AI dalam Jurnalistik: Pelengkap, Bukan Pengganti
Di tengah perkembangan pesat teknologi Artificial Intelligence (AI) yang semakin masif di berbagai sektor, termasuk industri media, muncul wacana tentang peran AI dalam dunia jurnalistik. Meskipun AI menawarkan efisiensi dan kemudahan dalam beberapa aspek pekerjaan, para ahli dan praktisi media tetap menyatakan bahwa teknologi ini tidak akan bisa menggantikan peran manusia dalam menjaga kualitas dan integritas jurnalisme.
Hendry Ch Bangun, Ketua Dewan Pakar Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Pusat, menegaskan bahwa meskipun AI sangat efektif dalam tugas-tugas teknis seperti pengolahan data atau penyusunan berita berbasis data mentah, ia tetap hanya sebagai pelengkap, bukan pengganti wartawan atau editor. Ia menilai bahwa AI tidak memiliki empati, konteks, atau nurani, yang menjadi elemen penting dalam jurnalisme.
Kecemasan terhadap Penggunaan AI yang Berlebihan
Dalam seminar Green Journalism 4.0 yang digelar di Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA, Jakarta Selatan, Hendry menyampaikan hasil survei internal JMSI yang menunjukkan kecemasan dari banyak media terhadap penggunaan AI secara berlebihan oleh reporter. Beberapa risiko yang muncul antara lain:
- Mengikis daya kritis wartawan
- Berpotensi menurunkan akurasi dan kedalaman berita
- Membuka peluang pelanggaran etika jurnalistik
Menurut Hendry, meskipun AI bisa bekerja cepat, namun ia tidak mampu memastikan apakah informasi yang disampaikan adil, berpihak pada kepentingan publik, atau berpotensi menyesatkan. Oleh karena itu, ia menekankan bahwa verifikasi fakta, penilaian dampak sosial, serta penentuan nilai berita tetap memerlukan kehadiran manusia.
AI dalam Manajemen, Bukan Etika
Hendry juga memprediksi bahwa peran AI akan semakin dominan dalam manajemen media, mulai dari efisiensi redaksi hingga distribusi konten. Namun, satu hal yang harus tetap dijaga adalah etika jurnalistik. Menurutnya, kualitas jurnalistik ditentukan oleh integritas wartawannya, bukan oleh algoritma.
Ia mengingatkan bahwa tanpa kontrol manusia, AI justru bisa menjadi ancaman serius bagi kredibilitas media. Oleh karena itu, ia menyerukan literasi AI yang beretika, terutama untuk kalangan mahasiswa dan generasi muda.
Kolaborasi JMSI dan UHAMKA
Seminar ini juga menjadi ajang kolaborasi antara JMSI dan Universitas Muhammadiyah Prof Dr HAMKA (UHAMKA). Wakil Dekan FISIP UHAMKA, Farida Hayati, berharap diskusi ini dapat membekali mahasiswa agar melek teknologi tanpa kehilangan nilai etik. Sementara itu, Syarif Hidayatullah, Ketua Bidang Usaha JMSI Pusat, menegaskan bahwa kolaborasi antara JMSI dan kampus akan terus diperkuat.
Topik AI, menurutnya, bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan nyata dunia media saat ini. Ia menilai bahwa AI bisa menjadi alat bantu yang efektif jika digunakan dengan bijak dan sesuai dengan prinsip jurnalistik.
Peran Reporter Lapangan Tetap Vital
Pembicara lain, Irsyan Hasyim, Ketua Aliansi Jurnalis Independen Jakarta (AJI Jakarta), juga menguatkan pandangan Hendry. Ia menegaskan bahwa reporter lapangan tetap tidak tergantikan, terutama dalam jurnalisme lingkungan. Di tengah krisis ekologis yang semakin parah, peran wartawan justru semakin vital.
Irsyan menambahkan bahwa jurnalisme lingkungan tidak berdiri sendiri, tetapi bersinggungan erat dengan politik, ekonomi, dan kepentingan sosial. Oleh karena itu, ia menilai bahwa media harus terus mengawasi kebijakan publik secara konsisten.
Pesan Tegas untuk Dunia Media
Seminar Green Journalism 4.0 ini menyampaikan pesan tegas: AI boleh masuk ke ruang redaksi, tapi tidak boleh mengambil alih nurani jurnalistik. Di era teknologi yang serba cepat, masa depan media tidak ditentukan oleh siapa yang paling canggih, melainkan oleh siapa yang paling bertanggung jawab menjaga kebenaran.

