Fenomena Joki Tugas dengan Bantuan AI di Media Sosial
Belakangan ini, banyak orang mungkin pernah melihat video di TikTok atau Instagram yang menawarkan jasa joki tugas. Isu ini semakin marak dan menjadi topik yang sering muncul di media sosial. Yang menarik adalah, para joki ini tidak lagi membutuhkan waktu lama untuk menyelesaikan tugas-tugas pelanggan. Mereka kini menggunakan alat kecerdasan buatan (AI) untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut. Bisnis ini terbukti sangat diminati, bahkan ada akun penyedia jasa yang memiliki ribuan pengikut.
Ini merupakan bagian dari fenomena yang lebih luas, yaitu penggunaan teknologi canggih dalam kehidupan sehari-hari. Bayangkan situasi di mana tenggat waktu tugas hanya tersisa satu jam. Dengan bantuan AI, Anda cukup mengetik satu kalimat perintah ke chatbot dan dalam hitungan detik, tugas selesai. Meski terlihat menguntungkan, di balik kenyamanan itu ada risiko yang tidak bisa diabaikan, yaitu penurunan kemampuan otak sendiri.
Pengertian Brain Rot dan Bukti Ilmiahnya
Anak muda saat ini memiliki istilah unik untuk menggambarkan kondisi mental akibat terlalu banyak mengonsumsi konten instan digital, yaitu brain rot atau otak yang membusuk. Menurut Dinas Komunikasi dan Informatika, fenomena ini bukan sekadar istilah gaul, melainkan ancaman nyata terhadap fungsi kognitif. Kekhawatiran ini didukung oleh sebuah penelitian tahun 2025 yang diterbitkan di jurnal MDPI oleh Michael Gerlich. Dalam studi berjudul “AI Tools in Society”, ia menemukan hubungan negatif antara penggunaan alat AI dan kemampuan berpikir kritis.
Ia juga mengamati fenomena cognitive offloading, di mana semakin sering seseorang menyerahkan tugas berpikir kepada mesin, semakin merosot kemampuan mereka untuk menganalisis masalah secara mandiri. Artinya, kita tidak menjadi lebih pintar, tetapi justru semakin pandai menyuruh mesin.
Penggunaan AI di Kampus
Di Indonesia, penggunaan AI di kalangan pelajar sangat agresif. Data dari survei global tahun 2025 oleh Chegg dan GoodStats menunjukkan bahwa 95% mahasiswa menggunakan AI untuk belajar. Angka ini tertinggi dibandingkan 15 negara lain. Sayangnya, penggunaannya sering kali berlebihan. Contohnya, seorang dosen di Palembang menemukan fakta mengejutkan saat memeriksa skripsi mahasiswanya. Setelah dicek, ternyata 95% isi skripsi tersebut terindikasi buatan AI. Mahasiswa tersebut mungkin merasa cerdas, padahal ia sedang menipu diri sendiri.
Di Amerika Serikat, kasus seperti ini juga terjadi. Seorang mahasiswi bernama Ella Stapleton menuntut uang kuliah dikembalikan karena menemukan dosen mengajar dan memberi umpan balik menggunakan ChatGPT. Ini menunjukkan dunia pendidikan modern yang aneh, di mana mahasiswa dan dosen saling bergantung pada AI.
Dampak di Dunia Kerja
Dampak dari kebiasaan serba instan ini mulai terasa di dunia kerja. Laporan analisis kode dari GitClear pada tahun 2024 menemukan penurunan kualitas kode pemrograman secara global. Hal ini terjadi karena banyak pemrogram muda yang asal salin dari AI tanpa memahami logika di baliknya. Akibatnya, kode yang dihasilkan sering kali berulang dan sulit diperbaiki.
Dulu, karyawan baru belajar dari tugas-tugas remeh, melakukan kesalahan, memperbaikinya, dan memahami prosesnya. Sekarang, tugas dasar ini diambil alih oleh AI. Akibatnya, banyak lulusan baru yang gagap saat menghadapi masalah sungguhan yang tidak bisa dijawab oleh chatbot. Mereka kehilangan proses susah-susah dahulu yang penting untuk mematangkan keahlian.
Mengendalikan Penggunaan AI
Meskipun AI bisa menjadi alat yang sangat bermanfaat, kita tidak boleh mengabaikan risikonya. Kunci utamanya adalah gesekan. Kita perlu sengaja mempersulit diri sedikit dengan menggunakan otak terlebih dahulu untuk membuat kerangka ide atau konsep kasar. Biarkan otak bekerja keras sebentar, lalu panggil AI sebagai rekan debat atau asisten yang merapikan pekerjaan. Jangan biarkan AI menyetir dari awal sampai akhir.
Di era di mana segala sesuatu bisa diselesaikan dalam lima menit, kita harus waspada agar paradoks AI ini tidak membuat otak pemiliknya makin tumpul.

