bahwa fungsi membuat video dengan bantuan Veo 3 pada platform Canva hanya tersedia bagi pengguna Canva Pro, yakni paket berlangganan dari Canva. Di pasar Indonesia, biaya langganannya ditentukan sebesar kurang lebih Rp 95.000 setiap bulannya.
Fitur serupa juga tersedia untuk pengguna Canva Teams, Enterprise hingga Nonprofit.
Seperti fitur AI Canva lainnya, fitur pembuatan video bertenaga AI ini juga didukung sistem keamanan Canva Shield, yaitu pendekatan Canva untuk membangun konten AI yang aman, transparan dan bertanggungjawab.
Veo 3 sendiri terbilang model AI terbaru dari Google. Model ini baru diperkenalkan dalam konferensi pengembang tahunan Google I/O 2025 pada Mei 2025 lalu.
Karena itu Canva sesumbar bahwa pihaknya merupakan salah satu platform pertama yang mengintegrasikan Veo 3, beberapa pekan setelah model AI itu debut, dihimpun KompasTekno dari situs resmi Canva, Kamis (19/6/2025).
Segera hadir di YouTube Shorts
Bukan hanya di Canva, Veo 3 juga akan segera diluncurkan di platform lain seperti YouTube. Secara khusus, asisten kecerdasan buatan ini akan fokus pada fitur video pendek YouTube Shorts.
Rencana itu diungkap oleh CEO YouTube, Neal Mohan dalam pidatonya di festival kreativitas internasional, Cannes Lions. Namun dia tidak merinci fitur apa yang akan didapatkan pengguna YouTube Shorts dengan Veo 3.
Mengingat Veo 3 hadir dengan dukungan kualitas video yang tinggi serta audio, boleh jadi pengguna YouTube Shorts akan kebagian benefit tersebut. Pasalnya, sejumlah kreator Shorts sebelumnya juga mendapat dukungan Veo 2, di mana mereka dapat memodifikasi latar belakang video dengan fitur Dream Screen, dilansir The Verge.
Belum diketahu pula apakah ketersediaan Veo 3 nanti gratis atau berbayar bagi kreator. Di luar YouTube sendiri, Veo 3 tersedia sebagai bagian dari paket langganan berbayar Google AI Pro atau AI Ultra.
Model AI Gemini 2.5 Edisi Flash-Lite: Yang Tercepat dan Termurah di Indonesia
ZONA GADGET
,
Jakarta
–
Google
mengumumkan
Gemini
2.5 dari Versi Flash-Lite akan dirilis pada hari Selasa, 17 Juni 2025. Menurut Direktur Senior Manajemen Produk Gemini, Tulsee Doshi, ini merupakan varian Gemini tercepat dan termurah di pasaran sekarang.
“Gemini 2.5 Flash Lite menawarkan performa yang unggul dibandingkan versi 2.0 Flash-Lite di berbagai aspek seperti pengkodean, matematika, ilmu pengetahuan, logika, serta tes multikelompok,” jelas Doshi melalui blog resmi Google pada hari Selasa, 17 Juni 2025.
Menurut Doshi, Gemini 2.5 Flash-Lite unggul pada tugas-tugas bervolume tinggi dan sensitif terhadap latensi seperti penerjemahan dan klasifikasi. Latensinya diklaim lebih rendah daripada 2.0 Flash-Lite dan 2.0 Flash pada sampel perintah yang luas.
Doshi menyebutkan bahwa versi terbarunya memiliki kapabilitas serupa dengan pendahulunya. Ini mencakup koneksi ke perangkat seperti Google Search serta pelaksanaan kode, masukan multiformat, dan rentang konteks hingga 1 juta token.
Selanjutnya, pratinjau untuk Gemini 2.5 Flash-Lite saat ini sudah bisa dinikmati di Google AI Studio serta Vertex AI, termasuk pula versi Gemini 2.5 Flash dan Gemini 2.5 Pro. “Versi 2.5 Flash dan Pro pun dapat digunakan melalui aplikasi Gemini,” jelas Doshi. Tambahan lagi, kami telah menyediakan edisi spesial dari 2.5 Flash-Lite dan Flash pada layanan Search.
Kedatangan Gemini 2.5 Flash-Lite juga memperkenalkan bahwa versi Gemini 2.5 Flash dan Gemini 2.5 Pro siap dipakai oleh publik. Ke tiga varian ini dapat dijalankan tanpa biaya serta sebagai bagian dari layanan langganan; meski demikian, penggunaannya secara cuma-cuma memiliki batasan dibanding opsi yang harus membayar.
Berdasarkan penjelasan tim pengembangan Google, Gemini 2.5 adalah versi model yang memiliki kemampuan untuk bertelepon dan menalar informasi sebelum memberikan respons, hal ini menyebabkan performa dan keakuratan meningkat. Versi Gemini Flash-Lite 2.5 merupakan perbaruan dari model Flash 1.5 serta 2.0.
Versi Flash-Lite 2.5 dikenal sebagai yang paling irit token dibandingkan dengan versi Flash dan Pro. Tim pengembang menulis di blog Google Developers: “Dengan hadirnya Gemini 2.5 Flash-Lite, kami sekarang memiliki alternatif dengan harga terjangkau (baik secara ekonomi maupun teknis) untuk skenario aplikasi yang peka pada penundaan sambil tetap membutuhkan tingkat intelijen model tertentu.”
Model Flash-Lite telah dioptimalkan oleh Google untuk mengurangi biaya dan meningkatkan kecepatannya, sehingga model ini biasanya dijalankan tanpa pemrosesan ekstra. Sebaliknya, terdapat pula fitur kontrol dinamis. “Berbeda dengan model Gemini lainnya.”
5 Tips untuk Memastikan Charger HP Anda Asli dan Resmi, Dijamin Ori!
ZONA GADGET
Charger untuk telepon genggam (HP) yang tampaknya normal mungkin bukanlah barang original atau berasal dari produsen resmi.
Banyak penjual mengedarkan charger tiruan atau kw di pasar, dan harganya seringkali tak banyak berselisih dibandingkan produk resmi.
Padahal, memakai charger yang tidak asli bisa berdampak buruk bagi kesehatan baterai pada perangkat.
Beberapa karakteristik fisik serta teknis dapat diidentifikasi untuk menentukan perbedaan antara pengisi daya original dan palsu.
Berikut ini adalah kelima metode untuk memeriksa apakah pengisi daya ponsel Anda merupakan produk original atau palsu, yang diambil dari berbagai referensi, sehingga dapat menghindari penipuan dengan barang tiruan:
1. Perhatikan kualitas dan detail fisik.
2. Cek logo serta informasi teknis pada pengisi daya tersebut.
3. Bandingkan bobotnya dengan model resmi.
4. Uji coba menggunakan aplikasi deteksi otentik.
5. Pastikan ada garansi resmi dari produsen.
Dengan menerapkan langkah-langkah di atas, pembeli bisa lebih waspada terhadap kemungkinan mendapatkan item kw.
1. Perhatikan Kualitas Bahan dan Finishing
Charger original biasanya terbuat dari material berkulaitas tinggi dan memiliki desain eksterior yang rapi.
Permisanya mulus, tak ada bagiannya yang terasa menusuk atau kasar ketika dipegang.
Selesaiannya sangat rapi, dimulai dari penyambungan berbagai komponen sampai dengan pencetakan label.
Tidak seperti pengisi daya palsu, yang terlihat biasanya murah dan tidak kokoh ketika dipegang.
Cacat produksi seperti warna tidak merata atau sambungan renggang bisa menjadi tanda awal barang KW.
Jadi sebelum membeli, perhatikan dengan saksama tampilan fisik charger secara keseluruhan.
2. Cek Berat Charger

Charger asli biasanya memiliki bobot yang lebih berat dibandingkan charger palsu.
Hal ini karena komponen di dalamnya menggunakan material yang lebih lengkap dan tahan lama.
Sebaliknya, charger KW sering dibuat dengan komponen murah yang ringan dan minim proteksi.
Meski perbedaan beratnya tidak terlalu besar, tetap bisa dirasakan saat digenggam.
Apabila memiliki charger asli yang datang dengan HP, dapat digunakan sebagai acuan saat memeriksa kondisinya.

3. Perhatikan Lambang dan Teks

Ciri khas charger asli terletak pada tulisan dan logo pabrikan yang tercetak dengan jelas.
Huruf-hurufnya tajam, tidak buram, dan biasanya menggunakan jenis font standar dari merek resmi.
Di charger kw, tanda logo cenderung kurang akurat, dan kadang terlihat memudar atau tertulis dengan kesalahan ejaan.
Periksa pula detail teknis seperti tegangan listrik, arus, dan kode modelnya.
Biasanya, tulisan pada pengisi daya resmi lebih komprehensif dan mematuhi standar keselamatan.
Bila tampilan teks tampak acak-acakan, bisa jadi itu adalah pengisi daya tiruan.

4. Pakai Aplikasi atau Perangkat Ukur Kekuatan Daya

Tidak hanya dari segi penampilan, pemercekaan keaslian pengisi daya dapat dilakukan melalui kinerjanya.
Gunakan perangkat seperti pengukur arus USB atau aplikasi detektor arus untuk memeriksa stabilitas keluaran tenaga listrik.
Charger asli umumnya menghasilkan arus yang cocok dengan spek perangkat.
Bila aliran listrik yang dihasilkan tak konsisten atau sangat lemah, mungkin saja pengisi daya tersebut palsu.
Berbagai aplikasi pada Play Store dapat pula digunakan untuk mengevaluasi laju charging perangkat Anda.
Tes sederhana ini cukup membantu untuk membedakan charger berkualitas dan tiruan.

5. Beli dari Toko Resmi atau Distributor Terpercaya

Langkah paling aman adalah membeli charger langsung dari toko resmi atau mitra distributor yang sudah terpercaya.
Biasanya, produk asli dilengkapi dengan kemasan rapi, stiker garansi, atau label khusus.
Beberapa merek bahkan menyediakan kode verifikasi keaslian yang bisa dicek secara online.
Hindari membeli dari toko sembarangan yang tidak jelas sumber barangnya.
Meski harganya sedikit lebih mahal, membeli di tempat resmi menjamin kualitas dan keamanan.
Demikian rangkuman informasi tentang charger HP asli atau bukan, semoga bermanfaat!
(*)

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(RamaFitra/ZONA GADGET)
Komdigi Harus Sediakan Regulasi AI yang Lebih Lengkap, Bukan Hanya Etika
ZONA GADGET, JAKARTA—Para pengamat berpendapat bahwa etika sendiri tidak cukup untuk membentuk peraturan tentang Kecerdasan Buatan (KB).
Seperti diketahui, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bertujuan untuk menyelesaikan pembuatan peta jalan (roadmap) kecerdasan buatan (AI) pada bulan Juni tahun 2025. Fokus utama di fase awal dari peraturan ini adalah aspek etika dalam menggunakan teknologi AI.
Heru Sutadi, Direktur Eksekutif dari Indonesia ICT Institute, menggarisbawahi kebutuhan untuk menggunakan pendekatan yang lebih komprehensif saat menyusun rute jalan bagi teknologi AI.
“Kita mendukung adanya Rencana Pembangunan AI di Indonesia,” ujar Heru ketika diwawancara oleh Bisnis pada hari Kamis (19/6/2025). Meski demikian, menurutnya masih terdapat berbagai elemen penting yang perlu dipertimbangkan dalam proses pembuatannya.
Heru mengatakan etika memang merupakan salah satu aspek penting, namun masih banyak aspek lain yang perlu diperhatikan. Karena itu, ia berharap peta jalan ini disusun secara komprehensif dan dapat menjadi dasar untuk penyusunan RUU Kecerdasan Buatan.
Selanjutnya, Heru menyoroti beberapa elemen penting lainnya, termasuk kesetaraan informasi tentang algoritme AI, proteksi terhadap data pribadi dan kerahasiaannya, serta risiko eksploitasi teknologi seperti deepfake dan bot percakapan palsu. Ia pun mementaskan betapa vitalnya prinsip ketidakdiskriminan dan keadilan di dalam algoritma AI, sambil memperjuangkan diperlukan sistem evaluasi yang mencakup partisipasi seluruh stakeholder dengan cara yang merata.
“Terkait algoritma juga, ini harus dijaga keadilan dan nondiskriminasi, jadi ada rekomendasi mengembangkan pedoman untuk pengujian dan audit algoritma yang melibatkan representasi stakeholder secara adil,” tambahnya.
Heru mendukung pembentukan peraturan yang ketat tetapi juga fleksibel mengingat kemajuan teknologi. Ia memberikan contoh beberapa negara lainnya yang sudah merancang aturan spesifik tentang kecerdasan buatan seperti Undang-Undang AI Uni Eropa, UU Akt AI Kanada, dan peraturan baru-baru ini disahkan oleh Jepang. Sementara itu, di Amerika Serikat, strateginya dituangkan melalui Perintah Eksekutif Tentang AI Aman, Terlindungi, dan Percaya Diri.
Heru mengatakan bahwa kita harus mempromosikan regulasi yang jelas dan fleksibel, termasuk membentuk undang-undang spesifik terkait dengan kecerdasan buatan.
Sementara itu, Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid sebelumnya mengungkapkan bahwa aturan pertama dalam peta jalan AI kemungkinan akan mengatur soal etika penggunaan AI.
“Jadi kemungkinan besar, ini sedikit bocoran, bahwa aturan pertama terkait artificial intelligence akan menyangkut dengan etika AI itu sendiri,” ujar Meutya saat ditemui di Makassar pada 16 Juni 2025.
Dia menyebutkan bahwa metode pengaturan di Indonesia tidak akan hadir dalam bentuk sebuah kebijakan utama, tetapi justru akan disusun secara terpisah menurut sektor atau aspeknya. Hal ini bertujuan untuk mempertahankan keseimbangan antara proteksi publik dengan memberikan ruang bagi perkembangan inovatif.
Meutya juga menggarisbawahi kebutuhan implementasi penandaan pada produk-produk berbasis AI, seiring dengan meningkatnya diskusi masyarakat tentang output AI yang tampak sangat nyata, contohnya seperti insiden foto tambang tiruan produksi AI yang diklaim berasal dari Raja Ampat.
“Yang barusan disebut adalah etika, oleh karena itu di sejumlah negara yang kita periksa, penandaan AI memang diperlukan. Jika seseorang menggunakan AI untuk menyebarkan berita bohong, mereka mungkin tidak akan mengedepankan etika,” ungkap Meutya.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyampaikan bahwa penyusunan roadmap AI melibatkan forum-forum diskusi dan kerja sama lintas sektor, termasuk masukan dari perusahaan dan lembaga riset.
“Diskusi sudah berlangsung di beberapa forum, termasuk juga kerja sama kita dengan beberapa organisasi dan beberapa company yang ikut mendukung,” ungkap Nezar.
Dia juga mengapresiasi kontribusi lembaga seperti Mandala Consulting yang telah melakukan pemetaan posisi Indonesia dalam lanskap global tata kelola AI.
Synapse Flux Ungkap Akses Global untuk Jaringan Komputasi AI GPT-NEXUS
ZONA GADGET
, JAKARTA – Synapse Flux, platform ekosistem AI terdesentralisasi, secara resmi meluncurkan mainnet
GPT-NEXUS
—modul inti dari jaringan komputasi global multi-layer.
Pelepasan produk ini merupakan titik penting dalam implementasi secara masif jaringan perhitungan distributif untuk AI, klaimnya memiliki manfaat seperti lebih efisien, menghemat biaya, serta bersahabat dengan lingkungan.
GPT-NEXUS dirancang dengan arsitektur berlapis, mengintegrasikan node edge, cluster regional, dan node utama global untuk menghubungkan sumber daya komputasi di berbagai wilayah.
Dengan menggunakan algoritme jadwal pintar serta sistem otentikasi enkripsi, platform ini memberikan pembagian pekerjaan secara real-time dan manajemen sumber daya yang lebih baik daripada sistem terpusat.
Menurut
Synapse Flux
Sistem jadwal yang unik milik mereka memfasilitasi pembagian sumber daya dengan cara otomatis sesuai permintaan komputasi, efisiensi node, dan ketersediaan tenaga terbarukan.
Beberapa simpul komputasi sudah dihidupkan di Amerika Utara, Eropa, dan Afrika—including prototipe proyek Gurun Sahara yang memanfaatkan tenaga surya setempat sebagai sumber primer.
Setelah peluncuran mainnet GPT-NEXUS, para pembuat AI, projek Web3, serta lembaga penelitian sekarang dapat mengakses sumber daya komputasi yang lebih lentur.
Harapannya adalah hal itu bisa mengurangi biaya pembelajaran mesin dan penggunaan model AI, sambil juga memperkuat kestabilan sistem melawan serangan sensor atau masalah teknikal.
“GPT-NEXUS adalah titik penting bagi kita di sektor kecerdasan buatan tanpa otoritas sentral. Dengan kerja sama bertingkat serta penerapan tenaga terbarukan, Synapse Flux membantu mengarahkan infrasturktur perhitungan dunia menuju era yang lebih adil dan lestari,” ungkap Lucas Bennett, sang pencipta Synapse Flux, pada pernyataan formalnya, Jumat (19/6).
Pada periode enam bulan mendatang, perusahaan ini bertujuan untuk mengembangkan jaringan node GPT-NEXUS ke wilayah Asia-Pasifik serta Amerika Selatan.
Selain itu, Synapse Flux juga akan meng-upgrade modul keamanan data GPT-SAFE, guna memperkuat kepercayaan dan transparansi dalam pemrosesan data pengguna.
Dengan peluncuran resmi mainnet GPT-NEXUS, Synapse Flux memperkuat posisinya di garis depan integrasi AI dan Web3 secara global.
Platform ini dirancang sebagai fondasi utama di masa depan perhitungan pintar yang mandiri dan ramah lingkungan.
(jlo/jpnn)
ChatGPT Dituding Meredupkan Kemampuan Berpikir Kritis: Temuan Baru Mengagetkan
ZONA GADGET
Menggunakan platform AI (
artificial intelligence
Atau kecerdasan buatan seperti ChatGPT dapat mengurangi kemampuan berpikir kritis menurut penelitian baru-baru ini dari MIT Media Lab.
Meski perangkat tersebut memberikan kesempatan luar biasa untuk mengoptimalkan proses belajar dan mendapatkan informasi, efeknya pada pengembangan kognitif, kemampuan berpikir kritis, serta otonomi intelektual tetap membutuhkan evaluasi dan penyelidikan secara berkala,
Nataliy Kosmyna menuliskan dalam penelitian yang bertajuk
”
Otak Anda dengan ChatGPT: Penumpukan Hutang Kognitif saat Menggunakan Asisten AI untuk Tugas Menulis Esai
(2025), menurut situs resmi mereka, Kamis (19/6/2025).
-
Awas, ChatGPT Bisa Bikin Resume Pekerjaan Jadi Mengada-ada
-
ChatGPT Bantuan Untuk Mengurangi Berat Badan hingga 11 Kg, Tertarik untuk Menirunya?
Partisipan yang menggunakan ChatGPT menjadi makin ogah melakukan tugas mereka sendiri.
Penelitian ini mencakup sebanyak 54 orang yang berumur antara 18 hingga 39 tahun berasal dari Boston, Amerika Serikat (AS). Partisipan tersebut terbagi dalam tiga grup dan diminta untuk menulis beberapa esai SAT mengacu pada patokan universitas di negara tersebut.
Grup pertama menyusun esai dengan dukungan dari ChatGPT, sementara grup kedua menggunakannya.
search engine
(pencari Google) sementara itu, grup ketiga memanfaatkan pikiran mereka saja.
Peneliti selanjutnya menggunakkan EEG (
electroencephalography
) guna mengukur tingkat keterlibatan mental dan beban kognitif subjek, sambil menganalisis lebih dalamaktivasi otak saat mereka menulis esai.
Hasilnya, para peserta yang menyusun esai dengan bantuan ChatGPT menunjukkan tingkat aktivitas otak terendah, sebagaimana dikutip dari sumber tersebut.
Time
.
Bukan hanya itu, mereka juga selalu mendapatkan penilaian rendah dalam hal kemampuan saraf, komunikasi verbal, serta tindakan dan perilaku.
Selama proses penelitian yang berlangsung selama beberapa bulan, catatan menunjukkan bahwa para pengguna ChatGPT mulai tampak lebih malas jika diamati melalui esei-esiernya. Seringkali, mereka hanya
copy-paste
(salin-tempel) pada akhir studi.
Partisipan yang menggunakan ChatGPT menciptakan esai dengan gaya yang hampir serupa.
Peserta dengan ChatGPT menghasilkan esai yang mirip, serta kurang orisinil. Sebab, mereka menggunakan ekspresi dan ide yang sama.
Ternyata, kedua penilai esai Bahasa Inggris itu mengomentari bahwa kebanyakan karya mereka “kurang bernuansa” atau “hampa”.
Ketika menulis esai pada tahap ketiga penelitian, banyak dari pengguna ChatGPT tersebut hanya memberi
prompt
ke platform teks lalu biarkan ia berjalan sendiri.
“Sama halnya dengan, ‘Berikan esai kepada saya, perbaikilah kalimat ini, suntinglah yang lain, dan pekerjaan pun selesai,'” kata Kosmyna.
-
Aspek Negatif ChatGPT, Mengejar Peluang Kerja dan Menjadi Sarang Penipuan
-
Surat Lamaran Pekerjaan, Ringkasan Karir dan Surat Pengundur Diri Menggunakan ChatGPT
Bagaimana dengan partisipan yang tidak menggunakan ChatGPT?
Sebaliknya, partisipan yang mengarang esai dengan hanya menggunakan pikiran mereka menampilkan konneksibilitas syaraf tertinggi, terutama dalam hal kemampuan kreatif dan beban memorinya.
Di samping itu, mereka dianggap memiliki rasa ingin tahu yang lebih besar dan berpartisipasi aktif, bersama dengan perasaan pemilikannya dan kesenangan mengenai esai milik mereka.
Pada saat bersamaan, peserta yang menggunakan
search engine
tercatat dengan partisipasi sedang, diiringi oleh derajat kepuasan serta aktivitas otak yang tinggi.
Apabila dibandingkan dengan persentase pemilik yang memanfaatkan otak, responden yang menggunakan ini jauh lebih sedikit daripada mereka yang menggunakan partisipan. Sebaliknya, terdapat kelompok peserta yang disebut sebagai “partisipan” tanpa spesifikasi penggunaannya.
search engine
dianggap memiliki aset yang lebih sedikit.
Itu sangat berarti lantaran sekarang data dapat diperoleh tanpa perlu menulis di
search engine
, melainkan hanya lewat
chatbots
AI.
-
Mengeksplorasi Cara Menulis Surat Lamaran Kerja Menggunakan ChatGPT: Apakah Ini Memastikan Diterimanya Permohonan Anda?
-
BRIN Buatan Sistem AI untuk Deteksi Malaria, Perkuat Ketepatan Penghapusan Penyakit
ChatGPT dapat menghidupkan kembali tulisan, selama..
Di tingkat ke empat, para peserta yang awalnya menulis esai menggunakan otak diharuskan untuk mengulangi proses penulisan esai tersebut dengan dukungan dari platform AI berbasis teks.
Akhirnya, para peserta dianggap memiliki koneksi EEG yang lebih kuat. Ini mengindikasikan bahwa jika dimanfaatkan secara efektif dan sesuai, platform kecerdasan buatan berbasis teks dapat mendukung serta meningkatkan proses belajar.
Sebaliknya, para peserta yang sebelumnya menulis esai menggunakan ChatGPT diminta untuk mengulangi proses penulisan esai tersebut namun kali ini tanpa bantuan AI dan menggunakan pemikiran mereka sendiri.
Akhirnya, para peserta itu hampir tak ingat sama sekali tentang esai mereka dan menunjukkan gelombang otak yang lebih rendah.
Mohon dicatat bahwa penelitian ini belum mencapai tahapan tersebut.
peer review
yang dapat menghabiskan waktu berbulan-bulan, dan jumlah sampel yang digunakan juga cukup minim.
Akan tetapi, Kosmyna menerbitkannya dengan alasan bahwa masyarakat dianggap semakin ketergantungan pada LLM (Large Language Model) atau platform AI yang memproses teks.

