Lenovo Watch GT Pro: Tantangan Baru di Pasar Jam Tangan Pintar
Lenovo kembali menunjukkan kehadirannya di pasar jam tangan pintar dengan meluncurkan model terbarunya, Watch GT Pro. Perangkat ini dirancang untuk memenuhi permintaan konsumen yang mencari smartwatch dengan fitur lengkap namun harga terjangkau. Dengan desain tangguh dan daya tahan baterai yang luar biasa, perangkat ini menjadi salah satu produk yang patut diperhatikan.
Fitur Unggulan yang Menonjol
Salah satu keunggulan utama dari Lenovo Watch GT Pro adalah daya tahan baterai yang sangat lama. Dengan klaim hingga 27 hari dalam sekali pengisian, jam tangan ini jauh melampaui rata-rata smartwatch premium yang biasanya hanya bertahan antara 5 hingga 7 hari. Fitur ini sangat cocok bagi pengguna aktif yang sering berada di luar ruangan.
Selain itu, Watch GT Pro dilengkapi dengan GPS dual-frequency yang diklaim lebih akurat dibanding sistem GPS standar. Ini sangat berguna bagi penggemar olahraga seperti lari, bersepeda, atau pendakian yang membutuhkan pelacakan lokasi yang presisi.
Dari segi desain, perangkat ini memiliki layar AMOLED 1,43 inci dengan resolusi 466 x 466 piksel. Layar ini dilindungi oleh kaca Corning yang tahan goresan. Bodi jam tangan terbuat dari kombinasi aluminium paduan zinc-magnesium dan bagian belakang berbahan nilon diperkuat fiberglass. Strap silikon membuatnya nyaman dipakai sepanjang hari, sementara sertifikasi 5ATM memastikan ketahanan terhadap air hingga kedalaman tertentu.
Fitur Kesehatan dan Olahraga yang Lengkap
Lenovo juga menyematkan berbagai fitur kesehatan pada Watch GT Pro. Mulai dari pemantauan detak jantung, kadar oksigen dalam darah (SpO2), hingga kualitas tidur. Selain itu, dukungan mode olahraga cukup lengkap, mencakup lari, bersepeda, renang, serta aktivitas outdoor lainnya. Dengan kombinasi fitur ini, Lenovo jelas menyasar segmen pengguna yang peduli pada kesehatan dan gaya hidup aktif.
Catatan Kelemahan yang Perlu Diperhatikan
Meski memiliki banyak keunggulan, Lenovo Watch GT Pro masih memiliki beberapa kelemahan yang perlu diperhatikan. Salah satunya adalah ekosistem aplikasi yang masih terbatas. Berbeda dengan Apple Watch atau Samsung Galaxy Watch yang memiliki integrasi kuat dengan ekosistem masing-masing, Lenovo masih bergantung pada aplikasi pendukung yang belum sepopuler kompetitor.
Selain itu, meskipun layar AMOLED yang digunakan berkualitas tinggi, beberapa pengguna menilai tingkat kecerahan maksimalnya masih kalah dibanding smartwatch premium lain. Hal ini bisa menjadi kendala saat digunakan di bawah terik matahari.
Kelemahan lain adalah absennya fitur pembayaran digital yang terintegrasi. Di era di mana smartwatch kerap digunakan untuk transaksi nirsentuh, ketiadaan fitur ini membuat Watch GT Pro sedikit tertinggal dari sisi fungsionalitas.
Alternatif Murah dengan Tampilan Premium
Selain Watch GT Pro, Lenovo juga merilis model lain, yaitu Watch S. Produk ini menyasar segmen menengah dengan harga lebih ramah di kantong. Perangkat ini hadir dengan layar AMOLED bundar, bodi baja tahan karat, serta fitur kesehatan standar. Dengan harga di bawah Rp1,5 juta, Watch S menjadi pilihan bagi konsumen yang ingin tampil gaya tanpa harus mengeluarkan biaya besar.
Kesimpulan
Kehadiran Lenovo Watch GT Pro dan Watch S menunjukkan keseriusan Lenovo dalam memperluas portofolio produk wearable. Watch GT Pro tampil sebagai smartwatch tangguh dengan baterai luar biasa, GPS akurat, serta desain premium. Namun, keterbatasan ekosistem aplikasi dan absennya fitur pembayaran digital menjadi pekerjaan rumah bagi Lenovo jika ingin benar-benar menyaingi dominasi brand besar.
Sementara itu, Watch S menjadi opsi menarik bagi konsumen yang menginginkan smartwatch dengan tampilan premium dan harga terjangkau. Dengan strategi ini, Lenovo berupaya merangkul dua segmen sekaligus: pengguna premium yang menuntut performa tinggi, dan konsumen hemat yang tetap ingin tampil maksimal.
Dengan kombinasi harga kompetitif, fitur unggulan, dan desain tangguh, Lenovo berpotensi memperkuat posisinya di pasar smartwatch global. Namun, keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada kemampuan perusahaan membangun ekosistem aplikasi yang solid dan menghadirkan inovasi berkelanjutan.

